
Sementara Sepasang Iblis Pemotong Kepala sibuk menyiapkan rencana untuk menghabisi nyawa Panji Tejo Laksono, sang pangeran muda dari Kadiri itu justru dengan tenang memasuki istana Katang-katang.
Kedatangan para prajurit Panjalu di bawah pimpinan Panji Tejo Laksono langsung di sambut dengan hangat oleh sang Maharaja Panjalu Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta dengan penuh sukacita. Di depan alun-alun Istana Katang-katang, sang penguasa Panjalu itu bersama para permaisuri dan selir- selirnya juga para punggawa istana negara berdiri menyambut kedatangan mereka.
Panji Tejo Laksono langsung melompat turun dari kudanya diikuti oleh Panji Manggala Seta dan Mapanji Jayagiri. Para pengikutnya yang lain serta para perwira tinggi prajurit Panjalu yang ikut serta dalam rombongan itu pun bergegas mengikuti langkah sang pangeran muda.
Di hadapan Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana alias Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta, Panji Tejo Laksono langsung berjongkok di tanah alun-alun Istana Katang-katang sambil menyembah pada sang Maharaja Panjalu.
"Sembah bakti saya Kanjeng Romo Prabu Jayengrana", ujar Panji Tejo Laksono dengan penuh hormat. Semua orang yang mengikuti nya juga melakukan hal yang sama. Prabu Jayengrana tersenyum simpul melihat itu semua.
"Bangunlah putra-putra ku semuanya dan juga kalian para pahlawan perang yang terhormat, aku menerima sembah bakti kalian", ujar Prabu Jayengrana sambil mengangkat tangan kanannya.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu Jayengrana", ujar semua orang anggota pasukan Panjalu yang ada di alun-alun Istana Katang-katang ini. Mereka pun langsung berdiri dari tempat menyembah nya.
"Untuk menghargai jasa para pahlawan perang yang berjasa dalam mengusir para prajurit Jenggala, aku akan menghadiahkan 100 kepeng emas kepada setiap prajurit. Untuk yang gugur selama pertempuran, akan mendapatkan hak yang sama dan keluarganya akan mendapat jaminan penghidupan selama satu tahun penuh.
Selanjutnya hadiah ini akan meningkat seiring dengan kepangkatan yang dimiliki. Aku harap kalian semua bisa menerima dan memanfaatkan hadiah kecil ini dengan sebaik-baiknya", titah Prabu Jayengrana segera.
"Terimakasih atas kemurahan hati Gusti Prabu Jayengrana", semua orang langsung menghormat pada sang Maharaja Panjalu itu.
Selanjutnya, Prabu Jayengrana melangkah masuk ke dalam Pendopo Agung Istana Katang-katang diikuti oleh para perwira tinggi prajurit Panjalu juga para punggawa istana negara.
Prabu Jayengrana duduk di atas singgasana nya. Di sebelah kanannya duduk Sang Permaisuri Pertama Dewi Anggarawati dan Permaisuri Kedua Ayu Galuh. Di tempat yang lebih rendah ada Ratna Pitaloka. Sedangkan di sisi kiri sang Maharaja Panjalu ada Dewi Naganingrum sang Permaisuri Ketiga. Di tempat yang lebih rendah ada Sekar Mayang, Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti.
Para putri dari Raja Panjalu itu duduk di belakang dari ibu mereka. Dewi Sekar Kedaton duduk di belakang Ayu Galuh, Dewi Wulan Sumekar tenang bersimpuh di belakang Ratna Pitaloka, sedangkan Dewi Sekar Tanjung dan Dewi Kencanawangi duduk di dekat ibu mereka, Sekar Mayang dan Cempluk Rara Sunti.
Sedangkan di jajaran para punggawa istana, Mapatih Warigalit duduk di kursi nya. Sebagai warangka praja Panjalu dia mendapatkan tempat yang paling tinggi di bawah para permaisuri dan kerabat dekat Istana.
Sedikit lebih rendah ada para Mahamantri yang merupakan para penasehat utama Kerajaan Panjalu. Ada Mahamantri I Halu Mpu Sena, Mahamantri I Sirikan Mpu Kepung dan Mahamantri I Rangga Mpu Jayadharma.
Para punggawa istana negara lainnya seperti Mpu Gandasena sang Dharmadyaksa ring Kasaiwan, Dharmadyaksa ring Kasogatan Wiku Wikalpa selaku pemuka pemimpin agama duduk tak jauh dari tempat mereka. Para perwira tinggi prajurit seperti Senopati Tunggul Arga, Senopati Muda Jarasanda, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Sindupraja, Demung Gumbreg dan lainnya menempati tempat berdasarkan urutan kepangkatan mereka masing-masing.
