
"Aku memang putra nya".
Mendengar jawaban itu, menggelegak api amarah Prabu Menak Luhur. Dendam kesumat yang lama bersarang di hatinya kembali berdarah. Kematian kakak perempuannya yang memilih bunuh diri karena malu di tolak oleh Panji Watugunung menjadikan dendam itu mengakar kuat di dalam hati Prabu Menak Luhur.
"Kurang ajar!
Pantas saja sikap angkuh mu mirip dengan bapak mu, bocah tengik! Hahahaha, jangan salahkan nasib sial mu karena hari ini kau harus membayar hutang nyawa kakak ku yang bunuh diri karena ulah bapak mu.
Bocah tengik!
Bersiaplah untuk mati!!", teriak Prabu Menak Luhur sembari menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
"Aku tidak tahu kesalahan apa yang dilakukan oleh ayahanda ku tapi disini aku adalah seorang prajurit Panjalu yang bertarung untuk mempertahankan negeri kami dari orang yang ingin merongrong kewibawaan nya.
Siapa yang mati, masih belum tahu. Majulah kau hai Wong Blambangan!", balas Panji Tejo Laksono sembari bersiap untuk menghadapi sang pimpinan pasukan Blambangan.
Phhuuuiiiiiihhhhh...
"Akan ku hancurkan batok kepala mu bangsat!"
Prabu Menak Luhur memutar gagang Gada Wesi Kuning sebelum melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Dengan gerakan cepat, Prabu Menak Luhur mengayunkan Gada Wesi Kuning nya untuk mengepruk kepala Panji Tejo Laksono.
Whuuuggghh!
Dengan lincah, Panji Tejo Laksono menghindari gebukan gada Prabu Menak Luhur sembari melompat mundur beberapa langkah. Melihat serangan nya mentah menghajar angin kosong, Prabu Menak Luhur kembali memburu Panji Tejo Laksono dengan serangan beruntun yang mematikan.
Whuuthhh! Whuuthhh!!
Saling serang dan saling berusaha untuk menjatuhkan lawan terjadi dengan sengit. Tak ada seorang pun yang berani mendekati arena pertarungan sengit antara mereka karena takut menjadi korban serangan nyasar.
Luh Jingga yang baru saja menebas leher seorang prajurit Blambangan, hendak maju ke arah pertarungan antara Panji Tejo Laksono dan Prabu Menak Luhur. Namun Tumenggung Ludaka yang ada di sana dengan cepat mencekal lengan nya.
"Mau apa kau Nisanak?", tanya Tumenggung Ludaka segera.
"Aku akan membantu Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, Gusti Tumenggung", jawab Luh Jingga sembari menatap ke arah pertarungan sengit antara Panji Tejo Laksono dan Prabu Menak Luhur.
"Kau tidak bisa membantu nya bahkan jika kau masuk ke dalam arena pertarungan, kau hanya akan jadi beban nya.
Percayalah pada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono", ujar Tumenggung Ludaka dengan tegas.
Mendengar perkataan itu, Luh Jingga hanya menghela nafas panjang dan memilih untuk kembali membantu para prajurit Panjalu menumpas para prajurit Tanah Blambangan.
Keadaan para prajurit Blambangan semakin terdesak dengan tumbangnya satu persatu para petinggi prajurit yang menjadi pilar utama kekuatan mereka.
Korban tewas terus berjatuhan di kedua belah pihak. Mayat mayat para prajurit bergelimpangan tak tentu arah semakin menumpuk di sekitar medan perang ini.
Panji Tejo Laksono melompat menjauh dari sang raja Blambangan usai kedua tangan mereka beradu. Dengan cepat ia merapal Ajian Tameng Waja untuk mempercepat akhir pertarungan sengit antara mereka.
Selarik sinar kuning keemasan seketika meliputi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono.
Melihat Panji Tejo Laksono mundur, Prabu Menak Luhur menyeringai lebar menatap ke arah Panji Tejo Laksono karena mengira bahwa Panji Tejo Laksono sudah kelelahan. Dengan cepat ia melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan Gada Wesi Kuning ke arah kepala sang pangeran muda.
Whuuuggghh
Thrrraaannnnggggg!!
Bunyi nyaring seperti benda logam keras beradu terdengar saat Gada Wesi Kuning menyentuh kulit tubuh Panji Tejo Laksono. Mata Prabu Menak Luhur melotot lebar melihat itu semua.
Belum hilang rasa keterkejutan Prabu Menak Luhur, Panji Tejo Laksono langsung menghantamkan tapak tangan kiri nya yang berwarna merah menyala seperti api.
