
Ratu Dewi Anggraeni langsung terduduk lemas begitu mendengar ucapan Panji Tejo Laksono itu. Harapannya agar keturunannya menjadi satu kesatuan dengan Panjalu di ambang kehancuran. Adik tiri Prabu Jayengrana ini limbung dan pingsan saat itu juga.
Brruuuuuuukkkk!!
"Gusti Ratuuuu...!!!"
Teriakan keras dari dua dayang istana yang menjadi abdi setia Ratu Dewi Anggraeni seketika menyadarkan Pangeran Arya Tanggung. Penguasa Daerah Lodaya ini pun segera menghampiri sang istri yang terkulai pingsan di lantai sasana boga.
Rara Kinanti yang masih bersimpuh di lantai, seketika berdiri dan hendak mendekati sang ibunda tercinta namun mata tajam Pangeran Arya Tanggung melotot lebar ke arah nya hingga perempuan cantik itu langsung berhenti seketika.
"Jangan coba-coba untuk mendekati ibu mu sebelum kau meminta maaf pada Pangeran Panji Tejo Laksono!!
Ibu mu menjadi seperti ini karena ulah mu sendiri, Kinanti!!", ucap Pangeran Arya Tanggung dengan wajah dingin yang menakutkan. Baru kali ini, Rara Kinanti melihat tatapan mata dingin dari sang ayah seumur hidupnya. Tentu saja ini langsung membuat Rara Kinanti terpukul batin nya.
Setelah berkata seperti itu, Pangeran Arya Tanggung segera membopong tubuh Dewi Anggraeni ke arah ruang pribadi nya yang berada tepat di belakang singgasana Tanah Perdikan Lodaya. Meninggalkan Rara Kinanti yang masih termangu memandangi kepergian sang ayah.
"Kenapa jadi seperti ini? Kenapa???!!!"
Huhuhuhuhu. ......
Isak tangis Rara Kinanti langsung pecah seketika. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa niatnya untuk menjahili Endang Patibrata akan berubah menjadi seperti ini. Dan rencana pernikahan yang sudah di susun rapi sebelumnya oleh Pangeran Arya Tanggung, terancam batal karena masalah ini. Rara Kinanti sungguh menyesali perbuatannya.
Di sela sela isak tangis Rara Kinanti, Warni sang abdi setia nya perlahan berjalan mendekati nya. Wajah pelayan istana itu nampak prihatin terhadap apa yang sudah menimpa junjungan nya itu.
"Sudahlah Gusti Putri.. Nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi dan tidak ada yang bisa mengembalikan nya..
Sekarang yang Gusti Putri bisa hanyalah datang ke Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dan meminta pengampunan nya", hibur Warni dengan tulus.
Mendengar perkataan bijak sang abdi setia, Rara Kinanti mendongak menatap ke arah Warni yang tersenyum tulus kepadanya.
"Apa Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono akan memaafkan ku Warni? Hiks..", tanya Rara Kinanti di sela isak tangis dan air mata yang terus berderai membasahi pipi.
"Di maafkan atau tidak, hamba kurang tau Gusti Putri. Kita tidak akan tahu jika belum mencobanya.
Kalau Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono mau mengampuni dengan mudah, itu yang menjadi berkah bagi Gusti Putri khususnya dan keluarga Istana Lodaya pada umumnya. Tapi kalau Gusti Pangeran masih enggan memaafkan maka Gusti Putri harus betul-betul berusaha keras untuk mendapatkan nya", senyum tulus Warni membuat Rara Kinanti menghentikan tangisannya. Dia pun merasa mendapatkan sedikit semangat untuk meminta maaf kepada Panji Tejo Laksono.
Malam itu juga, setelah memantapkan hati nya, Dewi Rara Kinanti melangkah menuju ke arah Keputran Lodaya dimana Panji Tejo Laksono menempati tempat itu selama berada disini. Warni sang pelayan setia mengikuti langkah sang majikan untuk menguatkan hatinya agar tidak ragu untuk segera ke tempat Panji Tejo Laksono berada. Rara Kinanti sudah menyiapkan seluruh kata-kata yang hendak di katakan pada Panji Tejo Laksono.
Dua orang prajurit yang menjaga gerbang Keputran Lodaya langsung menghormat pada Rara Kinanti begitu putri penguasa Tanah Perdikan Lodaya ini melangkah masuk. Warni pun segera berhenti di depan pintu gerbang.
"Kau kenapa berhenti, Warni? Temani aku..", ucap Rara Kinanti yang melihat Warni berhenti.
"Ada kalanya kita itu harus sendiri, Gusti Putri. Agar kita tahu bahwa untuk menghadapi kenyataan kehidupan di butuhkan pribadi yang kuat dan tidak mengandalkan orang lain. Kali ini Gusti Putri harus betul-betul menghadapi Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sendiri agar kelak saat ikut bersamanya sebagai istri, Gusti Putri sudah siap menghadapi apapun yang terjadi", Warni membungkuk hormat kepada Rara Kinanti.
