Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Kedatangan Prabu Jayengrana


__ADS_3

Semua orang terdengar kebingungan dengan asal usul suara yang sanggup membuat mereka merasa ketakutan. Hanya Resi Sanggabuana saja yang langsung mengenali si pemilik suara ini.


"Gu-guru..??


Tapi kenapa guru?", teriak Resi Sanggabuana sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.


"Dia adalah penerus dari benih para raja Tanah Jawadwipa. Jika sampai terjadi sesuatu pada nya, kau akan merusak tatanan takdir yang sudah digariskan oleh Sang Hyang Agung.


Hukuman berat dari para dewa akan menunggumu, Sanggabuana!", kembali suara berat tanpa wujud itu terdengar menggelegar.


"Tapi dia sudah membunuh murid ku, Guru..


Aku tidak akan melepaskannya begitu saja! Dia harus mati hari ini juga!", teriak Resi Sanggabuana dengan kerasnya. Setelah berkata seperti itu, Resi Sanggabuana segera melompat ke arah Panji Tejo Laksono dan bermaksud untuk menginjak tubuh nya. Namun belum sampai Resi Sanggabuana melakukan nya, sebuah sinar biru terang benderang yang menyilaukan mata menghantam sosok Resi Sanggabuana yang kini berwujud seperti raksasa.


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!!


Hoooaaarrrrrrggggghhhhh...!


Sosok Danawa Resi Sanggabuana langsung meraung keras saat sinar biru terang itu menghantam tubuhnya. Resi Sanggabuana terpelanting ke belakang menyusruk tanah dengan keras. Namun dia segera bangkit lagi dari tempat jatuhnya seolah tak terjadi apa-apa. Rupanya kulit hijau nya kebal ajian yang baru saja menghantam nya.


Saat yang bersamaan muncul dua sosok lelaki yang berdiri di udara layaknya terbang mengambang di langit dengan dua pakaian yang berbeda. Satu sosok memakai pakaian serba putih layaknya seorang pertapa tua dengan rambut memutih dan janggut panjang nya nyaris menyentuh pusar. Menilik dari penampilannya, setidaknya kakek tua itu berusia lebih dari 1 abad dengan banyaknya keriput yang menghiasi wajah tua dan kulitnya. Meski sudah berusia lanjut namun penampilan nya masih terlihat begitu gagah dan berwibawa. Dia adalah Dewa Guru Ragamulya dari Kedewaguruan Gunung Tangkuban Parahu di Tatar Pasundan, sang legenda hidup yang menyaksikan peristiwa perubahan jaman sejak Prabu Darmaraja awal berkuasa hingga di ganti oleh Prabu Langlangbumi pengganti nya.


Seorang lagi berpakaian layaknya seorang bangsawan dengan memakai mahkota dari emas dengan pakaian sutra berwarna hitam bersulam benang emas. Usianya sekitar 4 dasawarsa lebih, terbukti dengan munculnya beberapa uban di rambutnya namun itu tidak mengurangi gurat ketampanan dari sang lelaki yang bertubuh tegap dan memiliki sorot mata yang tajam ini. Dia adalah Panji Watugunung alias Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta atau yang lebih di kenal dengan sebutan Prabu Jayengrana dari Kadiri.


Kemunculan dua orang lelaki itu sontak membuat semua orang terbelalak lebar melihat nya.


"Dewa Guru Ragamulya..


Salam hormat ku kepada mu", ujar Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana sembari membungkuk hormat kepada sang pertapa tua.


"Maharaja Panjalu Dyah Panji Watugunung Sang Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta..


Aku Ragamulya beruntung bisa bertemu dengan seorang raja yang sakti mandraguna seperti mu", balas Dewa Guru Ragamulya dengan santun nya.


"Hanya sebuah nama, bukan hal besar yang patut di banggakan..


Aku minta agar Dewa Guru Ragamulya bersedia untuk meredam amarah dari murid mu. Itu adalah permintaan dari seorang ayah yang ingin melihat putranya selamat", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Gusti Maharaja Panjalu tidak perlu khawatir..


Sanggabuana akan segera saya hentikan. Mohon sang titisan Dewa Wisnu tak murka karena bisa menghancurkan dunia", ujar Dewa Guru Ragamulya yang memang mengetahui bahwa Panji Watugunung tersohor sebagai titisan Dewa Wisnu karena bisa berubah menjadi Butha Agni yang menjadi bukti titisan sang penjaga alam semesta.