Tiga putra Prabu Jayengrana, Panji Tejo Laksono, Mapanji Jayagiri dan Panji Manggala Seta, ketiganya duduk bersila di lantai Balairung Istana Katang-katang.
"Para punggawa Istana Kotaraja Daha..
Inilah ketiga orang putra ku yang baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kemenangan yang besar terhadap penyerbuan para prajurit Jenggala. Meski mereka masih muda, tapi sudah mampu memimpin pasukan Panjalu. Merekalah masa depan kerajaan ini", ucap Prabu Jayengrana memulai pisowanan mereka siang hari itu.
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi tempat itu. Beberapa pekik dukungan pun terdengar bersahutan dari berbagai arah.
"Saya bangga dengan hasil kerja mereka bertiga Dhimas Prabu..
Di tangan mereka bertiga lah kelak nasib Kerajaan Panjalu berada", sahut Mapatih Warigalit sembari membungkuk hormat kepada para pangeran muda ini.
"Hamba setuju dengan pendapat Mapatih Warigalit, Gusti Prabu..
Mereka bertiga patut mendapat hadiah dari Kerajaan Panjalu. Ini akan menjadi penambah semangat bagi para pangeran kita untuk lebih meningkatkan kemampuan sebagai calon pemimpin di masa depan", imbuh Mpu Sena sang Mahamantri I Halu segera.
Hemmmmmmm..
"Aku sependapat dengan kalian, wahai para punggawa istana.
Nah, Tejo Laksono, Jayagiri dan Manggala Seta..
Apa yang kalian inginkan sebagai hadiah atas hasil kerja keras kalian bertiga?", Prabu Jayengrana menatap wajah tampan ketiga orang putranya itu sambil tersenyum.
"Mohon ampun Kanjeng Romo Prabu..
Peperangan ini terlalu banyak makan korban di antara para prajurit Panjalu dan juga rakyat yang tak bersalah. Sebagai contoh adalah kota kecil Kunjang harus rusak parah dan banyak penduduk kehilangan tempat tinggal.
__ADS_1
Untuk para prajurit Panjalu yang berkorban nyawa, seperti mendiang Paman Senopati Agung Narapraja, mohon keluarga yang di tinggalkan mendapatkan santunan.
Sedangkan untuk kota kecil Kunjang yang rusak parah, mohon pihak Istana Katang-katang memberikan bantuan kepada mereka untuk membangun kembali tempat tinggal yang hancur akibat perang ini.
Itu saja hadiah yang saya minta, Kanjeng Romo Prabu", ujar Panji Tejo Laksono sambil menghormat pada Prabu Jayengrana.
Mendengar jawaban itu semua orang manggut-manggut senang. Panji Tejo Laksono sudah menunjukkan dirinya sebagai calon pimpinan yang bijaksana di masa depan. Hanya beberapa orang saja yang terlihat seperti tidak suka dengan sikap sang pangeran sulung ini.
"Kalau kau, apa yang kau minta Jayagiri?", Prabu Jayengrana mengalihkan pandangannya pada Mapanji Jayagiri yang duduk di samping kanan Panji Tejo Laksono.
"Saya ingin berguru lagi untuk menambah ilmu kanuragan saya, Kanjeng Romo Prabu..
Kemarin, andai saja Kangmas Tejo Laksono datang terlambat, tentu Mapanji Jayagiri sudah tidak ada lagi di dunia ini. Karena itu, saya ingin berguru lagi agar kelak mampu melindungi semua yang saya sayangi", Mapanji Jayagiri menghormat pada Prabu Jayengrana usai berbicara.
"Dan kau, Manggala Seta..
Hadiah apa yang kau inginkan untuk hasil kerja keras mu selama perang ini, Cah Bagus? Katakan saja pada Romo..", Prabu Jayengrana segera menoleh ke arah Panji Manggala Seta.
"Mohon ampun Kanjeng Romo Prabu..
Peran saya dalam perang ini kecil sekali. Kangmas Tejo Laksono lah yang menjadi pimpinan terbaik selama memimpin pasukan Panjalu. Tanpa ada dia, belum tentu Panjalu mampu mengusir serbuan para prajurit Jenggala. Karena itu dia lah yang berhak menerima segala pujian dan sanjungan dari kerja keras nya ini.
Kalau ada yang saya inginkan, saya hanya ingin membuat sebuah tempat yang bisa digunakan untuk membuat obat-obatan yang bisa di gunakan untuk para prajurit Panjalu jika terjadi serangan musuh lagi", Panji Manggala Seta segera menghormat usai berbicara.
