
*****
Brruuaaaakkkkkkkh!!!
"Tidak boleh!!!
Kita tidak boleh menunda lagi waktu untuk memaksa Prabu Jayengrana mengangkat Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa sebagai penerusnya. Semakin lama, kedudukan Panji Tejo Laksono di masyarakat semakin kuat dan ini merupakan bahaya besar bagi cita-cita kita semua", ucap Mpu Gandasena sembari menggebrak lantai kediaman rahasia Mpu Kepung di luar Kotaraja Daha.
Meskipun bangunan ini dibangun pada dekat jalan raya menuju ke arah Gelang-gelang namun bangunan ini tersembunyi di balik rimbun pepohonan yang sengaja dibiarkan begitu saja hingga tanah pekarangan itu seperti lahan tak terurus yang menggangu pemandangan. Meskipun tepi pekarangan luas itu masih terlihat rapi namun tinggi pagar pekarangan rumah yang berasal dari tanaman panitih yang hampir 2 setengah depa membuat tak seorangpun mampu melihat isi di dalam pekarangan rumah itu.
Hanya orang orang tertentu saja yang tahu bahwa di balik rimbunnya semak belukar dan perdu yang tumbuh disana sini ada sebuah rumah kayu yang cukup besar meskipun dalam bentuk sederhana.
"Jangan bodoh, Adhi Gandasena...
Keadaan kita sekarang masih belum cukup kuat untuk menekan Istana Katang-katang agar mau mengabulkan permintaan dari kita. Adipati Sasrabahu baru saja memberi kabar kepada ku kalau Anjuk Ladang baru saja terkena musibah kebakaran pada gudang penyimpanan pangan yang membuat mereka menjadi tidak bisa membantu sisi kebutuhan pangan prajurit ku.
Apa yang bisa kita lakukan jika prajurit kelaparan?", Mpu Sena memberengut kesal pada Mpu Gandasena. Ia kini pontang-panting mencari tambahan pangan untuk kehidupan sehari-hari para prajurit nya.
"Bukankah masih ada bantuan dari Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa?
Apa itu masih belum cukup?", tukas Mpu Gandasena segera.
"Bantuan Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa hanya cukup untuk waktu dua pekan saja. Persiapan prajurit ku setidaknya butuh waktu satu purnama lagi. Aku harus memeras otak untuk mencari kemana bantuan yang bisa membantu ku", lanjut Mpu Sena segera.
Hemmmmmmm..
"Kau juga harus ingat, Adhi Gandasena..
Keberadaan prajurit mu di Karang Anom telah di curigai oleh pasukan telik sandi Lowo Bengi. Mereka pasti telah menebar mata-mata di sekitar Karang Anom. Sekali gerakan ceroboh kita lakukan, maka laporan mereka akan membuat para prajurit Panjalu menyerbu ke tempat mu. Apa kau sanggup untuk mengalahkan mereka?", sambung Mpu Kepung sembari mengelus jenggotnya yang memutih.
"Brengsek!!!
Aku sudah tak tahan lagi dengan sikap para punggawa baru yang menjadi pengganti kedudukan kita. Si keparat Setyaka itu, mengganti semua orang orang ku di tata laksana Dharmadyaksa ring Kasaiwan. Aku hanya bisa menahan marah saat dia mengambil semua barang-barang berharga milik para petugas yang dikuasai oleh orang-orang ku. Dia juga menyita ratusan ekor kuda dan beberapa ratus depa tanah yang ku terima dari pemberian saudagar kaya Mpu Sumali.
Itu semua belum seberapa. Masih banyak lagi sikap si keparat Setyaka itu yang membuat ku ingin sekali mencabik-cabik tubuhnya", Mpu Gandasena mengepalkan tangannya erat-erat dan memukul tiang rumah untuk menghilangkan kesal di hatinya.
"Apa kau pikir, kau saja yang geram dengan sikap para punggawa istana Daha? Dulu mereka begitu menghamba pada kita, sekarang setelah kita jatuh, jangankan untuk mendekat, melihat kita pun seperti jijik. Padahal dulu mereka juga ikut menikmati hasil yang kita dapatkan saat menjadi mahamantri.
