Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Balada Penari Tledek


__ADS_3

Mendengar ucapan Dewi Rara Muninggar, Surti langsung meletakkan jari telunjuk tangan kanannya ke depan mulut. Wajah dayang istana Kadipaten Bojonegoro itu langsung di penuhi rasa ketakutan.


"Sssttttt...


Gusti Ayu jangan asal bicara. Penari tledek itu sedang bersama dengan Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa. Tolong Gusti Ayu jaga bicara nya", ucap Surti dengan penuh ketakutan.


"Kenapa aku harus takut pada Kangmas Pangeran Mapanji Jayawarsa? Dia suamiku sendiri, Surti", Dewi Rara Muninggar menatap heran kearah sang dayang istana Kadipaten Bojonegoro itu segera.


"Mohon maaf sebelumnya, Gusti Ayu..


Apa sebelum menikah dengan Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa, Gusti Ayu tidak pernah sekalipun mendengar kabar tentang Gusti Pangeran Jayawarsa?", tanya Surti dengan suara sedikit berbisik.


"Tidak pernah, aku hanya percaya dengan omongan Kanjeng Romo Adipati Tunggaraja tentang dia.


Apa ada sesuatu yang penting telah di sembunyikan oleh Kanjeng Romo Adipati pada ku Surti?", Dewi Rara Muninggar balik bertanya kepada sang dayang.


Hemmmmmmm..


Surti nampak menghela nafas berat. Dia paham bahwa Adipati Tunggaraja yang sangat menginginkan agar terhubung dengan trah keluarga Istana Panjalu pasti menutup-nutupi segala macam hal yang ada pada diri Mapanji Jayawarsa agar Dewi Rara Muninggar bersedia untuk dijodohkan dengan nya.


"Mohon ampun sebelumnya Gusti Putri..


Mungkin hamba lancang karena berani membeberkan rahasia yang seharusnya tidak Gusti Ayu ketahui. Mungkin selanjutnya hamba akan di hukum mati oleh Gusti Adipati, tapi hamba rela berkorban demi kebahagiaan Gusti Ayu.


Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa adalah orang yang suka main wanita. Berapa banyak perempuan yang sudah menjadi korban dari nafsu angkara murkanya, hanya beberapa orang saja yang tahu.


Hamba pernah mendengar, ada orang yang berani mengganggu kesenangan nya dan keesokan harinya dia ditemukan tewas tak bernyawa dengan badan penuh luka. Karena itu hamba mohon Gusti Ayu tidak menggangu kesenangan Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa. Ini demi keselamatan nyawa Gusti Ayu sendiri", pungkas sang dayang istana Kadipaten Bojonegoro itu sembari memelas menatap wajah cantik Dewi Rara Muninggar yang terkejut bukan main mendengar cerita Surti.


Bagaimana tidak kaget, suami yang baru saja di nikahi nya ternyata lelaki seperti itu. Air mata Dewi Rara Muninggar langsung mengalir keluar dari sudut mata nya. Malam pertama pengantin baru yang seharusnya menjadi malam terindah, harus di hancurkan oleh perilaku Mapanji Jayawarsa seperti itu. Meski tidak ada suara yang keluar dari mulut Dewi Rara Muninggar, tapi derasnya air mata yang membasahi pipinya menjadi pertanda kesedihan yang mendalam di hati Putri Adipati Tunggaraja ini. Untung saja tempat duduknya sedikit terlindung dari pandangan mata semua orang hingga tak seorangpun menyadari kejadian itu.


Melihat tangisan Dewi Rara Muninggar, Surti langsung mendekati sang majikan. Serta merta Dewi Rara Muninggar langsung memeluk tubuh Surti untuk meluapkan emosi nya.


"Sudahlah Gusti Ayu, jangan menangis seperti ini. Tak pantas seorang wanita bangsawan menangis di depan umum seperti yang Gusti Ayu lakukan. Tolong jaga martabat Gusti Ayu", hibur Surti untuk meredakan rasa sedih di hati Dewi Rara Muninggar.

__ADS_1


"Te.. terus aku harus bagaimana Surti?


Nasi sudah menjadi bubur, aku sudah terikat pernikahan dengan pangeran bejat itu. Aku tidak mau nama baik Kanjeng Romo Adipati Tunggaraja tercoreng jika aku diam saja. Aku harus berbuat sesuatu huhuhuhu..", isak Dewi Rara Muninggar sembari memeluk tubuh Surti.


