Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Ilmu Pangiwa


__ADS_3

Luh Jingga segera tersenyum mendengar pertanyaan Nyi Simbar Kencana. Sedari tadi ia memang terus berupaya untuk menghalangi niat Nyi Simbar Kencana untuk membantu Junggul Mertalaya yang sedang luka dalam parah. Beberapa kali, sergapan pedangnya nyaris memotong leher pimpinan Padepokan Tawang Kencana itu hingga membuat perempuan cantik yang sebenarnya sudah berusia paruh baya itu geram setengah mati.


"Mau membantu kawan mu itu, perempuan penyihir? Langkahi dulu mayat ku!", ujar Luh Jingga segera. Putri Resi Damarmoyo dari Bukit Penampihan ini segera memutar gagang pedang nya lalu bersiap untuk bertarung.


Mendengar jawaban Luh Jingga, Nyi Simbar Kencana tersenyum sinis pada Luh Jingga yang menatap tajam ke arah nya.


"Kau sendiri yang bilang seperti itu, gadis busuk!! Akan ku buat kau menyesali keberanian yang kau miliki", usai berkata demikian, Nyi Simbar Kencana segera melemparkan pedangnya ke tanah yang membuat pedang itu langsung berubah menjadi seekor ular welang. Segera ular welang itu bergerak gesit ke arah Luh Jingga.


Melihat itu, Luh Jingga tersenyum tipis sembari berkata, " Sihir murahan!"


Mulut mungil Luh Jingga segera merapal mantra pujian pada Dewa Siwa, lalu jari tangan kirinya menyentuh bibir kemudian dioleskan pada bilah pedang nya dengan cepat. Begitu ular welang itu mendekat, Luh Jingga segera membabatkan pedang nya pada ular welang yang tercipta dari pedang Nyi Simbar Kencana.


Whhhuuuggghhhh..


Clllaaaaaaasssssshhhhhhh....!!


Saat pedang Luh Jingga memotong kepala ular welang, seketika itu juga kepala ular welang berubah menjadi gagang pedang yang terbuat dari kayu. Begitu pula bilah pedang itu kembali ke wujud semula. Melihat itu Nyi Simbar Kencana mendelik kereng pada putri Resi Damarmoyo itu.


Darimana Luh Jingga mempunyai kemampuan untuk mementahkan sihir Nyi Simbar Kencana? Tentu saja sebagai putri dari seorang Resi, Luh Jingga di ajari oleh ayahnya tentang ilmu keagamaan tinggi yang bisa di gunakan untuk mengatasi ilmu sihir. Luh Jingga dulu begitu tekun belajar ilmu keagamaan sebelum mulai mempelajari ilmu beladiri dan kanuragan dari sang ayah. Meski sudah lama tidak menggunakan ilmu penghancur sihir, namun Luh Jingga masih ingat tentang ajaran sang ayahanda.


Nyi Simbar Kencana, sang pimpinan Padepokan Tawang Kencana, dikenal sebagai seorang pendekar wanita golongan hitam di daerah barat Panjalu yang menguasai ilmu kanuragan dan ilmu sihir hitam yang tersohor. Sudah banyak pendekar yang tewas di tangan nya karena ceroboh dan tidak hati-hati hanya karena tertipu dengan kecantikan nya yang mirip seorang gadis berusia belasan tahun. Bahkan pernah beredar kabar bahwa dia pernah memusnahkan seluruh anggota sebuah perguruan silat hanya dengan ilmu sihir hitam nya yang mengerikan.


Melihat lawan bisa mementahkan sihir nya, Nyi Simbar Kencana segera mengebutkan tangan kanannya ke depan dan ribuan ekor hewan berbisa seperti kelabang, kalajengking dan lebah langsung bergerak cepat menuju ke arah Luh Jingga.


Whhhuuuuusssshhh..!!!


Putri Resi Damarmoyo itu langsung berjumpalitan mundur beberapa tombak. Mulut nya kembali komat-kamit merapal mantra pujian pada Dewa Siwa. Saat hewan-hewan berbisa ciptaan Nyi Simbar Kencana mendekat langsung musnah pada jarak satu depa dari tubuh Luh Jingga. Ini adalah keampuhan mantra pelindung Dewa Siwa yang menciptakan perisai tak kasat mata dari segala serangan ilmu pangiwa.


"Kurang ajar !!


Rupanya kau boleh juga gadis busuk!! Tapi jangan sebut namaku Nyi Simbar Kencana jika aku tidak bisa membuat mu mati menderita", umpat Nyi Simbar Kencana yang melihat Luh Jingga mampu mematahkan ilmu pangiwa atau ilmu sihir hitam miliknya.


Nyi Simbar Kencana segera menangkupkan kedua telapak tangan nya ke depan dada. Matanya terpejam dan mulutnya terlihat menutup rapat. Sebentar kemudian, Nyi Simbar Kencana membuka mata nya kemudian meludah di tanah.


