
****
Sementara situasi di Panjalu tengah memanas karena adanya dugaan upaya pemberontakan di Rajapura, jauh ke Utara tepatnya di wilayah Kegubernuran Hefei di Kekaisaran Dinasti Song, Panji Tejo Laksono yang sudah seharian beristirahat di kota besar itu ingin segera melanjutkan perjalanan. Entah karena apa, ada perasaan aneh yang sedang melingkupi pikiran sang pangeran muda dari Kadiri ini.
Setelah memulihkan tenaga setelah bertarung melawan Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga, Panji Tejo Laksono menjenguk para bawahannya yang sempat terluka dalam saat menghadapi dua dedengkot dunia persilatan Tanah Tiongkok di Desa Chengguan.
"Paman Ludaka, bagaimana keadaan mu? Apa sudah lebih baik?", tanya Panji Tejo Laksono pada Tumenggung Ludaka yang sedang duduk di kursi depan kamar tidur nya. Selama di Hefei, Song Zhao Meng membawa rombongan besar itu bermalam di tempat Gubernur Hefei.
"Dengan restu Gusti Pangeran, hamba sudah jauh lebih baik.
Hanya Rakryan Purusoma saja yang masih sedikit kurang bugar, sedangkan Demung Gumbreg dan Tumenggung Rajegwesi sudah pulih seperti sedia kala Gusti Pangeran", Tumenggung Ludaka mengakhiri omongannya sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono. Ketiga orang yang di maksud nampak tersenyum mendengar uraian tentang mereka dari Tumenggung Ludaka.
Hemmmmmmm..
"Aku ingin sekali cepat sampai di Lin'an, Paman..
Entah kenapa ada perasaan rindu pada kampung halaman kita di Panjalu. Aku sudah kangen dengan ikan bakar di Kalingga", ujar Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.
"Huh, pintar sekali Gusti Pangeran bersilat lidah..
Bilang saja sedang kangen pada Nimas Ayu Ratna. Tidak perlu menjadikan ikan bakar sebagai alasan", sahut Luh Jingga yang tiba-tiba muncul dari lorong samping bangunan tempat mereka beristirahat. Di sebelahnya, Song Zhao Meng ikut menatap ke arah Panji Tejo Laksono.
"Ni Mas Ah Yu??
Siapa itu kakak Luh? Saudara Kakak Thee?", tanya Song Zhao Meng pada Luh Jingga yang berjalan di sampingnya. Mendengar pertanyaan Song Zhao Meng, Luh Jingga segera menoleh ke arah putri Kaisar Huizong ini.
"Dengarkan aku Putri Meng Er,
Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono yang biasa kau panggil dengan sebutan Kakak Thee ini, selain aku juga punya beberapa calon istri yang lain. Yang satu bernama Gayatri dan satu lagi namanya Ayu Ratna. Nah jadi selama kita masih di Tanah Tiongkok ini, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono memang hanya untuk kita berdua tapi begitu pulang ke Kadiri, kau juga harus bisa memberikan waktu bagi calon istri nya yang lain. Mulai sekarang kau harus terima dengan kenyataan ini, Putri Meng Er ", ucap Luh Jingga sembari tersenyum penuh arti.
Song Zhao Meng segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang senyum senyum sendiri mendengar ucapan Luh Jingga. Rakryan Purusoma yang masih sedikit pucat wajahnya turut mengangguk seolah mengiyakan, begitu pula dengan Demung Gumbreg, Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi. Itu berarti omongan Luh Jingga bukanlah omong kosong belaka.
"Ternyata bukan ayah ku saja yang memiliki istri lebih dari satu. Semua raja di dunia ini pun pasti juga akan memiliki istri banyak", gumam Song Zhao Meng segera.
"Itu tidak penting, Putri Meng Er..
Yang penting Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono mampu mengayomi dan melindungi kita semua, juga bersikap adil kepada semua wanitanya. Benar bukan omongan ku Gusti Pangeran?", Luh Jingga mengedipkan sebelah matanya pada Panji Tejo Laksono usai berbicara.
"Tentu saja begitu..
Aku berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi kalian semua dengan seadil-adilnya. Dan ku harap kau Luh Jingga dan Meng Er juga mengerti tentang keadaan ku yang seperti ini", ujar Panji Tejo Laksono sembari tersenyum simpul.
Siang itu juga, rombongan Panji Tejo Laksono meninggalkan Kota Hefei setelah selesai melakukan persiapan untuk melanjutkan perjalanan. Beberapa makanan kering seperti roti kering, daging kering dan beberapa guci air di tata sedemikian rupa sehingga menjadi bekal makanan yang sempurna untuk mereka. Rombongan yang berjumlah sekitar 100 orang ini menuju ke arah selatan, menyusuri Danau Chao tepatnya menuju ke arah Desa Zhang yang merupakan dermaga pelabuhan Sungai Yangtze. Ini adalah rute perjalanan tercepat untuk menuju ke arah Lin'an.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, mereka semua di suguhi dengan pemandangan alam yang indah di sisi Danau Chao. Hijaunya pepohonan di hutan sebelah selatan Danau Chao juga terlihat asri meski pun sebentar lagi musim semi akan segera berakhir di kawasan wilayah Kekaisaran Song.
