Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Persiapan Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna


__ADS_3

Kalingga Pura atau lebih dikenal dengan sebutan Kalingga merupakan salah satu wilayah termakmur di wilayah Kerajaan Panjalu setelah Kotaraja Dahanapura atau Kadiri dan Kadipaten Lasem. Wilayahnya membentang luas di sisi utara Pulau Jawa dari ujung barat Kali Comal hingga perbatasan Weleri yang masuk ke dalam wilayah Kembang Kuning.


Kalingga begitu makmur dengan adanya pelabuhan Halong yang menjadi urat nadi perdagangan antar kerajaan kerajaan di Nusantara pada masa itu. Selain kapal kapal jung besar milik para pelaut Nusantara, di pelabuhan Halong juga bersandar kapal kapal besar milik negara manca seperti Sriwijaya, Gujarat, Persia, Colamandala dari Tanah Hindustan, Negeri Champa dan Kambujadesa dari Daratan Indochina, bahkan juga yang paling banyak datang dari Kekaisaran Song di Negeri Tiongkok.


Ratusan pelancong dan peziarah yang mengunjungi beberapa tempat ibadah umat Budha seperti Bhumi Sambara, Candi Mendut dan Candi Kalasan. Mereka umumnya memperdalam ilmu agama sebelum akhirnya berangkat ke Tanah Suci Umat Budha di India.


Wilayah Kadipaten Kalingga yang makmur ini telah lama di perintah oleh seorang Adipati yang begitu cakap dalam menata dan mengatur jalannya pemerintahan. Meski sudah berusia lanjut namun hingga saat ini, belum ada calon pengganti yang cocok dengan sang Adipati sepuh Kalingga yakni Adipati Aghnibrata. Satu-satunya putra dari ke 6 anak Adipati Aghnibrata, si bungsu Raden Simabrata masih berusia belia jadi belum cukup mampu untuk menggantikan posisi sang Adipati sepuh yang kini telah berusia lebih dari 6 dasawarsa.


Ayu Ratna adalah putri ketiga Adipati Aghnibrata dan merupakan putri tercantik di antara kelima saudarinya. Dia adalah yang paling pintar dan paling cepat belajar dari pengalaman. Oleh karena itulah, Prabu Jayengrana meminta agar Ayu Ratna di jodohkan dengan Panji Tejo Laksono yang merupakan calon kuat Adipati Anom atau Yuwaraja Panjalu selanjutnya. Dia di pandang sebagai calon paling tepat untuk membantu Panji Tejo Laksono dalam pertarungan merebut tempat di singgasana Kerajaan Panjalu.


Kota Kalingga sedang berbahagia. Utusan dari Panji Tejo Laksono yang di pimpin oleh Tumenggung Landung tempo hari telah membawa kabar gembira. Selain kabar kemenangan para pasukan Panjalu atas para pemberontak Rajapura, Tumenggung Landung juga membawakan pesan dari Panji Tejo Laksono yang meminta kepada pihak Istana Kadipaten Kalingga untuk melakukan persiapan pernikahan antara dirinya dengan sang sekar kedaton Kalingga, Ayu Ratna. Hal itu langsung di sambut dengan suka cita oleh seisi Istana Kalingga terutama Adipati Sepuh Aghnibrata dan Permaisuri Sukmawati.


Hampir sepekan terakhir, setelah utusan terakhir yang di utus untuk menyampaikan berita terbaru datang, persiapan besar-besaran di lakukan oleh segenap abdi dalem Keraton Kalingga.


Seluruh sudut kota di hiasi dengan penjor dan hiasan janur kuning yang indah. Di beberapa regol atau gapura Istana Kalingga, nampak tarub di tata sedemikian rupa agar istana nampak sedang menyambut kedatangan calon mantu mereka.


Ratusan ikat gabah dan jagung juga di angkut masuk ke dalam istana. Adipati Sepuh Aghnibrata bahkan memerintahkan agar para jagal menyembelih beberapa ekor kerbau dan kambing sebagai lauk pauk untuk menjamu semua orang sebagai bentuk sukacita nya. Seisi dapur istana nampak sibuk dengan pekerjaan rumah tangga seperti menumbuk padi, jagung dan aneka bahan makanan yang di persiapkan sebagai makanan pokok yang akan di hidangkan.


Sejumlah undangan pun di sebar. Beberapa diantaranya yang telah hadir di Kota Kalingga adalah utusan Adipati Dewangkara dari Kadipaten Kembang Kuning yang di pimpin oleh Raden Dewangga dan utusan dari Kadipaten Paguhan yang di pimpin oleh Patih Taradipa. Juga beberapa resi ternama dari beberapa pertapaan dan padepokan yang ada di wilayah Kadipaten Kalingga, nampak sudah hadir di Kota Kalingga.