"Tapi tapi aku....", belum sempat Rara Kinanti menyelesaikan omongannya, Warni sudah lebih dulu memotong omongannya.
__ADS_1
"Tidak ada tapi tapi, Gusti Putri..
Sekarang Gusti Putri sudah berusia 2 windu, sudah dewasa dan dapat menentukan jalan hidup sendiri. Hadapi Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono karena ini adalah ujian kedewasaan Gusti Putri dalam menyelesaikan masalah..", Warni langsung berbalik badan dan meninggalkan Rara Kinanti yang masih berdiri di tempatnya. Dua orang prajurit penjaga pintu gerbang Keputran Lodaya saling berpandangan namun tidak berani bersuara sedikitpun.
Setelah Warni benar-benar menghilang dari pandangan mata nya, Rara Kinanti mengusap bulir air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Namun perempuan cantik itu segera mengusapnya sebelum melangkah menuju ke arah tempat peristirahatan Panji Tejo Laksono.
Panji Tejo Laksono sedang duduk di beranda Keputran Lodaya sambil menikmati pijatan tangan Endang Patibrata yang melemaskan otot-otot pundaknya yang kaku. Raut wajahnya sudah terlihat memerah seperti sedia kala, tak seperti saat mengeluarkan obat pembersih perut tadi sore. Saat itulah, dari arah depan Rara Kinanti melangkah sendiri menuju ke tempatnya. Endang Patibrata menghentikan sejenak pijatan tangan nya dan menatap tajam ke arah Rara Kinanti sebelum melanjutkan kegiatannya.
"Kenapa kau kemari? Paman Pangeran Arya Tanggung yang mengutus mu?", nada suara datar terdengar dari mulut Panji Tejo Laksono begitu Rara Kinanti mulai menginjak anak tangga Keputran Lodaya.
Mendengar perkataan itu, buyar seketika semua kata-kata yang di susun dan hendak di keluarkan oleh Rara Kinanti. Apalagi nada suara Panji Tejo Laksono yang datar, seketika membuat mental Rara Kinanti runtuh. Perlahan mata perempuan cantik itu berkaca-kaca dan bulir bening air mata jatuh membasahi pipinya.
"M-maafkan aku.. M-maaf.... hiks.."
Hanya itu saja yang bisa diucapkan oleh Rara Kinanti di sela derai air mata yang terus keluar dari sudut matanya. Panji Tejo Laksono hanya diam saja tak menjawab omongan Rara Kinanti dan terus menatap wajah cantik yang berurai air mata itu sembari mencoba menelisik apakah kata-kata maaf yang keluar dari bibirnya adalah permintaan maaf yang tulus. Setelah yakin bahwa Rara Kinanti memang benar-benar menyesali perbuatannya, Panji Tejo Laksono menghela nafas panjang.
Hemmmmmmm...
"Sudah cukup hentikan tangisan mu. Nanti kalau ada orang yang mendengarnya, aku yang di kira berbuat jahat pada mu", mendengar ucapan itu, Rara Kinanti serta merta menghentikan tangisnya. Meski demikian nafas yang memburu, Putri Tanah Perdikan Lodaya ini segera bicara.
"A-apakah Kang.. mas sudah me.. memaafkan ku??", ucap Rara Kinanti dengan nada suara yang putus-putus.
"Belum dan tidak semudah itu..", jawab Panji Tejo Laksono segera.
"Maksudnya apa Kangmas Pangeran? Kinanti belum mengerti..", Rara Kinanti menatap heran ke arah Panji Tejo Laksono.
Aku paling tidak suka dengan sikap pengecut yang hanya bisa main lempar batu sembunyi tangan. Karena itu, jika kau ingin aku memaafkan mu, kau harus melakukan sesuatu untuk ku agar aku yakin bahwa kau benar-benar menyesali perbuatan mu dan tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari", ucap Panji Tejo Laksono tegas.
Wajah cantik Rara Kinanti langsung berbinar binar mendengar jawaban Panji Tejo Laksono.
"Apa yang harus aku lakukan, Kangmas Pangeran? Katakan saja sekarang?", tanya Rara Kinanti tak sabar ingin segera tahu syarat yang harus dilakukannya.
Hemmmmmmm..
"Mulai dari sekarang, kau harus membersihkan seluruh Keputran Lodaya ini, menyediakan makan dan minum untuk aku dan Dinda Patibrata juga mencuci baju kami selama 3 hari.
Kalau sampai kami kurang berkenan dengan pekerjaan mu, maka masa hukumannya akan ditambah lagi", tegas Panji Tejo Laksono.
APPAAAAAAAAAAAA???!!!
Kaget Rara Kinanti mendengar ucapan itu. Dia yang selalu di layani oleh semua orang, kini harus menjadi pelayan di Keputran Lodaya? Ini sungguh-sungguh di luar nalar gadis cantik itu.
"T-tapi a-aku adalah putri, Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono. B-bagaimana mungkin aku menjadi seorang pelayan?".
