
"Tugas apa yang akan ananda terima Kanjeng Romo?", tanya Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah Panji Watugunung yang memunggungi nya.
"Kau ku utus sebagai duta besar Panjalu ke Tanah Tiongkok. Ini tugas besar yang akan menjadi pengalaman berharga untuk mu nanti setelah kau menjadi seorang pemimpin.
Dalam tugas mu kali ini, kau harus menjalin hubungan baik dengan pihak Kekaisaran Dinasti Song. Jangan mempermalukan pihak Kerajaan Panjalu. Rendah hati lah agar semuanya berjalan sempurna", Prabu Jayengrana nampak terdiam sejenak sebelum melanjutkan bicara.
"Kau tahu masalah ini bukan hanya soal menjadi duta, putraku.
Tapi juga berkaitan dengan siapa yang akan di tunjuk sebagai penerus tahta Kerajaan Panjalu selanjutnya. Jadi Romo Prabu harap kau tidak menyalahkan Romo, karena mengurus mu berangkat ke tempat yang sama sekali tidak kau ketahui", imbuh Prabu Jayengrana sembari menghela napas berat. Dalam hatinya ia tidak rela jika putra harapan nya harus jauh ke Tanah Tiongkok.
"Sebagai putra sulung dari Prabu Jayengrana dan Ratu Dewi Anggarawati, aku siap untuk di tugaskan oleh kerajaan Panjalu.
Kanjeng Romo tidak perlu cemas dengan keselamatan ku, aku yakin bisa menjaga diri ku dengan baik. Tejo Laksono akan selalu patuh pada perintah Kanjeng Romo Prabu", Panji Tejo Laksono menghormat pada Prabu Jayengrana dengan membungkukkan badannya.
Hemmmmmmm..
"Sebelum kau berangkat, Romo akan menurunkan Ajian Halimun agar menjadi ilmu andalan mu saat keadaan genting. Ilmu ini bisa membuat mu berpindah tempat sejauh kau mau.
Nanti malam, datanglah ke tempat ini lagi. Sekarang ibu mu pasti khawatir kalau tidak menemukan Romo di sanggar pamujan.
Setengah purnama lagi, rombongan Tumenggung Sindupraja akan sampai di tempat ini dengan membawa barang hadiah untuk Kekaisaran Dinasti Song. Rakryan Purusoma yang akan menjadi nahkoda kapal mu nantinya. Manfaat waktu yang ada untuk belajar bahasa Tionghoa agar kau bisa memahami omongan mereka nanti.
Aku pulang dulu ke Kadiri", ujar Prabu Jayengrana sembari berjalan menjauh dari Panji Tejo Laksono. Bersamaan dengan itu, muncul asap putih yang menutupi seluruh tubuh Maharaja Panjalu itu. Sekejap kemudian dia sudah menghilang dari pandangan mata Panji Tejo Laksono. Meninggalkan Panji Tejo Laksono yang bengong melihat kehebatan ilmu kanuragan tingkat tinggi yang di miliki oleh ayahanda nya.
"Kanjeng Romo Prabu memang bukan raja sembarangan. Dia sakti mandraguna", gumam Panji Tejo Laksono.
Dari arah barat, Tumenggung Ludaka datang dengan menaiki kuda tunggangan nya juga menarik kuda milik Panji Tejo Laksono di belakangnya. Saat itu cahaya matahari telah bergeser dari atas kepala. Sesampainya Tumenggung Ludaka di tempat itu, Tumenggung Ludaka segera melompat turun dari kudanya dan menyembah pada Panji Tejo Laksono.
"Sembah bakti hamba Gusti Pangeran..
Ada apa sebenarnya hingga Gusti Pangeran Panji tiba-tiba saja datang ke tempat ini? Apa hamba melewatkan sesuatu yang penting?", tanya Tumenggung Ludaka segera. Perwira tinggi prajurit Panjalu seusia Prabu Jayengrana itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.
"Kanjeng Romo Prabu Jayengrana baru saja pergi dari sini Paman", jawab Panji Tejo Laksono segera.
"Haahhh??!!
