Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Diatas Langit Masih Ada Langit


__ADS_3

Setelah lelaki tua berjanggut putih itu turun, ratusan orang berpakaian serba hitam dengan ikat kepala merah berhias ukiran tengkorak manusia langsung mengekor di belakangnya. Ya, orang tua itu tak lain dan tak bukan adalah Junggul Mertalaya, guru besar Padepokan Lembah Iblis di kaki Gunung Pojoktiga.


Seorang lelaki bertubuh cebol dengan memegang tongkat kayu yang ujungnya di beri besi lancip dan gagang berbentuk bulat telur berwarna kemerahan ikut melompat maju ke samping lelaki tua berjanggut panjang itu segera.


Bersamaan dengan itu, seorang wanita tua yang memakai kemben hitam dengan hiasan benang emas dan berpupur tebal dengan bibir merah merona yang memakai perhiasan emas begitu banyak di tubuhnya , menyusul pergerakan kedua orang dedengkot dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah barat ini. Dua orang tadi adalah Bogang Sarira dan Nyi Simbar Kencana, dua tokoh besar golongan hitam yang punya nama besar.


Ribuan orang murid mereka dari arah pintu gerbang timur Kota Rajapura dengan cepat mengikuti langkah guru besar mereka dengan senjata terhunus. Mereka langsung menghadang pergerakan pasukan Panji Tejo Laksono.


Junggul Mertalaya mendarat dengan lincahnya di hadapan Panji Tejo Laksono. Pria tua bertubuh gempal dengan janggut putih panjang itu tersenyum sinis terhadap sang pangeran muda dari Kadiri ini.


"Rupanya para prajurit Panjalu menyiapkan serangan kejutan dari arah samping. Untung saja, Tumenggung Gurunwangi sudah menyiapkan rencana cadangan untuk menghadapi kalian.


Dan kami adalah orang yang di siapkan untuk menghadapi kalian", ujar Junggul Mertalaya, sang guru besar Padepokan Lembah Iblis dengan sinisnya.


"Sebelum aku meminta prajurit ku untuk bergerak, aku minta kalian menyerah. Maka tindakan pengkhianatan kalian semua hari ini akan ku anggap tidak ada.


Menyerahlah sebelum terlambat ", Panji Tejo Laksono menatap tajam ke arah Junggul Mertalaya, Nyi Simbar Kencana dan Bogang Sarira yang kini berdiri sejauh 4 tombak di depan nya.


Hahahahahaha...


Gelak tawa keras terdengar dari mulut ketiga orang itu. Mereka semua merasa bahwa ancaman Panji Tejo Laksono hanyalah gertak sambal untuk menakuti anak kecil.


Chuuuihhhhhh..!


"Apa kau pikir kami takut dengan ancaman bocah bau kencur seperti mu ini ha? Aku Bogang Sarira, semua orang di kawasan barat Panjalu ini takut mendengar nama ku dan kau hanya bocah tengik berani mengancam ku? Terlalu cepat 100 tahun bagi mu untuk melakukan nya, Bocah! ", teriak Bogang Sarira sambil mengetukkan tongkat kayu berujung besi tajam ke tanah.


Chrrakkkk..


Gllleeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrrr!!!


Seketika tanah tempat itu bergetar hebat seperti di landa gempa bumi setelah Bogang Sarira, si pendekar cebol dari Perguruan Gunung Biru mengetukkan tongkat nya. Kuda kuda tunggangan para perwira tinggi prajurit Panjalu meringkik keras karena kaget. Rupanya dia ingin unjuk kebolehan di hadapan semua orang.


Usai kejadian itu, Panji Tejo Laksono segera melompat turun dari kudanya dan berjalan mendekati mereka bertiga.


"Rupanya kalian masih ingin tetap membangkang terhadap pemerintah pusat di Daha. Kalau memang itu kemauan kalian, terpaksa kami ambil jalan kekerasan untuk membuat kalian patuh! ", setelah berkata demikian, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat ke arah Junggul Mertalaya sembari melayangkan hantaman tangan kanan.

__ADS_1


Melihat Panji Tejo Laksono sudah memulai pertempuran, seluruh perwira tinggi prajurit seperti Demung Gumbreg, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Landung, Rakryan Purusoma dan Tumenggung Rajegwesi segera ikut menerjang maju ke para anggota perguruan silat yang memihak kepada Adipati Waramukti. Pertarungan sengit antara mereka segera pecah di depan pintu gerbang timur Kota Kadipaten Rajapura.


