
Semua kata yang hendak di keluarkan oleh Senopati Bratajaya seperti berhenti di tenggorokannya. Dia seperti orang bisu yang tidak bisa bicara sama sekali. Rasa takut bercampur kengerian yang teramat sangat telah membuat sang perwira tinggi prajurit Jenggala ini bisu mendadak.
Bagaimana dia tidak gentar menghadapi Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan? Meskipun para pengikut Panji Tejo Laksono sudah membunuh ratusan orang prajurit pilihan nya, namun saat sang pangeran muda dari Kadiri ini mengeluarkan Ilmu Sembilan Matahari tahap kedelapan, jumlah prajurit yang tersisa masih sekitar 200 orang lebih dan kesemuanya tewas hanya dengan sekali serangan. Lima puluh orang prajurit yang berhasil menyelamatkan diri dan masih hidup pun semuanya menderita luka-luka. Mereka mengerang kesakitan tak berdaya karena luka-luka yang di alami. Ini benar-benar di luar perkiraan sang perwira tinggi prajurit Jenggala yang bertubuh gempal itu.
Saat Senopati Bratajaya yang ketakutan setengah mati tak bisa berkata-kata lagi, dari arah barat, melesat 4 bayangan yang berkelebat cepat kearah sang perwira. Empat sosok bayangan ini mendarat setengah tombak jaraknya dari tempat Senopati Bratajaya berdiri.
Panji Tejo Laksono yang baru saja mengeluarkan tenaga dalam banyak untuk mengeluarkan Ilmu Sembilan Matahari tahap kedelapan ini menghela nafas berat menatap keempat orang yang memakai pakaian merah hitam ini. Dia menyadari bahwa 2 orang yang mereka temui di luar tembok Kotaraja Kahuripan adalah dua orang berbaju merah hitam ini. Meski penampilan mereka berubah, namun hawa tenaga dalam yang keluar dari tubuh mereka sama persis dengan yang di rasakan oleh Panji Tejo Laksono tempo hari.
"Rupanya benar firasat ku", gumam Panji Tejo Laksono lirih.
"Apa maksud mu Kakang? Kau mengenal mereka?", tanya Dyah Kirana yang penasaran segera.
"Dua orang laki-laki tua muda itu adalah orang yang tempo hari kita temui di luar tembok Kotaraja Kahuripan, Kirana...", jawab Panji Tejo Laksono seraya menatap ke arah Mpu Jiwan dan Badragenta.
"Apa kau tidak salah, Kakang? Perawakannya saja berbeda jauh dengan yang kita temui kemarin", Dyah Kirana mengernyitkan keningnya karena merasa heran dengan omongan sang pangeran muda.
"Penampilan mereka memang beda, Kirana. Tapi hawa tenaga dalam dan aura membunuh nya sama. Bisa ku pastikan bahwa mereka adalah orang yang sama.
Aku dengar dari guru ku Mpu Sakri bahwa di dunia persilatan Tanah Jawadwipa ada sebuah ajian yang bisa merubah penampilan. Namanya Ajian Malih Rupa", sambung Panji Tejo Laksono.
"Ajian itu adalah ilmu kanuragan langka, Kakang.. Bisa mengecoh lawan dengan perubahan penampilan secara tiba-tiba.
Kita harus berhati-hati menghadapi nya", ujar Dyah Kirana segera. Panji Tejo Laksono , Ki Jatmika dan Song Zhao Meng mengangguk mengerti maksud dari omongan sang putri Resi Ranukumbolo itu. Mereka berempat pun terus memperhatikan gerak-gerik keempat orang itu sembari bersiap untuk bertarung.
Hehehehe...
Terdengar suara tawa perlahan dari mulut Mpu Jiwan si Hantu Misterius. Wajah lelaki tua yang berusia sekitar 6 dasawarsa ini menyeringai lebar seperti seekor serigala yang sedang gembira menatap mangsanya.
"Pantas saja, Nini Raga Setan berhasil kau habisi pendekar muda..
Kemampuan beladiri mu sangat tinggi. Jujur saja aku tidak ingin bermusuhan dengan mu. Bagaimana kalau kau bergabung dengan kami Kelompok Bulan Sabit Darah untuk mewujudkan impian setiap orang di Tanah Jawadwipa yang ingin melihat tanah ini bersatu kembali dalam satu kerajaan, pendekar muda?", ucap Mpu Jiwan sembari tersenyum lebar.
