
"Tapi kau bantu aku untuk sembuh juga sambil melihat pertarungan Gusti Pangeran, Luh Jingga..", pinta Gayatri sambil duduk bersila.
"Kalau itu sudah pasti Gayatri..
Sekarang kau tata jalan nafas mu. Aku akan memulai nya".
Usai berkata demikian, Luh Jingga segera menyalurkan tenaga dalam ke punggung Gayatri. Rasa hangat dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh putri dari Kadipaten Seloageng itu.
Di sisi lain, Resi Linggajati terus menghujani Langkir alias Kelelawar Mata Iblis dengan serangan beruntun Ajian Tapak Membelah Gunung.
Shhiiiuuuuuuttttt!
Shhiiiuuuuuuttttt!!
Sepuluh larik sinar putih berhawa panas menerabas cepat kearah Kelelawar Mata Iblis. Namun dengan gerakan selincah kelelawar, Langkir berjumpalitan dengan mudahnya menghindari sinar putih yang di lepaskan oleh Resi Linggajati.
"Hahahaha... Cuma segitu saja kemampuan mu, Tua Bangka?
Nama besar mu hanya omong kosong belaka. Sama sekali tidak pantas kau di sebut sebagai tokoh besar golongan putih", ejek Kelelawar Mata Iblis usai menghindari serangan terakhir.
Resi Linggajati nampak mengusap peluh yang membasahi keningnya yang keriput. Nafas lelaki tua itu sedikit ngos-ngosan sembari menatap tajam ke arah Langkir alias Kelelawar Mata Iblis yang sedang mengejeknya.
'Gawat, sepertinya si kelelawar keparat ini mencoba untuk menguras tenaga dalam ku. Aku harus mencari cara untuk membuat keparat ini menerima pukulan ku', batin Resi Linggajati.
"Kelelawar Mata Iblis,
Kau memang pantas mendapat julukan sebagai pendekar hebat tapi sayangnya kehebatan mu cuma sebatas melompat kesana kemari seperti monyet", ujar Resi Linggajati dengan penuh ejekan.
"Tua bangka keparat!
Mulut tajam mu memang pantas mendapat pelajaran dari ku!", maki Langkir sembari melesat cepat kearah Resi Linggajati. Pimpinan tertinggi Perguruan Tapak Suci itu langsung menyiapkan Ajian Tapak Membelah Gunung nya.
"Mampus kau, kelelawar busuk!"
Resi Linggajati langsung menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna putih keperakan kearah datang nya Langkir alias Kelelawar Mata Iblis. Selarik sinar putih kembali meluncur cepat kearah salah satu pimpinan Perguruan Kelelawar Merah itu.
Shhiiiuuuuuuttttt!!
Saat serangan Resi Linggajati hampir mengenai tubuh Langkir tiba-tiba tubuh manusia kurus bermata lebar itu lenyap dari pandangan. Mata tua Resi Linggajati melotot lebar seperti mau keluar dari tempatnya saat melihat kejadian itu.
Tiba-tiba, satu hawa dingin berdesir kencang kearah samping kanan Resi Linggajati dari arah belakang. Dengan cepat ia menyadari nya namun terlambat untuk merapal ajian. Dengan cepat ia menyilangkan tangan kanan nya sembari mengerahkan tenaga dalam nya untuk menahan hantaman keras Langkir.
Blllaaaaaarrr!!!
Resi Linggajati terseret mundur beberapa tombak sebelum akhirnya sebuah batu sebesar kepala kerbau menghentikan gerakannya sebagai pijakan. Dari mulut kakek tua itu seteguk darah segar muncrat keluar.
Langkir menyeringai lebar menatap ke arah Resi Linggajati. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk membunuh kakek tua pimpinan Perguruan Tapak Suci itu. Segera dia melesat cepat kearah Resi Linggajati yang sedang meringis menahan rasa sesak di dadanya setelah terkena imbas benturan keras dua tenaga dalam tingkat tinggi tadi. Tangan kanannya berubah warna menjadi kuning kemerahan seperti nyala api. Rupanya Langkir alias Kelelawar Mata Iblis sudah merapal Ajian Cadas Geni.
