Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Dendam Kesumat dari Tanah Blambangan


__ADS_3

Surendra terpental ke belakang setelah hantaman tangan kiri Mpu Wanamarta yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi menghajar telak di perut nya. Dia tertipu dengan gerakan sambaran tombak pendek Mpu Wanamarta yang tadi bergerak cepat ke arah lehernya.


Huuuuooogggghhh!!!


Darah segar di muntahkan oleh Surendra setelah tubuh nya berhenti menyusruk tanah. Melihat murid utama Perguruan Kelelawar Merah itu tersungkur, sekitar dua puluh anak murid Perguruan Kelelawar Merah langsung mencabut pedang dan senjata mereka masing-masing lalu mengepung ke arah Mpu Wanamarta.


Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu, Panji Tejo Laksono langsung melompat tinggi ke udara dan melesat turun sembari melayangkan tendangan keras kearah salah satu anak murid Perguruan Kelelawar Merah yang menerjang ke arah Mpu Wanamarta.


Dhiiieeeessshh!!


Orang itu langsung tersungkur ke tanah dan tak bergerak lagi. Para anak murid Perguruan Kelelawar Merah langsung menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang berdiri sembari bersiap untuk bertarung.


Mereka langsung membagi orang. Sebagian melanjutkan mengepung Mpu Wanamarta, sebagian lagi langsung bergerak menyergap kearah Panji Tejo Laksono.


Dua orang langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Satu membabatkan kapaknya ke arah kaki, satu mengayunkan pedangnya kearah leher.


Whuuthhh shreeeeettttthhh!!


Panji Tejo Laksono langsung mengangkat kaki kanan nya, menghindari sabetan kapak yang mengincar kaki lalu berkelit menghindari tebasan pedang yang mengincar lehernya sembari menghantamkan tangan kanannya yang sudah di lambari Ajian Tapak Dewa Api ke arah punggung si anak murid yang berpedang.


Blllaaaaaarrr!!


Si lelaki berbaju merah hitam itu langsung terjungkal dengan punggungnya gosong bergambar 5 jari tangan. Dia langsung tewas di tempat tanpa sempat berteriak. Sedangkan si penyerang yang bersenjatakan kapak, mendengus keras lalu dengan cepat mengayunkan kapak nya ke arah kepala sang pangeran muda bertubi-tubi.


Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh!!


Panji Tejo Laksono dengan mudah menghindari tebasan kapak lawan lalu melenting mundur beberapa tombak ke belakang. 4 orang anak murid Perguruan Kelelawar Merah langsung mengayunkan senjata mereka masing-masing kearah Panji Tejo Laksono yang baru saja mendarat di tanah.


Dengan cepat ia menggeser posisi tubuhnya hingga empat senjata tajam itu menghantam tanah.


Bhhuuuuummmmmmhh!!


Panji Tejo Laksono langsung sedikit melompat dan membuat tendangan memutar ke arah kepala keempat orang itu segera.


Dash Dashh !!!


Ouuuuggghhhh!!!


Jerit jerit kesakitan terdengar berurutan dari mulut mulut anak murid Perguruan Kelelawar Merah. Mereka terjengkang dan senjata terlepas dari genggaman. Beberapa gigi mereka tanggal dan bibir pecah berlumuran darah.


Melihat teman teman mereka berjatuhan empat murid Perguruan Kelelawar Merah lainnya langsung menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono.


Sang pangeran muda ini segera memutar tubuhnya dan mundur beberapa langkah sembari menghantamkan tapak tangan nya yang sudah berwarna merah menyala seperti api ke arah para murid yang menerjang maju.


Whhhhuuuuggghhh...


Dua larik sinar merah menyala seperti api menerabas cepat kearah mereka di sertai angin panas berseliweran mengikuti.


Blllaaammmmmmmm!!!


Keempat murid Perguruan Kelelawar Merah itu terpental jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Mereka berempat langsung muntah darah segar. Dua langsung tewas di tempat sedangkan dua lainnya masih hidup dengan kondisi mengenaskan.