Hemmmmmmm..
"Aku memang suka dengan pemikiran mu tentang tanah air ini bersatu kembali, kakek tua.. Tapi ingat, aku juga ingin agar kedamaian terwujud di tanah Jawadwipa ini.
Jika Kelompok Bulan Sabit Darah bisa menyatukan kembali dua bagian Tanah Jawadwipa ini dalam satu kerajaan tanpa pertumpahan darah, maka aku pun tak akan keberatan jika harus menjadi bagian dari kalian.
Tapi pertanyaannya, apakah bisa kalian melakukan nya?", Panji Tejo Laksono mendengus dingin sembari menunggu jawaban dari mulut lelaki tua itu.
"Untuk mendapatkan hasil besar, maka harus ada yang di korbankan, pendekar muda. Jika memang ingin menyatukan kembali daratan ini, sudah sewajarnya saja jika perang besar terjadi di tempat ini", balas Mpu Jiwan sembari menggenggam erat gagang tongkat besi dengan kepala tengkorak bertanduk di atasnya. Dua permata merah darah yang ada di lobang tongkat besi itu seperti mata seekor iblis yang menatap tajam ke arah calon mangsanya. Mpu Jiwan mulai geram dengan sikap Panji Tejo Laksono.
"Kalau begitu, aku tidak bisa memenuhi ajakan mu, kakek tua. Bagi ku, perang adalah jalan terakhir yang perlu dilakukan andai jalan cinta kasih tak dapat dilaksanakan.
Karena perang hanya akan menyengsarakan rakyat dan jika rakyat yang di korbankan hanya untuk menyatukan kembali Tanah Jawadwipa ini, maka lebih baik biarlah tanah ini tetap terbagi menjadi dua bagian", tegas Panji Tejo Laksono sembari mengusap cuping hidung nya.
"Kalau kau menolak ajakan ku, maka kau adalah musuh Kelompok Bulan Sabit Darah. Jangan salahkan aku bila aku harus membunuh mu, anak muda!!", ancam Mpu Jiwan sang Hantu Misterius sedikit keras.
"Membunuh ku? Kau boleh mencoba nya, kakek tua tapi aku juga tidak akan berdiam diri saja", ucap Panji Tejo Laksono sembari bersiap untuk bertarung.
"Dasar jumawa!!
__ADS_1
Kau belum pantas sombong di depan guruku!!", teriak Badragenta yang segera menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari menghantamkan tangan kanannya.
Ki Jatmika yang berdiri di samping kiri Panji Tejo Laksono langsung merapal Ajian Tapak Penghancur Tulang miliknya dan menerjang maju ke arah pergerakan Badragenta sembari memapak hantaman tangan sang murid Mpu Jiwan itu segera.
Blllaaammmmmmmm!!!
Begitu ledakan dahsyat itu terjadi, Mpu Jiwan langsung ikut melesat maju ke arah Panji Tejo Laksono. Putri Uttejana alias Bidadari Bertopeng Perak pun bersama Keswari langsung melenting tinggi ke udara dan meluncur turun dengan cepat kearah Song Zhao Meng dan Dyah Kirana.
Pertarungan sengit antara para pendekar berilmu tinggi pun di mulai.
Putri Uttejana yang penasaran ingin menjajal kemampuan beladiri Song Zhao Meng dengan ayunkan satu kibasan tangan kanannya ke arah sang putri Kaisar Huizong ini. Puluhan senjata rahasia berbentuk seperti bunga cempaka menerabas cepat kearah Song Zhao Meng.
Shhhrriinggg shhhrriinggg!!
Putri Kaisar Huizong ini mundur dua langkah ke belakang sebelum mengibaskan tangannya ke arah senjata rahasia milik Putri Uttejana.
Whhuuusshhh!!
Kumpulan angin dingin berdesir kencang yang dengan cepat menciptakan penghalang untuk serangan Putri Uttejana. Senjata rahasia perempuan yang berjuluk Bidadari Bertopeng Perak itu tertahan di udara dan membeku seketika.
Melihat lawannya mampu menahan serangan cepat nya, Putri Uttejana segera hantamkan tapak tangan kiri nya ke arah Song Zhao Meng.
Whhuuuuuuuggggh!!