Gusti Prabu Jayengrana baru saja dari sini? Bukankah Gusti Prabu sedang berada di Istana Kotaraja?", Tumenggung Ludaka kaget bukan main.
"Paman ini seperti baru mengenal Kanjeng Romo Prabu saja..
Beliau kan bisa berpindah tempat sesuka hatinya Paman. Masak Paman Ludaka lupa sih?", ujar Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis. Mendengar jawaban itu, Tumenggung Ludaka langsung menepuk jidatnya sendiri.
"Oh iya, bagaimana bisa aku melupakan hal-hal seperti itu ya? Hehehe..
Sepertinya memang aku sudah tua", Tumenggung Ludaka menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Lantas ada perlu apa Gusti Prabu Jayengrana repot-repot datang kemari Gusti Pangeran? Apa ada hal yang penting?", kembali Tumenggung Ludaka bertanya.
"Huuufft..
Aku mendapat tugas dari Kanjeng Romo Prabu sebagai duta besar Panjalu ke Tanah Tiongkok, Paman..
Kata ayahanda, Tumenggung Sindupraja sudah berangkat dari istana Kadiri. Jadi kita punya waktu sekitar 10 hari untuk mempersiapkan diri", jawab Panji Tejo Laksono sembari menghela nafas panjang.
"Gusti Pangeran harus selalu siap sedia menjalankan tugas yang Gusti Prabu Jayengrana berikan. Ini tugas besar, Gusti Pangeran. Hanya orang yang bisa di percaya saja yang mampu melaksanakan tugas sebesar ini. Ini adalah bentuk kepercayaan yang Gusti Prabu Jayengrana berikan kepada Gusti Pangeran.
Hamba Ludaka, selalu siap bersama Gusti Pangeran dalam mengemban tugas seberat apapun yang di berikan oleh Gusti Prabu Jayengrana ", ucap Tumenggung Ludaka dengan penuh keyakinan.
"Terimakasih banyak atas dukungannya Paman Ludaka.
Sebaiknya kita segera kembali ke Istana Kadipaten Kalingga. Takut nya Ayu Ratna akan khawatir jika kita pergi terlalu lama", Panji Tejo Laksono langsung melompat ke atas kuda nya begitu pula dengan Tumenggung Ludaka.
Mereka berdua segera menggebrak kuda mereka masing-masing menuju ke arah Istana Kadipaten Kalingga. Debu beterbangan mengiringi langkah kaki kuda mereka membelah jalanan.
Menjelang sore hari, Panji Tejo Laksono mengutarakan bahwa dia mendapatkan tugas besar dari Prabu Jayengrana untuk berangkat menuju ke Tanah Tiongkok sebagai duta besar Panjalu. Semua orang nampak terkejut mendengar berita itu tak terkecuali Ayu Ratna. Sekar Kedaton Kalingga itu langsung bermuram durja. Dia masih ingin berlama-lama bersama dengan Panji Tejo Laksono namun dengan adanya perintah dari Prabu Jayengrana, tentu saja dia tidak akan diperkenankan untuk ikut.
__ADS_1
Dua sosok gadis cantik lainnya, Gayatri dan Luh Jingga pun juga resah dengan berita itu. Harapan mereka untuk terus bersama dengan Panji Tejo Laksono semakin menipis. Kalaupun mesti menunggu, setidaknya butuh waktu paling cepat 6 purnama agar bisa bertemu kembali.
Malam hari itu, Prabu Jayengrana datang lagi ke tapal batas Kota Kadipaten Kalingga sesuai janjinya. Prabu Jayengrana pun menurunkan Ajian Halimun pada sang putra sulung.
Kecerdasan Panji Tejo Laksono memang di atas rata-rata. Dengan cepat ia mampu menguasai ilmu kanuragan tingkat tinggi itu meski masih belum sesempurna milik ayahanda nya.
"Tejo Laksono,
Sekarang coba kau buat gerakan berpindah tempat dengan cepat dengan menggunakan Ajian Halimun mu", perintah Panji Watugunung sembari menatap wajah tampan putra sulung nya itu.