Secepat kilat dia menerjang ke arah Resi Linggajati yang masih mengatur nafasnya.
"Modar kowe, tua bangka!"
Gerakan cepat Langkir yang tiba-tiba muncul membuat Resi Linggajati terperangah. Dia sama sekali tidak menduga bahwa lawan yang dihadapi oleh nya adalah pendekar yang menggunakan kecepatan gerak dalam bertarung. Perlahan Resi Linggajati menutup mata nya karena pasrah menerima ajal yang sebentar lagi menjemput.
Saat yang genting itu, sesosok bayangan kuning keemasan berkelebat cepat menghadang pergerakan Kelelawar Mata Iblis. Mau tidak mau, Ajian Cadas Geni menghantam tubuh si bayangan kuning keemasan.
Blllaaammmmmmmm!!
Ledakan dahsyat terdengar. Asap tebal menutupi sebagian tempat itu. Begawan Suradharma dan Wangkas alias Kelelawar Kulit Besi yang sedang bertarung pun sampai menghentikan pertarungan sengit mereka dan masing-masing mundur beberapa tombak ke belakang sembari menatap ke arah kepulan asap tebal yang menutupi arena pertarungan Resi Linggajati dan Kelelawar Mata Iblis.
Ada gurat kecemasan yang terpancar dari wajah tua Begawan Suradharma.
Langkir yang sedikit kaget dengan kemunculan si bayangan kuning keemasan terus menatap ke arah kepulan asap tebal yang mulai mereda. Dia sangat yakin bahwa Ajian Cadas Geni miliknya telak menghajar dada si bayangan kuning keemasan.
Resi Linggajati perlahan membuka mata nya. Samar samar dia melihat sesosok tubuh berselimut sinar kuning keemasan berdiri tegak membelakanginya dalam asap tebal yang menutupi sekitar tempat nya berada.
__ADS_1
'Siapa dia? Kenapa dia menolong ku?', pertanyaan demi pertanyaan melintas di kepala pimpinan Perguruan Tapak Suci itu.
Saat asap tebal yang menutupi perlahan menghilang, mata semua orang melotot lebar ke arah sosok bayangan kuning keemasan yang tak lain adalah Panji Tejo Laksono. Pemuda tampan itu tersenyum lebar sembari menatap ke arah Langkir alias Kelelawar Mata Iblis yang berdiri tak jauh dari hadapannya.
"Kau kau..
Bagaimana bisa kau tidak apa-apa? Ajian Cadas Geni ku sudah menghantam dada mu", ujar Langkir setengah tak percaya dengan apa yang telah terjadi di depan nya.
"Ajian Cadas Geni mu memang hebat namun sayangnya itu tidak berpengaruh terhadap ku", balas Panji Tejo Laksono sembari menepuk-nepuk bajunya.
"Dasar keparat!
Aku tidak percaya kau bisa menerima Ajian Cadas Geni ku tanpa luka. Bocah tengik, matilah kau!", teriak Langkir alias Kelelawar Mata Iblis sembari kembali menghantamkan kedua kepalan tangannya ke bertubi-tubi kearah Panji Tejo Laksono.
Shhiiiuuuuuuttttt! shhiiiuuuuuuttttt!!
Empat larik sinar kuning kemerahan melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono namun putra sulung Prabu Jayengrana itu sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempat berdirinya.
"Kisanak!
Cepat menyingkir dari tempat itu!", teriak Begawan Suradharma yang cemas juga melihat 4 larik sinar kuning kemerahan Ajian Cadas Geni.
Namun Panji Tejo Laksono sepertinya tidak ingin berpindahnya dari tempat berdirinya sama sekali. Hingga 4 larik sinar kuning kemerahan itu telak menghantam tubuhnya.
Bllarrr! Blllaaaaaarrr! Bllarrr..!!
Blllaaammmmmmmm.....!!!
