Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Cinta Tak Harus Memiliki


__ADS_3

Tembok markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga jebol terkena hantaman Ajian Tapak Dewa Api yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono. Chow Yun pucat seketika wajah nya melihat kejadian itu.


'Andai ilmu itu mengenai tubuh ku, pasti aku tewas sekarang ', batin Chow Yun dalam hati.


Chow Tian Ming yang melihat jebolnya tembok markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga pun kaget bukan main. Kepandaian ilmu beladiri pemuda tampan berbaju biru tua itu benar benar di luar perkiraan nya. Dia benar benar bernafas lega karena bisa menyelamatkan nyawa Chow Yun tepat waktu.


Panji Tejo Laksono menurunkan kedua tangannya di sisi tubuh sembari menarik nafas dalam-dalam sebelum menoleh ke arah Chow Yun dan Chow Tian Ming.


"Apa masih ingin di lanjutkan?!", nada suara berat nan menakutkan terdengar dari mulut Panji Tejo Laksono.


"Huhhhhh kau sombong sekali anak muda!


Biar aku Chow Tian Ming menerima pelajaran dari mu", usai berkata demikian, Chow Tian Ming langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan pedang tombak nya.


Shreeeeettttthhh !


Dengan gesit, Panji Tejo Laksono langsung berkelit menghindari tebasan pedang tombak Chow Tian Ming. Sebelum mendirikan usaha Jasa Pengawalan Tian Ming, lelaki paruh baya bertubuh kekar itu memang cukup punya nama di dunia persilatan Tanah Tiongkok. Dia dikenal dengan kemampuan beladiri berpedang gagang panjang nya yang di sebut sebagai Pedang Penebas Bulan. Konon kabarnya, pedang itu pernah di pakai oleh leluhur Chow Tian Ming untuk meluluhlantakkan sebagian pasukan barbar dari daratan barat saat leluhur Chow Tian Ming yang merupakan salah satu jenderal besar Kekaisaran Ming pada awal berdirinya.


Melihat lawan dengan mudah menghindari sabetan pedang tombak nya, Chow Tian Ming segera memutar Pedang Penebas Bulan nya dan menyodokkan gagang pedang ke arah perut Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri itu segera berkelit ke arah samping sembari melompat mundur ke belakang. Chow Tian Ming tidak membuang waktu, dengan cepat ia memutar pedangnya dan menebaskan pedangnya kearah punggung Panji Tejo Laksono.


Shhhrrraaaaaaaaakkkkkkkkkh !


Angin dingin berdesir kencang mengikuti tebasan Pedang Penebas Bulan Chow Tian Ming. Panji Tejo Laksono menjejak tanah dengan keras, lalu melenting tinggi ke udara dan bersalto dua kali sebelum mendarat dua tombak jauhnya dari Chow Tian Ming.


Melihat itu, Chow Tian Ming langsung memburu Panji Tejo Laksono dengan serangan cepat yang mengincar titik titik mematikan di tubuh Panji Tejo Laksono.


Semua orang yang menyaksikan pertarungan sengit antara Panji Tejo Laksono dan Chow Tian Ming menahan nafas apalagi Long Lian dan Long Wu yang terkejut melihat kemampuan beladiri sang pangeran muda.


"Lian Er, darimana kau mengenal pemuda tampan itu? Kemampuan beladiri nya luar biasa", puji Long Wu sembari terus mengawasi jalannya pertarungan.


"Aku hanya mengenal Tuan Muda Thee saat di rumah makan Nyonya Wang, Ayah..


Mulanya aku pikir dia hanya seorang tuan muda biasa yang berwajah tampan dan sedikit nakal karena membawa dua perempuan cantik itu bersama nya. Tak ku sangka bahwa ia memiliki kemampuan beladiri sehebat itu. Chow Yun saja bukan lawan sepadan untuk nya dan sekarang dia bertarung seimbang dengan Chow Tian Ming yang ayah sendiri belum tentu mudah mengatasi nya ", jawab Long Lian seraya tersenyum tipis sembari menatap ke arah pertarungan sengit antara Panji Tejo Laksono dan Chow Tian Ming.


"Kau benar, Lian Er..