Setelah berkata demikian, Dewa Guru Ragamulya segera menoleh ke arah Resi Sanggabuana yang masih berwujud manusia raksasa menyeramkan. Dengan lantang dia berkata, "Sanggabuana, hentikan tindakan mu atau kau ingin berhadapan dengan ku!".


Mendengar perkataan dari sang guru, Resi Sanggabuana mundur selangkah ke belakang. Dia tahu bahwa jika gurunya sudah berkata seperti itu maka jangankan dia seorang diri, jika di bantu Resi Wangsanaya kakak seperguruan nya saja, mereka bukan lawan yang sepadan dengan sang Dewa Guru.

__ADS_1


"Tapi aku meminta keadilan untuk murid ku, Guru..


Apakah aku salah melakukan nya?", tanya Resi Sanggabuana dengan suara nya yang bergetar.


"Kau tidak salah, Sanggabuana..


Yang salah adalah murid mu yang menjadi dalang dari pemberontakan Rajapura terhadap Panjalu. Dia harus bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri, dan itu bukanlah urusan mu", ujar Dewa Guru Ragamulya segera.


"Tapi aku masih belum bisa menerima kematian Gurunwangi, Guru..


Rasa amarah ini terus membakar jiwa ku setiap waktu", balas Resi Sanggabuana sembari menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono.


"Bertapalah kembali ke Gunung Tangkuban Parahu, Sanggabuana..


Setahun lagi, jika kau masih belum bisa menerima kematian Gurunwangi, kau boleh mencari Pangeran Panji Tejo Laksono untuk menuntaskan rasa ketidakpuasan mu. Bukankah begitu, Maharaja Panjalu?", Dewa Guru Ragamulya menoleh ke arah Panji Watugunung yang berada di sampingnya. Mendengar perkataan itu, Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana mengangguk mengerti.


"Kalau begitu, aku patuh kepada perintah Guru..", setelah itu, Danawa wujud dari Resi Sanggabuana segera menangkupkan kedua telapak tangan nya ke depan dahinya dan perlahan tubuhnya menyusut hingga ke wujud semula.


Setelah Resi Sanggabuana kembali berubah menjadi manusia biasa, Dewa Guru Ragamulya segera menoleh ke arah Panji Watugunung.


"Maharaja Panjalu Sang Prabu Jayengrana..


Karena masalah ini sudah selesai, saya mohon pamit. Mohon maaf untuk semua keributan yang terjadi saat ini. Saya akan membawa murid saya kembali ke Gunung Tangkuban Parahu", Dewa Guru Ragamulya membungkukkan badannya pada Prabu Jayengrana. Sang Maharaja Panjalu itu segera membalas ucapan itu dengan menghormat pada sang pertapa tua sambil tersenyum simpul.


Setelah itu, Prabu Jayengrana segera melayang turun mendekati Panji Tejo Laksono yang masih berdiri di tempatnya. Begitu kaki Prabu Jayengrana menapak tanah, Panji Tejo Laksono segera berjongkok dan menyembah pada sang Raja Panjalu itu.


"Sembah bakti saya pada Ayahanda Prabu Jayengrana", ucap Panji Tejo Laksono segera.


"Bangunlah putra ku ..


Sembah bakti mu sudah aku terima", jawab Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana sambil tersenyum penuh arti.


"Mohon maafkan putra mu ini karena belum sempat pulang ke Kadiri untuk menghaturkan bakti kepada ayahanda dan ibunda Ratu Anggarawati", sambung Panji Tejo Laksono sambil membungkukkan badannya.


"Aku yang seharusnya berterima kasih kepada mu, putra ku..


Tanpa bantuan dari mu, Panjalu mungkin saat ini masih harus menghadapi para pemberontak Rajapura di bawah pimpinan Adipati Waramukti. Kau sudah melakukan tugas mu dengan baik sebagai seorang ksatria sejati yang menegakkan dharma nya", balas Panji Watugunung sambil tersenyum senang.


Saat kedua ayah dan anak ini sedang berbincang-bincang, Adipati Aghnibrata, Ayu Ratna, Luh Jingga dan Song Zhao Meng beserta seluruh perwira tinggi prajurit Panjalu dan Kalingga yang sudah berkumpul di tempat itu segera berjalan mendekati mereka. Dengan kompak, semuanya berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung sambil berkata, "Sembah bakti kami kepada Maharaja Panjalu Gusti Prabu Jayengrana".


Mendengar ucapan dari semua orang itu, Prabu Jayengrana alias Panji Watugunung segera menoleh ke arah mereka sambil mengangkat tangan kanannya.


"Berdirilah kalian semua..