"Terima atau tidak, itu bukan urusan ku. Jika kau menolaknya, besok pagi aku akan berkemas dan pulang ke Seloageng", Panji Tejo Laksono menatap dingin ke arah Rara Kinanti.
__ADS_1
"Ja-jangan be-gitu Kangmas Pangeran, aku mohon ..
Baiklah, aku terima syarat yang kau inginkan", jawab Rara Kinanti segera. Dia ketakutan setengah mati akan ancaman Panji Tejo Laksono. Kalau sampai itu terjadi, bisa-bisa dia diusir dari Istana Lodaya karena sudah mempermalukan pihak Istana.
"Sekarang kau bisa mulai melakukan tugas mu..
Ambilkan aku wedang jahe dengan camilan singkong rebus di kasih sambal setelah itu atur ranjang tidur ku. Jika sampai kau minta bantuan dari orang lain, maka aku akan menambah masa hukuman mu", perintah Panji Tejo Laksono segera.
Tanpa di perintah dua kali, Rara Kinanti segera bangkit dari tempat duduknya dan bergegas menuju ke arah dapur yang ada di belakang. Warni yang mengintip Rara Kinanti dari samping para prajurit penjaga pintu gerbang hanya menghela nafas berat sembari terus memperhatikan gerak-gerik Rara Kinanti.
Malam itu, Rara Kinanti harus bolak-balik ke dapur istana untuk menyediakan apa saja yang diminta oleh Panji Tejo Laksono. Meskipun kaki nya terasa pegal-pegal saking capeknya, tapi perempuan cantik itu tetap berusaha bertahan sekuat mungkin.
Endang Patibrata yang melihat ulah jahil Panji Tejo Laksono, mencolek pinggang sang suami.
"Kangmas Pangeran, apa kau tidak kasihan pada Rara Kinanti? Sepertinya dia kecapekan sekali mengerjakan semua keinginan mu", ucap Endang Patibrata sembari menunjuk ke arah Rara Kinanti mengusap peluh yang membasahi dahinya di sela sela kesibukan nya.
"Aku tidak mau jika nanti saat dia menjadi istri ku, akan bersikap manja dan seenaknya sendiri Dinda Patibrata..
Ini adalah pengajaran yang ku berikan pada nya agar dia bisa menghargai orang lain dan bertanggung jawab terhadap semua perbuatannya sendiri", balas Panji Tejo Laksono sambil menyuapkan sepotong singkong rebus yang penuh dengan baluran sambal ke mulutnya. Endang Patibrata pun akhirnya bisa mengerti juga.
****
Sementara Rara Kinanti masih harus menjalani masa hukumannya di Istana Lodaya, dua orang lelaki bertubuh kekar dengan kumis tebal memacu kuda mereka masing-masing ke arah Kota Kadipaten Seloageng. Usia kedua orang itu berbeda jauh. Yang satu kelihatan masih muda sedangkan satunya sudah terlihat uzur yang terlihat dari kumisnya yang sudah memutih.
Meskipun malam hari itu cahaya bulan hanya mampu membuat jarak pandang tak lebih dari sepuluh depa, namun tak menyurutkan semangat kedua orang ini untuk sampai di Kota Kadipaten Seloageng secepatnya.
"Paman, bukankah itu adalah tugu tapal batas Kota Kadipaten Seloageng?", si pemuda yang mengikat buntalan kain hitam di punggungnya itu menunjuk ke arah sebuah tugu besar yang ada di depannya.
"Kau benar, Tanaya..
Itu adalah tugu tapal batas Kota Seloageng. Ayo kita segera bergegas ke Istana Seloageng. Tugas kita harus cepat selesai", ucap si lelaki paruh baya bertubuh kekar itu sambil memilin kumisnya yang tebal.
Si pemuda yang di panggil Tanaya itu segera mengangguk mengerti dan keduanya segera bergegas memacu kuda mereka menuju ke arah timur. Belum sampai 100 depa, di depan gerbang Kota Kadipaten Seloageng, 4 orang prajurit yang sedang berjaga langsung menghentikan mereka.
"Berhenti kalian!!"
Teriakan keras dari mulut para penjaga gerbang kota ini seketika menghentikan mereka berdua. Dua orang tua muda ini langsung melompat turun dari kuda mereka masing-masing dan berjalan mendekati para prajurit penjaga gerbang kota.
"Mohon maaf Gusti Prajurit..
Kami ada urusan penting untuk segera dilakukan. Mohon ijin untuk melintas", ucap si lelaki paruh baya berkumis tebal itu segera.
"Semua orang punya urusan penting, bukan kalian saja. Jangan menggunakan kata urusan penting untuk memandang remeh orang lain. Siapa kalian dan ada urusan apa kemari?", tanya salah seorang prajurit yang merupakan pimpinan regu penjaga gerbang kota ini.
Si lelaki paruh bertubuh gempal itu menghela nafas panjang sebelum berbicara,
__ADS_1
"Kami utusan dari Anjuk Ladang"