Mapanji Jayagiri, Wanyan Lan, Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari, Ayu Ratna, Gayatri dan Luh Jingga pun tak mau kalah. Mereka segera ikut menerjang maju ke arah anggota Padepokan Lembah Iblis yang ada di hadapan mereka.


Mapanji Jayagiri dengan cepat mengayunkan cakar tangannya yang merupakan senjata utama dari ilmu silat Cakar Rajawali Galunggung. Seorang pria bertubuh gempal yang ada di hadapannya, langsung mengerang keras saat cakar tangan kanan Mapanji Jayagiri merobek baju dan kulit dadanya.


Shhraaaaaakk..


Aaauuuuggggghhhhh !!


Anak murid Padepokan Lembah Iblis itu terhuyung mundur beberapa langkah membekap luka cakaran Mapanji Jayagiri yang mengeluarkan darah segar. Dua orang murid Padepokan Lembah Iblis lainnya langsung menerjang maju ke arah Mapanji Jayagiri sembari mengayunkan pedangnya kearah Mapanji Jayagiri. Satu membabat ke arah leher dan satu lagi mengayunkan pedangnya ke arah kaki.


Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh !!


Dengan lincah, Mapanji Jayagiri menjejak tanah dan tubuh pangeran ketiga dari Kadiri ini segera memutar menghindari sabetan pedang dua orang anggota murid Padepokan Lembah Iblis. Melihat lawan nya lolos dengan mudah, dua murid Padepokan Lembah Iblis merubah gerakan nya dan kembali menyerang ke arah Mapanji Jayagiri. Namun meski di keroyok oleh para murid Padepokan Lembah Iblis, Mapanji Jayagiri tetap tenang saja.


Dalam dua jurus berikutnya, dua orang murid Padepokan Lembah Iblis itu sudah terkapar tak berdaya di tanah. Kemampuan beladiri mereka memang bukan tandingan Mapanji Jayagiri.


Seorang lelaki bertubuh kekar dengan wajah seram, mendengar keras saat melihat dua anak buah Padepokan Lembah Iblis itu di jatuhkan dengan mudah oleh Mapanji Jayagiri. Segera anggota Padepokan Lembah Iblis yang bernama Kulawu ini melompat ke atas sambil membabatkan pedang nya ke arah kepala Mapanji Jayagiri yang baru saja menjatuhkan lawannya.


Mapanji Jayagiri yang merasakan sesuatu ancaman mengincar nyawanya, seketika menoleh. Begitu melihat kedatangan serangan Kulawu, Mapanji Jayagiri segera menjatuhkan diri nya ke tanah dengan cepat. Berguling cepat sekali dan langsung berdiri sembari menatap tajam ke arah anggota Padepokan Lembah Iblis itu. Perlahan Mapanji Jayagiri mencabut pedang butut yang tersandang rapi di punggungnya.


"Orang yang menyerang dari belakang adalah sikap pengecut. Dan aku paling benci dengan seorang pengecut!", ujar Mapanji Jayagiri sembari memutar pedangnya.


"Huhhhhh.. Dalam perang, tidak ada pengecut atau pemberani. Yang ada hanya yang menang dan yang kalah.


Saatnya aku antar kau menemui Dewa Yama", Kulawu langsung melesat cepat kearah Mapanji Jayagiri sembari mengayunkan pedangnya. Mapanji Jayagiri pun langsung menangkis sabetan pedang Kulawu tanpa pikir panjang lagi.


Thhhrriinnngggggg thrrriiinnnggggg!!


Whhhuuuggghhhh...


Dhasshhh dhasshhh!!


Pertarungan antara mereka berlangsung sengit. Keduanya sama-sama jago memainkan pedang. Kulawu sendiri juga kaget melihat kemampuan berpedang Mapanji Jayagiri. Umurnya yang masih sangat muda, benar benar menipu mata nya.

__ADS_1


Dalam beberapa tarikan nafas, Mapanji Jayagiri sudah berhasil menorehkan luka di tubuh Kulawu. Dan ini cukup merepotkan Kulawu karena harus menghadapi serangan pedang Mapanji Jayagiri yang cepat dan juga rasa sakit akibat darah yang keluar dari luka lukanya.


Dhaaaasssshhh !!


Kulawu terhuyung mundur beberapa langkah setelah tangan kiri nya yang di lambari tenaga dalam beradu dengan tapak tangan kiri Mapanji Jayagiri. Lelaki bertubuh kekar itu merasakan ngilu yang teramat sangat pada persendian tangan kiri nya.