Cahaya kuning kemerahan langsung melesat ke arah Song Zhao Meng dari tapak tangan kiri Putri Uttejana. Ini adalah bentuk dari Ajian Tapak Gempur Bumi yang merupakan salah satu ilmu kanuragan tingkat tinggi yang dia peroleh dari Maharesi Mpu Anubhawa guru nya.
Song Zhao Meng segera berkelit menghindari hantaman cahaya kuning kemerahan ini segera.
Blllaaammmmmmmm!!!
Sembari menghindari serangan Putri Uttejana yang bersembunyi di balik topeng peraknya, Song Zhao Meng mengibaskan tangannya. Hawa dingin berdesir kencang kearah sang Bidadari Bertopeng Perak yang baru menapak tanah.
Whhhuuuggghhhh!!
Apa pun yang di lalui oleh hawa dingin yang di lepaskan oleh Song Zhao Meng langsung membeku. Ini membuat Putri Uttejana dengan cepat berjumpalitan mundur menghindari serangan balik cepat ini. Melihat lawannya bergerak mundur, Song Zhao Meng menjejak tanah dan melesat cepat kearah perempuan berbaju merah itu sembari terus menghantamkan serangannya bertubi-tubi.
Whhhuuutthh whhhuuutthh!!
Keswari yang melihat Bidadari Bertopeng Perak di kejar terus menerus oleh Song Zhao Meng, langsung menghantamkan kedua tangan nya ke arah Dyah Kirana yang baru saja selesai beradu tenaga dalam dengan nya.
Dua rangkum angin kencang berseliweran cepat mengikuti dua larik cahaya ungu hitam yang terlontar dari tangan Keswari. Melihat itu, Dyah Kirana segera melompat mundur sembari membabatkan Pedang Bulan Sunyi nya ke arah serangan Keswari.
Chhrrrraaaaaassss chhraasshh..
Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr!!
Usai melepaskan dua hantaman tangan ke arah Dyah Kirana, Keswari buru melompat tinggi ke udara sambil hantamkan tangan kanannya ke arah Song Zhao Meng yang memburu Putri Uttejana. Rupanya dia menyerang Dyah Kirana untuk mengalihkan perhatian sang putri Resi Ranukumbolo agar bisa menolong Putri Uttejana.
Whhhuuummmm..
Song Zhao Meng kibaskan tangan kirinya untuk membuat perisai pelindung dari serangan cepat Keswari yang membokong dari arah samping. Dinding es tebal tercipta dari kibasan Song Zhao Meng yang menggunakan Ilmu Bulan Es nya. Akibatnya hantaman cahaya ungu hitam itu menabrak dinding es tebal ciptaan Song Zhao Meng
__ADS_1
Blllaaaaaarrr krraatttttaaaaaaakkkk!!
Ledakan keras itu nyatanya mampu membuat dinding es tebal itu runtuh. Namun Song Zhao Meng yang selalu waspada, seketika menghantamkan tangan kanannya ke arah Keswari yang masih berada di udara. Hawa dingin menderu kencang ke arah Keswari bersama dengan cahaya putih kebiruan.
Keswari yang tidak punya ruang menghindar langsung tersapu oleh cahaya putih kebiruan berhawa dingin itu. Seketika tubuh Keswari langsung membeku dan jatuh ke tanah. Tubuh pengawal pribadi Putri Uttejana ini langsung hancur berkeping keping. Dia tewas dengan cara yang mengerikan.
Melihat abdi setia nya tewas, Putri Uttejana murka.
"Keparat!! Kau harus membayar nyawa Keswari dengan nyawa mu!!!", teriak Putri Uttejana lantang.
Dengan cepat ia menghantamkan kedua telapak tangannya ke arah Song Zhao Meng. Hawa panas meluruk cepat kearah sang putri Kaisar Huizong ini bersamaan dengan dua larik cahaya kuning kemerahan dari Putri Uttejana.
Dyah Kirana yang melihat Song Zhao Meng dalam bahaya, dengan cepat kerahkan seluruh tenaga dalam nya pada Pedang Bulan Sunyi di tangan nya. Bilah pedang ini seketika memancarkan cahaya kuning redup seperti cahaya bulan purnama. Sekuat tenaga, Dyah Kirana melesat di samping Song Zhao Meng dan segera babatkan Pedang Bulan Sunyi untuk melindungi permaisuri kedua sang pangeran muda dari Kadiri itu.