Ledakan dahsyat beruntun terdengar saat Ajian Cadas Geni menghantam tubuh Panji Tejo Laksono. Asap tebal mengepul dari sekitar tempat Panji Tejo Laksono berdiri. Semua orang nampak khawatir dengan keselamatan Panji Tejo Laksono kecuali Luh Jingga, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg yang pernah melihat pemandangan serupa di pertempuran Sungai Lawor tempo hari.
"Denmas Panji...!!!", ucap Gayatri tertahan. Perempuan cantik yang baru saja luka dalam itu hendak melompat ke arah Panji Tejo Laksono namun dengan cepat Luh Jingga mencekal lengan nya.
"Kau mau kemana Gayatri? Sudah lihat saja disini saja", Luh Jingga tersenyum penuh arti.
"Kau percaya saja pada Gusti Pangeran..
Dia akan baik baik saja kok", Luh Jingga meyakinkan Gayatri. Mendengar perkataan itu, Gayatri kembali menatap ke arah kepulan asap tebal yang mulai menghilang di tiup angin.
Mata semua orang kembali terbeliak lebar saat melihat Panji Tejo Laksono sama sekali tidak bergerak sedikitpun dari tempat nya.
Langkir alias Kelelawar Mata Iblis pun tak kalah kagetnya. Ajian andalan nya yang pernah menjatuhkan beberapa pimpinan perguruan silat itu sama sekali tidak mampu menggores kulit lawannya yang hanya seorang pemuda tampan berkulit kuning langsat yang bahkan tidak mirip sedikitpun dengan pendekar berkemampuan tinggi. Dia mulai merasa ngeri.
"Apa sudah cukup kau menyerang ku? Sekarang giliran ku untuk maju", ucap Panji Tejo Laksono sembari melesat cepat kearah Langkir.
Melihat lawan yang mulai bergerak, Langkir sedikit kaget namun dengan cepat ia menguasai dirinya. Segera dia memutar kedua tangan di depan dada lalu kedua jari telunjuk dan tengah tangan kanan dan kiri nya menempel di kedua pelipisnya. Kedua matanya menutup rapat. Dia berniat untuk menghabisi nyawa Panji Tejo Laksono dengan ilmu pamungkas nya, Ajian Mata Iblis.
Saat mata Langkir terbuka, warna bola matanya berubah bersinar merah menyala. Lalu sinar merah menyala itu langsung menerabas cepat Panji Tejo Laksono yang melesat kearah nya.
Shhiiiuuuuuuttttt!!
Blllaaammmmmmmm...!!
Panji Tejo Laksono terseret mundur beberapa tombak ke belakang namun dia sama sekali tidak terluka saat Ajian Mata Iblis telak menghantam tubuhnya. Kembali semua orang terkaget-kaget melihat itu semua.
Usai menghirup udara sebanyak dua kali, Panji Tejo Laksono kembali melesat cepat kearah Langkir. Kali ini dia menggunakan Ajian Sepi Angin hingga kecepatan nya meningkat jauh lebih tinggi.
Langkir yang merasa geram, langsung melepaskan Ajian Mata Iblis nya ke arah Panji Tejo Laksono. Namun kali ini dengan mudah pangeran muda dari Kadiri itu menghindarinya sembari terus mendekati Langkir.
Saat Panji Tejo Laksono berhasil menghindari sinar merah menyala yang keluar dari mata Langkir, dengan sedikit merunduk, sang pangeran muda dari Kadiri itu langsung menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala seperti api ke arah dada kanan Kelelawar Mata Iblis.
Blllaaammmmmmmm!!!!
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!
Jerit kesakitan tertahan terdengar dari mulut Langkir yang terpental jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Salah satu sesepuh Perguruan Kelelawar Merah itu muntah darah segar bahkan dari hidung nya darah segar terus mengucur keluar. Dada kanan nya gosong seperti terbakar api. Dia mengejang hebat sebentar sebelum diam untuk mendapatkan. Langkir alias Kelelawar Mata Iblis, seorang pendekar golongan hitam yang di takuti oleh para pesilat dunia persilatan, tewas di tangan Panji Tejo Laksono.
