Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Panggil Aku Wiro


__ADS_3

Keributan besar terjadi di dalam istana Pakuwon Sukowati. Api dengan cepat membakar bangunan barat istana yang merupakan bangunan penyimpanan atau gudang makanan. Puluhan prajurit berusaha keras untuk mengeluarkan ratusan gedeng padi dari dalam bangunan. Sedangkan lainnya bahu membahu memadamkan api yang membakar sisi luar bangunan yang dekat dengan tembok istana. Tampaknya api berasal dari sana.


Kolam tempat mandi para wanita di Keputren terpaksa harus di kuras air nya untuk memadamkan api.


Setelah bersusah payah dengan mengandalkan kekuatan seluruh tenaga prajurit, akhirnya api berhasil dipadamkan meski sebagian bangunan gudang musnah di lalap si jago merah.


Dewi Ambarwati menatap sisi bangunan yang terbakar api dengan seksama. Laporan prajurit penjaga yang melihat dua orang berbaju merah berkelebat cepat kearah Utara. Hal itu semakin menegaskan bahwa sisa sisa kelompok Setan Gunung Wilis adalah pelaku di balik upaya untuk membakar istana Pakuwon Sukowati.


"Puspa Abang, Puspa Putih...


Besok pagi sisir semua tempat yang di curigai sebagai tempat persembunyian sisa anggota Setan Gunung Wilis.


Tangkap mereka. Jika melawan bunuh di tempat", perintah Dewi Ambarwati segera.


"Sendiko dawuh Gusti Dewi", Puspa Abang dan Puspa Putih membungkukkan badannya pada Dewi Ambarwati.


Usai memberikan perintah, Dewi Ambarwati segera beranjak ke arah kamar tidur pribadinya yang di tinggalkan tadi. Suasana hati nya yang sempat keruh karena adanya kebakaran itu langsung berubah baik saat teringat pada Panji Tejo Laksono yang masih terikat di ranjangnya.


Senyum lebar segera terukir di wajah cantik perempuan itu.


Dewi Ambarwati segera bergegas membuka pintu kamar dan menguncinya. Dengan senyum manis, perempuan cantik itu segera melangkah ke arah sosok Panji Tejo Laksono yang masih terlentang di atas kamar.


"Pendekar muda, mari kita lanjutkan permainan kita yang sempat tertunda tadi", ujar Dewi Ambarwati sembari mulai melepaskan centing (stagen) yang mengikat pinggang nya sembari menunduk.


Namun alangkah terkejutnya dia saat mendongak dan melihat sosok Panji Tejo Laksono telah berubah menjadi gedebok pisang diatas pembaringan.


"BANGSAT!!


Aku di tipu!!"


Teriakan keras Dewi Ambarwati terdengar hingga Puspa Putih dan Puspa Abang. Mereka berdua tersenyum simpul mendengar suara itu.


"Sepertinya pendekar muda itu telah lolos, Putih", ujar Puspa Abang segera.


"Benar Abang. Terpaksa kita mesti melakukan cara kotor ini agar Dewi Ambarwati tidak semakin terjerumus ke dalam hasrat terlarang nya.


Kau yakin tidak ada orang yang melihat kita tadi bukan?", Puspa Putih menoleh.


"Tentu saja Putih..


Ayo sebaiknya kita segera ke kamar tidur Gusti Dewi Ambarwati sebelum dia semakin murka", ajak Puspa Abang yang segera bergegas menuju ke arah kamar tidur Dewi Ambarwati diikuti oleh Puspa Putih.


Sementara itu Panji Tejo Laksono dan Gayatri langsung menuju ke arah rumah Ki Wiryo untuk mengambil barang-barang mereka.


Kepergian mereka berdua yang sedikit terburu buru menyisakan beberapa pertanyaan di hati Ki Wiryo namun kakek tua itu tidak berani untuk bertanya lebih jauh. Mereka berdua sudah sangat baik pada nya jadi Ki Wiryo takut menyinggung perasaan mereka berdua.


"Kami berdua mohon pamit Ki", ujar Panji Tejo Laksono sembari menatap wajah tua Ki Wiryo.


"Berhati-hatilah, Pendekar muda..


Semoga Hyang Akarya Jagat selalu melindungi perjalanan kalian dengan selamat", balas Ki Wiryo segera. Panji Tejo Laksono dan Gayatri langsung melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan memacu kuda mereka ke arah Utara.