Tak tega melihat kesedihan bendara nya, Surti menghela nafas berat sebelum berbisik sesuatu di telinga Dewi Rara Muninggar.


Usai mendengar bisikan Surti, Dewi Rara Muninggar langsung menghentikan tangisnya. Perlahan dia menatap ke arah Surti. Setelah melihat anggukan kepala dari Surti, Dewi Rara Muninggar langsung tersenyum kecut.


"Kapan itu di lakukan Surti?", tanya Dewi Rara Muninggar sembari menatap ke arah Surti.


"Setelah Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa menyelesaikan nafsu birahinya, Gusti Ayu", ucap Surti segera.


Mendengar jawaban itu, Dewi Rara Muninggar menarik nafas dalam-dalam lalu mengusap sisa air mata yang membasahi pipi indah nya. Dia segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam bilik kamar tidur nya diikuti oleh Surti.


Sesampainya di dalam kamar tidur, Dewi Rara Muninggar langsung berjalan mendekati kearah lemari pakaian yang ada di sudut ruangan dan mengambil sebuah kotak kecil dari kayu jati berukir indah. Surti menunggu di samping meja kecil. Dewi Rara Muninggar segera mengambil selembar kain berwarna hitam lalu menumpahkan isi kotak kayu kecil ke atas kain hitam yang di gelar. Puluhan perhiasan emas, mutiara dan batu mulia yang menjadi isi kotak kayu kecil itu segera teronggok di atas kain hitam. Dewi Rara Muninggar dengan cepat membungkus barang berharga itu dan segera mengulurkan nya pada Surti.


"Laksanakan Surti, jangan sampai gagal", dengus nafas penuh amarah keluar dari mulut Dewi Rara Muninggar.


Mendengar perintah dari majikannya, Surti dengan cepat mengangguk mengerti dan segera bergegas keluar dari dalam kamar tidur Dewi Rara Muninggar. Menggunakan selendang biru gelap, Surti menutupi sebagian wajah nya dan beringsut keluar dari dalam Keputren Istana Kadipaten Bojonegoro.


Surti terus berjalan menembus kegelapan malam di jalan Kota Kadipaten Bojonegoro. Begitu sampai di tapal batas kota bagian barat, Surti berbelok ke arah sebuah rumah yang agak tersembunyi di balik rimbun pepohonan yang sengaja di tanam untuk menyamarkan pandangan mata semua orang.


Dua orang berbadan gempal langsung mencegat Surti.


"Hei siapa kau? Kenapa malam buta seperti ini datang kemari ha?", bentak si lelaki bertubuh gempal itu dengan bengisnya. Dengan cepat, Surti membuka selendang biru gelap yang menutupi sebagian wajah nya.


"Aku utusan dari orang dalam Istana Kadipaten Bojonegoro, kawan dari Tumenggung Bondoyudho ingin bertemu dengan Ki Sapu Angin. Lekas antarkan aku menemuinya", ujar Surti tanpa kenal takut.


Mendengar jawaban Surti, dua orang berbadan gempal itu nampak menyelidik ke arah Surti seolah memeriksa setiap bagian tubuh si wanita muda ini. Setelah merasa yakin bahwa Surti tidak bersenjata dan tidak berbahaya, mereka segera bergegas berjalan menuju ke dalam rumah kayu yang tersembunyi itu.


Begitu memasuki dalam rumah, seorang lelaki bertubuh kekar dengan wajah menyeramkan nampak duduk bersila sembari menikmati arak beras dan daging babi panggang. Kumisnya tebal dengan jambang lebat dan tatapan mata tajam semakin menambah seramnya si lelaki yang berusia sekitar 4 dasawarsa ini. Apalagi sebuah bekas luka seperti sayatan pedang nampak menyilang di wajahnya membuat siapapun orangnya pasti takut jika berhadapan dengan orang ini. Dialah Ki Sapu Angin, pendekar bayaran yang mau melakukan apa saja asal mendapat upah yang layak meski melakukan hal keji sekalipun.


Surti segera melangkah mengikuti langkah dua pria gempal di depan nya itu yang segera mendekati Ki Sapu Angin. Salah seorang diantara mereka langsung berbisik di telinga Ki Sapu Angin hingga lelaki bertubuh kekar itu segera menghentikan acara makan nya. Senyuman lebar namun terlihat lebih seperti seringai seekor serigala terukir di wajah Ki Sapu Angin.