Shhrreeettthhh!!
Blllaaammmmmmmm!!!!
Ledakan keras terdengar dari benturan Pedang Bulan Sunyi dan Ajian Tapak Gempur Bumi yang di lepaskan oleh Putri Uttejana. Tubuh Dyah Kirana sempat terhempas ke belakang namun Song Zhao Meng yang melihat itu segera menyambar pinggang sang putri Resi Ranukumbolo. Keduanya tersurut mundur hampir beberapa tombak ke belakang.
Huuuuooogggghhh!!
Dyah Kirana langsung muntah darah segar. Tenaga dalam nya memang di bawah kemampuan Putri Uttejana. Song Zhao Meng segera menotok beberapa jalan darah nya dan menyalurkan tenaga dalam nya pada punggung gadis cantik asal Pertapaan Gunung Mahameru ini.
Di sisi lain nya, Putri Uttejana yang juga terkena imbas dari ledakan dahsyat itu. Meski sempat terdorong mundur namun dia dengan cerdik merubah gerakan tubuhnya hingga mampu bertahan dan berdiri tegak meski merasakan sedikit sesak nafas.
"Saatnya kalian untuk mati!!!", usai berteriak keras seperti itu, Putri Uttejana segera memutar kedua tangan nya di depan dada. Hawa panas tercipta bersamaan dengan cahaya merah kehitaman yang bergulung-gulung melingkari kedua lengan tangannya. Dia bermaksud untuk melepaskan Ajian Panglebur Bumi yang merupakan ilmu puncak ajaran salah satu gurunya yakni Resi Kaliyuga.
Melihat musuh sudah bersiap untuk bertarung habis-habisan, Song Zhao Meng pun tak mau kalah. Dia mengeluarkan seluruh kemampuan beladiri nya. Seketika sekitar tempat dia berdiri muncul kabut dingin yang sanggup membekukan apa saja yang di lalui nya. Song Zhao Meng menurunkan kedua telapak tangan nya ke depan pusar. Dan semakin lama kabut tebal ini berubah menjadi pusaran kabut dingin yang di sertai hembusan angin kencang menderu. Song Zhao Meng rupanya ingin mengeluarkan ilmu pamungkas nya yang di beri nama Badai Bulan Beku.
Saat Putri Uttejana alias Bidadari Bertopeng Perak melompat tinggi ke udara sambil menghantamkan tapak tangan kanan nya yang di lambari Ajian Panglebur Bumi kearah Song Zhao Meng, putri Kaisar Huizong ini segera menggerakkan tangannya ke depan. Badai kabut tebal yang berputar cepat itu segera meluruk maju ke arah cahaya merah kehitaman dari Putri Uttejana.
Whhhuuuuuusssshhh...
Shiiuuuuuuttttt...
Blllaaammmmmmmm!!!!
Ledakan dahsyat terdengar memekakkan gendang telinga. Baik Song Zhao Meng dan Dyah Kirana maupun Putri Uttejana sama-sama terpental jauh ke belakang. Panji Tejo Laksono yang sedang bertarung melawan Mpu Jiwan, buru-buru melesat cepat kearah tubuh dua orang wanita cantik ini.
Pun demikian juga dengan Mpu Jiwan. Lelaki sepuh itu langsung melompat ke arah Putri Uttejana yang terlempar ke belakang. Dia yang sudah tahu sosok di balik topeng perak itu tentu saja tidak mau terjadi apa-apa dengan perempuan cantik itu.
Putri Uttejana pingsan saat Mpu Jiwan berhasil menangkap tubuh nya. Rupanya benturan keras dengan Song Zhao Meng tadi melukai organ dalam tubuh nya. Ini terlihat dari sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
Di lain sisi, keadaan Song Zhao Meng dan Dyah Kirana pun tak lebih baik. Dua orang perempuan cantik itu terluka dalam cukup parah. Meski keduanya masih sadar, tapi hidup dan mulut mereka masih mengeluarkan darah segar.
Tak mau mengambil resiko yang mungkin terjadi, Mpu Jiwan segera menggendong tubuh Putri Uttejana. Sesaat sebelum melesat pergi, dia menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
"Pendekar muda,
Masalah ini belum selesai..!!"
__ADS_1