Ki Wiryo terus menatap kepergian mereka yang segera menghilang dari pandangan karena gelap malam.


Dua kuda Panji Tejo Laksono dan Gayatri melesat menembus malam. Cahaya bulan yang muncul di sela sela awan tebal menjadi penerang perjalanan mereka meninggalkan kota Pakuwon Sukowati.


Di batas terluar dari Pakuwon Sukowati, mereka melihat sebuah gubuk kayu yang terletak di tepi sungai kecil yang menjadi pemisah antara Pakuwon Sukowati dan Pakuwon Brumbun. Mereka berdua memutuskan untuk bermalam disana sembari menunggu pagi.


"Taji,


Mana janjimu untuk menceritakan semua hal yang baru kita alami? Kau sudah lupa ya?", tanya Gayatri sembari meluruskan kaki nya yang terasa sakit setelah melewati perjalanan malam itu.


"Ku pikir kau sudah tidak butuh mengerti apa yang sudah terjadi, Gayatri. Karena itu aku diam saja dari tadi.


Baiklah, sekarang dengar cerita ku....", Panji Tejo Laksono kemudian menceritakan semua nya mulai awal pertemuan dengan Dewi Ambarwati hingga sampai waktu malam tadi dia nyaris menjadi korban nafsu si janda beranak dua itu.


Gayatri berubah air muka nya. Mulai awal yang terlihat tegang hingga cemberut menahan perasaan kesal bercampur cemburu. Namun sayangnya karena gelap, Panji Tejo Laksono tidak bisa melihat perubahan air muka Gayatri.

__ADS_1


'Untung saja tidak sampai berhubungan intim. Huhhhhh dasar janda gatal', batin Gayatri.


Usai bercerita, Panji Tejo Laksono langsung merebahkan tubuhnya di tumpukan jerami padi yang menjadi alas duduk di gubuk kayu.


"Sebaiknya mulai besok kita mengenakan caping lagi, Gayatri..


Aku malas jika harus berurusan dengan perempuan perempuan yang mungkin kita temui nanti", ujar Panji Tejo Laksono sembari memejamkan mata. Gayatri nampak sumringah mendengar ucapan itu. Keduanya segera terlelap tidur.


Kuda yang mereka ikat pada sebatang tonggak kayu sesekali mengibaskan ekornya untuk mengusir nyamuk.


Pagi menjelang tiba di wilayah Kadipaten Kurawan. Meski mendung kelabu masih bergelayut di langit, namun udara berangsur hangat saat sinar matahari pagi perlahan mulai menerobos celah celah awan. Kicau burung kepodang di ranting pohon mangga dekat gubuk terdengar riang.


Gayatri menggeliat perlahan dari tidurnya. Perempuan yang menyamar sebagai laki laki itu membuka mata nya lalu menoleh ke arah samping nya namun sosok Panji Tejo Laksono tidak ada disana.


'Kemana Taji? Kog sepagi ini sudah tidak ada? Barang bawaan nya masih disini, pedangnya juga', batin Gayatri sedikit kebingungan.


Gayatri segera bangun dari tempat tidur nya dan bergegas keluar dari dalam gubuk. Mata perempuan itu celingukan mencari sosok Panji Tejo Laksono. Saat dia melihat Panji Tejo Laksono tengah memandikan kuda nya di sungai kecil yang menjadi batas wilayah pakuwon itu, Gayatri menarik nafas lega. Senyum manis terukir di wajah cantiknya.


'Dia memang tampan. Tak peduli sedang memandikan kuda atau berpakaian layaknya rakyat jelata, Taji Lelono memang pantas menjadi idola para perempuan.


Mulai hari ini, aku akan berdandan layaknya seorang wanita agar Taji Lelono mau melirik ku', batin Gayatri sambil senyum-senyum sendiri.


Perlahan Gayatri melangkahkan kakinya menuju ke arah Panji Tejo Laksono yang sedang asyik memandikan kuda tunggangan nya. Kuda Gayatri sendiri terlihat sudah bersih habis di mandikan dan terlihat sedang mengunyah rumput segar yang tumbuh subur di tepi sungai kecil itu. Gadis itu lalu duduk di atas sebuah batu besar yang ada di pinggir sungai.


"Wah rajin sekali kau Taji..


Pagi pagi sudah memandikan kuda, padahal kau sendiri belum mandi", ujar Gayatri sambil tersenyum tipis.