__ADS_1


"Benarkah kau ingin bertemu dengan ku, Cah Ayu?


Apa yang membuat mu berani untuk datang ke tempat ku malam hari begini hem?", tanya Ki Sapu Angin sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Maafkan aku jika mengganggu istirahat mu, Ki Sapu Angin.


Aku utusan dari orang dalam Istana Kadipaten Bojonegoro. Ada tugas penting untuk kau jalankan. Majikan ku ingin kau menghabisi nyawa Selasih, penari tledek dari Pakuwon Jatiroto yang saat ini sedang menghibur di dalam Istana Kadipaten Bojonegoro. Malam ini pasti dia akan menjadi teman tidur Pangeran Mapanji Jayawarsa. Lakukan setelah mereka selesai. Dan ini upah untuk mu", selesai bicara, Surti segera melangkah mendekati meja dan meletakkan bungkusan kain hitam pemberian Dewi Rara Muninggar di depan Ki Sapu Angin.


Dengan cepat Ki Sapu Angin langsung membuka bungkusan kain hitam yang di berikan oleh Surti. Mata lelaki berusia sekitar 4 dasawarsa ini langsung melebar melihat isi dalam bungkusan. Dengan cepat ia menutup kembali bungkusan kain hitam itu sambil tersenyum lebar.


"Katakan saja pada majikan mu untuk mempersiapkan diri melihat kematian di tledek itu.


Bonggol, Gandung..


Antar wanita muda ini hingga pintu depan. Pastikan bahwa ia selamat memasuki Kota Kadipaten Bojonegoro!", perintah Ki Sapu Angin segera.


"Sendiko dawuh Lurah e", jawab dua orang berbadan gempal yang bernama Bonggol dan Gandung itu segera. Surti segera berbalik badan dan keluar dari rumah itu di kawal Bonggol dan Gandung.


Di dalam istana Kadipaten Bojonegoro, acara gelar seni tayub telah usai. Selasih sudah di bawa ke balai tamu kehormatan oleh Pangeran Mapanji Jayawarsa bahkan sebelum acara itu selesai.


Malam itu, penari tledek yang menjadi idola sebagian besar masyarakat Kadipaten Bojonegoro itu melayani hasrat birahi Mapanji Jayawarsa yang sedang dalam pengaruh arak dan siddhu. Erangan nikmat dan lenguhan panjang nafsu birahi terdengar terus terusan dari dalam kamar tidur itu. Entah berapa kali putra kedua Prabu Jayengrana ini melampiaskan nafsu nya pada penari tledek asal Pakuwon Jatiroto ini.


Malam panjang itu berakhir dengan suara kokok ayam jantan yang menandakan bahwa hari sudah pagi. Mapanji Jayawarsa tidur telanjang dengan separuh selimut menutupi sebagian tubuhnya. Putra dari Permaisuri Ayu Galuh ini nampak puas dengan pelayanan Selasih di tempat tidur.


Selasih terbangun dari tidurnya dan segera beringsut turun dari atas ranjang. Wajah cantik nya terlihat kuyu karena semalam suntuk di paksa melayani nafsu Mapanji Jayawarsa. Sembari tersenyum tipis melihat wajah Mapanji Jayawarsa yang tertidur, Selasih segera mengenakan pakaian nya. Begitu selesai, dia berjalan pelan-pelan keluar dari kamar agar tidak membangunkan tidur Mapanji Jayawarsa.


Setelah sampai di luar kamar tidur, Selasih berjalan meninggalkan tempat itu menuju ke arah gerbang istana. Belum sempat ia mendekati pintu gerbang istana, sebuah bayangan hitam berkelebat cepat dari atas bangunan istana sembari mengayunkan sebuah pedang ke arah leher Selasih.


Chhhrrrrraaaaaaassssshhhhh !


Aaaaarrrrrrrrrggggggghhhhhhh !


Lolongan panjang penuh kesakitan terdengar dari mulut Selasih, bersamaan dengan tebasan pedang ke lehernya. Darah segar langsung mengalir keluar batang lehernya yang robek besar. Penari tledek itu langsung roboh bersimbah darah. Sementara sang penyerang langsung melesat pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Teriakan keras Selasih langsung membuat para prajurit penjaga gerbang istana berlarian ke arah nya. Begitu melihat Selasih roboh terkapar bersimbah darah, salah seorang dari mereka langsung berteriak keras,


"Ada pembunuhan!!"


__ADS_2