Phhuuuiiiiiihhhhh..


Kreeetteeekkkkkkkkhhh gllleeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrrr!!


Air ludah Nyi Simbar Kencana yang jatuh ke tanah menciptakan sebuah retakan tanah di timur Kota Kadipaten Rajapura. Rengkahan tanah ini menciptakan gempa bumi kecil yang membuat semua orang yang ada di tempat itu nyaris kehilangan keseimbangan.

__ADS_1


Dari dalam tanah muncul ratusan mayat hidup yang berbau busuk dan tubuh penuh dengan luka dan belatung. Ini adalah salah satu dari ilmu pangiwa yang di kuasai oleh Nyi Simbar Kencana yang bernama Aji Lungsur Mayit. Sebuah ilmu pangiwa yang mampu membuat para mayat yang sudah di kubur dan membusuk bangkit dari kematian nya dan menuruti perintah sang pemilik ajian.


Semua orang yang ada di dekat tempat itu ketakutan dan berusaha menjauh dari tempat pertarungan Nyi Simbar Kencana dan Luh Jingga. Mereka yang tahu keampuhan dari Aji Lungsur Mayit memilih untuk tidak berdekatan dengan mayat-mayat hidup itu karena satu goresan pada tubuh mereka akan membuat tubuh menjadi membusuk seketika.


Nyi Simbar Kencana menyeringai lebar menatap ke arah ratusan mayat hidup di bawah kendalinya itu sedangkan Luh Jingga nampak kaget melihat kemunculan makhluk-makhluk aneh ini.


"Hahahahahaha...


Gadis busuk, waktunya kau menerima ajal mu.. Pasukan mayat hidup, dengarkan perintah ku ! Bunuh perempuan itu, cabik seluruh tubuh nya hingga menjadi potongan daging. Cepaaattttt !!!!"


Teriakan keras Nyi Simbar Kencana segera membuat para mayat hidup di bawah kendalinya, langsung menoleh ke arah Luh Jingga. Dengan langkah kaki kaku, mereka bergerak ke arah Luh Jingga yang kini nampak bersiaga sembari mengucapkan mantra perlindungan Dewa Siwa.


Melihat kedatangan mayat-mayat hidup itu, Luh Jingga segera melesat cepat kearah mereka sembari membabatkan pedang nya yang kini sudah di lambari mantra perlindungan Dewa Siwa.


Whhhuuuggghhhh whuuthhh..


Chhrrrraaaaaasssshh!!


Satu kepala mayat hidup langsung menggelinding ke tanah setelah tebasan pedang Luh Jingga menebas batang leher nya. Dengan menggunakan ilmu silat Bukit Penampihan yang tersohor, Luh Jingga mengamuk dengan terus mengayunkan pedangnya ke arah ratusan mayat hidup yang kini menyerbu ke arah nya. Namun anehnya, begitu kepalanya jatuh bersamaan dengan tubuhnya yang tersungkur ke tanah, tubuh mayat hidup itu kembali menyatu dan bergerak lagi seperti sedia kala. Ini membuat Luh Jingga terus berupaya untuk menjatuhkan mereka secepat mungkin.


Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari yang baru saja membantai seorang anggota Padepokan Lembah Iblis yang menjadi lawannya segera melesat cepat kearah Luh Jingga sembari mengibaskan tangannya. Hawa dingin seperti es menciptakan kabut putih dingin yang sanggup membekukan apa saja yang di lalui.


Whhhuuuuusssshhh..!!


"Cici Luh, Kau baik-baik saja?", tanya Song Zhao Meng begitu berhasil sampai di dekat Luh Jingga. Putri Resi Damarmoyo itu terlihat ngos-ngosan mengatur nafasnya yang memburu karena terus bergerak membabatkan pedang nya


"Aku baik-baik saja Wulan..


Tapi mayat mayat hidup ini tidak bisa mati. Kita harus punya cara untuk melenyapkan mereka", jawab Luh Jingga yang terlihat kecapekan.


Song Zhao Meng segera mengedarkan pandangannya ke arah mayat hidup yang membeku saat terkena hantaman ilmu Kabut Bulan Es nya. Memang mereka berhenti bergerak sebentar setelah terkena ilmu milik Song Zhao Meng, namun begitu tubuh mereka mayat hidup yang beku itu hancur lebur setelah tumbang ke tanah, tubuh mereka di satukan lagi dan kembali bergerak menuju ke arah Song Zhao Meng dan Luh Jingga.


Saat genting itu, sebuah bayangan berkelebat cepat dari atas pepohonan Hutan Koncar dan mendarat di samping Luh Jingga dan Song Zhao Meng. Meski sempat terkejut dengan kedatangan si bayangan putih itu, Song Zhao Meng dan Luh pun bisa melihat jelas siapa sosok yang kini di sampingnya.


