Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga 2


__ADS_3

Panji Tejo Laksono sejenak melirik ke arah Dua Tapak Besi Gunung Lintang yang sudah terluka parah. Dua orang itu pasti mampus jika perempuan cantik bertubuh montok ini ingin membunuhnya. Tapi untuk ikut campur dalam masalah orang lain yang tidak tahu siapa yang salah siapa yang benar, lebih baik Panji Tejo Laksono tidak melakukannya.


"Bukan urusan ku. Aku hanya ingin lewat saja. Kalau kalian mau saling bantai, silahkan saja", ucap Panji Tejo Laksono acuh tak acuh.


Janda muda cantik berbaju putih kuning itu tersenyum penuh kemenangan tapi tidak dengan Dua Tapak Besi Gunung Lintang. Kedua orang yang semula berharap Panji Tejo Laksono ikut campur langsung terkejut bukan main mendengar jawaban itu.


"Bagus sekali!!


Kalau begitu aku tidak akan membuang waktu lagi. Mampus kalian Dua Tapak Besi Gunung Lintang!!", Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga alias Lesmanawati menggembor keras lalu melesat cepat kearah dua orang itu. Meskipun tubuhnya montok berisi tapi rupanya ilmu meringankan tubuh Lesmanawati tinggi hingga gerakannya sulit untuk diikuti oleh mata biasa.


Endang Patibrata yang mendengar nama dua orang lawan Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga itu langsung cabut pedangnya dan menggunakan punggung kuda tunggangan nya sebagai tumpuan untuk melenting tinggi ke udara. Pergerakannya menghadang laju pergerakan Lesmanawati dengan sambaran cepat pedang di tangan kanan.


Shhrreeettthhh!!


Hawa dingin yang mengikuti cahaya tipis kuning redup dari pedang Endang Patibrata menyambar leher Lesmanawati. Perempuan cantik berbaju putih kuning itu terkesiap juga dengan serangan tiba-tiba dari Endang Patibrata. Perempuan cantik itu segera merubah gerakan tubuhnya dan bersalto mundur beberapa kali di udara lalu mendarat tak jauh dari tempat nya semula.


"Pemuda tampan, kau ingkar janji rupanya!


Kau tidak ikut campur tapi pengikut mu yang maju. Pintar sekali kau bicara!", Lesmanawati mendengus keras sembari menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.


"Itu di luar tanggung jawab ku. Aku tidak memerintahkan untuk ikut campur. Kalau dia bertindak, itu murni tindakan nya sendiri", ucap Panji Tejo Laksono sambil mengangkat bahu.


"Kauuu....", Lesmanawati tak jadi meneruskan omongan nya tapi segera mengalihkan pandangannya pada Endang Patibrata yang tegak berdiri menenteng senjata.


"Hei kau perempuan baju hijau!


Apa hubungan mu dengan dua orang cecunguk Perguruan Gunung Lintang itu ha?", hardik Lesmanawati keras.


"Dua Tapak Besi Gunung Lintang adalah pendekar golongan putih. Mereka berdua tak pernah berbuat hal yang hina selama malang melintang di dunia persilatan. Gunung Lintang ada di perbatasan wilayah Karang Anom dan Tanggulangin. Jika mereka sampai di tempat ini tentu saja ada hal yang penting.


Lagipula mereka berdua adalah kawan baik bopo ku Singo Manggolo. Tadinya aku tidak yakin apakah mereka benar-benar Dua Tapak Besi Gunung Lintang karena mereka sudah lama tidak mengunjungi rumah bopo ku di Wanua Pulung. Untung saja kau menyebut nama mereka. Jika tidak tentu aku akan sangat menyesal karena telah membiarkan mu membunuh orang baik itu", ucap Endang Patibrata dengan penuh keyakinan.


Mendengar itu, si lelaki yang lebih tua dari Dua Tapak Besi Gunung Lintang yang bernama asli Abimana langsung berdiri meski sedikit sempoyongan sambil memegangi dadanya yang sesak.


"Ru-rupanya kau anak Saudara Singo Manggolo, gadis ayu..


Janda gila itu baru saja memperdaya putra pimpinan Perguruan Gunung Lintang dan membunuhnya. Kami di utus oleh Mpu Seba ( pimpinan Perguruan Gunung Lintang ) untuk meringkus perempuan binal itu hidup atau mati. Tapi rupanya setan betina itu punya ilmu kanuragan yang tinggi hingga kami tidak mampu mengalahkannya uhukkk uhukkk", Abimana batuk-batuk beberapa kali selesai bicara. Ada darah yang ikut keluar dari mulut nya yang menjadi pertanda bahwa dia sedang luka dalam parah.


"Itu semua salah anak pimpinan mu sendiri kenapa dia berani menggoda ku. Masih untung mayatnya ku biarkan utuh. Kalau aku mau aku bisa membuatnya jadi potongan daging untuk makanan anjing..", sahut Lesmanawati dengan penuh keangkuhan.


"Dasar iblis betina!!