Jika dia bisa menundukkan kepala Chow Tian Ming, aku akan sangat di untungkan karena Jasa Pengawalan Tian Ming akan kehilangan muka karena kekalahan pemimpin utama nya", ujar Long Wu sembari tersenyum penuh arti.


Sedangkan di sisi para pengikut Panji Tejo Laksono, Demung Gumbreg yang sedari tadi melihat pertarungan terus menggenggam erat gagang pentung sakti nya. Tumenggung Ludaka yang berdiri di samping nya, menggumam lirih, " Mau apa kau Mbreg?".


"Aku tidak tahan melihat junjungan kita di perlakukan seperti ini Lu..


Aku ingin bertarung melawan si tua berkumis lele itu untuk menghajar nya", sahut Demung Gumbreg segera.


"Bukan kau saja, tapi aku, Purusoma dan Rajegwesi juga ingin melakukan hal yang sama.


Tapi kita juga mesti ingat bahwa Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono bukan orang sembarangan. Jika kita bertindak gegabah, maka beliau pasti akan marah. Andai saja dia mau, dua orang Tionghoa itu pasti sudah menjadi mayat sekarang", balas Tumenggung Ludaka sambil terus menatap ke arah jalannya pertandingan.


Mendengar jawaban kawan karibnya itu, Gumbreg hanya mendengus dingin sembari meremas batang gagang pentung sakti.


Whhhuuuggghhhh...!!

__ADS_1


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !


Ledakan keras terdengar saat Panji Tejo Laksono yang berhasil menghindari sabetan pedang tombak Chow Tian Ming, menghantam pangkal bilah Pedang Penebas Bulan dengan menggunakan Ajian Tapak Dewa Api. Pedang tombak Chow Tian Ming itu nyaris mencelat andai saja pemilik nya tidak buru buru menggenggam erat gagang nya. Chow Tian Ming yang merasakan panas bercampur sakit di telapak tangan kanan nya, melompat mundur beberapa langkah ke belakang. Mata lelaki paruh baya bertubuh gempal itu nampak berkilat yang menandakan bahwa ia marah besar.


'Bangsat ! Pendekar muda ini rupanya memiliki banyak sekali tenaga dalam. Kalau aku mundur sekarang, kedepannya Jasa Pengawalan Tian Ming akan di rendahkan orang. Aku harus mengalahkan pemuda ini', batin Chow Tian Ming sembari merogoh kantong baju nya perlahan. Dia mengambil beberapa senjata rahasia berbentuk bintang segi empat lalu melemparkannya ke arah Panji Tejo Laksono secepat mungkin.


Shhhrrriiiinnnnnnggggg!!


Empat senjata rahasia berbentuk bintang segi empat meluncur cepat ke arah Panji Tejo Laksono. Dengan sigap, sang pangeran muda dari Kadiri ini berkelit cepat menghindar hingga senjata rahasia itu mengarah pada Luh Jingga dan Song Zhao Meng yang ada di tepi halaman markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga. Secepat kilat, Luh Jingga mencabut pedangnya dan menangkis senjata rahasia yang mengarah ke dirinya dan Song Zhao Meng segera.


Thhrrriiiiiinggggg thhriiiinnngggg !!


Senjata rahasia berbentuk bintang segi empat ini bermentalan saat terkena tebasan pedang Luh Jingga. Saat yang bersamaan dengan melesat nya senjata rahasia, Chow Tian Ming melompat tinggi ke udara dan mengayunkan Pedang Penebas Bulan nya ke arah kepala Panji Tejo Laksono.


"Mampus kau bajingan!"


Hawa dingin tenaga dalam yang mengikuti pergerakan tebasan pedang Chow Tian Ming terasa menakutkan. Panji Tejo Laksono yang tidak bergeser dari tempatnya berdiri, hanya menyeringai lebar menatap ke arah Chow Tian Ming. Tubuhnya sudah berwarna kuning keemasan akibat dari Ajian Tameng Waja yang dia rapal.


Thhhrrrraaaaaaannnggggg !!


Saat Pedang Penebas Bulan milik Chow Tian Ming menyentuh kulit Panji Tejo Laksono, terdengar suara keras seperti membentur logam yang keras. Mata Chow Tian Ming melotot lebar melihat itu semua. Belum hilang rasa terkejutnya, kaki Panji Tejo Laksono melayang cepat menghajar perut Chow Tian Ming.


Dhhhiiiiiieeeeeessshhhhhh !