Belum hilang rasa keterkejutan nya, Mapanji Jayagiri melesat cepat kearah nya yang belum sempurna berdiri. Sabetan pedang butut Mapanji Jayagiri langsung membabat leher Kulawu secepat kilat.


Chhrrrraaaaaasssshh !!


Tubuh Kulawu langsung roboh tersungkur ke tanah dengan kepala terpisah dari badan. Dia tewas tanpa sempat berteriak karena pedang butut Mapanji Jayagiri memotong batang leher nya. Darahnya muncrat mengenai baju perang sang pangeran ketiga. Setelah melihat kematian lawannya, Mapanji Jayagiri tak membuang waktu. Dia segera maju ke arah Wanyan Lan yang kini sedang di kepung oleh beberapa orang pendekar.


Di lain sisi, Junggul Mertalaya terseret mundur beberapa tombak ke belakang setelah tangan kanannya beradu dengan tapak tangan Panji Tejo Laksono yang berwarna merah menyala seperti api. Rupanya benturan Ajian Tapak Dewa Api dengan Ajian Geni Langit nya memaksa tokoh besar golongan hitam itu untuk mundur.


'Bajingan kecil ini rupanya memiliki kemampuan beladiri yang tidak bisa di remehkan. Aku tidak boleh gegabah menghadapi nya kalau tidak ingin mati konyol', batin Junggul Mertalaya.


Melihat gurunya terdorong mundur, dua murid Padepokan Lembah Iblis langsung melompat ke arah Panji Tejo Laksono. Melihat itu, dengan tenang Panji Tejo Laksono menggeser posisi tubuhnya sedikit lalu menghantamkan kedua telapak tangan nya yang berwarna merah menyala kearah dada dua murid Padepokan Lembah Iblis itu.


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr blllaaammmmmmmm!


Dua ledakan keras terdengar saat tapak tangan Panji Tejo Laksono menghantam dada mereka. Dua orang murid Padepokan Lembah Iblis itu terpental jauh ke belakang dan jatuh ke tanah dengan keras. Dada mereka berdua gosong seperti terbakar api dan keduanya tewas mengenaskan.


Melihat kedua murid kesayangannya tewas, Junggul Mertalaya menggeram keras. Kedua tangan nya langsung terangkat tinggi-tinggi ke atas kepala lalu turun ke depan dada dengan menangkup seperti tengah bertapa. Perlahan sebuah sinar hijau kehitaman nampak menyelimuti seluruh lengan Junggul Mertalaya yang menjadi pertanda bahwa dia sedang mengeluarkan ilmu kanuragan andalannya, Ajian Panglebur Bumi.


Secepat kilat dia menghantam tanah dengan tangan kanan nya.


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!


Seketika tanah menjadi retak dan menjalar cepat kearah tempat Panji Tejo Laksono berdiri. Sang pangeran muda dari Kadiri ini terperosok ke dalam tanah yang terbelah. Melihat lawan sudah jatuh ke dalam tanah, Junggul Mertalaya segera menepakkan kedua telapak tangan nya ke tanah dan segera tanah yang terbelah menutup untuk mengubur Panji Tejo Laksono hidup-hidup.


Melihat tanah sudah menutup dan Panji Tejo Laksono terjebak di dalam nya, Junggul Mertalaya menyeringai lebar karena merasa dia sudah pasti menang. Segera dia memutar tubuhnya dan hendak pergi meninggalkan tempat itu namun sekejap kemudian dia yang merasakan hawa panas menyengat dari belakang, segera menoleh. Disana Panji Tejo Laksono sudah berdiri tegak seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan sang pangeran muda dari Kadiri ini nampak tersenyum lebar memandang wajah kaget Junggul Mertalaya.


"Ba-bagaimana bisa kau ada di situ? Bukankah kau sudah terkubur dalam tanah?", Junggul Mertalaya benar benar tak habis pikir dengan cara Panji Tejo Laksono lolos dari maut jebakan yang dia buat. Mendengar pertanyaan itu, Panji Tejo Laksono tersenyum tipis sembari berkata,


"Kau bukan dewa kematian sesungguhnya yang bisa menentukan hidup mati seseorang, kakek tua.. Aku yang akan membuat kau mengerti.

__ADS_1


Bahwa diatas langit masih ada langit."


__ADS_2