"Akan saya coba, Kanjeng Romo".
Mata Panji Tejo Laksono langsung terpejam sesaat dengan mulut komat-kamit membaca mantra. Perlahan asap putih tipis menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono dan sekejap berikutnya sang pangeran muda telah menghilang dari pandangan. Lalu muncul di arah yang berbeda dengan cepat.
"Bagus sekali, Tejo Laksono..
Meski masih harus banyak berlatih, kau sudah cukup mahir dalam penguasaan Ajian Halimun ini. Kau memang pintar", puji Prabu Jayengrana sembari tersenyum simpul.
"Ini semua adalah ajaran Kanjeng Romo. Tanpa bimbingan dari Kanjeng Romo, saya tidak mungkin bisa belajar secepat ini", Panji Tejo Laksono membungkuk hormat kepada Prabu Jayengrana.
"Mulut mu memang manis sekali..
Ini sudah cukup malam. Aku harus segera pulang ke Kadiri. Jaga diri mu baik baik, Tejo Laksono. Kami semua menunggu kedatangan mu di Istana Kotaraja Kadiri", setelah berkata demikian, Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana perlahan menghilang dari pandangan mata Panji Tejo Laksono bersama kabut putih tipis dan angin dingin yang berhembus perlahan.
Panji Tejo menyembah pada arah kepergian Prabu Jayengrana sebelum berbalik badan menuju ke arah Istana Kadipaten Kalingga. Kabut putih tipis kembali menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono dan sekejap kemudian dia telah sampai di balai tamu kehormatan Istana Kalingga.
Iseng iseng, Panji Tejo Laksono muncul di atas tembok Keputren. Dalam keremangan cahaya bulan purnama, dia melihat sebuah pelita dari lampu minyak jarak menyala di tengah taman sari. Nampak jelas bahwa seorang gadis cantik tengah melamun menatap ke arah langit malam yang cerah. Panji Tejo Laksono tersenyum simpul lalu muncul diam diam di belakang Ayu Ratna.
"Malam ini bulan nya indah sekali ya Gusti Putri?"
Kemunculan Panji Tejo Laksono yang tiba-tiba karuan saja mengagetkan Ayu Ratna. Putri Adipati Aghnibrata itu sampai terlonjak dari kursi kayu jati yang ada di tengah taman sari.
"Ah Gusti Pangeran, ba-bagaimana bisa kau tiba-tiba muncul di sini tanpa suara?", gugup Ayu Ratna melihat kedatangan Panji Tejo Laksono.
Apa yang membuat Gusti Putri bersedih hati seperti itu?", Panji Tejo Laksono duduk di samping Ayu Ratna.
"Itu itu ...."
"Itu apa Gusti Putri? Apa karena aku akan pergi ke Tanah Tiongkok sebagai duta besar Kerajaan Panjalu?", tanya Panji Tejo Laksono. Ayu Ratna tidak menjawab melainkan menunduk tak bersuara. Perlahan bulir air mata menetes dari mata indahnya.
"Hei kenapa malah menangis?
Apa yang Gusti Putri takutkan? Aku tidak kembali? Gusti Putri tidak boleh berpikir seperti itu. Aku hanya menjadi duta besar, tidak berangkat berperang", ujar Panji Tejo Laksono sembari mengangkat dagu Ayu Ratna. Air mata putri Kadipaten Kalingga itu masih saja keluar membasahi pipinya yang putih.
"Sudah cukup tangisan nya, Gusti Putri. Oh tidak, mulai sekarang aku akan memanggil mu dengan sebutan Dinda Ayu Ratna.
Dinda,
Kangmas pasti akan kembali untuk Dinda Ayu Ratna", Panji Tejo Laksono perlahan menghapus bulir air mata yang membasahi pipi sang putri.
"Kangmas janji akan pulang untuk ku?", Ayu Ratna mengulurkan kelingking tangan kanannya ke arah Panji Tejo Laksono. Sembari tersenyum, Panji Tejo Laksono segera mengaitkan jari kelingkingnya di jari Ayu Ratna.