Aaauuuuggggghhhhh !


Chow Tian Ming meraung keras dan tubuhnya terlempar ke belakang. Tubuh lelaki paruh baya itu menyusruk tanah hampir 2 tombak jauhnya. Dia langsung muntah darah segar. Melihat Chow Tian Ming di jatuhkan, Chow Yun langsung menghampiri ayahnya. Saat mengetahui bahwa ayahnya luka dalam cukup parah, Chow Yun menoleh ke arah para anggota Jasa Pengawalan Tian Ming. Melihat itu, dua orang pengikut setia Chow Tian Ming yang bernama Ah So dan Ah Feng, langsung menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono sembari berteriak keras, " Balaskan dendam Ketua! ".


Panji Tejo Laksono dengan cepat memutar kedua telapak tangan nya ke depan lalu menghantamkan nya ke atas. Gelombang tenaga dalam yang luar biasa langsung menyebar ke sekeliling tempat dia berdiri dan menghantam tubuh Ah So dan Ah Feng.


Aaaarrrgggggghhhhh !!


Dua orang pengikut Chow Tian Ming itu menjerit keras dan tubuhnya terpental jauh ke belakang. Tubuh Ah So menghantam tembok markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga sedangkan tubuh Ah Feng menabrak pohon besar yang ada di tepi halaman dengan keras. Mereka berdua langsung tewas seketika dengan organ dalam tubuh nya remuk. Melihat dua orang kepercayaan Chow Tian Ming terkapar, seluruh pengikut Ketua Jasa Pengawalan Tian Ming langsung hendak bergerak maju namun sebuah suara langsung menghentikan langkah kaki mereka.


"Kalau ada yang berani maju selangkah lagi, bersiaplah untuk menghadapi para prajurit Kekaisaran Song! ", teriak Song Zhao Meng sembari melangkah maju ke arah Panji Tejo Laksono dengan memegang giok berukir burung phoenix di tangan kanannya.


Semua orang terkejut melihat benda di tangan Song Zhao Meng. Dengan cepat mereka berlutut di hadapan Song Zhao Meng, baik dari Jasa Pengawalan Bendera Naga maupun dari Jasa Pengawalan Tian Ming. Mereka tahu bahwa giok berukir burung phoenix di tangan kanan Song Zhao Meng adalah bukti nyata bahwa pemegangnya adalah putri Kaisar Huizong.


"Panjang umur Putri Song!"


Wajah Chow Yun dan Chow Tian Ming langsung pucat pasi. Mereka berdua sungguh sungguh ketakutan. Berurusan dengan pihak Istana Kaisar Huizong tentu bisa sangat merugikan mereka. Bisa saja mereka di cap sebagai pemberontak jika sampai Song Zhao Meng tidak senang dengan sikap mereka berdua.


"Chow Tian Ming,


Kau sudah kalah masih ingin main keroyokan melawan Kakak Thee ya? Apa kau siap kehilangan kepala mu? Bukan hanya kau, tapi seluruh keluarga mu akan bernasib sama dengan mu jika aku mau", ancam Song Zhao Meng seraya mendelik tajam ke arah Chow Tian Ming, Chow Yun dan anggota Jasa Pengawalan Tian Ming.


"Hamba tidak berani Tuan Putri, sungguh ini salah paham saja.


Mohon ampuni nyawa hamba", ucap Chow Tian Ming sembari bersujud di hadapan Song Zhao Meng.


"Sekarang buka telinga mu lebar lebar, Tuan Chow..

__ADS_1


Orang yang kau lawan baru saja adalah Pangeran Thee Jo, suami ku. Dia adalah menantu dari Kaisar Huizong. Apa kau pikir Ayahanda Kaisar akan diam saja jika anak dan menantunya kau ganggu seperti ini, Tuan Chow?", Song Zhao Meng mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.


Semua orang baik dari Jasa Pengawalan Bendera Naga maupun Jasa Pengawalan Tian Ming terkejut bukan main mendengar suara Song Zhao Meng.


"Hamba bodoh, tidak bisa melihat bahwa ada Yang Mulia Tuan Putri dan Yang Mulia Pangeran. Mohon ampuni nyawa hamba Tuan Putri ", Chow Tian Ming tak berani untuk mengangkat kepalanya dari atas tanah. Chow Yun pun ikut bersujud ketakutan bahkan dia sempat mengompol saking takutnya.