Tapi untuk memaksakan diri sekarang, adalah tindakan bodoh Adhi Gandasena. Kita harus menata semua persiapan sebaik mungkin sebelum melangkah lebih jauh", ujar Mpu Kepung sembari menatap ke arah semua orang yang ada di tempat itu. Wiku Wikalpa yang sedari tadi hanya diam saja tak bersuara, segera menoleh ke arah Mpu Kepung.
"Lantas kapan kita bisa bergerak Adhi Kepung?"
Mendengar pertanyaan itu, semua orang langsung menatap ke arah Mpu Kepung yang nampak terdiam sejenak. Semuanya menunggu jawaban dari sosok yang menjadi pimpinan utama pergerakan mereka ini.
Hemmmmmmm...
"Aku tidak bisa memutuskan sendiri untuk masalah ini. Harus ada pembicaraan dengan Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa. Tapi paling cepat, dua warsa aku rasa sudah cukup lama untuk membuat para telik sandi Pasukan Lowo Bengi mengendurkan kewaspadaan mereka", ucap Mpu Kepung sembari mengedarkan pandangannya pada semua orang yang ada di tempat itu.
"Baiklah, Kakang Kepung..
Dua tahun aku akan bersabar menunggu saat itu tiba. Kala itu, aku pasti akan membuat perhitungan dengan Keparat Setyaka itu!!", ucap Mpu Gandasena penuh semangat berapi-api.
****
Selepas acara pernikahan Panji Manggala Seta dengan Dewi Setyawati, Panji Tejo Laksono yang ingin cepat-cepat pulang ke Seloageng memutuskan untuk berpamitan pada sang adik tirinya karena tidak bisa menghadiri acara penobatannya sebagai bupati baru Gelang-gelang.
__ADS_1
Meskipun sedikit tidak rela melepas kepergian sang kakak, Panji Manggala Seta pun harus mengerti tentang apa yang sedang di rasakan oleh Panji Tejo Laksono yang tidak melihat kelahiran putri pertamanya itu.
"Aku doakan semoga putri Kangmas Tejo Laksono selalu dalam lindungan Hyang Agung penguasa semesta.
Lain waktu aku pasti ingin melihat keponakan ku di Seloageng. Selamat jalan Kangmas Tejo Laksono", ucap Pangeran Bupati Panji Manggala Seta segera.
Panji Tejo Laksono langsung tersenyum mendengar jawaban itu. Ia lalu segera menoleh ke arah Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg.
"Paman Gumbreg dan Paman Ludaka..
Kalian berdua harus meneruskan perjalanan berkuda berdua saja. Aku akan menggunakan Ajian Halimun agar lebih cepat sampai di Seloageng. Aku menunggu kedatangan kalian disana", Panji Tejo Laksono yang segera menggandeng tangan Endang Patibrata, tubuhnya langsung di liputi oleh kabut putih tipis. Dalam waktu sekejap mata, Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata telah menghilang dari pandangan mata semua orang bersamaan dengan angin yang berhembus perlahan.
Demung Gumbreg yang masih belum sempat menjawab omongan sang pangeran muda, hanya bisa menghela nafas panjang.
"Haeeehhhh, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono ini..
Benar benar tidak setia kawan", gerutu Demung Gumbreg lirih. Tumenggung Ludaka langsung menyikut pinggang nya.
"Hati-hati dengan omongan mu, Mbreg!
Kita masih berhadapan dengan Gusti Pangeran Panji Manggala Seta. Kalau sampai dia lapor ke Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, bisa bisa di kheeekkkkkkk..!!", Tumenggung Ludaka menarik jari telunjuk tangan kanannya ke leher seperti gerakan memotong leher.
Demung Gumbreg langsung bergidik ngeri saat melihat itu semua.
Kedua orang tua itu segera menyembah pada Panji Manggala Seta sebelum mundur dari ruang pribadi bupati. Tanpa menunggu lagi, keduanya langsung bergegas menuju ke arah wisma tamu kehormatan dan mengambil barang bawaan mereka sebelum meninggalkan Istana Gelang-gelang untuk menyusul Panji Tejo Laksono.
Song Zhao Meng sedang menggendong bayi perempuan cantik yang di bedong dengan kain warna merah itu sambil menepuk-nepuk pantat nya untuk menidurkan sang jabang bayi. Sejak tadi pagi, bayi perempuan cantik itu rewel terus. Meskipun Gayatri telah menyusui nya berulang kali dan para istri Panji Tejo Laksono bergantian menggendongnya, namun tetap saja dia tidak menghentikan rengekannya.
