Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Sebelas Bayangan


__ADS_3

Luh Jingga dan Song Zhao Meng langsung berdiri dari tempat duduknya dan ikut menatap ke arah yang di pandang oleh Panji Tejo Laksono. Dari dalam keremangan cahaya bulan separuh yang menggantung di langit barat, sebelas bayangan hitam berkelebat cepat kearah Istana Kadipaten Seloageng.


Kesebelas orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi ini benar-benar digjaya. Kehadiran mereka nyaris tanpa ada suara yang berarti hingga para prajurit Kadipaten Seloageng yang ditugaskan untuk berjaga, sama sekali tidak menyadari kehadiran mereka. Maklum saja, kesebelas orang ini adalah anggota inti dari pasukan telik sandi Kelompok Bulan Sabit Darah yang tidak sekalipun pernah bisa di tangkap oleh para prajurit Panjalu saat bergerak di wilayah Kerajaan besar di tengah pulau Jawa ini.


Selain Demit Ireng, mereka juga memiliki nama samaran yang menjadi tanda pengenal mereka. Ada yang berjuluk sebagai Setan Gundul, Genderuwo Pandan, Memedi Sawo, Peri Randu dan Branjangkawat. Yang lainnya memakai nama samaran seram pula berdasarkan ciri tubuh seperti Bajang Kerek, Tuyul Alas, Buto Ijo, Jerangkong Kuburan dan Banaspati.


Begitu sampai di dekat balai tamu kehormatan Kadipaten Seloageng, kesebelas bayangan hitam bertopeng itu segera mendaratkan tubuh mereka di atas pohon sawo manila besar yang tumbuh di dekat tembok istana Seloageng. Mata Demit Ireng segera tertuju pada sosok seorang lelaki bertubuh tegap yang sedang menatap tajam ke arah mereka.


"Sesuai petunjuk dari pimpinan ketujuh, orang itu adalah sasaran kita. Ingat untuk tidak membunuhnya.


Sekarang beri dia pelajaran", ucap Demit Ireng sembari memberikan isyarat kepada para anak buahnya untuk menyerang maju.


Sepuluh bayangan itu segera melesat ke arah Panji Tejo Laksono dan kedua istrinya yang sudah menyadari kehadiran mereka.


Jleeggg jleeggg..


Jlleeegggghh!!


Kesepuluh nya mendarat dengan sempurna di halaman balai tamu kehormatan Istana Kadipaten Seloageng. Panji Tejo Laksono bergegas keluar dari serambi balai tamu kehormatan Kadipaten Seloageng diikuti oleh Song Zhao Meng dan Luh Jingga.


"Berani sekali kalian memasuki wilayah istana Kadipaten Seloageng. Siapa kalian? Dan ada urusan apa kemari?".


Mendengar pertanyaan Panji Tejo Laksono, salah seorang diantara mereka yang bertubuh tinggi besar dengan mengenakan celana cawat pendek berwarna hijau dan tanpa menggunakan baju, hanya menutupi sebagian tubuhnya dengan jubah berwarna hitam melangkah maju satu langkah di depan kawan-kawannya yang lain. Seperti nya dia adalah yang tertua di antara mereka. Lelaki berjuluk Genderuwo Pandan itu menyeringai lebar sebelum berbicara.


"Siapa kami, itu bukan urusanmu. Katakan pada ku, apa kau yang bernama Panji Tejo Laksono?", tanya si Genderuwo Pandan sembari menatap tajam ke arah sang pangeran muda.


"Tidak sopan. Harusnya kau menyembah lebih dulu pada Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono sebelum berbicara, keparat.


Dasar tidak tahu tata krama ", maki Luh Jingga dengan cepat.


Huahahahahahaha...


"Tata krama hanya untuk orang orang Panjalu, dan aku bukan orang Panjalu jadi aku tidak perlu repot-repot menyembah pada Panji Tejo Laksono.


Kawan-kawan, ayo kita laksanakan tugas kita", setelah berkata demikian, Genderuwo Pandan segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono diikuti oleh Branjangkawat, Memedi Sawo dan Buto Ijo.


"Perempuan cantik bermulut tajam itu bagian ku! ", ucap Peri Randu yang segera melompat ke arah Luh Jingga diikuti oleh Tuyul Alas dan Setan Gundul. Sementara itu sisa anggota yang lain yakni Jerangkong Kuburan dan Banaspati dan Bajang Kerek langsung mengepung Song Zhao Meng yang sudah mulai mengeluarkan Ilmu Bulan Es nya.


Pertarungan sengit antara mereka segera terjadi.

__ADS_1


Genderuwo Pandan yang bersenjatakan gada langsung mengayunkan senjatanya ke arah kepala Panji Tejo Laksono dengan sekuat tenaga.


Whhhuuuggghhhh..!!