Whhuuthh!
Melihat serangan itu, Prabu Menak Luhur dengan cepat memapak nya dengan tapak tangan kiri nya.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan dahsyat terdengar saat dua tapak tangan kiri mereka berdua beradu. Prabu Menak Luhur yang tidak siap, terpental jauh ke belakang. Belum sempat menyusruk tanah, dia menggunakan Gada Wesi Kuning sebagai tumpuan hingga tubuhnya kembali tegak. Seteguk darah segar dia muntahkan.
__ADS_1
Dengan geram ia mengusap sisa darah yang mengalir di sudut mulut nya.
"Bocah tengik!
Boleh juga kau rupanya. Tapi Prabu Menak Luhur masih belum kalah dari mu bangsat!", teriak Prabu Menak Luhur dengan lantang.
"Aku pun juga akan mengeluarkan seluruh kemampuan ku untuk bertarung melawan mu Prabu Menak Luhur", balas Panji Tejo Laksono segera. Perlahan Panji Tejo Laksono mencabut Pedang Naga Api yang ada di punggungnya.
Begitu Pedang Naga Api keluar dari sarungnya, udara di sekeliling tempat itu menjadi panas. Para prajurit Panjalu dan Blambangan semakin menjauhi tempat dimana Panji Tejo Laksono dan Prabu Menak Luhur mengadu ilmu.
Bahkan Senopati Agung Narapraja yang di bawah pertolongan Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg pun terpaksa meminta mereka berdua untuk menjauhkan diri dari tempat itu.
"Tak ku sangka ya Lu..
Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono benar benar bisa menggunakan pedang itu. Padahal aku dengar jika pedang pusaka itu tidak mau keluar dari sarungnya bila bukan pemilik nya yang menggunakan", ujar Demung Gumbreg yang menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang sedang memegang Pedang Naga Api di tangan kanannya.
"Itu tandanya bahwa Pedang Naga Api sudah mengakui Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sebagai tuan nya, Mbreg..
Pantas saja Gusti Prabu Jayengrana begitu tenang membiarkan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono hanya di kawal oleh Jaluwesi dan Siwikarna saja. Ini rupanya alasannya ", jawab Tumenggung Ludaka sambil menatap ke arah dua orang yang sedang berhadapan itu dengan penuh kekaguman.
Prabu Menak Luhur terperanjat tak percaya melihat pemuda tampan di depannya itu memiliki pusaka tingkat tinggi. Meski dia membawa senjata pusaka andalan Tanah Blambangan turun temurun, namun dia mulai merasa khawatir juga melihat Pedang Naga Api di tangan Panji Tejo Laksono.
'Bangsat!
Anak Jayengrana ini rupanya dari tadi menyembunyikan kemampuannya. Aku tidak boleh gegabah jika tidak ingin di permalukan oleh bocah kemarin sore ini", batin Prabu Menak Luhur sambil menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
Setelah memejamkan mata sekejap, Prabu Menak Luhur menghirup nafas sebanyak tiga kali sebelum melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono.
Dengan cepat ia menghantamkan Gada Wesi Kuning nya ke arah tubuh Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda tidak tinggal diam. Dia segera membabatkan Pedang Naga Api nya ke arah Gada Wesi Kuning.
Thhraaaanggggggg.!
Blllaaammmmmmmm!!
Bunyi nyaring dua senjata pusaka beradu diikuti ledakan dahsyat akibat benturan tenaga dalam tingkat tinggi terdengar dari pertarungan mereka. Meski Prabu Menak Luhur sudah menggunakan Ajian Dwipangkara yang membuat kekuatan nya meningkat sepuluh kali lipat, namun nyatanya dia tidak mampu menembus pertahanan Panji Tejo Laksono yang mengandalkan Ajian Tameng Waja.
Prabu Menak Luhur terdorong mundur sejauh 2 tombak akibat gelombang kejut yang tercipta saat pusaka nya beradu dengan Pedang Naga Api.
Raja Blambangan itu langsung menadahkan Gada Wesi Kuning nya untuk menangkis sabetan Pedang Naga Api.
Thrrriiinnnggggg!!
Kuatnya tenaga dalam yang mengikuti sabetan Pedang Naga Api membuat tubuh Prabu Menak Luhur melesat ke dalam tanah hingga sebatas betis kaki nya.
Panji Tejo Laksono melompat mundur dengan bersalto beberapa kali ke belakang dan mendarat di tanah.