Widowati dan Gayatri yang mengikuti langkah Panji Tejo Laksono melompat maju dan membangun Mpu Wanamarta yang di keroyok puluhan orang, sedikit terkejut melihat keganasan Panji Tejo Laksono kali ini.


Wiropati pun tercengang melihat kemampuan ilmu kanuragan Panji Tejo Laksono yang tidak di keluarkan saat menghadapi para centeng Juragan Dipo.


Pun dua murid Padepokan Bukit Biru yang menyaksikan pertarungan mereka dari jarak jauh. Tak dinyana bahwa pemuda bercaping bambu yang berusia sepantaran mereka mampu mengeluarkan kekuatan yang luar biasa.


Surendra yang memegang dadanya, menatap tajam ke arah Mpu Wanamarta.


"Tak ku sangka banyak juga orang yang membantu mu, Tombak Terbang..


Hari ini aku mengaku kalah pada mu. Tapi suatu saat nanti aku akan kembali untuk menantang mu Mpu Wanamarta untuk membalas kematian para murid Perguruan Kelelawar Merah yang terbunuh hari ini", ujar Surendra sembari batuk batuk kecil.


Hemmmmmmm...


"Kematian mereka untuk membalas perlakuan kalian yang menganiaya murid Padepokan Bukit Biru.


Kalau masih penasaran dengan ku, carilah aku di Padang Rumput Utara. Pergilah sekarang!", usir Mpu Wanamarta dengan keras.

__ADS_1


Surendra segera berjalan tertatih-tatih meninggalkan tempat itu bersama beberapa murid Perguruan Kelelawar Merah yang masih hidup. Tak berapa lama kemudian mereka sudah menghilang dari pandangan mata semua orang.


"Terimakasih atas bantuannya, pendekar muda.


Kau benar benar datang di saat yang tepat", ujar Mpu Wanamarta sembari tersenyum simpul.


"Aku hanya tidak suka melihat penindasan dengan keroyokan seperti itu. Lagipula meski tanpa bantuan ku pun, aku yakin Kisanak pasti bisa mengatasi mereka.


Oh iya perkenalkan nama ku Taji Lelono, pengelana dari Kadiri. Kalau boleh tau siapa namamu Kisanak?", tanya Panji Tejo Laksono dengan sopan.


"Aku Mpu Wanamarta dari Kadipaten Lasem, Taji..", jawab Mpu Wanamarta sembari tersenyum penuh arti. Dia tahu bahwa Panji Tejo Laksono sengaja menyembunyikan jati diri nya.


"Mpu Wanamarta dari Lasem?


Jangan jangan kau adalah pendekar besar yang berjuluk Si Tombak Terbang dari Padang Rumput Utara? Benar 'kan?", Gayatri ikut nimbrung obrolan mereka.


"Hehehe... Julukan itu terlalu berlebihan, Nisanak.. Aku hanya orang tua yang bisa memainkan tombak pendek ini saja", Mpu Wanamarta merendah.


"Sungguh suatu keberuntungan bagi kami bisa bertemu dengan seorang pendekar besar yang disegani di dunia persilatan Tanah Jawa.


Aku Gayatri, Pendekar Tombak Terbang. Asal ku dari Kadipaten Seloageng ", Gayatri membungkukkan badan nya pertanda bahwa dia hormat kepada Mpu Wanamarta. Panji Tejo Laksono pun melakukan hal yang sama.


"Kalian pendekar muda yang hebat juga rendah hati..


Oh iya aku penasaran, kemana tujuan kalian setelah ini? Maaf, aku sudah mengikuti langkah kalian karena ingin berkenalan dengan pendekar muda yang hebat seperti kalian ", ujar Mpu Wanamarta.


"Kami hanya mengikuti kemana angin berhembus, Pendekar Tombak Terbang..


Selepas ini, kami ingin ke Kurawan atau Anjuk Ladang untuk melihat keramaian kota kota besar di wilayah Kerajaan Panjalu", balas Panji Tejo Laksono segera.


"Wah kebetulan sekali, kita searah ya Romo..


Kalau begitu tidak ada salahnya jika kita berjalan bersama ", sahut Widowati yang ikut bicara.