"Kau hebat Nimas Wulan..
Putri ku anteng bersama mu. Aku saja kewalahan menghadapi sikap nakalnya", ujar Gayatri yang masih duduk bersandar pada dinding ranjang tidur nya karena itu sudah menjadi bagian tradisi melahirkan masyarakat Jawa Kuno yang mengharuskan seorang ibu harus senden ( bersandar pada dinding ranjang tidur ) selama 40 hari setelah melahirkan.
"Kalian semua terlalu berlebih-lebihan..
Aku hanya pernah membantu merawat keponakan ku dulu di Istana Kaifeng bersama para perawat disana. Ini hanya kebetulan saja kalau bayi cantik ini ternyata senang dengan ku", jawab Song Zhao Meng segera.
Tiba-tiba saja..
Oeeeekkkkk ooooeeekkkkk!!!!
Bayi perempuan itu menangis tersedu-sedu. Bersamaan dengan itu, Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata muncul di depan mereka. Semua orang terkejut sekaligus senang bukan main melihat kedatangan mereka.
"Oh jadi kau menangis karena ayah mu datang, anak manis?", oceh Song Zhao Meng yang di sambut senyuman oleh para istri Panji Tejo Laksono yang ada di tempat itu. Mereka semua segera berdiri dan membungkukkan badannya pada sang suami.
"Selamat kembali ke rumah, Kangmas Pangeran", ucap semua istri Panji Tejo kompak bersamaan.
"Terimakasih atas sambutan hangat dari kalian semua..
Aku ingin melihat putri yang telah di lahirkan oleh Dinda Gayatri. Mana dia?", mendengar perkataan itu, Song Zhao Meng pun segera mengulurkan bayi perempuan dalam gendongannya itu ke arah Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda segera menerima uluran tangan Song Zhao Meng dan ganti menggendong bayi perempuan cantik itu. Begitu sampai di gendongan sang pangeran, bayi perempuan cantik itu segera menghentikan tangisannya. Malah langsung tersenyum lebar.
"Cantik sekali..
Dia ku beri nama Rajadewi, agar kelak mampu menjadi seorang perempuan yang mampu mengayomi rakyat Seloageng", ucap Panji Tejo Laksono yang segera disambut suka cita oleh semua orang yang ada di tempat itu, terutama Gayatri yang masih senden.
Sembari menggendong Rajadewi, Panji Tejo Laksono berjalan mendekati ranjang tempat Gayatri berada. Sembari tersenyum lebar, sang pangeran muda duduk di sebelah kaki sang istri.
__ADS_1
"Terimakasih Dinda Gayatri..
Kau telah menjadikan ku sebagai seorang lelaki yang sempurna dengan memberikan seorang keturunan untuk ku", ucap Panji Tejo Laksono yang langsung disambut senyum lebar oleh Gayatri.
"Ini adalah kewajiban ku, Kangmas Pangeran. Aku juga berbahagia dengan ini semua", jawab Gayatri segera.
Kedatangan Panji Tejo Laksono di Istana Kadipaten Seloageng, langsung memberikan kebahagiaan bagi semua penghuni istana dan para warga Kota Kadipaten Seloageng pun turut bergembira dengan kepulangan sang pimpinan.
*****
Dua tahun kemudian....
Tahun ini adalah tahun dengan candra sengkala Dwi Aghni Wuk Sujanma dalam kalender tahun Saka atau bisa di baca sebagai tahun 1032 Saka. Ini setara dengan tahun 1110 Masehi.
Hampir selama dua tahun ini, Panji Tejo Laksono terus menata pertahanan secara diam-diam di sekitar Kotaraja Daha. Pasukan Garuda Panjalu dilatih menjadi pasukan gerak
cepat yang mampu bertarung melawan musuh secara tiba-tiba lalu bergerak pergi setelah mengalahkan lawan untuk membantu kawan yang lain. Jumlah pasukan nya pun bertambah besar dengan hampir dua kali lipat.
Untuk pimpinan mereka, Panji Tejo Laksono menunjuk Naratama dan Sembada yang mendapat kenaikan pangkat sebagai Tumenggung Panjalu. Sedangkan pasukan Lowo Bengi, menjadi tanggung jawab dua orang sesepuh perwira yakni Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung.