"Kangmas janji", ucap Panji Tejo Laksono dengan cepat. Mendengar jawaban itu, senyum Ayu Ratna terukir indah di wajah cantiknya. Putri Adipati Aghnibrata itu segera menyenderkan kepalanya di dada bidang Panji Tejo Laksono.
Malam itu bulan purnama menjadi saksi bisu janji dua insan yang sedang di mabuk cinta itu.
Setelah cukup lama mereka berduaan, Panji Tejo Laksono pamit untuk beristirahat. Sedangkan Ayu Ratna pun segera menuju ke tempat tidur nya. Malam ini adalah malam terindah yang pernah dia alami selama hampir dua dasawarsa perjalanan hidupnya.
Keesokkan paginya, Ayu Ratna mengundang sejumlah orang dari Negeri Tiongkok untuk mengajari Panji Tejo Laksono bahasa Tionghoa. Salah satunya adalah Saudagar Tang He yang tempo hari di bela oleh Panji Tejo Laksono saat bertengkar dengan Saudagar Pandya dari Negeri Chola India.
"Jadi Tuan Pangeran ingin belajar bahasa owe? Untuk apa Tuan Pangeran belajar?", tanya Saudagar Tang He begitu mereka berdua bersama.
"Aku akan berlayar ke Tanah Tiongkok segera, saudagar Tang.
Jadi alangkah baiknya jika aku bisa belajar bahasa negeri kalian agar aku memahami apa saja yang kalian bicarakan", jawab Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.
__ADS_1
"Owe mengerti kalau begitu..
Tuan Pangeran tidak perlu khawatir. Owe akan kasih tau semua ragam bahasa lisan maupun tulisan di negeri owe", ujar Saudagar Tang He sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono dengan cara tangan kanannya terkepal sedang tangan kiri menutup tangan kanan lalu membungkuk. Cara ini adalah cara khas penghormatan ala negeri Tiongkok.
Sembari menunggu kedatangan Tumenggung Sindupraja, hampir selama dua pekan Panji Tejo Laksono terus belajar bahasa dan adat istiadat Tanah Tiongkok pada Saudagar Tang He. Hubungan nya dengan Ayu Ratna juga semakin lengket hingga kadang Gayatri marah-marah karena cemburu berat. Luh Jingga justru selalu yang jadi penengah jika keributan terjadi antara Ayu Ratna dan Gayatri.
Hari ke sembilan Panji Tejo Laksono di Kadipaten Kalingga....
Senja baru saja berganti malam. Semilir angin dingin berdesir lembut membelai dedaunan pohon asam di samping balai tamu kehormatan. Suara burung malam beradu dengan berisiknya jangkrik dan belalang yang bernyanyi riang.
Panji Tejo Laksono sedang duduk bersama dengan para pengikutnya di serambi balai tamu kehormatan saat merasakan adanya hawa membunuh yang tersamar di balik kegelapan malam. Segera dia berdiri dari tempat duduknya sembari menatap ke arah barat.
"Ada apa Gusti Pangeran? Apa ada yang mengganggu pikiran Gusti Pangeran?", tanya Luh Jingga segera.
"Ada dua hawa pembunuh mendekat kemari. Sebaiknya kalian tetap bercengkrama seperti biasa. Biar aku lihat siapa yang datang kemari", usai berkata demikian, Panji Tejo Laksono langsung bergegas menuju ke kamar tidur nya sementara para pengikutnya termasuk Demung Gumbreg, Siwikarna dan Jaluwesi segera melakukan perintah sang pangeran namun dengan penuh kewaspadaan. Begitu sampai di dalam kamar tidur, Panji Tejo Laksono langsung menyambar Pedang Naga Api lalu menggunakan Ajian Halimun. Di malam itu Panji Tejo Laksono sudah mengintai kearah dua hawa pembunuh yang mendekat.
Dua sosok berpakaian merah kehitaman berkelebat cepat bagai terbang di antara atap atap bangunan pendukung yang berdiam di sekitar Istana Kadipaten Kalingga. Gerakan mereka begitu ringan seperti tidak mempunyai bobot tubuh sama sekali. Meski mengenakan caping bambu, namun saat sinar bulan yang tinggal separuh di langit menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang sudah cukup berumur.