__ADS_1
Kematian sang jagoan andalan kelompok itu tentu saja membuat Wangkas dan sisa sisa anggota Perguruan Kelelawar Merah dan Perguruan Racun Kembang ketakutan. Kelelawar Kulit Besi itu segera memerintahkan kepada para murid Perguruan Kelelawar Merah untuk mundur. Dengan cepat mereka kabur meninggalkan tempat itu.
Melihat lawan kabur, rombongan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan ingin mengejar tapi suara Resi Linggajati langsung menghentikan mereka.
"Cukup! Tidak perlu buang tenaga untuk mengejar mereka", ucap sang pimpinan Perguruan Tapak Suci itu segera.
"Tapi Guru, mereka tidak bisa di biarkan begitu saja", jawab Woro Mundi seraya membekap luka di lengan kiri nya.
"Kita sudah terlalu lelah bertarung dengan mereka. Lebih baik kita obati luka luka yang kita alami sebelum naik ke Padepokan Pedang Awan. Aku yakin kelompok penjahat itu tidak akan berani macam-macam lagi dengan kita", ujar Resi Linggajati sembari mengusap sisa darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Dari rombongan Panji Tejo Laksono, dua orang prajurit pengawal sang pangeran terbunuh oleh lawan. Jaluwesi dan Siwikarna di bantu oleh 2 prajurit yang tersisa mengubur mayat kawan mereka di tempat itu sesuai petunjuk dari Tumenggung Ludaka.
Saat mereka masih mengobati luka luka mereka, serombongan pendekar berpakaian biru tua sampai di tempat itu. Mereka melihat di tempat itu bekas bekas pertarungan yang terjadi. Beberapa mayat berbaju merah masih di biarkan begitu saja di tempat mereka.
Salah seorang dari pendekar itu adalah seorang lelaki berusia sekitar 3 dasawarsa bertubuh gempal dengan kumis tipis. Tatapan matanya teduh dan berwibawa hingga pantas menjadi pimpinan kelompok pendekar berbaju biru tua itu. Meskipun di pipi kanannya terdapat bekas luka yang memanjang dari bawah mata namun tidak mengurangi kewibawaan nya. Dia adalah pimpinan Perguruan Naga Langit yang ada di wilayah barat Kerajaan Panjalu, tepatnya di wilayah perbatasan Rajapura dan Kerajaan Saunggalah, Mandalanegara ( negeri bawahan) Kerajaan Sunda. Namanya adalah Nalayana yang memiliki julukan sebagai Naga Biru dari Lembah Pemali.
Pandangan mata Nalayana langsung tertuju pada tempat dimana rombongan Panji Tejo Laksono tengah mengobati luka luka mereka akibat pertarungan tadi. Dia segera bergegas menuju ke sana diikuti oleh para pengikutnya.
"Permisi Kisanak,
Apa kalian baru saja selesai bertarung dengan orang orang Kelelawar Merah ini?", tanya Nalayana segera pada Begawan Suradharma yang ada paling dekat dengan nya.
"Kalau iya kenapa? Apa kau ingin membalas dendam kematian mereka?", sahut Irawati sembari berdiri dari tempat duduknya. Mendengar jawaban itu, semua orang mulai meraba gagang senjata mereka masing-masing. Suasana berubah menjadi penuh ketegangan.
"Lancang sekali mulut mu, perempuan busuk!
Sopan lah sedikit pada pimpinan Perguruan Naga Langit dari Lembah Pemali", teriak seorang pengikut Nalayana segera.
"Setahu ku, pimpinan Perguruan Naga Langit adalah Resi Mpu Dipa sang Naga Terbang dari Barat. Sejak kapan berganti kepemimpinan nya?", ucap Resi Linggajati penuh selidik sembari menatap seluruh rombongan itu dengan seksama.