Di sebuah rumah makan yang cukup besar yang penuh dengan pengunjung di bagian barat Kota Kalingga, seorang lelaki sepuh berambut putih dengan janggut putih panjang dan kumis tebal, nampak asyik berbincang dengan dua orang lelaki yang lebih muda. Dia adalah Resi Mpu Kanda dari Padepokan Girimukti di wilayah selatan Kalingga.


"Adhi Jambuwana,


Apa kau sudah mendengar siapa calon mantu Adipati Aghnibrata ini?", tanya Resi Mpu Kanda sambil menyeruput secangkir wedang jahe yang masih mengepulkan uap sembari menatap seorang lelaki yang lebih muda di samping kanannya.


"Aku dengar, calon mantu Adipati Aghnibrata ini adalah Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, putra sulung dari Gusti Prabu Jayengrana dari permaisuri pertama nya Kakang..


Kalau benar apa yang aku dengar, Istana Kalingga akan berkerabat dekat dengan Istana Katang-katang di Kotaraja Daha", ujar lelaki berbaju putih dengan rambut gondrong yang sebagian besar telah penuh dengan uban. Dia adalah Mpu Jambuwana, adik seperguruan Resi Mpu Kanda.


"Itu artinya, Daha ingin merangkul semua orang agar berkerabat dekat dengan pusat pemerintahan.

__ADS_1


Gusti Prabu Jayengrana memang cerdas membaca situasi. Wilayah ini adalah wilayah makmur dengan tanah yang subur dan perdagangan yang maju. Dengan menggandeng sekar kedaton Istana Kalingga menjadi mantu di Katang-katang, Kadiri tentu akan mendapat pasokan lebih dari upeti dan hasil bumi. Juga dengan dukungan penuh terhadap semua kebijakan mereka tanpa ada yang berani menentang", sahut seorang lelaki lainnya yang duduk di samping kiri Resi Mpu Kanda. Dia adalah adik seperguruan Resi Mpu Kanda yang bernama Mpu Jalapeni.


"Kau benar, Adhi Jalapeni..


Kadiri memang sedang membutuhkan banyak dukungan dari daerah di sekitar nya. Ini juga terkait dengan desas desus yang sudah lama ku dengar", Resi Mpu Kanda menghela nafas panjang setelah berbicara.


"Maksud Kakang Kanda pasti rencana Jenggala untuk menggempur Kadiri, bukan?", sahut Mpu Jalapeni segera.


"Benar Adhi Jalapeni..


Mereka tidak pernah menyerah untuk melanjutkan kembali cita-cita raja terdahulu mereka, Shri Mapanji Garasakan yang ingin menyatukan kembali Kerajaan Medang yang kini menjadi Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Dari berita yang beredar, Maharaja Samarotsaha bahkan sudah menata ratusan ribu prajurit di wilayah seputar perbatasan dengan Panjalu", ujar Resi Mpu Kanda sambil meletakkan cangkir wedang jahe nya keatas meja makan.


"Semoga saja itu tidak terjadi, Kakang Kanda..


Perang hanya akan menyengsarakan rakyat. Karena bagaimanapun juga jika terjadi perang Maka rakyat kecil pasti turut menjadi korban. Semoga saja dengan pernikahan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dan Putri Ayu Ratna akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi Maharaja Samarotsaha untuk mengurungkan niatnya", ucap Mpu Jambuwana yang di sambut anggukan kepala dari dua saudara seperguruannya itu.


Saat mereka masih asyik berbincang, gemuruh derap langkah kaki kuda terdengar mendekat dari arah barat. Mendengar suara keriuhan itu, semua orang langsung bergegas keluar dari dalam rumah makan untuk melihat apa yang terjadi. Diantara mereka, ada Resi Mpu Kanda, Mpu Jalapeni dan Mpu Jambuwana yang turut melihat.


"Itu adalah pasukan Kalingga yang menang perang. Ayo beri sambutan yang meriah untuk mereka", ujar salah seorang warga dengan keras.


"Benar kata mu Kang..


Hidup Pasukan Kerajaan Panjalu!!", sambung warga lainnya yang langsung di teruskan oleh para penduduk yang memadati sisi kanan dan kiri jalan raya yang menuju ke arah Istana Kadipaten Kalingga. Suasana langsung berubah menjadi ramai teriakan dan sanjungan dari semua orang.


Dari dalam kereta kuda, Ayu Ratna tersenyum simpul melihat sambutan hangat dari para warga Kota Kadipaten Kalingga.