"Kenapa tidak? Semakin ramai semakin bagus. Oh iya Pendekar Tombak Terbang, aku hampir saja lupa..


Wiropati, kemari kau", Panji Tejo Laksono menoleh ke arah Wiropati yang berdiri tak jauh dari mereka. Pria bertubuh gendut itu segera mendekati mereka.


Dia sedang mencari seorang guru yang bisa membimbingnya untuk menjadi seorang pendekar. Aku mohon Mpu Wanamarta bersedia untuk mengangkat nya sebagai murid Mpu", Panji Tejo Laksono membungkukkan badan nya pada Mpu Wanamarta.


Hemmmmmmm..


"Aku jarang mau menerima murid, Taji.. Tapi aku akan menerima Wiropati sebagai murid ku sebagai balasan atas pertolongan mu. Jadi aku tidak berhutang budi pada mu", Mpu Wanamarta tersenyum simpul. Mendengar perkataan itu, Wiropati segera menghormat pada Mpu Wanamarta sebagai tanda bahwa sekarang dia adalah muridnya.


"Mpu Wanamarta memang pantas mendapat hormat dari para pendekar muda seperti kami..


Setelah 2 warsa, aku mohon Mpu Wanamarta bersedia untuk mengantarkan Wiropati ke Kotaraja Kadiri. Aku ingin Wiropati kelak bisa menjadi prajurit di Kerajaan Panjalu. Cari saja aku disana, aku pasti akan senang hati menerima kedatangan Mpu Wanamarta", ucapan Panji Tejo Laksono sontak membuat Mpu Wanamarta tersadar bahwa pria muda bercaping bambu di hadapannya itu tidak sesederhana itu jati diri nya. Dengan cepat ia segera membungkuk pada Panji Tejo Laksono.


"Aku bersedia pendekar muda..


Menjadi sebuah kehormatan bagi ku bisa membantu memenuhi keinginan mu", ucap Mpu Wanamarta segera.


Dua murid Padepokan Bukit Biru, Bena dan Magani langsung mendekati mereka dengan jalan pincang dan tertatih. Luka dalam dan luka luar mereka memang cukup parah akibat di hajar oleh anggota Perguruan Kelelawar Merah.


"Pendekar Tombak Terbang,


Terimakasih atas bantuan mu. Kalau tidak ada kisanak, pasti kami sudah terbunuh oleh kekejaman mereka", ujar Bena sambil membungkuk hormat kepada Mpu Wanamarta.


"Kalian terlalu berlebihan. Aku pun tanpa bantuan pendekar muda ini juga akan kerepotan menghadapi mereka", balas Mpu Wanamarta sembari tersenyum tipis.


"Kalian sebaiknya bersama kami untuk pulang ke Padepokan Bukit Biru. Luka kalian lumayan parah, jika terjadi masalah kalian mungkin dalam masalah besar", imbuh Mpu Wanamarta.


"Kami mengerti Pendekar Tombak Terbang. Kami masih sanggup untuk berkuda. Sebaiknya kita segera pulang ke Padepokan Bukit Biru, saya takut permasalahan ini akan melebar kemana-mana karena sifat Surendra yang pendendam", jawab Magani segera.


Mendengar perkataan itu, Mpu Wanamarta mengangguk mengerti dan segera meminta agar mereka semua untuk bersiap berangkat. Panji Tejo Laksono dan Gayatri pun mengikuti langkah mereka. Rencana ke Kota Kadipaten Kurawan pun terpaksa di undur.


Rombongan itu pun segera memacu kuda mereka masing-masing meninggalkan tempat itu, ke arah timur Padepokan Bukit Biru yang terletak di timur kota Wuwatan, ibukota Kadipaten Kurawan.


Setelah menyusuri tepian hutan kecil di selatan Kota Wuwatan, mereka terus mengebrak kuda tunggangan mereka ke arah timur. Sepanjang perjalanan, hamparan persawahan luas yang menghijau memanjakan mata Panji Tejo Laksono. Puluhan orang petani tampak tekun merawat tanaman mereka. Anak kecil riuh bermain di pematang sawah, entah mencari belut sawah ataupun berburu capung.