Seorang lelaki tua berjanggut putih panjang dengan rambut memutih dan badan agak kurus menatap ke arah ratusan mayat hidup yang kini bergerak kaku ke arah Luh Jingga, Song Zhao Meng dan dirinya. Tubuhnya yang sedikit bungkuk dengan pakaian putih seperti seorang pertapa. Tangan kanan nya terus memutar tasbih biji genitri yang berwarna coklat kehitaman.


"Ilmu kanuragan milik kalian tidak akan bisa menghentikan para mayat hidup Aji Lungsur Mayit milik Nyi Simbar Kencana.


Kalian sedikit mundurlah, biar aku, Maharesi Wanayasa, yang akan mengatasinya ", ujar pertapa tua yang mengaku bernama Maharesi Wanayasa itu segera.

__ADS_1


"Terimakasih atas bantuannya Maharesi Wanayasa", ujar Luh Jingga yang segera menarik tangan Song Zhao Meng untuk mundur beberapa langkah ke belakang.


Maharesi Wanayasa segera bersedekap tangan di depan dada. Mulut tua nya komat-kamit membaca mantra. Seketika itu juga, bumi bergetar hebat dan merekah lebar. Dari dalam rengkahan tanah ini muncul ratusan tanaman menjalar yang dengan cepat membelit tubuh mayat hidup ciptaan Nyi Simbar Kencana. Mayat mayat hidup ini tak berdaya melepaskan diri saat tanaman menjalar ini menyeret mereka ke dalam rengkahan tanah.


Setelah mayat hidup ini terseret seluruhnya ke dalam rengkahan tanah, perlahan rengkahan tanah ini menutup dan mengubur mayat mayat hidup itu untuk kembali ke alam baka.


"Wanayasa..!!!


Kenapa kau mengganggu kesenangan ku ha???", teriak Nyi Simbar Kencana dengan murka. Dia terdengar begitu marah karena tindakan yang dilakukan oleh Maharesi Wanayasa.


"Simbar Kencana...


Aku tidak akan pernah berhenti untuk menghentikan mu menebarkan angkara di muka bumi. Sadarlah wahai adik seperguruan ku. Kau sudah mengambil jalan yang salah", ujar Maharesi Wanayasa sambil menatap ke arah Nyi Simbar Kencana.


"Phhuuuiiiiiihhhhh...


Salah atau benar, itu bukan urusanmu Wanayasa. Karena kau selalu menjadi penghalang ku, aku akan menghabisi mu!", teriak Nyi Simbar Kencana sembari menangkupkan kedua telapak tangan nya di depan dada. Mulut perempuan cantik itu segera merapal mantra. Tak berselang lama kemudian, tubuhnya telah berubah menjadi sesosok makhluk hijau besar yang bertaring dan bertanduk. Semua orang terkejut melihat perubahan wujud Nyi Simbar Kencana termasuk Luh Jingga dan Song Zhao Meng.


Hemmmmmmm..


"Ajian Buto Ijo...


Kau telah tersesat jauh dalam kegelapan ilmu pangiwa saudara ku. Waktunya kau untuk suci dalam wujud sebagai umat manusia ", gumam Maharesi Wanayasa.


Pertapa tua itu segera merentangkan kedua tangannya ke samping kanan dan kiri tubuhnya, lalu kedua telapak tangan berhenti di atas kepala. Matanya terpejam rapat sedangkan mulutnya nampak bergerak merapal sebuah mantra.


Tiba-tiba dari tubuh Maharesi Wanayasa muncul api besar yang membentuk cambuk api raksasa yang dengan cepat membelit tubuh Nyi Simbar Kencana yang kini berubah menjadi raksasa berwarna hijau besar.


Hooooaaaaarrrrgggghhhhhh


"Wanayasa, lepaskan aku bangsat !


Ayo bertarung secara ksatria. Cepat lepaskan aku..!!!", teriak Nyi Simbar Kencana dalam wujud Buto Ijo nya.


Meski Nyi Simbar Kencana terus berteriak-teriak minta di lepaskan namun Maharesi Wanayasa sama sekali tidak bergeming. Perlahan api yang membelit tubuh Nyi Simbar Kencana membesar seiring berjalannya waktu hingga tubuh Buto Ijo itu seperti di lalap api.


Tak berapa lama kemudian, api mengecil bersamaan dengan tubuh Nyi Simbar Kencana yang mengecil ke bentuk semula namun kini dia berubah menjadi seorang wanita paruh baya dengan penuh kerutan pada kulit dan rambut yang memutih.


Demung Gumbreg yang melihat perubahan wujud Nyi Simbar Kencana dari kejauhan kaget setengah mati.

__ADS_1


"Untung aku tidak jadi naksir dia. Kalau sampai itu terjadi, bisa bisa aku bercinta dengan nenek-nenek..


Hiiiihhhh....."


__ADS_2