"Meng Er, sudahlah..


Mereka sudah mengaku salah. Maafkan saja mereka. Orang besar adalah orang yang bersedia untuk memaafkan kesalahan orang lain ", tutur Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis ke arah Song Zhao Meng.


"Aku mengerti Kakak Thee..


Huuuuhhhhhh.. Tuan Chow, berterimakasih lah pada suami ku. Jika dia tidak membela mu, sudah pasti kepala mu akan ku penggal", ucap Song Zhao Meng segera.


"Terimakasih banyak atas kemurahan hati Pangeran Thee..


Aku Chow Tian Ming berjanji tidak akan berani berbuat kurang ajar lagi pada Pangeran dan Tuan Putri, juga pada Jasa Pengawalan Bendera Naga ", Chow Tian Ming bersujud tiga kali sebelum sebelum berlutut dihadapan Panji Tejo Laksono.


"Aku pegang kata kata mu, Tuan Chow..


Sebagai tanda bahwa kau berdamai dengan Jasa Pengawalan Bendera Naga, tembok yang jebol itu menjadi tanggung jawab mu juga kau wajib membayar denda sebesar 100 tail emas kepada Jasa Pengawalan Bendera Naga atas kegaduhan yang kau buat. Apa kau bersedia, Tuan Chow?", Panji Tejo Laksono melirik ke arah Long Wu dan Long Lian yang tersenyum di samping kanan nya.


"Bersedia, Chow Tian Ming patuh pada perintah Pangeran Thee", ujar Chow Tian Ming dengan cepat.


Setelah mendengar kesanggupan Chow Tian Ming, Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng juga Luh Jingga segera mendekati Long Wu dan Long Lian yang masih berdiri di belakangnya.


"Paman Long,


Apakah kau sudah merasa memperoleh keadilan sekarang?", tanya Panji Tejo Laksono pada Long Wu.


"Pangeran Muda Thee bijaksana, Long Wu merasa Yang Mulia Pangeran sangat adil", jawab Long Wu cepat.


"Kalau begitu, aku mohon diri dulu untuk istirahat. Aku permisi Paman", ujar Panji Tejo Laksono sembari berbalik badan dan berjalan meninggalkan halaman markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga di ikuti oleh Luh Jingga dan Song Zhao Meng juga para pengikutnya.


Hari semakin bertambah sore. Dan dengan cepat digantikan oleh malam. Namun suasana di dalam markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga menjadi meriah. Long Wu mengadakan pesta besar untuk menyambut kedatangan Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng di tempat nya.


Beberapa pejabat Kota Zhou seperti Walikota Jiang Wei diundang untuk hadir dalam acara itu. Juga beberapa pemimpin jasa pengawalan lainnya di Kota Zhou, salah satunya adalah Chow Tian Ming yang datang bersama dengan Chow Yun. Sikap mereka berdua jauh berbeda dengan awal bertemu dengan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.


Di tengah kemeriahan pesta besar-besaran itu, Long Lian nampak menatap ke arah Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Luh Jingga yang menjadi pusat perhatian para tamu undangan yang hadir di markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga. Ibunya Jiang Hua tersenyum tipis melihat kelakuan putri semata wayangnya itu lalu berjalan mendekati nya.


"Lian Er,


Kenapa kau tidak berbaur dengan para tamu undangan dan malah duduk bengong di sini?", ucapan Jiang Hua langsung mengagetkan Long Lian.


"Ah ibu mengagetkan aku saja..


Aku hanya sedang malas untuk bertemu dengan orang orang itu Bu, jadi aku lebih suka duduk di sini saja", jawab Long Lian sembari kembali menatap ke arah Panji Tejo Laksono.


"Ibu tahu kau suka dengan Pangeran Thee, Lian Er..


Tapi kau juga harus ingat satu hal yang bisa kamu jadikan pegangan seumur hidup mu", ujar Jiang Hua sembari menepuk pundak putri tunggalnya ini.

__ADS_1


"Apa itu Ibu?", Long Lian menatap ke arah Jiang Hua dengan penuh pertanyaan. Jiang Hua tersenyum tipis sembari berkata perlahan,


"Cinta itu tak harus memiliki".


__ADS_2