Ya, mereka adalah sepasang pendekar yang menonton pertandingan antara Panji Tejo Laksono dan Danapati tempo hari.
Mereka berdua di kenal sebagai Ki Galajapu dan Dewi Gomati. Di dunia persilatan, mereka berdua tersohor sebagai Sepasang Hantu Merah dari Bukit Trenggulun di wilayah Kadipaten Paguhan. Sepasang tokoh besar golongan hitam yang malang melintang di dunia persilatan itu sangat terkenal dengan kekejaman nya membantai lawan tanpa pandang bulu.
"Kakang,
Ku rasa kita sudah dekat dengan istana Kalingga. Apa kita langsung ke tempat pangeran dari Kadiri itu saja? Aku sudah tidak tahan ingin menghajarnya", ucap Dewi Gomati yang melesat di samping Ki Galajapu.
"Iya Nini Dewi,
Aku juga sudah menahan rasa kesal ku sejak putra kita di hajar nya tempo hari. Ayo cepat kita balaskan dendam Danapati", sahut Ki Galajapu sembari menatap bengis ke arah balai tamu kehormatan yang ada di depan nya.
Sekali sentak, dua tubuh tokoh besar golongan hitam itu melenting tinggi ke udara dan mendarat di depan 4 prajurit penjaga istana yang bertugas menjaga pintu barat Istana Kadipaten Kalingga.
"Hei siapa kalian? Mau apa malam malam begini kemari?", hardik seorang prajurit penjaga gerbang sembari menatap curiga pada dua orang berpakaian merah kehitaman itu.
"Aku adalah pencabut nyawa kalian!"
Ki Galajapu langsung melesat cepat kearah para prajurit penjaga gerbang. Lima larik sinar hitam kebiruan langsung terlontar dari jari tangan Ki Galajapu.
Whhhhuuuuggghhh !
Blllaaammmmmmmm !
Keempat orang prajurit penjaga itu sama sekali tidak menduga bahwa lawan mereka adalah pendekar besar dunia persilatan. Tubuh ketiga orang prajurit penjaga yang paling depan langsung terpotong oleh sinar hitam kebiruan berhawa panas yang menerabas cepat kearah mereka. Jerit kesakitan bercampur darah segar muncrat terdengar dari tempat itu. Seorang prajurit penjaga gerbang yang paling belakang selamat namun nyalinya sudah seciut daun telinga kucing. Dia bergidik ngeri dan buru buru melompat untuk melarikan diri.
Nyi Gomati yang melihat itu langsung melecutkan cambuknya yang memiliki ujung besi tajam yang beracun.
Cttaaarrrrrrr!!
Ujung besi tajam itu melesat cepat kearah punggung sang prajurit penjaga gerbang istana. Namun sebuah bayangan putih berkelebat cepat kearah cambuk Nyi Gomati dan dengan cepat menghantam ujung besi cambuk Nyi Gomati dengan sebilah pedang berwarna putih keperakan.
Thrrraaannnnggggg!!
Ujung besi cambuk Nyi Gomati mental dan dengan cepat Nyi Gomati menarik cambuknya sembari menatap tajam ke arah sosok bayangan putih yang ternyata adalah seorang gadis bercadar putih. Meski hanya terlihat matanya namun bisa di pastikan bahwa dia adalah seorang gadis cantik.
"Bangsat!
Kenapa kau ikut campur dalam urusan ku, Bidadari Angin Selatan?", hardik Dewi Gomati dengan cepat.
"Di setiap ada tindak kejahatan, aku akan selalu muncul untuk menantang mu, Hantu Betina..", ucap gadis cantik berbaju serba putih itu segera.
Panji Tejo Laksono yang sedari tadi hendak bergerak, langsung diam tak bergerak menyaksikan kedatangan si gadis bercadar putih. Tak di nyana, si gadis bercadar putih itu menoleh ke arah Panji Tejo Laksono berada.
"Kisanak yang di atas atap bangunan,
Apa mau terus menonton?"
__ADS_1