"Ternyata Kisanak mengenali guru ku. Aku Nalayana, putra angkat sekaligus murid Resi Mpu Dipa sang Naga Terbang dari Barat.
Guru sekarang telah melakukan tapa semedi untuk mencapai moksa menyerahkan diri kepada Sang Hyang Akarya Jagat. Karena itu Guru menyerahkan kepemimpinan Perguruan Naga Langit pada ku, Kisanak.
Kalau boleh tau, siapa kisanak ini?", tanya Nalayana kemudian.
"Aku Resi Linggajati. Dunia persilatan Tanah Jawadwipa mengenali ku sebagai Tapak Suci dari Karangnongko. Ini adalah sahabat ku, Begawan Suradharma dari Bojonegoro. Dia adalah orang yang dijuluki sebagai Pendekar Tapak Naga dari Bukit Walang.
Sedangkan pemuda tampan yang di sana adalah pendekar muda dari Seloageng. Mungkin dia belum punya nama di dunia persilatan, tapi kemampuan beladiri nya sangat tinggi. Kurasa aku atau sahabat ku ini bukan tandingannya karena dia bisa membantai Kelelawar Mata Iblis tanpa terluka sedikitpun", ujar Resi Linggajati memperkenalkan orang orang yang ada di situ.
Seluruh rombongan Perguruan Naga Langit terkejut mendengar perkataan Resi Linggajati. Semua mata langsung tertuju pada Panji Tejo Laksono yang terlihat seperti seorang anak manja orang kaya, nyaris tidak ada tampang pendekar besar.
"Jangan dengarkan omongan Resi Linggajati, Kisanak..
Aku hanya sedang beruntung saja bisa mengalahkan Kelelawar Mata Iblis", sahut Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.
Mendengar perkataan merendahkan diri itu, Nalayana segera paham bahwa pemuda tampan itu bukan orang sembarangan.
Usai berbincang sebentar, mereka segera melanjutkan perjalanan ke arah Padepokan Pedang Awan yang ada di lereng Utara Gunung Damalung. Setelah cukup lama mereka berkuda melewati jalan berliku menyusut hutan lebat kaki Gunung Damalung, akhirnya mereka sampai di Padepokan Pedang Awan. Terlihat puluhan tempat tinggal sementara didirikan untuk para pendekar yang datang kesana.
Ratusan pendekar dari berbagai perguruan dan padepokan silat di berbagai tempat di wilayah Kerajaan Panjalu hadir memadati tempat yang di luar gapura Padepokan Pedang Awan.
Para murid Padepokan Pedang Awan segera menyambut kedatangan rombongan Resi Linggajati dan Begawan Suradharma dengan senyuman ramah. Mereka segera menempatkan mereka di sebuah tempat yang masih kosong sesuai dengan kebutuhan mereka sebagai tempat peristirahatan. Sedangkan Nalayana dan para murid Perguruan Naga Langit sendiri mendapatkan peristirahatan terpisah dari mereka meski masih berdekatan.
Siang segera berganti malam.
Di dalam tempat peristirahatan, rombongan Resi Linggajati, Begawan Suradharma dan Panji Tejo Laksono sedang asyik menikmati makan malam mereka, dari arah pintu tempat peristirahatan, muncul serombongan orang yang di pimpin oleh seorang lelaki bertubuh kekar. Meski usianya sudah tidak muda lagi, namun lelaki tua berjenggot panjang dan kumis tebal itu masih nampak trengginas dengan sorot mata yang tajam. Bajunya dan hijau tua terlihat begitu mewah layaknya seorang bangsawan. Ada gurat keangkuhan dalam pembawaan si lelaki tua berjanggut panjang itu saat melihat kearah kelompok Resi Linggajati dan Begawan Suradharma.
Dia adalah Ki Gendar Pekik alias Dewa Angin Utara, salah satu calon pimpinan kelompok aliran putih dunia persilatan.
Begawan Suradharma segera berdiri begitu melihat kedatangan Ki Gendar Pekik.
"Ada keperluan apa kau kemari,
Dewa Angin Utara?"
__ADS_1