Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Perang Kota Kunjang 3


__ADS_3

Begawan Mpu Supa, sosok lelaki pertapa yang menjadi pendekar pilih tanding dengan segudang ilmu sihir dan beladiri nya begitu merasa terhina dengan ucapan yang keluar dari mulut seorang gadis cantik berbaju putih ini.


Selama malang melintang di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur, tak sekalipun ada seseorang yang berani untuk berkata demikian kepadanya. Semuanya langsung akan menghormati nya karena takut akan menjadi korban keampuhan ilmu kedigdayaan nya. Bahkan selama ini, dia bisa di katakan tak terkalahkan oleh siapapun kecuali satu kali saja saat beradu ilmu kesaktian dengan Resi Ranukumbolo pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru di wilayah Kadipaten Dinoyo meski Resi Ranukumbolo sendiri juga luka dalam parah namun masih sanggup berdiri di saat terakhir dan Begawan Mpu Supa tersungkur dengan tubuh penuh luka.


Sebagai pendekar pertapa yang banyak menghabiskan waktunya untuk mengejar tingginya ilmu kesaktian, Begawan Mpu Supa jarang sekali keluar dari dalam sarangnya di Gunung Pucangan. Kali ini dia keluar dari dalam goa pertapaan nya atas desakan dari sang adik yang ingin merubah nasibnya dengan mengabdikan diri pada Prabu Samarotsaha di Kahuripan.


Di istana Kahuripan sendiri, Begawan Mpu Supa di puja bak seorang dewa yang turun dari kahyangan Suralaya karena memiliki kesaktian yang tinggi. Prabu Samarotsaha sendiri yang khusus meminta bantuan nya untuk membantu pasukan Jenggala di tengah agar mampu mengobrak-abrik pertahanan prajurit Panjalu dengan ilmu tabir pelindung gaib nya. Namun kenyataannya, kini dia harus berhadapan dengan Dyah Kirana yang memegang Pedang Bulan Sunyi, putri Resi Ranukumbolo yang merupakan satu-satunya pendekar pertapa yang pernah mengalahkannya. Hal ini benar benar membuat Begawan Mpu Supa marah besar.


"Perempuan sial..!!!


Jangan jumawa dulu karena bisa mengatasi dua serangan ku baru saja. Aku masih belum mengeluarkan semua kedigdayaan ku, hai perempuan edan!!", teriak Begawan Mpu Supa di tengah kegusarannya.


"Aku menunggu nya, Kakek tua gila hormat!!


Langsung aja, jangan hanya banyak cakap. Bau mulut mu membuat aku mau muntah", sahut Dyah Kirana yang sepertinya sengaja memancing amarah Begawan Mpu Supa.


"Gadis busuk!! Ku antar nyawa mu ke neraka!!!"


Sembari menjejak tanah dengan keras, Begawan Mpu Supa segera melesat cepat ke arah Dyah Kirana sambil mengayunkan pedupaan di tangan kirinya. Serangan cepat itu langsung di tangkis dengan bilah Pedang Bulan Sunyi pemberian Resi Ranukumbolo.


Whhhuuuggghhhh...


Thhraaaangggggggg !!!


Melihat lawannya mampu bertahan, tangan kanan Begawan Mpu Supa langsung menghantam ke arah pinggang Dyah Kirana. Dengan mencondongkan tubuhnya ke belakang, Dyah Kirana menjejak tanah hingga tubuhnya melesat mundur beberapa tombak ke belakang menghindari hantaman tangan kanan Begawan Mpu Supa yang di lambari cahaya hijau terang.


Blllaaaaaarrr!!


Tempat berpijak Dyah Kirana langsung meledak saat cahaya hijau terang itu menghajar bekas tempat berdiri yang baru saja dia tinggalkan. Lobang besar tercipta di tempat itu, menyebarkan debu dan asap tebal yang beterbangan di udara.


Melihat lawannya lolos lagi, Begawan Mpu Supa langsung melesat cepat kearah Dyah Kirana. Tanpa menunggu lama lagi, dia segera kembali hantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna hijau terang dari Ajian Gempur Bumi miliknya.


Whuuthhh whuuthhh..


Blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!


Dua ledakan beruntun terdengar di sertai gemuruh suara rumah warga Kota Kunjang yang berderak dan roboh.Gerakan cepat ilmu meringankan tubuh milik Dyah Kirana kembali menjadi penyelamat nyawa sang putri Resi Ranukumbolo itu.


"Jangan cuma bisa lompat sana sini seperti monyet liar Gunung Mahameru, gadis kurang ajar!!


Ayo beradu ilmu kesaktian dengan ku!", teriak Begawan Mpu Supa yang marah besar melihat Dyah Kirana kembali berhasil lolos dari maut.


"Hehehehe, ayo pertapa cabul! Katanya kau sakti mandraguna, mana buktinya?