Panji Tejo Laksono dengan lincah berkelit menghindari gebukan gada Genderuwo Pandan. Namun di saat yang bersamaan, Branjangkawat mengayunkan senjatanya yang berupa sabit besar kearah kaki sang pangeran muda yang baru saja menghindari gebukan gada Genderuwo Pandan. Merasakan hawa dingin berdesir kencang kearah kaki, Panji Tejo Laksono langsung hentakkan kakinya kuat-kuat ke tanah hingga tubuhnya melenting tinggi ke udara. Melihat itu, Memedi Sawo yang berbadan kurus dengan cepat melompat ke punggung Genderuwo Pandan yang di gunakan sebagai tumpuan, lalu melesat ke arah Panji Tejo Laksono yang masih di udara.


Sabetan sepasang pedang pendek Memedi Sawo langsung terarah pada perut sang pangeran muda.


Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh !!


Tidak memiliki ruang untuk menghindar, Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Sepi Angin nya hantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala seperti api kearah Memedi Sawo.


Pria bertubuh kurus itu yang semula yakin bahwa serangannya akan telak menghajar Panji Tejo Laksono, gelagapan juga. Dengan cepat ia menyilangkan kedua pedangnya ke depan dada untuk menahan sinar merah menyala berhawa panas menyengat yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono.


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!


Aaaarrrgggggghhhhh !!


Tubuh Memedi Sawo langsung terpental ke tanah dengan keras. Pria bertubuh kurus ini langsung muntah darah segar. Melihat kawannya jatuh, Buto Ijo yang berbadan besar menggeram keras sambil mengayunkan senjatanya yang berupa rantai bola berduri tajam.


Whhhuuutthh !!


Bola besi berduri tajam sebesar kepala manusia itu langsung meluncur cepat kearah Panji Tejo Laksono yang baru saja menjejak tanah. Sang pangeran muda tanpa menunggu lama segera berguling ke samping kiri menghindari hantaman bola duri dari Buto Ijo.


Bola besi itu menghujam keras ke tanah. Melihat pergerakan Panji Tejo Laksono, Branjangkawat yang menunggu kesempatan untuk menyerang, langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sambil kembali mengayunkan sabit besar nya.


Whhhuuuggghhhh whuuthhh!!


Panji Tejo Laksono berjumpalitan mundur menghindari sabetan sabit besar Branjangkawat. Genderuwo Pandan langsung ikut mengeroyok Panji Tejo Laksono dengan senjata gada nya.


Melihat hantaman gada Genderuwo Pandan yang mengincar punggung, Panji Tejo Laksono yang baru saja berdiri tegak langsung berguling ke tanah sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya yang di lambari Ajian Tapak Dewa Api ke arah Branjangkawat.


Sinar merah menyala berhawa panas menerabas cepat kearah Branjangkawat. Sosok berpakaian serba hitam ini tahu bahwa ini bukan ilmu sembarangan. Secepat kilat dia menghindari sinar merah menyala berhawa panas yang keluar dari tapak tangan kanan Panji Tejo Laksono. Sinar merah menyala itu langsung menghantam arca Dwarapala yang ada di depan serambi balai tamu kehormatan Kadipaten Seloageng.


Blllaaaaaaaaaaamm !!


Arca Dwarapala itu seketika meledak dan hancur berkeping keping setelah sinar merah menyala Ajian Tapak Dewa Api menghantamnya.


Setelah membuat Branjangkawat mundur dan berhasil menghindar dari kejaran serangan Genderuwo Pandan, Panji Tejo Laksono dengan cepat merapal mantra Ajian Tameng Waja miliknya. Selarik sinar kuning keemasan dengan cepat menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Genderuwo Pandan yang masih mengincar Panji Tejo Laksono, melihat berhentinya gerakan tubuh sang pangeran muda, melihat itu sebagai sebuah kesempatan.

__ADS_1


Secepat kilat, pria bertubuh besar itu langsung mengayunkan gada nya kearah dada Panji Tejo Laksono sambil menyeringai lebar.


"Mampus kau, bocah keparat!"


Dhhiieeeennnggggg !!!


Gada Genderuwo Pandan langsung terpental begitu menyentuh kulit tubuh sang pangeran muda. Andai saja dia tidak memegang erat gagang gada nya, pasti senjata itu sudah terlepas dari genggaman nya. Mata Genderuwo Pandan melotot lebar melihat kejadian itu.


Segera dia menoleh ke arah Branjangkawat dan Buto Ijo yang juga kaget melihat kemampuan beladiri yang di miliki oleh Panji Tejo Laksono.


"Branjangkawat, bocah ini memiliki kemampuan beladiri yang tinggi. Ayo kita gabungkan kekuatan!", mendengar teriakan Genderuwo Pandan, Branjangkawat dan Buto Ijo mengangguk mengerti. Ketiganya kompak segera berdiri berjajar, memutar kedua tangan nya di depan dada dan menyatukan nya dengan tangan kawan yang lain.