"Mereka menyambut kedatangan mu, Kangmas Pangeran..


Kau adalah pahlawan perang yang sesungguhnya", ucap Ayu Ratna sembari menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang duduk di sebelahnya.


"Aku tidak bangga menjadi pahlawan perang ini, Nimas..

__ADS_1


Karena lawan kita adalah saudara kita sendiri. Aku hanya melaksanakan tugas dan kewajiban ku sebagai ksatria untuk menegakkan dharma bagi negara ku", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis. Mendengar jawaban itu, Ayu Ratna mengangguk mengerti.


Rombongan pasukan itu terus bergerak ke arah Istana Kadipaten Kalingga. Begitu sampai di alun alun Kota Kadipaten Kalingga, Adipati Aghnibrata menyambut kedatangan Panji Tejo Laksono dan para prajurit Panjalu dengan senyum lebar.


"Selamat datang di Kota Kalingga, Nakmas Pangeran Panji Tejo Laksono..


Aku ucapkan selamat atas kemenangan mu di Rajapura", ujar Adipati Aghnibrata sembari tersenyum penuh arti.


"Terimakasih atas dukungan mu, Gusti Adipati Aghnibrata..


Tanpa bantuan dari mu, mungkin saja Panjalu masih kesulitan untuk memadamkan api pemberontakan di Rajapura", balas Panji Tejo Laksono segera.


"Itu sudah menjadi kewajiban bagi ku sebagai pendukung setia Gusti Prabu Jayengrana. Lagipula ini juga demi membantu calon menantu ku agar punya nama besar di kalangan masyarakat Panjalu. Jadi tidak ada ruginya bagiku, Gusti Pangeran..


Mari silahkan masuk ke istana. Aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara pernikahan kalian besok lusa", senyum manis terukir di wajah sepuh Adipati Aghnibrata setelah berkata demikian. Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti.


Selanjutnya para nayaka praja Panjalu yang lainnya segera di tempatkan di seputar Keputran Kalingga sebagai langkah awal untuk menghadapi acara pernikahan yang sudah di siapkan jauh hari sebelumnya.


Hari dengan cepat berganti. Keesokan harinya, suasana di istana Kadipaten Kalingga semakin sibuk menjelang pernikahan sang sekar kedaton Ayu Ratna dengan Panji Tejo Laksono. Hiasan yang di tata sedemikian rupa panggung yang di bangun tepat di sebelah sanggar pamujan. Bangunan inilah yang akan menjadi tempat berlangsungnya proses pernikahan antara Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna.


Sebagai calon pengantin, Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna sama sama menjalani pingitan sebagai persiapan untuk melangsungkan pernikahan. Keduanya di larang bertemu sebelum hari pelaksanaan pernikahan.


Sedangkan di alun-alun Kota Kadipaten Kalingga, dari pagi hingga malam hari, aneka hiburan rakyat berlangsung dengan meriah. Ribuan warga Kota Kadipaten Kalingga memadati tempat itu untuk melihat hiburan yang dipertontonkan kepada mereka sebagai wujud kebahagiaan pihak istana atas pernikahan yang esok hari di langsungkan. Pihak Istana Kadipaten Kalingga juga menyiapkan makanan cuma-cuma kepada semua orang yang hadir di alun-alun Kota Kadipaten Kalingga. Semuanya menjadi begitu bersukacita menyambut pernikahan sekar kedaton Kalingga.


Matahari pagi sudah muncul di cakrawala timur setelah kokok ayam jantan bersahutan seakan ingin membangunkan seisi dunia. Cahaya mentari pagi membuat udara dingin dari sang malam perlahan terusir dari kolong langit.


Setelah matahari pagi sepenggal naik ke atas langit, Panji Tejo Laksono mulai di dandani sebagai pengantin oleh Luh Jingga dan Gayatri di bantu beberapa juru rias istana yang sudah bersiap sejak pagi tadi. Sedangkan Song Zhao Meng juga ikut di dandani oleh para dayang istana karena setelah proses pernikahan antara Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna, Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari akan di nikahkan juga dengan Panji Tejo Laksono.


Di tengah kesibukan yang ada di istana Kadipaten Kalingga, seorang lelaki sepuh berjenggot panjang dengan wajah bengis dengan beberapa bekas luka di wajahnya sampai di Kota Kalingga. Bajunya yang hitam lusuh compang camping seperti seorang pertapa nampak seperti seorang gembel yang mengemis di pasar besar. Melihat persiapan yang dilakukan oleh pihak Istana Kadipaten Kalingga, dia menyeringai lebar sembari berkata dengan penuh amarah,


"Saatnya membalaskan dendam murid ku!"

__ADS_1


__ADS_2