Sembah bakti kalian aku terima"

__ADS_1


Mendengar titah Sang Maharaja Panjalu, semua orang segera berdiri. Prabu Jayengrana menghentikan obrolannya dengan Panji Tejo Laksono dan berjalan mendekati mereka.


"Mohon ampun Gusti Prabu..


Penyambutan kedatangan Gusti Prabu Jayengrana di Kalingga terjadi seperti ini. Aghnibrata layak mendapatkan hukuman berat ", ujar Adipati Aghnibrata sembari membungkuk hormat kepada Prabu Jayengrana.


"Sudahlah, Adipati Aghnibrata..


Aku datang jauh jauh kemari juga bukan semata-mata karena ingin kau sambut dengan meriah. Tapi ini semua demi putra ku yang sebentar lagi akan menjadi menantu mu", ucap Panji Watugunung sambil tersenyum penuh arti.


"Mohon ampun Gusti Prabu..


Bukan hamba saja yang akan menikah dengan Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono, tapi juga Song Zhao Meng juga. Luh Jingga dan Gayatri pun juga akan diikat dengan tali pernikahan dengan Kangmas Pangeran Tejo Laksono disini juga", sahut Ayu Ratna yang di sambut senyum oleh Gayatri, Luh Jingga dan Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari.


Mendengar perkataan itu, Prabu Jayengrana segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang memerah wajahnya sambil tersenyum kecut.


"Putra ku benar benar mengikuti langkah ku.. Hehehe...


Ini mungkin sudah menjadi takdir dari Dewa di Kahyangan Suralaya. Adipati Aghnibrata, apakah kau tidak mempersilahkan aku masuk ke dalam istana mu?", Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana tersenyum tipis sembari menoleh ke arah Adipati Aghnibrata. Adipati sepuh itu segera menepuk jidatnya sendiri.


"Oh Dewa, bagaimana bisa aku melupakan adat dan sopan santun ku?


Mari mari silahkan Gusti Prabu Jayengrana. Kita bicara di ruang pribadi hamba", ujar Adipati Aghnibrata sembari mempersilahkan Panji Watugunung berjalan lebih dulu menuju ke arah ruang pribadi Adipati. Begitu Prabu Jayengrana melangkah menuju ke arah ruang pribadi Adipati, semua orang penting di pemerintahan langsung mengikuti langkah nya.


Kedatangan mendadak Prabu Jayengrana langsung menambah kesibukan seisi Istana Kadipaten Kalingga. Yang di dapur istana langsung menyiapkan aneka macam hidangan terbaik untuk sang Maharaja Panjalu.


Demung Gumbreg yang datang paling belakang tak sempat bertemu dengan Panji Watugunung hanya menghela nafas panjang. Pupus sudah harapan nya untuk bertanya kepada Sang Maharaja Panjalu. Tumenggung Ludaka yang melihat kekecewaan di wajah Gumbreg, segera mendekati sahabat karibnya itu.


"Kau kenapa Mbreg? Kog muka mu di tekuk begitu?", tanya Tumenggung Ludaka sambil menatap heran kearah Demung Gumbreg.


"Ah aku sebenarnya cuma ingin bertanya kepada Gusti Prabu Jayengrana saja Lu..


Tapi kesempatan nya sudah tidak ada. Dia sudah pergi ke dalam bersama dengan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dan Adipati Aghnibrata", jawab Gumbreg dengan nada memelas.


"Memang apa yang ingin kamu tanyakan pada Gusti Prabu Jayengrana, Mbreg? Kog kelihatannya penting sekali", kembali Tumenggung Ludaka bertanya.


"Ya kabar anak istri ku to Lu..


Masak kabar Mbok Cikrak penjual nasi pecel lele di pojokan pasar alun alun Kotaraja? Kau ini ada-ada saja", gerutu Demung Gumbreg segera.


"Kau ini yang ada-ada saja.. Mana mungkin Gusti Prabu Jayengrana sempat mengurusi Juminten dan kedua anak mu itu?


Saat ini Panjalu sedang dalam masa berbahaya. Jadi urusan begitu sebaiknya kita kesampingkan dulu", ujar Tumenggung Ludaka sambil berlalu meninggalkan Demung Gumbreg sendirian. Wajah Demung Gumbreg mengkerut setelah mendengar kata-kata Tumenggung Ludaka yang terakhir. Sambil menggaruk kepalanya yang terasa gatal, Demung Gumbreg bergumam lirih,


"Memang ada masalah besar apa yang menimpa Kerajaan Panjalu ya?"

__ADS_1


__ADS_2