Selarik sinar ungu kemerahan langsung tercipta dari gabungan kekuatan mereka bertiga. Ini bisa di lakukan karena mereka adalah saudara seperguruan, sama sama murid Begawan Gagarmayang dari Gunung Penanggung. Yang mereka keluarkan saat ini adalah Ajian Rengkah Bumi yang menjadi ajian andalan Padepokan Gunung Penanggungan.


Tangan kanan Buto Ijo dan tangan kiri Branjangkawat langsung menghantam ke arah Panji Tejo Laksono. Dua larik sinar ungu kemerahan berhawa panas menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono yang masih berdiri kokoh di tempat nya.


Whuuussshh whhhuuuggghhhh!!


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!


Ledakan dahsyat beruntun terdengar saat Ajian Rengkah Bumi yang di lepaskan oleh Branjangkawat, Genderuwo Pandan dan Buto Ijo menghantam tubuh Panji Tejo Laksono.


Asap tebal menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Senyum penuh kemenangan langsung terukir di wajah Buto Ijo, Genderuwo Pandan dan Branjangkawat. Namun senyum itu perlahan sirna begitu asap tebal yang menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono mulai menghilang. Di bawah keremangan cahaya bulan separuh yang menggantung di langit barat, mereka dengan jelas melihat bahwa lawan mereka baik baik saja setelah menerima hantaman Ajian Rengkah Bumi mereka.


"Ba-bagaimana mungkin ada orang yang tidak apa-apa setelah menerima hantaman Ajian Rengkah Bumi kita?", ucap Buto Ijo setengah tak percaya melihat kejadian itu dengan mata kepala sendiri. Selama ini, tak satupun pendekar yang mampu bertahan hidup setelah menerima hantaman Ajian Rengkah Bumi nya.


"Bangsat kecil ini rupanya memiliki kemampuan kedigdayaan yang tinggi.


Ayo kita coba sekali lagi, Branjangkawat !", teriak Genderuwo Pandan yang segera menyadarkan Branjangkawat yang sempat melongo melihat keadaan Panji Tejo Laksono yang masih baik baik saja. Ketiganya segera kembali merapal Ajian Rengkah Bumi mereka, namun Panji Tejo Laksono sudah menghilang dari pandangan mata mereka bertiga. Saat ketiga nya masih kebingungan mencari keberadaan Panji Tejo Laksono, tiba-tiba saja sang pangeran muda muncul di sisi samping Branjangkawat sembari berkata, "Sekarang giliran ku menyerang!"


Bersamaan dengan itu, Panji Tejo Laksono langsung menghantam dada Branjangkawat yang kaget setengah mati melihat kemunculan Panji Tejo Laksono yang tiba-tiba. Sosok berpakaian serba kuning ini hanya bisa pasrah saat tapak tangan kanan Panji Tejo Laksono yang berwarna merah menyala seperti api menghantam dada kiri nya.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !!


Aaaarrrgggggghhhhh !!!


Branjangkawat meraung keras saat Ajian Tapak Dewa Api telak menghajar dadanya. Tubuh lelaki berbadan kekar ini langsung terpelanting jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Darah segar segera keluar dari mulut, hidung dan telinga Branjangkawat yang tewas dengan dada gosong seperti terbakar api.


Buto Ijo yang geram, langsung menghantamkan tapak tangan nya yang berwarna ungu kemerahan kearah Panji Tejo Laksono yang baru saja menghabisi nyawa saudara seperguruannya. Namun belum sempat Ajian Rengkah Bumi yang di lepaskan nya mengenai tubuh sang pangeran muda, sosok Panji Tejo Laksono kembali lenyap dari pandangan mata semua orang hingga serangan Buto Ijo hanya menghajar udara kosong dan menghantam sebuah geladakan kuda yang ada di samping halaman.

__ADS_1


Sementara anak buahnya di bantai satu persatu oleh Panji Tejo Laksono, Luh Jingga dan Song Zhao Meng, Demit Ireng yang sadar bahwa dia sekalipun tidak mungkin sanggup mengalahkan Panji Tejo Laksono dan kedua istrinya, berniat untuk kabur dari tempat itu. Tuyul Alas sudah tewas di tebas pedang Luh Jingga sementara Banaspati sudah mati membeku akibat hawa dingin Ilmu Bulan Es yang di lepaskan oleh Song Zhao Meng. Namun alangkah terkejutnya ia ketika melihat sesosok tubuh lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan kumis tebal dan terlihat berwibawa sudah berdiri di belakangnya. Sosok berpakaian layaknya seorang bangsawan ini, hanya menyeringai lebar menatap ke arah Demit Ireng sembari berkata,


"Kau mau kemana?"


__ADS_2