Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 2 )


__ADS_3

"Mohon ampun Gusti Adipati..


Kalau kita mengandalkan kekuatan prajurit, kita pasti kalah telak dari para prajurit Panjalu. Ksatrian Kadri tak jauh dari Kotaraja. Jika sampai terjadi serangan, mereka akan datang ke Istana Katang-katang hanya dalam waktu singkat.


Kita harus membuat taktik yang bisa membuat perjalanan para prajurit Panjalu itu terhalang beberapa waktu lamanya", Senopati Danuraja menghormat usai berbicara.


"Benar omongan Senopati Danuraja, Gusti Adipati..


Kita harus menyiapkan rencana jitu dalam upaya menyerbu Istana Katang-katang. Tidak boleh serampangan kalau tidak ingin mati konyol sia-sia..", imbuh Patih Tundungwaja segera. Patih sepuh berjenggot putih pendek itu nampak mengerutkan keningnya dalam-dalam untuk mencoba mencari cara yang paling tepat untuk menanggulangi kedatangan para prajurit Panjalu.


Hemmmmmmm...


"Lantas, apa saran kalian berdua untuk menghadapi situasi ini? Aku tidak akan bisa tenang sebelum bisa merobek mulut Ratu Ayu Galuh itu..", Adipati Arya Natakusuma menatap ke arah dua punggawa istana Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini bergantian. Senopati Danuraja masih diam seribu bahasa tak jua menjawab pertanyaan itu sedangkan Patih Tundungwaja pun melakukan hal yang sama. Keduanya terlihat sedang berpikir keras.


Di tengah keheningan itu, Tumenggung Girimantra yang sedari tadi hanya diam, segera menghormat pada Adipati Arya Natakusuma.


"Mohon ampun Gusti Adipati..


Hamba punya usul. Entah itu di terima atau tidak, tapi mungkin bisa jadi bahan pertimbangan untuk membantu memecahkan masalah ini", Tumenggung Girimantra segera menghormat sebelum berbicara. Mendengar itu, Adipati Arya Natakusuma segera mengangkat tangan kanannya untuk memberikan ijin.


"Silahkan Tumenggung Girimantra.."


"Mohon ampun Gusti Adipati..


Bagaimana jika kita menghambat pergerakan para prajurit Panjalu di Ksatrian Kadri dengan membakar barak mereka? Meskipun tidak berpengaruh lama, tapi itu setidaknya mengulur waktu untuk kita menyerbu ke arah Istana Katang-katang", ucap Tumenggung Girimantra segera.


Mendengar perkataan sang perwira tinggi prajurit Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini, Senopati Danuraja dan Patih Tundungwaja saling berpandangan sejenak lalu bersamaan mengangguk.


"Pemikiran yang matang, Tumenggung Girimantra..


Andai kita bisa memanfaatkan waktu itu dengan baik, prajurit kita yang tersebar di seputar wilayah Kotaraja Daha akan mudah menaklukkan Istana Katang-katang", ucap Senopati Danuraja sembari menghormat pada Adipati Arya Natakusuma.


"Hamba juga setuju dengan pendapat Senopati Danuraja, Gusti Adipati..


Pasukan kita yang berpencar di sekitar Kotaraja Daha akan memudahkan pergerakan kita. Jika sampai para prajurit Panjalu terganggu dengan kebakaran yang kita ciptakan, maka menaklukkan Istana Katang-katang bisa kita wujudkan dengan mudah..", sambung Patih Tundungwaja sembari mengepalkan tangannya erat-erat.


"Hehehehe...


Kalian memang para abdi setia ku yang bisa diandalkan. Tumenggung Girimantra, kau pimpin 3 ribu prajurit untuk membuat kebakaran di barak Ksatrian Kadri. Begitu selesai di lakukan, cepat bergerak ke arah Istana Katang-katang untuk membantu penyerbuan.


Sisa prajurit yang ada tinggal berapa orang, Senopati Danuraja?", Adipati Arya Natakusuma menoleh ke arah Senopati Danuraja.


"Pasukan kita yang bergerak diam-diam kemari berjumlah 15 ribu orang prajurit. Terbagi menjadi 10 kelompok yang dipimpin oleh perwira prajurit dengan pangkat bekel dan juru. Ada juga dua Demung yang ikut serta memimpin sekelompok prajurit.