Selain mereka, Panji Tejo Laksono melatih para prajurit Seloageng di bawah pimpinan Senopati Gardana dengan cepat. Dalam waktu dua tahun ini, mereka membangun kerjasama dengan pihak Istana Gelang-gelang untuk diam-diam membentuk sebuah benteng pertahanan bayangan di selatan Kotaraja Daha.
Beberapa kali bentrokan antara serombongan orang yang dicurigai sebagai salah satu dari anggota kelompok Mpu Kepung dengan para prajurit Gelang-gelang mulai kerap terjadi. Pelan tapi pasti, suasana tegang mulai terasa di wilayah Panjalu.
Dalam istana Kadipaten Seloageng sendiri, dalam waktu dua tahun terakhir keluarga Panji Tejo Laksono telah bertambah. Jika dulu hanya ada Rajadewi sebagai keturunannya, kini telah hadir pula Dewi Jinggawuni yang merupakan anak dari Luh Jingga dan Dyah Paramita putri dari Ayu Ratna. Mereka semakin menambah suasana ramai di dalam istana Seloageng dengan celoteh dan tawa riang gembira.
Senja itu, bulan keempat paro terang hari Hanggara Manis bulan Wahana. Malam itu adalah malam giliran Dyah Kirana menemani malam sang suami. Tak ingin mengecewakan sang suami, Dyah Kirana berdandan secantik mungkin. Bau badan nya begitu harum setelah tadi sore mandi dengan air kembang tujuh rupa.
Krrriiieeeeetttttttthhh...
Terdengar suara pintu kamar terbuka dan Dyah Kirana segera menoleh ke arah pintu kamar tidur dimana terlihat Panji Tejo Laksono melangkah masuk ke dalam kamarnya. Dyah Kirana segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati sang suami.
"Kau sudah datang, Kangmas Pangeran?
Apa saja yang kau lakukan hari ini?", ujar Dyah Kirana sambil menerima mahkota sang pangeran yang di lepaskan oleh nya meletakkannya di atas meja kecil di samping ranjang.
"Aku baru saja melakukan perjalanan jauh Dinda Kirana..
Seharian penuh meninjau pembangunan saluran air untuk mengairi persawahan di Pakuwon Bedander. Sudah hampir selesai dan bisa digunakan untuk mengairi sawah para penduduk di sana", Panji Tejo Laksono merebahkan tubuhnya di atas ranjang pembaringan.
"Pasti Kangmas Pangeran lelah sekali. Mau aku pijit?", Dyah Kirana ikut membaringkan tubuhnya di samping kiri Panji Tejo Laksono. Bau badan yang harum segera tercium oleh hidung sang pangeran. Entah kenapa, Panji Tejo Laksono seketika merasa tidak lelah sama sekali.
"Aku yang akan memijit mu, Dinda Kirana hehehehe", tawa mesum terdengar dari Panji Tejo Laksono yang segera menyentuh penutup tubuh istri kelima nya.
Satu persatu helaian kain yang menutupi seluruh tubuh Dyah Kirana tanggal oleh ulah sang pangeran muda. Pun sang pangeran muda juga mulai melepaskan pakaiannya satu persatu.
Dengan penuh kelembutan, Panji Tejo Laksono mulai menciumi leher sang istri yang perlahan turun ke bawah. Saat hampir sampai di pangkal paha sang istri, Panji Tejo Laksono langsung menghentikan gerakannya. Matanya melebar melihat sesuatu di antara kedua paha istrinya.
"Ada apa Kangmas Pangeran?", tanya Dyah Kirana segera. Dia takut ada sesuatu yang salah dengan dirinya.
"I-ini Rajah Smaradahana...", ucap Panji Tejo Laksono sedikit gugup saat itu.
"Rajah Smaradahana? Apa itu Kangmas Pangeran?", Dyah Kirana yang tak mengerti apa maksud dari omongan suaminya kembali bertanya.
Mendengar pertanyaan itu, Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti. Sembari mendorong lembut tubuh Dyah Kirana ke pembaringan, dia berkata,
__ADS_1
"Itu tidak penting Dinda Kirana..
Ayo kita mulai saja.."