Mendengar gurauan Gayatri, Panji Tejo Laksono menoleh sekilas lalu kembali menggosokkan rumput ke punggung kudanya.


"Kuda ini teman seperjalanan kita Gayatri, dia sudah meminjamkan tenaga nya untuk membawa kita dari Seloageng hingga kemari. Selain rumput, hanya inilah balasan dari kerja keras nya", balas Panji Tejo Laksono sembari terus mengguyur punggung kudanya dengan air memakai batok kelapa yang dia temukan dekat gubuk.


"Iya iya aku mengerti apa yang kau maksud, Taji..


Aku berterimakasih kepada mu karena kau sudah memandikan kuda ku. Sekarang biar aku balas perbuatan baik mu", selesai berkata demikian, Gayatri melompat turun dari atas batu besar ke dalam aliran air sungai yang jernih. Lalu gadis itu langsung meraup air dan menyiramkannya pada Panji Tejo Laksono.


"Hahahaha..


Wajah mu yang basah kuyup itu benar benar mirip dengan kuda yang di mandikan Taji", tawa keras keluar dari mulut Gayatri.


"Wah kau nakal juga rupanya..


Kalau begitu rasakan balasan ku, Gusti Putri Dyah Gayatri", Panji Tejo Laksono langsung menyiratkan air dalam tempurung kelapa kering yang dia gunakan untuk memandikan kuda.


Bhyyyuuuurrrrrr...!!


Kini giliran Gayatri yang basah kuyup oleh siraman air Panji Tejo Laksono. Tak terima dengan itu, Gayatri membalas dengan menyiramkan air ke arah Panji Tejo Laksono. Jadilah pagi itu Panji Tejo Laksono dan Gayatri seperti bocah kecil yang main siram-siraman air sungai.


Aksi siram menyiram air ini terhenti kala seorang lelaki melompat turun ke sungai kecil itu dan berlari cepat kearah sisi selatan yang merupakan wilayah Pakuwon Sukowati.


"Hei ada apa Kisanak? Kenapa kau lari tunggang-langgang seperti di kejar setan begitu?", tanya Panji Tejo Laksono segera. Lelaki bertubuh pendek dan sedikit gemuk itu tak menghiraukan pertanyaan Panji Tejo Laksono dan segera bersembunyi di balik batu besar di tepi sungai. Nafas lelaki itu ngos-ngosan seperti baru saja berlari jarak jauh.


"Dasar aneh!


Abaikan saja dia Taji. Aku akan ganti baju dulu", ujar Gayatri yang segera berlalu menuju ke arah gubug tempat mereka menyimpan barang-barang.


Tak berapa lama kemudian, serombongan orang bertubuh gempal dengan perawakan sangar sampai di sungai kecil itu. Melihat dandanan nya mereka seperti centeng atau pengawal pribadi orang kaya. Mereka celingukan mencari sesuatu. Saat melihat Panji Tejo Laksono sedang memandikan kuda nya, salah seorang diantara mereka mendekati Panji Tejo Laksono.


"Hai anak muda,


Apa kau melihat seorang lelaki bertubuh pendek sedikit gemuk lewat sini?", tanya si lelaki bertubuh gempal dengan wajah berjambang lebat dan kumis tebal.


"Aku tidak melihat siapa siapa yang lewat tempat ini, Kisanak..


Aku sudah sedari tadi memandikan kuda kuda ku", jawab Panji Tejo Laksono sembari terus mengguyurkan air ke punggung kudanya.


"Dasar bocah tengik sialan!

__ADS_1


Cepat juga lari nya.. Kalau ketemu akan ku pecahkan batok kepala nya. Kalau begitu aku pergi dulu anak muda", ujar si lelaki bertampang sangar itu segera lalu memberi isyarat kepada kawan kawan nya untuk kembali ke tempat mereka.


Saat mereka hendak naik ke tebing sungai kecil, terdengar suara Gayatri yang baru selesai berganti baju.


"Hei Gendut..


Kenapa kau masih di balik batu begitu? Kau mau mengintip orang mandi ya?", Gayatri menghardik si pemuda itu.


Sontak kelima orang itu langsung menoleh ke arah Panji Tejo Laksono dan Gayatri. Si jambang lebat mendengus keras sambil menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono.


"Kurang ajar!!