__ADS_1


Panji Tejo Laksono tersenyum simpul melihat itu semua.


Semenjak Panji Watugunung atau yang lebih di kenal sebagai Prabu Jayengrana atau juga di sebut sebagai Prabu Jitendrakara, kemajuan pertanian di wilayah wilayah Panjalu meningkat jauh lebih baik. Bangunan pengairan seperti saluran air dan bendung bendung air banyak di bangun untuk mengairi lahan pertanian. Jalan penghubung antara wilayah di perlebar untuk memudahkan perdagangan dan pengangkutan hasil bumi.


Selain itu, para penyair, para cendekiawan, para bikhu dan pandita mendapat tempat istimewa di tiap daerah yang merujuk pada perintah Sri Baginda Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta untuk memuliakan para Agamawan maupun cendikiawan.


Itu pun terlihat oleh Panji Tejo Laksono sepanjang perjalanan nya kali ini. Dalam hati sang pangeran muda ini berjanji untuk meneruskan apa yang sudah di bangun oleh ayahanda nya selama puluhan tahun.


****


Jauh ke timur, di sebuah kota Besar yang merupakan ibukota salah satu dari kerajaan besar yang merupakan pecahan Kerajaan Medang.


Seorang lelaki sepuh berjenggot sedang duduk mendengarkan penjelasan salah satu nayaka praja nya. Usia lelaki ini sudah lebih dari 5 dasawarsa, rambut nya pun hampir semua nya memutih karena uban. Sebuah mahkota dari emas tampak menghiasi kepalanya. Meski tidak memakai baju, namun badan nya penuh perhiasan emas yang menunjukkan tanda-tanda bahwa dia adalah seorang raja.


Dia adalah Prabu Maharaja Jenggala, Prabu Samarotsaha. Salah seorang putra angkat Prabu Airlangga yang menduduki tahta Kerajaan Jenggala usai kematian mendadak Mapanji Alanjung Ahyes yang masih muda. Ada desas-desus yang beredar luas di kalangan masyarakat Kerajaan Jenggala bahwa kematian mendadak Mapanji Alanjung karena di racun oleh orang dalam istana. Mapanji Alanjung sendiri meninggalkan seorang putra mahkota yang masih kecil yang selanjutnya tahta Kerajaan Jenggala di serahkan kepada Rakryan Samarotsaha yang merupakan Mangkubumi dan keluarga tertua satu satunya dari Dinasti Isyana yang ada di kerajaan Jenggala. Kecurigaan terhadap Samarotsaha pun semakin meningkat setelah dia naik tahta, namun karena tidak ada bukti yang cukup memberatkan bagi Samarotsaha, maka kecurigaan itu menguap seiring berjalannya waktu.


Maharaja Samarotsaha terlihat mengerutkan keningnya yang keriput. Laki laki yang nampak berwibawa namun licik bukan main ini terlihat terdiam beberapa saat sebelum berbicara.


"Apa kau yakin dengan perkiraan mu tadi, Senopati Randusoka?


Kalau kita salah perhitungan, bisa bisa Panjalu akan bertindak tegas terhadap kita dan menyerbu kemari", ujar Maharaja Samarotsaha sambil menatap ke arah Senopati Randusoka, sosok lelaki bertubuh gempal yang merupakan pimpinan utama prajurit Kerajaan Jenggala.


"Gusti Prabu,


Hamba yakin bahwa kekuatan kita tidak lebih lemah dari mereka. Walaupun kita kehilangan Singhapura, tapi kita juga bisa mendapatkan kembali Kadipaten Matahun. Apalagi orang orang Tanah Perdikan Blambangan bersedia untuk memberikan bantuan kepada kita untuk menyerbu ke Panjalu.


Seperti semangat Gusti Prabu Mapanji Garasakan yang ingin menyatukan kembali Bumi Medang, Jenggala harus bisa menaklukkan Panjalu", ujar Senopati Randusoka dengan semangat berapi-api.


"Benar omongan Senopati Randusoka, Gusti Prabu..