Prabu Menak Luhur dengan penuh amarah langsung menyalurkan Ajian Gempur Bumi pada Gada Wesi Kuning nya dan menghantam tanah dengan keras.
Bhhuuuuummmmmmhh!!
Tanah tempat berdiri nya Prabu Menak Luhur bergetar hebat seperti terkena gempa bumi dan retak hingga sang penguasa Tanah Blambangan berhasil keluar dari dalam tanah. Lalu dengan cepat, ia melesat ke arah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan Gada Wesi Kuning nya.
Thhraaaanggggggg!
Thrrriiinnnggggg!
Bunyi nyaring terdengar dari benturan dua senjata mereka. Panji Tejo Laksono yang terdorong mundur dari hadapan Prabu Menak Luhur dengan cepat merapal Ajian Dewa Naga Langit yang membuat matanya memerah seperti mata seekor naga. Tenaga dalam nya meningkat sepuluh kali lipat.
Sang pangeran muda dari Kadiri itu langsung melesat cepat kearah Prabu Menak Luhur dengan menggabungkan Ajian Tapak Dewa Api dengan Ajian Dewa Naga Langit.
Prabu Menak Luhur mengayunkan Gada Wesi Kuning nya untuk menghalau pergerakan Panji Tejo Laksono namun sang pangeran muda berkelit lantas menghantamkan tangan kiri nya yang berwarna merah kebiruan kearah dada sang penguasa Tanah Blambangan.
Whuuuggghh!!
Prabu Menak Luhur dengan cepat menghadang serangan Panji Tejo Laksono dengan tangan kiri nya yang berwarna biru dari Ajian Tapak Langit nya.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!
__ADS_1
Prabu Menak Luhur terpelanting jauh ke belakang sejauh hampir 8 tombak. Gada Wesi Kuning nya terlepas dari genggaman dan dia jatuh menghantam tanah dengan keras. PO
Huuuuooogggghhh!!
Prabu Menak Luhur muntah darah segar kemudian roboh karena pingsan akibat luka dalam serius yang dia derita.
Salah seorang perwira tinggi prajurit Blambangan yang masih hidup, Tumenggung Girinata dengan cepat berteriak lantang.
"Lindungi Gusti Prabu Menak Luhur!"
Mendengar perintah itu, para prajurit Blambangan yang tersisa di sekitar tempat pertarungan antara Panji Tejo Laksono dan Prabu Menak Luhur langsung berkumpul membentuk pagar betis untuk melindungi raja mereka.
"Pasukan Blambangan, mundur!!!"
Mendengar perintah Tumenggung Girinata, para prajurit Blambangan segera bergerak cepat meninggalkan tempat itu. Hanya dalam beberapa saat saja sekitar 10 ribu prajurit Blambangan yang tersisa sudah pergi dari medan perang, meninggalkan mayat-mayat prajurit yang bergelimpangan tak tentu arah di Sungai Lawor.
Panji Tejo Laksono yang hendak mengejar langsung di cegah oleh Tumenggung Ludaka yang bergerak cepat usai melihat kekalahan Prabu Menak Luhur.
"Cukup Gusti Pangeran, tak perlu kau kejar mereka", ujar Tumenggung Ludaka sambil menyembah pada Panji Tejo Laksono.
"Kenapa Paman? Bukankah mereka tinggal sedikit lagi kita hancurkan?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Jika kita memaksa mengejar mereka, itu sama saja kita memasuki wilayah Jenggala. Kalau sampai itu terjadi, tindakan kita akan memicu terjadinya perang dengan wilayah Jenggala.
Gusti Prabu Jayengrana sudah mewanti-wanti hamba agar bisa mengingatkan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono agar tidak membuat hal ini terjadi", Tumenggung Ludaka menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Aku mengerti Paman Ludaka..
Ambil tindakan seperlunya untuk para prajurit Panjalu yang terbunuh pada perang kali ini. Kita tidak akan meninggalkan mayat mayat mereka begitu saja di tempat ini", perintah Panji Tejo Laksono segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran"
Usai berkata demikian, Panji Tejo Laksono langsung kembali ke tenda besar nya dengan kawalan Siwikarna dan Jaluwesi serta Luh Jingga.
Senopati Jarasanda yang merupakan pucuk pimpinan sementara pasukan Panjalu setelah Senopati Agung Narapraja terluka parah, segera memerintahkan kepada para prajurit Panjalu yang tersisa untuk membuat kuburan bagi para prajurit Panjalu yang terbunuh. Sedangkan mayat mayat prajurit Blambangan mereka kumpulkan lalu di bakar. Bau sangit pembakaran mayat memenuhi tepi Sungai Lawor.