Jika sesuai dengan pengaturan yang Gusti Adipati lakukan, Demung Gandung dan Juru Panewu bisa menjadi pilihan bagi pasukan khusus yang bertugas membakar barak Ksatrian Kadri", ujar Senopati Danuraja segera.


"Baguslah kalau begitu", ucap Adipati Arya Natakusuma, "Besok malam kita lakukan rencana kita!"


Mereka semua segera mengangguk setuju dengan pendapat Adipati Arya Natakusuma. Hari itu, mereka mengatur rencana untuk menyerbu ke Istana Katang-katang sebaik mungkin. Semua hal di perhitungkan agar mengecilkan setiap potensi kegagalan yang mungkin terjadi.


Hari cepat berganti. Panji Tejo Laksono dan Mapanji Jayagiri yang di tugaskan untuk mengamati situasi di sekitar Kotaraja Daha pun sama sekali tidak mengendurkan kewaspadaan mereka. Kedua putra raja Panjalu ini terus mencoba untuk menggali semua kabar tentang keberadaan pasukan tersembunyi di sekitar Kotaraja Daha ini dengan berbagai cara.


Sementara para pemberontak dari Bhumi Sambara Mataram mulai bergerak, di kediaman Sang Maharaja I Sirikan Mpu Kepung, malam hari itu para anggota kelompok penyokong Mapanji Jayawarsa untuk menjadi Raja Panjalu selanjutnya justru berpesta pora seolah tidak ada beban yang harus diperhatikan.


Mpu Kepung, Dharmadyaksa ring Kasaiwan Mpu Gandasena, Mahamantri I Halu Mpu Sena, Dharmadyaksa ring Kasogatan Wiku Wikalpa, Senopati Tunggul Arga, dan beberapa pejabat menengah dan rendah yang menjadi pengikut Mpu Kepung terlihat sedang menenggak air twak dan arak sembari ikut berjoget ria bersama dengan para penari tledek yang di undang oleh Mpu Kepung untuk memeriahkan acara.


"Hayo lanjut lagi..

__ADS_1


Jangan sampai berhenti. Kalau sampai berhenti, kalian semua akan ku hukum pancung..", teriak Mpu Kepung sembari menunjuk ke arah para penabuh gamelan yang terus memukul berbagai jenis alat musik itu. Takut dengan ancaman itu, para penabuh gamelan yang mulai basah tubuh nya oleh keringat karena tidak berhenti cukup lama menabuh, terus memukul alat musik mereka dengan irama yang rancak.


Mpu Kepung yang sudah mulai mabuk, memerah wajahnya. Tangan nya mulai keriput, langsung dimasukkan ke dalam kemben penari tledek yang memamerkan keindahan payudara yang kencang.


"Gus-Gusti Mahamantri, tolong jangan begini..", ucap si penari tledek yang masih berusia cukup muda ini.


"Memangnya kenapa?!


Jangan khawatir cantik. Aku akan memberikan ratusan kepeng emas jika kau bisa menyenangkan hati ku hehehehe..", ujar Mpu Kepung sembari meremas buah dada yang tertutup kemben berwarna merah ini.


"T-tapi Gusti Mahamantri..."


"Cukup, aku tidak ingin dibantah! Lakukan saja. Aku pasti akan membuat mu kaya raya setelah melayani ku hahahaha", ujar Mpu Kepung sembari tersenyum mesum kearah si penari tledek itu. Lelaki tua yang sudah memiliki 8 orang cucu ini terus saja menempel ketat pada penari tledek yang lebih pantas untuk menjadi cucunya itu dengan tatapan mata penuh birahi.


Tak hanya Mpu Kepung, para pejabat tinggi lainnya yang ikut serta dalam acara ini pun melakukan hal yang sama. Hanya Senopati Tunggul Arga saja yang duduk tenang sembari menenggak minuman keras yang di sediakan bergentong-gentong oleh tuan rumah. Ini menjadi perhatian salah seorang Juru yang bernama Juru Langkir. Pejabat yang berwenang mengurusi pengairan di seputar wilayah Kotaraja Daha ini segera mendekati Tumenggung Tunggul Arga.


"Gusti Senopati..


Kenapa tidak ikut bergembira ria bersama para pejabat tinggi yang lain? Apa Gusti Senopati Tunggul Arga sedang tidak enak badan?", bisik lirih Juru Langkir sembari menuangkan air twak di bumbung bambu ke cangkir kecil yang dia pegang.


"Aku sedang tidak ingin menari, Langkir..