Bocah kau berani menipu ku? Kau pasti kawan nya. Brengsek... Kawan kawan, hajar mereka bertiga", teriak si jambang lebat sembari melompat ke arah Panji Tejo Laksono.


Si centeng berbadan gempal itu langsung mengayunkan pukulan bertubi-tubi kearah Panji Tejo Laksono.


Whuuthhh whuuthhh!!!


Dengan tenang, pangeran muda dari Kadiri ini menghindari serangan dari si centeng. Melihat serangan nya mentah, si centeng berbadan gempal itu segera mengibaskan tangan kanannya ke arah kepala Panji Tejo Laksono, bermaksud merobohkan sang pangeran muda dengan kepalan tangannya.


Whhhhuuuuggghhh!!


Panji Tejo Laksono berkelit menghindari hantaman lawan lalu dengan cepat melayangkan dua serangan sekaligus kearah dada dan perut si centeng.


Dhasshhh dhasshhh!!


Oouugghhhh!!!


Si centeng berbadan gempal itu terhuyung mundur dan jatuh terduduk di atas lumpur sungai kecil. Dia muntah darah segar. Dua orang kawan nya yang sempat mengeroyok si pemuda gendut tadi langsung mencabut golok nya dan melompat ke arah Panji Tejo Laksono sembari menebaskan senjata tajam itu ke arah Panji Tejo Laksono.


Shhretttt shreeeeettttthhh!!


Panji Tejo Laksono langsung berkelit cepat menghindari serangan beruntun dengan lincah. Putra Panji Watugunung itu dengan cepat menjejak tanah dengan keras, saat dua tebasan golok mengincar lehernya.


Whuuthhh!!


Masih di udara, Panji Tejo Laksono langsung menghantam kedua telapak tangan nya yang berwarna merah menyala seperti api ke arah para centeng yang mengeroyoknya.


Whhhhuuuuggghhh!!


Dua larik sinar merah menyala seperti api berhawa panas menyengat menerabas cepat kearah dua centeng berbadan besar.


Blllaaammmmmmmm!!!


Meski hanya menggunakan sepertiga tenaga dalam nya, tapi hantaman Ajian Tapak Dewa Api mampu membuat kedua centeng berbadan besar itu terpental jauh hingga menabrak bibir sungai. Mereka muntah darah segar namun masih hidup.


Dua orang yang menghadapi Gayatri dan si Gendut juga tak luput dari amukan mereka berdua. Seorang gigi nya ompong setelah di pukuli oleh si Gendut sedangkan satu lagi bajunya koyak akibat serangan pisau terbang Gayatri.


Si centeng berbadan gempal dengan kumis tebal dan jambang lebat itu segera berlutut di hadapan Panji Tejo Laksono.


"Ampuni kami pendekar..


Kami salah sudah berani menantang pendekar. Mata kaki buta tidak bisa melihat tingginya langit dan dalam nya lautan", ujar si centeng berjambang lebat yang sepertinya merupakan pimpinan centeng centeng itu.


"Ya sudah, pergi kalian..


Kalau sampai aku berjumpa lagi dengan kalian dan tetap berbuat semena-mena, aku hajar kalian sampai keluarga kalian tak mengenali", hardik Panji Tejo Laksono dengan keras.


Mendengar perkataan itu, para centeng berbadan besar itu langsung kabur terbirit-birit dengan jalan pincang dan tertatih. Si Gendut sempat menendang bokong salah satu dari mereka hingga jatuh namun orang itu segera bangkit dan melarikan diri.


"Terimakasih atas bantuannya Pendekar. Jika tidak ada kalian, aku pasti sudah di keroyok habis habisan oleh mereka", ujar si lelaki bertubuh pendek dan gendut dengan sopan.


"Eh gendut, kenapa kau sampai di kejar kejar oleh mereka? Jangan jangan kau maling ya?", Gayatri yang berjalan mendekati mereka langsung berucap lantang. Si Gendut terlihat kurang senang saat Gayatri memanggil nya gendut.


"Seenaknya saja panggil nama orang. Orang tua ku memberikan nama yang bagus untuk ku", gerutu si Gendut sembari mendengus.


"Kalau tak mau di panggil gendut, katakan siapa namamu", Panji Tejo Laksono ikut menimpali. Si Gendut tersenyum tipis sebelum berbicara.

__ADS_1


"Panggil aku Wiro"


__ADS_2