Nandaseba adalah pemuda polos yang tak berani mendekati perempuan. Tidak mungkin dia menggoda perempuan sundal seperti mu. Itu semua hanya alasan mu saja agar kau terhindar dari jerat hukum", teriak seorang lelaki yang lebih muda dari Dua Tapak Besi Gunung Lintang yang memiliki nama Bomananta itu segera.


"Banyak mulut!!


Dua cecunguk seperti kalian harusnya tidak ada di dunia ini!!", selesai berkata demikian, Lesmanawati alias Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga hantamkan tangan kanannya ke arah Dua Tapak Besi Gunung Lintang. Cahaya putih kekuningan berhawa dingin menusuk tulang menerabas cepat kearah mereka.


Whhhuuuggghhhh!!


Melihat itu, Endang Patibrata dengan cepat salurkan tenaga dalam pada pedang di tangan kanannya. Cahaya kuning redup keluar dari bilah pedang. Dengan gerakan cepat, Endang Patibrata menebas hantaman cahaya putih kekuningan yang menuju ke arah dua orang yang sedang luka dalam parah ini.


Thhhrrriiiiinnnnngggg..


Blllaaammmmmmmm !!

__ADS_1


Cahaya putih kekuningan berhawa dingin itu segera mental ke sisi kanan akibat tebasan pedang Endang Patibrata hingga menghantam batu besar seukuran kerbau yang ada di salah satu pinggiran sungai kecil. Batu besar itu langsung meledak dan semburat ke segala arah dengan potongan kecil yang berselimut es.


"Ajian Tapak Pembeku Jantung?!!!


Rupanya kau pendekar perempuan binal dari Lembah Selaksa Bunga yang suka membantai orang tanpa alasan itu. Pantas saja Dua Tapak Besi Gunung Lintang tak mampu menghadapi mu", ujar Endang Patibrata sembari menatap tajam ke arah Lesmanawati.


"Hahahaha..


Rupanya kau tahu juga tentang diriku, perempuan baju hijau. Rupanya aku terkenal juga ya hahaha..


Aku sebenarnya menyukai dirimu tapi sayang kau harus mati di tangan ku!!", ucap Lesmanawati sembari kembali hantamkan tapak tangan nya ke arah Endang Patibrata bertubi-tubi.


Whhhuuuggghhhh whhhuuuggghhhh!!


Thhhrrriiiiinnnnngggg thhhrrriiiiinnnnngggg..


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!!


Endang Patibrata dengan gerakan lemah gemulai seperti sedang menari membabatkan pedang nya ke arah serangan Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga itu. Ledakan keras beruntun terdengar saat cahaya putih kekuningan berhawa dingin itu bermentalan ke segala arah. Tempat itu semakin porak poranda akibat pertarungan mereka.


Panji Tejo Laksono terus berjaga-jaga kalau-kalau Endang Patibrata dalam masalah sedangkan pengikut Panji Tejo Laksono yang lain juga turut bersiaga penuh. Dua Tapak Besi Gunung Lintang, Abimana dan Bomananta, memilih untuk sedikit menjauh dari arena pertarungan antara Endang Patibrata dan Lesmanawati karena keadaan mereka yang masih belum bisa bertarung dengan sepenuh tenaga.


Demung Gumbreg yang ikut menonton pertarungan sengit itu berdecak kesal sembari menggerutu.


"Cantik-cantik kog jadi penjahat?


Coba saja dia anteng pasti banyak lelaki yang mau menerima nya..", gerutu Demung Gumbreg ini terdengar oleh telinga Tumenggung Ludaka.


"Termasuk kamu Mbreg?", tanya Tumenggung Ludaka sambil sedikit melirik ke arah sahabat karibnya itu.


Dia cantik juga montok begitu. Pasti pelayanan nya di atas ranjang akan sangat memuaskan hehehehe", Demung Gumbreg nyengir kuda.


"Heh otak mesum, apa kau masih kurang dengan Pergiwa dan Juminten ha?


Menghadapi keributan mereka saja kau tidak bisa mengatasi, apalagi jika di tambah dengan janda montok itu. Bisa di potong itu mu..", omel Tumenggung Ludaka sengit.


"Ya sah sah saja aku punya banyak istri Lu..


Apa kau pikir aku tidak iri dengan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono yang sudah punya tujuh istri yang cantik-cantik begitu?", Demung Gumbreg ngotot dengan pendapatnya.


"Ini nih jenis orang yang tidak tahu diri!


Kau itu siapa dan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono itu siapa? Urusan wajah, jelas kalah jauh. Kekayaan, jabatan apalagi. Harusnya kau itu jadi orang sadar rai ( muka ), sadar diri dan sadar posisi. Bukan hanya menuruti kemauan mu tanpa melihat kemampuan. Ingat Mbreg, kita itu sudah tua. Harusnya kau itu sudah memikirkan urusan alam baka dan melepaskan urusan duniawi semata", cerocos Tumenggung Ludaka yang kesal dengan sikap temannya itu.


"Tapi Lu..."


"Ssssttttttttt diam kau. Aku malas bicara dengan mu", Demung Gumbreg yang hendak melanjutkan omongannya terpaksa menutup mulutnya rapat-rapat karena melihat kawannya yang kembali serius menonton jalannya pertarungan sengit antara Endang Patibrata dan Lesmanawati.


Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga melompat mundur beberapa tombak ke belakang. Badannya sudah basah kuyup oleh peluh keringat yang keluar selama pertarungan dengan Endang Patibrata. Dia sudah mengeluarkan banyak tenaga dalam tapi belum juga mampu menundukkan Endang Patibrata yang terlihat masih tenang menghadapi kesaktiannya.


'Brengsek!!!


Gadis ini benar-benar tangguh. Ilmu berpedang nya yang kelihatan lemah tak bertenaga itu justru sanggup menghadapi Ajian Tapak Pembeku Jantung ku. Sial, aku harus cepat mengakhiri pertarungan ini kalau tidak ingin dikalahkan oleh nya', batin Lesmanawati.


Kedua telapak tangannya segera bersatu di depan dada. Mulut perempuan cantik bertubuh montok ini segera komat-kamit merapal mantra. Perlahan asap putih bercampur angin kencang memutari seluruh tubuh nya. Berikutnya cahaya biru bergulung-gulung melingkari kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Abimana Si Tapak Besi Gunung Lintang yang melihat itu langsung berteriak keras.


"Nini, hati-hati..!!!


Iblis betina itu hendak mengeluarkan Ajian Pembeku Bumi. Cepat mundur!!!".


Mendengar perkataan itu, Endang Patibrata mengangguk mengerti. Namun bukannya mundur, putri Lurah Wanua Pulung ini malah merapal mantra Ajian Tapak Badai Laut Selatan yang merupakan pasangan Ilmu Pedang Tarian Badai Laut Selatan yang di milikinya. Angin kencang berhawa dingin menderu layaknya sebuah badai berseliweran di sekitar telapak tangan kiri Endang Patibrata yang berwarna putih kehijauan.


Lesmanawati mendengus keras sesaat sebelum melesat cepat kearah Endang Patibrata sembari hantamkan tapak tangan kanan nya.


"Mati kau keparat!!!


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!!!"


Endang Patibrata memutar tubuhnya dengan cepat dan menyambut kedatangan serangan Lesmanawati dengan tapak tangan kiri nya.


Blllaaammmmmmmm..


Tepat sesaat sebelum ledakan keras terdengar, tangan kanan Endang Patibrata yang memegang pedang langsung menebas ke arah leher Lesmanawati namun perempuan cantik itu masih sempat menggeser posisi tubuhnya.


Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!


Aaauuuuggggghhhhh!!!!


Debu beterbangan menutupi pandangan mata semua orang saat ledakan keras itu memaksa Endang Patibrata tersurut mundur beberapa tombak.


"Anak Lurah Wanua Pulung!!


Suatu hari nanti hutang darah mu ini akan ku tagih. Nikmati hari hari mu sebelum mati!!", terdengar suara Lesmanawati dari dalam kepulan asap dan debu yang beterbangan.


Saat semua itu mereda, terlihat sebuah potongan lengan kiri tergeletak di atas tanah sedangkan sosok Lesmanawati si Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga itu telah menghilang. Rupanya dia kabur setelah pedang Endang Patibrata berhasil memotong lengan kiri nya.


"Jangan di kejar, Dinda Patibrata! Sudah cukup!!"


Teriakan keras dari Panji Tejo Laksono seketika menghentikan niat Endang Patibrata untuk mengejar arah perginya Lesmanawati yang sudah terluka parah. Sedangkan Dua Tapak Besi Gunung Lintang berjalan tertatih mendekati Endang Patibrata yang menyarungkan kembali pedangnya.


"Terimakasih atas bantuannya, Nini..


Kalau tidak ada kalian, kami pasti sudah menjadi korban keganasan perempuan setan itu", ucap Abimana sembari membungkuk hormat kepada Endang Patibrata.


"Kalian adalah kawan baik bopo ku. Sudah sepantasnya jika aku membantu kalian.


Urusan kita cukup sampai disini saja. Kami ada urusan yang harus segera diselesaikan. Kami mohon pamit", Endang Patibrata menghormat lalu melangkah ke kuda tunggangan nya dan segera melompat ke atas pelana kuda.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan".


Panji Tejo Laksono langsung menggebrak kuda tunggangan nya di ikuti oleh Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg dan Endang Patibrata. Mereka memacu kuda mereka masing-masing menuju ke arah barat dimana Kota Karang Anom berada.


Dua Tapak Besi Gunung Lintang menatap ke arah perginya Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya dengan pandangan takjub.


"Mereka semua orang orang hebat sepertinya, Kakang. Pengawalnya saja sehebat itu, apalagi majikannya pasti jauh lebih kuat", ujar Bomananta segera.


Abimana menghela nafas panjang lalu memungut potongan lengan kiri Lesmanawati sembari berkata,


"Kau benar, Adhi Bomananta. Kita berhutang nyawa pada mereka. Sudahlah, jika berjodoh dengan mereka suatu hari pasti akan bertemu lagi.

__ADS_1


Ayo kita pulang ke perguruan.."


__ADS_2