Aku melihat mu dari tadi seperti kucing garong yang menyerang tanpa melihat lawan. Payah!!", ucap Dyah Kirana yang terus bergerak semakin menjauh dari tempat pertarungan sengit antara pasukan Jenggala dan Panjalu. Ini tidak di sadari oleh Begawan Mpu Supa.


Perang di Kota Kunjang masih berlangsung sengit. Meski kalah jumlah, namun pasukan Panjalu di bawah pimpinan Panji Tejo Laksono masih melakukan perlawanan sengit terhadap gempuran pasukan Jenggala.


"Setan alas!!

__ADS_1


Akan ku hancurkan tubuh mu sampai jadi abu!!", maki Begawan Mpu Supa sembari kembali hantamkan tapak tangan kanan nya ke arah Dyah Kirana yang berdiri di atas atap rumah salah satu penduduk Kota Kunjang.


Whuuthhh!!


Blllaaammmmmmmm!!!


Sekejap sebelum sinar hijau terang dari Ajian Gempur Bumi menghantam tempatnya berdiri, Dyah Kirana sudah lebih dulu melompat ke arah halaman rumah yang cukup luas. Begawan Mpu Supa terus memburu nya.


Sang putri Resi Ranukumbolo itu segera menusukkan pedangnya ke tanah lalu sekuat tenaga mencungkil nya.


Whhhuuuggghhhh!!


Tanah sebesar kelapa melesat cepat kearah Begawan Mpu Supa yang hendak mendekati Dyah Kirana. Sang pendekar pertapa ini terkejut sebentar untuk beberapa saat sebelum mengayunkan pedupaan di tangan kirinya sebagai penangkis serangan dadakan Dyah Kirana.


Blllaaaaaarrr!!!


Tanah sebesar kelapa itu langsung meledak dan hancur lebur menjadi abu saat pedupaan Begawan Mpu Supa menghantamnya. Debu beterbangan menutupi pandangan mata Begawan Mpu Supa namun dia tidak menghentikan gerakannya.


Namun rupanya Dyah Kirana sudah mempersiapkan sebuah rencana untuk menghadapi pertapa tua dari Gunung Pucangan itu. Dengan cepat ia melemparkan selendang putih yang dia lepas dari pinggang ke arah Begawan Mpu Supa yang baru saja melewati debu yang menyebar di udara.


Zzzeeeerrrrrttthh!!


Ujung selendang putih itu memanjang dengan cepat dan segera membelit tubuh Begawan Mpu Supa. Dengan gerakan cepat seperti sedang menari, Dyah Kirana memutar ujung selendangnya lalu membungkus tubuh Begawan Mpu Supa yang terikat ujung selendang putih nya.


Whhuuttt whuuthhh!!!


Jllleeeeeppppphhh!!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Terdengar jerit keras tertahan dari bungkus selendang putih itu. Dyah Kirana segera mencabut pedangnya dan menarik ujung selendang putih hingga tubuh Begawan Mpu Supa berputar cepat dan tersungkur ke tanah dengan luka robek menganga lebar pada perutnya.


Dengan cepat Begawan Mpu Supa menotok beberapa jalan darah nya hingga luka nya berhenti mengeluarkan darah. Pertapa tua itu segera melepaskan bajunya dan mengikat erat luka menganga di perutnya. Dia masih belum mati.


Dyah Kirana yang sedang mengikatkan selendang putih di pinggangnya, terperangah juga melihat daya tahan tubuh lelaki tua itu.


'Kakek tua ini masih belum mampus juga. Aku harus cepat cepat menghabisi nya', batin Dyah Kirana sembari melesat cepat kearah Begawan Mpu Supa sembari mengayunkan Pedang Bulan Sunyi di tangan kanannya.


Shhrreeettthhh!!


Sembari meringis menahan rasa sakit di perut nya yang terluka, Begawan Mpu Supa berkelit menghindari tebasan pedang Dyah Kirana. Tapi kakek tua bertubuh kekar itu segera menghantamkan pedupaan di tangan kirinya ke arah punggung kiri sang putri Resi Ranukumbolo itu.


Whuuuggghh!!


Dyah Kirana kaget melihat kakek tua yang telah luka parah itu masih mampu membalas serangannya. Dengan cepat ia membanting tubuhnya sedikit rendah hingga sambaran pedupaan Begawan Mpu Supa hanya bisa merobek baju dan membuat luka kecil di punggung sang perempuan cantik berbaju putih.


Dyah Kirana berguling beberapa kali di tanah dan berhenti setelah berjarak sekitar 2 tombak jauhnya dari tempat Begawan Mpu Supa berada. Perempuan cantik itu segera meraba punggung kiri nya. Melihat baju kesayangan pemberian dari Panji Tejo Laksono robek, putri Resi Ranukumbolo itu mendengus keras.


"Tua bangka keparat!!