Prabu Jayengrana segera tersenyum penuh arti mendengar jawaban dari ketiga orang putra nya itu.
"Aku akan mengabulkan semua keinginan kalian bertiga. Ini adalah bentuk penghargaan dari ku atas hasil kerja keras kalian. Mewakili pihak istana Daha, aku berterimakasih kepada kalian bertiga dan semua orang yang sudah membantu mengusir gempuran pasukan Jenggala.
Malam ini, akan di adakan jamuan makan besar-besaran di Istana Katang-katang untuk merayakan kemenangan kita. Para punggawa istana dan para perwira di wajibkan untuk hadir meramaikan acara", titah Sang Maharaja Panjalu itu segera.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", semua orang segera menyembah pada Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana begitu mendengar titah sang penguasa Kerajaan Panjalu itu.
Sesudah mengantarkan sang raja ke ruang pribadi nya, Dewi Anggarawati, Dewi Srimpi dan Dewi Naganingrum segera bergegas meninggalkan puri agung istana menuju Keputran Daha. Mereka bertiga yang lama tidak berjumpa dengan putra mereka ingin melepas rindu.
Panji Tejo Laksono, Panji Manggala Seta dan Mapanji Jayagiri yang sedang berbincang di serambi Keputran Daha langsung bangun dar tempat duduknya begitu melihat kedatangan ketiga istri Panji Watugunung itu.
"Sembah bakti kami Kanjeng Ibu", ujar ketiga orang pangeran muda ini bersamaan sambil menghormat pada mereka.
"Euleuh Euleuh putra Ambu mah benar-benar membikin bangga atuh..
Jayagiri mah barudak bageur", ucap Dewi Naganingrum sambil mengelus kepala putranya yang berjongkok di depan nya itu.
"Kanjeng Ambu.. Jayagiri bukanlah anak kecil lagi. Jadi jangan perlakukan Jayagiri seperti itu", ujar Mapanji Jayagiri sembari berdiri. Sekarang tinggi badan Mapanji Jayagiri memang membuat Dewi Naganingrum tak bisa lagi menyentuh kepala nya karena perempuan cantik asal Tanah Pasundan itu hanya sepundak sang putra semata wayangnya.
"Kamu teh selamanya Ambu anggap seperti barudak kecil atuh. Meski nanti Jayagiri sudah menikah, tetap Ambu anggap sebagai putra kesayangan Ambu", ujar Dewi Naganingrum segera.
"Kau ini keterlaluan, Naganingrum..
Tinggi mu hanya sepundak putra mu masih juga kau sebut anak kecil", sahut Dewi Anggarawati sembari tersenyum simpul.
"Badannya memang besar, Kanjeng Ibu..
Tapi tetap saja dia anak kesayangan Biyung Naganingrum. Karena besarnya Dhimas Jayagiri hanya karena banyak makan nasi hehehe", seloroh Panji Tejo Laksono sambil terkekeh.
"Enak saja Kangmas Tejo Laksono bilang seperti itu.
Makan ku sedikit Kangmas, tidak seperti Paman Gumbreg", sungut Mapanji Jayagiri segera.
"Lha yang kemarin pas sedang galau-galau nya, makan nasi juga habis sebakul kan Kangmas Jayagiri?", sahut Panji Manggala Seta sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kau masih kecil, Dhimas Manggala Seta.. Jangan ikut campur", sergah Mapanji Jayagiri yang di sambut gelak tawa dari semua orang yang ada di tempat itu.
Sementara itu, di kediaman Mahamantri I Sirikan Mpu Kepung sedang terjadi pertemuan. Ada Mahamantri I Sirikan Mpu Kepung, Dharmadyaksa ring Kasaiwan Mpu Gandasena dan Dharmadyaksa ring Kasogatan Wiku Wikalpa. Ketiga punggawa istana negara ini nampak sedang membicarakan masalah serius.
"Bagaimana ini, Mpu Kepung?
Panji Tejo Laksono semakin moncer di kalangan masyarakat Panjalu dengan membawa kemenangan dari medan perang. Kalau begini terus menerus, bisa-bisa rencana kita untuk mendudukkan Mapanji Jayawarsa di posisi Yuwaraja Panjalu selanjutnya akan gagal", ujar Mpu Gandasena sang Dharmadyaksa ring Kasaiwan.
Hemmmmmmm..
"Kita memang tidak bisa membantah kenyataan bahwa Panji Tejo Laksono lebih layak untuk dijadikan sebagai Yuwaraja Panjalu selanjutnya. Tapi aku juga tidak mau jika singgasana yang di tinggalkan oleh mendiang Prabu Samarawijaya jatuh pada orang yang bukan keturunannya langsung.