Gumbreg dan Ludaka, dua punggawa Kerajaan Panjalu yang berkuda berdampingan terus beradu pendapat hingga suasana perjalanan menjadi ramai oleh ulah mereka. Rakryan Purusoma yang belum sembuh benar, terpaksa harus ikut di kereta kuda yang mengangkut barang pemberian dari Kaisar Huizong.
Menjelang sore hari, rombongan Panji Tejo Laksono sampai di tempat tujuan. Desa Zhang yang terletak di tepi selatan Danau Zushi begitu indah dengan ramainya para penduduk yang sedang bekerja mengolah tanah pertanian mereka. Saat itu, Desa Zhang sedang panen raya gandum hingga seluruh penduduk tua muda tumpah ruah ke ladang gandum mereka. Hanya beberapa orang saja yang terlihat berlalu lalang di jalan Desa Zhang. Rupanya mereka adalah para pedagang yang sibuk membeli hasil bumi para penduduk untuk diperjualbelikan di daerah selatan Sungai Yangtze.
Namun ketentraman masyarakat Desa Zhang hari itu terganggu oleh keributan yang terjadi di dekat dermaga penyeberangan. Dua orang lelaki sedang bertarung melawan seorang wanita cantik berpakaian putih dan biru muda. Kendati demikian, nampaknya si wanita cantik ini lebih unggul dibandingkan dengan dua orang yang sedang mengeroyoknya. Terbukti dua orang berpakaian layaknya murid sebuah perguruan kungfu ini sudah menerima beberapa pukulan dan luka sayatan pedang yang merobek baju mereka.
Beberapa orang penduduk Desa Zhang nampak berkerumun menonton pertarungan itu saat Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan sampai disana. Buru buru Panji Tejo Laksono, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi dan Demung Gumbreg melompat turun dari kuda mereka masing-masing untuk melihat keributan yang terjadi. Panji Tejo Laksono langsung mendekati salah seorang pria yang bertubuh sedikit gemuk yang sedang asyik melihat pertarungan sengit itu.
"Permisi Tuan, apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?", tanya Panji Tejo Laksono dengan sopan. Si lelaki bertubuh sedikit gemuk itu menatap sekilas wajah Panji Tejo Laksono sebelum menjawab pertanyaan tersebut.
"Dua orang itu, yang memakai baju hitam putih itu adalah murid dari Perguruan Huashan. Katanya mereka sedang mencari seorang perempuan yang di duga sebagai pembunuh salah satu murid perguruan itu. Nah si wanita cantik itu mereka tuduh sebagai pelaku nya, jadi mereka mengeroyoknya setelah sempat bersitegang di dalam rumah makan.
Dengar dengar perempuan cantik itu namanya Zheng Ruo Shi, seorang pendekar perempuan yang di kenal sebagai Dewi Pedang Phoenix. Kalau yang murid Perguruan Huashan itu aku kurang tahu. Apa kau kenal dengan mereka berdua, anak muda?", si lelaki bertubuh sedikit gemuk itu balik bertanya.
"Ah aku tidak mengenal mereka, Tuan..
Rombongan ku sedang melintas di tempat ini, ingin menyeberang Sungai Yangtze untuk menuju ke arah Kota Lin'an. Terpaksa kami harus menunggu sampai pertarungan itu selesai biar kami bisa menyewa jasa perahu penyeberangan. Terimakasih atas penjelasannya Tuan", Panji Tejo Laksono menghormat pada si lelaki bertubuh sedikit gemuk itu sebelum berbalik badan ke arah ketiga orang pengikutnya.
"Ada apa Gusti Pangeran? Apa yang sedang terjadi?", tanya Gumbreg penasaran.
"Ada orang bertarung. Sebaiknya kita tidak perlu repot-repot ikut campur urusan mereka. Kita tunggu saja sampai mereka selesai ", ujar Panji Tejo Laksono sembari ikut duduk di sebuah kursi kayu yang ada di dekatnya. Mendengar jawaban itu, ketiga orang perwira tinggi prajurit Panjalu itu pun patuh dan ikut bergabung bersama Panji Tejo Laksono menonton pertarungan.
Di sisi lain, Sang Dewi Pedang Phoenix Zheng Ruo Shi nampak tersenyum lebar sembari menatap ke arah dua orang lawannya itu.
"Apa pelajaran berharga dari ku sudah cukup untuk menyadarkan kalian, hai murid Perguruan Huashan?"
Mendengar ucapan itu, dua orang murid Perguruan Huashan yang bernama Xuan Zhong dan Kang Ru Ji ini langsung merah padam wajah nya menahan amarah.
"Penyihir wanita,
Meski kami sudah menerima beberapa sayatan pedang busuk mu, tapi kau belum bisa menjatuhkan kami. Kalau memang kau hebat, buat kami tak berdaya baru dan kami akan memanggil mu dengan sebutan leluhur.