Sudah sana, urus saja urusan mu. Jangan mengganggu ku", ucap Senopati Tunggul Arga sambil mengibaskan tangannya sebagai isyarat agar Juru Langkir menjauh.


"Huh begitu saja marah..


Dasar tidak setia kawan. Kalau aku punya pangkat setinggi dia, pasti akan ku maki-maki", gerutu Juru Langkir sembari bergegas menjauhi tempat Senopati Tunggul Arga.


Tak begitu jauh dari tempat kediaman Mpu Kepung, ribuan orang prajurit yang berpakaian serba hitam bergerak cepat di dalam kegelapan malam. Kurang lebih ada sekitar 2000 orang prajurit bergerak menuju ke arah Ksatrian Kadri yang terletak di barat laut Istana Katang-katang. Kesemuanya bersenjatakan panah yang ujungnya di lapisi kain yang sudah di rendam dalam minyak jarak.


Begitu sampai di dekat barak Ksatrian Kadri, mereka langsung di sambut oleh kawan mereka yang juga mengenakan pakaian penyamaran.


"Sudah beres, Supala?", tanya Tumenggung Girimantra. Demung Supala tidak menjawab pertanyaan itu, namun mengacungkan jempolnya sebagai isyarat bahwa semuanya sudah sesuai dengan rencana mereka.


Melihat itu, Tumenggung Girimantra segera memberikan isyarat kepada para prajurit Kadipaten Bhumi Sambara Mataram yang menyamar untuk menyebar ke seluruh tempat yang sudah di siapkan. Begitu mereka selesai bersiap, Tumenggung Girimantra segera memberikan isyarat kepada mereka untuk mulai beraksi.


Ratusan prajurit langsung menyalakan obor yang mereka pegang. Para prajurit pemanah dengan cepat menyulut ujung panah mereka dengan api dari obor dan langsung bersiap untuk menembakkan anak panah berapi itu.


"Teemmmmbbbbbaaaaaakkkkk..!!!!"


Begitu aba-aba dari pimpinan mereka terdengar, ribuan anak panah berapi itu segera melesat cepat kearah atap bangunan barak Ksatrian Kadri.


Shhhrriinggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!


Jllleeeeeppppphhh jllleeeeeppppphhh!!


Seketika itu juga, atap bangunan barak Ksatrian Kadri yang terbuat dari daun alang-alang kering dan ijuk aren ini langsung terbakar. Angin malam yang semilir berhembus membantu api cepat berkobar.


Beberapa orang prajurit penjaga yang sedang bertugas melihat kejadian itu dan langsung berteriak keras.


"Api ! Api ! Kebakaran..!! Barak kita kebakaran!!!


Cepat padamkan api!!!"


Keributan besar langsung terjadi. Bunyi kentongan yang di tabuh dengan cepat langsung mengagetkan semua prajurit yang berdiam di dalam barak Ksatrian Kadri.


Usai kebakaran hebat ini terjadi, Tumenggung Girimantra segera menoleh ke arah Juru Panewu yang masih berdiri di samping nya.

__ADS_1


"Persiapkan rencana kedua!


Begitu aku pergi, kau dan 500 orang prajurit mu buat kebakaran di beberapa titik untuk membuat mereka kebingungan!", ujar Tumenggung Girimantra segera.


"Baik Gusti Tumenggung..!!", jawab Juru Panewu sembari menghormat pada Tumenggung Girimantra. Setelah memberikan perintah, Tumenggung Girimantra segera bergegas meninggalkan tempat itu bersama para prajurit nya yang berjumlah sekitar 2500 orang untuk membantu para prajurit utama Kadipaten Bhumi Sambara yang sudah bergerak menuju ke arah Istana Katang-katang.


****


"Hei siapa kalian? Kenapa datang kemari?", tanya salah seorang prajurit penjaga gerbang Istana Katang-katang yang melihat ribuan orang berpakaian serba hitam mendekati pintu gerbang istana.


Salah satu dari orang-orang berpakaian serba hitam ini langsung melompat tinggi ke udara dan meluncur cepat kearah sang prajurit penjaga gerbang istana negara ini sambil menusukkan tombak di tangan nya ke arah perut sang prajurit.


"Untuk membunuh mu..!!!"


Jllleeeeeppppphhh...


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Sang prajurit penjaga gerbang istana yang tidak siap dengan serangan cepat itu langsung melengguh keras saat ujung tombak yang tajam menembus perutnya. Kawannya yang melihat itu, langsung meraih kentongan dan menabuh nya dengan cepat.