__ADS_1


Apa kau tidak tahu betapa berharganya baju ini ha?! Akan ku cincang halus tubuh bau tanah mu itu bajingan!!!", usai berkata demikian, Dyah Kirana segera berkomat-kamit membaca mantra Ajian Chandrapati. Ilmu kanuragan tingkat tinggi yang hanya di wariskan turun temurun dari keluarga pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru ini adalah ilmu kesaktian yang luar biasa. Tangan kanan Dyah Kirana segera di liputi oleh cahaya kuning kehijauan yang berhawa sejuk namun bisa membuat bulu kuduk berdiri tegak. Ada semacam aura tak biasa dari ilmu kedigdayaan yang konon katanya berasal langsung dari Batara Chandra, sang dewa bulan.


Segera cahaya kuning kehijauan itu menjalar cepat pada bilah Pedang Bulan Sunyi di tangan sang putri Ranukumbolo.


Melihat hal itu, Begawan Mpu Supa langsung teringat saat dia dikalahkan oleh Resi Ranukumbolo waktu itu. Pendekar pertapa asal Gunung Pucangan itu menggeram keras.


"Sekian purnama aku menanti untuk kembali beradu kesaktian dengan Ajian Chandrapati dar Si keparat Ranukumbolo, akhirnya hari ini datang juga.


Gadis keparat, ayo kita buktikan siapa yang lebih kuat? Ajian Chandrapati mu atau Ajian Sigar Srengenge milik ku!!!"


Setelah berkata demikian, Begawan Mpu Supa merentangkan kedua tangannya ke samping tubuh. Bulatan cahaya merah menyala berhawa panas membara tercipta dari dada sang pertapa tua itu. Semakin lama semakin membesar dan terus membesar hingga sebesar tampah.


Melihat lawannya sudah bersiap dengan ilmu kanuragan tingkat tinggi nya, Dyah Kirana segera melesat cepat kearah Begawan Mpu Supa sembari memegang gagang Pedang Bulan Sunyi dengan kedua tangannya. Tanpa ragu-ragu lagi, Dyah Kirana segera membabatkan Pedang Bulan Sunyi yang di lambari Ajian Chandrapati ke arah Begawan Mpu Supa.


Shhrreeettthhh..


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !!!!


Ledakan mahadahsyat terdengar. Gelombang kejut langsung menyebar ke sekeliling tempat itu. Dyah Kirana terseret mundur hampir 5 tombak jauhnya. Namun gadis cantik itu dengan cepat menancapkan ujung Pedang Bulan Sunyi ke tanah hingga gerakan tubuhnya terhenti.


Hoooeeeeggggh!!


Dyah Kirana langsung muntah darah segar. Rupanya benturan keras ilmu kedigdayaan nya dengan Ajian Sigar Srengenge milik Begawan Mpu Supa melukai organ dalam nya. Namun dia masih sadar meski sudah terluka dalam cukup parah.


Begawan Mpu Supa sendiri terpelanting jauh ke belakang. Tubuh tua lelaki itu menghantam tanah dengan keras. Tapi dia sudah tidak bergerak sama sekali. Tebasan Pedang Bulan Sunyi merobek dada kiri tembus pinggang kanan, menciptakan luka menganga lebar yang langsung membuat tubuh lelaki tua itu mandi darah segar. Dia tewas tanpa sempat berteriak.


Resi Sempati yang sedang bertarung melawan para prajurit Panjalu, melihat kakaknya terbunuh oleh Dyah Kirana, langsung berteriak keras.


"Kakang Supa, akan ku balaskan dendam mu!!"


Pria bertubuh sedikit gemuk dengan kepala botak ini bergegas melesat ke arah Dyah Kirana yang masih berdiri dengan satu dengkul menyangga tubuhnya. Dengan sekuat tenaga, Resi Sempati segera mengayunkan tongkat kayu nagasari berukir kepala naga itu ke arah kepala Dyah Kirana.


"Temani kakang ku ke nirwana, perempuan iblis!!!


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt ..!!!"


Dyah Kirana yang sudah tidak mampu bergerak akibat luka dalam yang di deritanya, hanya memejamkan matanya seakan pasrah pada ajal yang sebentar lagi menjemput.


Saat yang genting itu, sebuah bayangan kuning kemerahan melesat cepat kearah gerakan Resi Sempati dan segera menyabetkan senjata di tangan kanannya.


Whhuuuuuuuggggh..


Thrrraaannnnggggg !!!


Benturan keras senjata mereka yang di lapisi tenaga dalam tingkat tinggi seketika membuat mata Dyah Kirana terbuka. Dari sana dia melihat, Resi Sempati terpental mundur dan mendarat dengan sedikit kesulitan. Dia hampir saja jatuh ke tanah andai saja tongkat kayu nagasari berukir kepala naga itu tidak menyangga tubuhnya.


Sedangkan di sisi lain, si bayangan kuning kemerahan juga terseret mundur hampir dua tombak jauhnya. Si bayangan itu segera merubah gerakan tubuhnya dan menghujamkan kakinya ke tanah hingga tubuhnya berhenti bergerak mundur. Mata Dyah Kirana langsung melebar begitu melihat siapa sosok yang menolongnya.


"Kang.. Kangmbok Luh Jingga..?!!"

__ADS_1


__ADS_2