Dasar perempuan iblis, sikap sombong mu harus kami beri pelajaran!", teriak Xuan Zhong sembari mengacungkan pedangnya ke arah Zheng Ruo Shi.
"Huhhhhh dasar tidak tahu diri...
Baik, kalian sendiri yang meminta aku berbuat kasar. Jangan salahkan aku jika bersikap kejam", usai berkata demikian Zheng Ruo Shi langsung melesat cepat kearah dua murid Perguruan Huashan itu.
Pedangnya yang tipis nampak berkilat saat ditimpa sinar matahari, terayun cepat kearah leher Xuan Zhong.
Shreeeeettttthhh !
__ADS_1
Xuan Zhong dengan cepat menangkis sabetan pedang Zheng Ruo Shi dengan pedang di tangan kanannya. Denting senjata beradu terdengar nyaring bersamaan dengan percikan bunga api kecil. Di sisi lain, Kang Ru Ji langsung membabatkan pedang nya ke arah kaki Zheng Ruo Shi. Namun secepat mungkin, Si Dewi Pedang Phoenix itu segera melenting tinggi ke udara menghindari sabetan pedang lawan yang mengincar kakinya hingga senjata Kang Ru Ji hanya menghajar udara kosong saja.
Dari atas, Zheng Ruo Shi langsung membabatkan pedang nya ke arah kepala lawan. Xuan Zhong yang tidak siap, hanya bisa berguling ke tanah untuk menghindari tebasan pedang Zheng Ruo Shi. Xuan Zhong selamat, namun Zheng Ruo Shi sang baru saja menjejak tanah dengan cepat memutar telapak tangan kiri nya dan menghantam punggung Kang Ru Ji dengan keras.
Dhhaaaassshhh !!
Aaaarrrgggggghhhhh !
Kang Ru Ji langsung meraung keras saat hantaman tapak tangan kiri Zheng Ruo Shi telak menghajar punggung nya. Laki laki muda itu langsung tersungkur ke tanah dengan muntah darah segar. Sedangkan pedangnya terlepas dari genggaman tangan nya dan mencelat jauh ke arah Panji Tejo Laksono.
Shrrriinnnggg!!
Melihat serangan nyasar ke arah nya, Panji Tejo Laksono dengan cepat meraih sebuah batu kerikil kecil yang ada di dekat nya lalu melemparkannya ke arah pedang Kang Ru Ji.
Whhhuuutthh!!
Thhraaaangggggggg !
Begitu kerikil menghantam pedang Kang Ru Ji, pedang itu langsung berbalik arah dan berputar-putar sembari melesat ke arah Zheng Ruo Shi. Segera Zheng Ruo Shi memutar tangan kiri nya dan menghantam pedang Kang Ru Ji.
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!
Terdengar ledakan keras saat pedang Kang Ru Ji di hantam tenaga dalam yang di lepaskan oleh Zheng Ruo Shi hingga pedang itu mencelat jauh dan jatuh ke dalam sungai Yangtze. Usai mengandaskan serangan tiba tiba itu, Zheng Ruo Shi langsung menatap tajam ke arah kerumunan orang yang menonton karena dia tidak sempat melihat siapa pelaku yang menyerangnya.
"Siapa yang pengecut menyerang ku dari belakang? Cepat mengaku! ", teriak Zheng Ruo Shi dengan lantang. Semua orang yang menonton pertarungan itu langsung ketakutan setengah mati mendengar suara Zheng Ruo Shi.
"Bukan aku.. bukan aku pendekar".
"Aku tidak bisa kungfu, jadi mana mungkin aku pelakunya?".
"Aku tidak bergerak sedikitpun dari tempat ku disini. Jelas bukan aku yang melakukannya ".
Riuh suara para penduduk Desa Zhang yang menonton karena mereka takut dengan Zheng Ruo Shi. Saat itulah Panji Tejo Laksono bangun dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Zheng Ruo Shi diikuti oleh ketiga orang pengawal pribadi nya.
"Aku yang melakukannya, Nyonya. Pedang itu nyaris melukai orang jadi terpaksa aku menghentikan nya", Panji Tejo Laksono langsung menghormat pada Zheng Ruo Shi dengan cara penghormatan khas Tanah Tiongkok.
Sejenak Zheng Ruo Shi tertegun memandang wajah tampan Panji Tejo Laksono. Dalam pikirannya, pemuda ini seperti seorang murid dari sebuah perguruan atau seorang tuan muda keluarga bangsawan namun kepandaian ilmu beladiri nya tidak bisa di anggap remeh.
"Lantas apa mau mu sebenarnya, anak muda? Apa kau ingin membela dua cecunguk Perguruan Huashan ini?", tanya Zheng Ruo Shi sembari menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
Mendengar tuduhan itu, Panji Tejo Laksono tersenyum tipis sembari berkata, "Tidak seperti itu, Nyonya. Aku minta Nyonya tidak langsung menilai itu tadi sebagai pembelaan untuk dua orang itu.
Tolong jangan salah paham ".
__ADS_1