Thhoonngggg thhongg thhoonggg thhoonngggg!!!!!


"Ada serangan!! Ada serangan!!!!"


Sontak saja, tabuhan kentongan bertalu-talu itu menggegerkan seisi Istana Katang-katang. Panji Tejo Laksono dan Mapanji Jayagiri yang kebetulan sedang berjalan-jalan di seputar tembok istana langsung saling berpandangan sejenak sebelum keduanya segera melesat cepat kearah pintu gerbang istana. Dengan menjejak tanah sekeras mungkin, tubuh kedua pangeran muda ini langsung melenting tinggi ke udara dan mendarat di atas tembok istana negara.


Mata kedua orang pangeran muda ini langsung terbelalak lebar begitu melihat puluhan ribu orang prajurit berpakaian serba hitam bergerak laksana air bah ke arah pintu gerbang selatan istana negara ini. Tak hanya mereka, seluruh prajurit penjaga istana negara juga langsung bergerak menuju ke arah pintu gerbang.


"Darimana datangnya para penyerbu ini Kangmas Tejo Laksono?", tanya Mapanji Jayagiri segera.


"Sepertinya kecurigaan ku selama ini ada benarnya, Dhimas Jayagiri..


Kau lihat orang bertubuh tinggi besar itu bukan? Dia adalah orang dari Kadipaten Bhumi Sambara..", Panji Tejo Laksono langsung menunjuk ke arah Senopati Danuraja yang berada di antara para prajurit penyerbu ini. Mereka yang baru selesai menghabisi nyawa para prajurit penjaga gerbang istana langsung memanggul kayu besar, dan langsung menghantam pintu gerbang istana yang terbuat dari kayu jati tebal.


Sedangkan para prajurit penjaga Istana Katang-katang yang dipimpin oleh Tumenggung Narasuta sekuat tenaga bertahan di belakang palang pintu gerbang istana agar tidak di tembus oleh para prajurit Kadipaten Bhumi Sambara.


"Jadi mereka semua adalah orang-orang Kadipaten Bhumi Sambara Kangmas Tejo Laksono? Apa ini ada hubungannya dengan lamaran Adipati Arya Natakusuma tempo hari?", ucap Mapanji Jayagiri sembari mulai mencabut pedang butut yang selalu menjadi senjata andalannya.


"Sepertinya begitu, Dhimas Jayagiri..


Taktik mereka sungguh terencana dengan baik. Lihatlah warna merah di langit Utara. Sepertinya mereka sudah menyadari bahwa para prajurit Panjalu di Ksatrian Kadri akan bergerak menuju kemari jika terjadi masalah. Mereka sudah membakar barak Ksatrian Kadri terlebih dahulu untuk mengacaukan para prajurit yang ada disana", ujar Panji Tejo Laksono sembari menunjuk ke arah Utara.


"Licik sekali..


Lantas apa yang harus kita lakukan Kangmas Tejo Laksono? Apa kita berdiam diri saja melihat ulah manusia manusia tak tahu diri ini?", Mapanji Jayagiri menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.


"Mereka memang merencanakan semuanya dengan baik tapi mereka lupa sesuatu, Dhimas..


Bersabarlah sebentar lagi..", Panji Tejo Laksono tersenyum simpul seraya menunjuk ke arah barat. Sekitar 3 ribu orang prajurit bergerak cepat kearah pintu gerbang selatan.


Sebelumnya, Panji Tejo Laksono yang mencurigai adanya bahaya besar yang akan mengancam Istana Katang-katang, meminta bantuan kepada Mapatih Warigalit untuk diam-diam mengatur beberapa ribu orang prajurit di Kepatihan Daha. Di bawah pengaturan Mapatih Warigalit, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg, para prajurit Panjalu itu menyamar sebagai pengawal pribadi Kepatihan Daha. Ini merupakan kartu penting untuk menghadapi jikalau ada serangan dadakan seperti ini.


Begitu Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg dan Mapatih Warigalit sudah sampai di pintu gerbang selatan istana, pertarungan sengit pun pecah di tempat. Melihat itu, Panji Tejo Laksono pun segera menoleh ke arah Mapanji Jayagiri .


"Ayo Dhimas Jayagiri..


Saatnya kita beraksi!!"

__ADS_1


------------------------------------------------------------------------


Author mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1444 H. Semoga di hari raya yang suci ini, kita semua selalu menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin 🙏🙏🙏


__ADS_2