Bantuan dari orang orang Tanah Perdikan Blambangan adalah sesuatu yang tidak bisa di anggap remeh. Hamba setuju dengan pendapat Senopati Randusoka tentang penyatuan dua wilayah yang terpecah belah ini ke dalam kesatuan Negeri Jenggala", timpal Mapatih Danureja sembari menghormat pada Prabu Samarotsaha.


"Kalau begitu, biarkan orang orang Tanah Perdikan Blambangan bertindak.. Kita hanya perlu menjadi pemain di belakang layar dengan memberikan sokongan dan jalan untuk mereka.


Saat Panjalu sedang sibuk melawan orang orang Tanah Perdikan Blambangan, kita gempur mereka dari sisi yang berbeda.


Laksanakan perintah ku", ujar Maharaja Samarotsaha sambil mengangkat tangan kanannya.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", ujar Senopati Randusoka, Mapatih Danureja dan seluruh punggawa istana Kahuripan bersamaan.


"Prabu Jayengrana..


Pembalasan ku atas kekalahan dulu akan segera kau terima".


Maharaja Samarotsaha mengepalkan tangannya erat-erat sambil menatap langit barat yang biru.


Setelah mendapatkan perintah dari sang raja, para punggawa istana Kahuripan segera bersiap untuk menata pasukan yang akan di persiapkan untuk menggempur Panjalu.


****


Ribuan orang berpakaian prajurit terlihat berkuda dengan ratusan pedati berisi senjata dan bahan makanan meninggalkan tapal batas wilayah Tanah Perdikan Blambangan yang ada di ujung timur Pulau Jawa.


Pimpinan mereka adalah Prabu Menak Luhur yang merupakan penguasa Tanah Perdikan Blambangan. Lelaki bertubuh gempal itu nampak gagah dengan busana keprajuritan nya. Sebuah mahkota indah dari emas berhias batu permata bertengger di kepala nya.


Tempo hari dia menulis surat kepada Prabu Samarotsaha untuk meminta jalan dan dukungan atas pembalasan dendam nya pada Kerajaan Panjalu. Dia sudah mendapatkan balasan yang isinya bahwa Kerajaan Jenggala bersedia memberikan jalan untuk pasukan Blambangan menyerbu ke arah Panjalu, tapi Maharaja Samarotsaha tidak akan memberikan bantuan kepada tentara Blambangan dengan alasan karena ada ikatan perdamaian yang di cetuskan oleh Dewi Kilisuci dahulu.


Prabu Menak Luhur menerima syarat itu demi membalaskan dendam penolakan Panji Watugunung yang diminta untuk mempersunting Dewi Sekardadu, kakak Prabu Menak Luhur. Karena penolakan dari Panji Watugunung yang baru saja menaklukkan Kadipaten Singhapura, Dewi Sekardadu merasa malu dan memilih untuk bunuh diri dengan cara melompat ke jurang Alas Purwo. Melihat kakaknya tewas seperti itu, Prabu Menak Luhur yang saat itu masih menjadi putra mahkota bertekad akan membalaskan dendam kematian kakak perempuan nya dengan cara apapun.


Puluhan tahun dia menempa diri nya untuk menjadi seorang yang sakti mandraguna sembari mempersiapkan para prajurit Blambangan. Demi bekerjasama dengan pihak Istana Kahuripan, dia rela mempersunting putri sepupu Samarotsaha meskipun perempuan itu sama sekali tidak seperti yang di harapkan.


Prabu Menak Luhur menoleh ke arah Senopati Rakadayun yang berkuda tak jauh dari nya.


"Rakadayun,


Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk sampai di perbatasan wilayah Panjalu?", tanya Prabu Menak Luhur dengan cepat.


"Kalau melihat kecepatan pergerakan pasukan kita, dalam waktu 7 hari kita akan sampai di perbatasan wilayah antara Jenggala dan Panjalu, Gusti Prabu", ujar Senopati Rakadayun sembari menghormat pada Prabu Menak Luhur. Mendengar jawaban itu, Prabu Menak Luhur mendengus keras lalu berkata dengan nada tinggi.


"Prabu Jayengrana!

__ADS_1


Nikmati 7 hari waktu terakhir hidup mu!"


__ADS_2