Usai menguburkan mayat mayat para prajurit Panjalu yang gugur pada hari itu, mereka menghitung jumlah para prajurit Panjalu yang tersisa.
Dari perang ini setidaknya ada 8 ribu prajurit yang gugur dari pihak Panjalu yang terdiri dari 2500 prajurit Panjalu, 300 pasukan Garuda Panjalu dan 50 Pasukan Lowo Bengi. Sedangkan separuh prajurit Kadipaten Singhapura gugur, sedangkan dari Kadipaten Seloageng sebanyak 2000 prajurit nya gugur menjadi pahlawan perang.
Senopati Kandasambu dari Singhapura akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya setelah menderita luka dalam yang serius akibat pertarungan nya dengan Tumenggung Sudamantra. Sedangkan 2 bekel prajurit dari Seloageng dan seorang juru dari prajurit Panjalu juga menjadi korban perang.
Tumenggung Ludaka segera mengirim utusan ke istana Kadiri untuk mengabarkan kepada Prabu Jayengrana tentang keberhasilan mereka menghalau para prajurit Blambangan. Pun juga orang orang Kadipaten Seloageng segera mengabarkan pada pihak istana mengenai kemenangan ini.
Keesokan harinya...
Pasukan Panjalu mulai bergerak meninggalkan tempat perkemahan mereka di tepi Sungai Lawor. Sisa prajurit Kadipaten Singhapura langsung pulang ke tempat asal mereka dengan membawa jenazah Senopati Kandasambu, menyisakan pasukan Panjalu dan pasukan Seloageng yang bergerak menuju ke arah barat.
Begitu memasuki wilayah Pakuwon Bedander, dua pasukan itu memecah diri menjadi dua. Sebagian ke Kota Kadipaten Seloageng sedangkan sebagian lagi menuju ke arah Kotaraja Kadiri.
Sepanjang perjalanan ke Kotaraja Kadiri, para penduduk wanua dan pakuwon yang mereka lewati terus mengelu-elukan mereka. Mereka semua telah menjadi pahlawan perang bagi semua masyarakat.
Ada yang suka tentu saja ada yang tidak suka.
Sekelompok orang tengah duduk bersila di sebuah bangunan berpagar kayu tinggi di Utara Kotaraja Kadiri. Raut muka mereka terlihat mengkerut seperti tengah memikirkan sesuatu yang berat.
"Dengan kemenangan ini, nama Tejo Laksono akan semakin berkibar dan akan mendapatkan dukungan serta sokongan dari masyarakat di kerajaan Panjalu untuk menjadi putra mahkota selanjutnya, Mpu..
Kalau ini di biarkan maka keturunan asli dinasti Isyana dari darah Prabu Airlangga akan beralih pada keturunan yang berasal dari luar sepenuhnya. Prabu Jayengrana masih bisa di maklumi karena dia masih terhitung sepupu dan sama sama cicit dari Mahendradatta.
Tapi Tejo Laksono hanyalah putra Prabu Jayengrana dari putri Adipati Seloageng yang tidak memiliki pertalian darah apapun dengan Dinasti Isyana. Aku khawatir jika posisi putra mahkota jatuh pada Panji Tejo Laksono, keturunan dinasti Isyana dari garis darah Prabu Airlangga akan hilang sepenuhnya di Panjalu", ujar seorang kakek tua berjenggot putih tanpa kumis yang tak lain adalah Mpu Kepung, seorang penasehat utama yang menjabat Mahamantri.
"Kita tidak bisa terang-terangan melawan keinginan Gusti Prabu Jayengrana jika dia menginginkan Panji Tejo Laksono sebagai penerus nya. Ini bisa dianggap sebagai makar Mpu Kepung", jawab seorang lelaki berpakaian layaknya seorang pertapa yang merupakan salah satu penasehat agama Siwa, Dang Acarya Ring Kasaiwan Mpu Gandasena.
"Aku tahu itu Mpu, melawan Prabu Jayengrana sama dengan menggali kubur sendiri..
Ah aku punya sebuah ide bagus untuk menyingkirkan Panji Tejo Laksono agar menjauh dari Kotaraja Kadiri tanpa harus mencelakai nya. Tapi Mpu Gandasena harus mendukung ku saat kita di pisowanan nanti", Mpu Kepung tersenyum lebar.
__ADS_1
Mpu Gandasena mengerutkan keningnya mendengar ucapan itu. Dengan cepat ia bertanya,
"Apa ide mu itu, Mpu Kepung?".