Kita harus mencari akal untuk menaikkan pamor Mapanji Jayawarsa hingga bisa setara dengan Panji Tejo Laksono atau kita bisa mencarikan cara agar dirinya dalam bahaya besar yang bisa saja merenggut nyawanya", balas Mpu Kepung sambil mengelus-elus jenggot nya yang memutih.
"Ku dengar, banyak para prajurit Jenggala yang menjadi tawanan perang. Apakah ini bisa dimanfaatkan?", sambung Wiku Wikalpa.
"Mereka akan menjadi beban bagi pemerintah Panjalu kalau di biarkan begitu saja. Habisi saja mereka, biar tidak merepotkan bagi kita", sergah Mpu Gandasena segera.
"Atau kita bisa menggunakan mereka untuk bicara dengan Maharaja Samarotsaha tentang denda yang harus mereka bayar", Mpu Kepung tersenyum penuh kelicikan.
"Denda? Rasanya tidak mungkin, Raja Jenggala itu bersedia untuk menebus para prajurit nya yang kita tawan", ucap Wiku Wikalpa sambil mengernyitkan dahinya.
"Mau tidak nya Raja Jenggala menebus para tawanan perang itu bukan masalah. Yang penting kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat Panji Tejo Laksono jauh dari Kotaraja Daha. Kita akan meminta kepada Gusti Prabu Jayengrana untuk menjadikan Panji Tejo Laksono sebagai utusan ke Jenggala.
Jika di jalan ada yang menghadang, siapa yang tahu?", seringai tipis di wajah tua Mpu Kepung terkembang sempurna.
Mpu Gandasena dan Wiku Wikalpa langsung mengerti apa maksud dari omongan lelaki tua itu. Keduanya segera tersenyum dan manggut-manggut senang.
Siang berlalu dengan cepat dan senja telah hadir di langit barat sebagai pertanda bahwa sebentar lagi malam akan segera hadir menyapa seisi bumi.
Malam itu seisi Istana Katang-katang menjadi ramai dengan kehadiran para punggawa istana dan para perwira prajurit dari pangkat bekel hingga senopati. Jamuan makan malam besar-besaran di gelar untuk merayakan kemenangan mereka atas para prajurit Jenggala.
Pelbagai jenis masakan tersaji di meja makan. Aneka jenis minuman juga tersedia, bahkan minuman keras seperti siddhu, twak dan arak pun juga tak luput dari minuman yang dihidangkan.
Para penghibur istana menyanyikan lagu lagu yang menghibur hati semua orang yang memadati tempat itu. Gending gending terus mengalun merdu di sepanjang malam itu.
Malam terus merangkak naik. Cahaya bulan yang tertutup oleh awan-awan kelabu di langit tak mampu menerangi seluruh jagad raya dengan sinarnya yang redup.
Keesokan paginya, Panji Tejo Laksono mengajak Luh Jingga dan Dyah Kirana mengunjungi pinggiran Kotaraja Daha dimana tadi malam dia mendengar ucapan Demung Gumbreg soal pembangunan puri kecil di tanah milik Tumenggung Ludaka.
Kedatangan mereka langsung membuat semua pekerja yang sibuk menggarap pembangunan puri kecil itu berhenti. Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg langsung menyambut kedatangan Panji Tejo Laksono dan kedua perempuan cantik itu.
"Waduh, angin apa yang membawa Gusti Pangeran kemari?", tanya Demung Gumbreg sambil menyembah pada Panji Tejo Laksono.
"Yang jelas bukan angin kentut mu, Mbreg..
Sudah bau, keras lagi", sahut Tumenggung Ludaka sambil menghormat pada sang pangeran muda.
"Eh kampret, aku tidak tanya pada mu ya?
Jangan ganggu perbincangan ku dengan calon Raja Panjalu selanjutnya", tukas Demung Gumbreg segera.
"Sudah-sudah jangan ribut untuk urusan sepele, Paman berdua..
Aku tadi sekedar lewat karena ingin melihat keramaian Kotaraja Daha. Tak tahunya melihat kalian ber..."
Shhhrriinggg shhhrriinggg !!
Belum sempat Panji Tejo Laksono menyelesaikan omongannya, dua hawa panas menerabas cepat kearah nya. Sadar bahwa ia dalam bahaya, Panji Tejo Laksono langsung menyambar tubuh Luh Jingga dan Dyah Kirana lalu melenting tinggi ke udara menghindari serangan ini sambil berteriak lantang.
__ADS_1
"Awas Paman!!"