Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pesona Putri China


__ADS_3

Tewasnya Tumenggung Gurunwangi semakin menyudutkan perlawanan dari para prajurit Rajapura. Ki Juru Kanoman, satu-satunya perwira prajurit Rajapura yang masih hidup segera melemparkan golok besar yang menjadi senjata andalan nya setelah melihat kematian sang pimpinan yang mengenaskan.


Berbarengan dengan itu, para prajurit Rajapura yang tersisa ikut meletakkan senjata mereka sebagai tanda menyerah pada pasukan Panji Tejo Laksono. Hujan yang turun tak begitu lebat terus mengguyur wilayah itu, seakan menjadi saksi bisu kekalahan para prajurit Rajapura yang kini semuanya berlutut di tanah.


Tumenggung Landung segera menghormat pada Panji Tejo Laksono yang kini di kelilingi oleh Luh Jingga, Ayu Ratna, Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari dan Gayatri.


"Mohon ampun Gusti Pangeran..


Hamba, Tumenggung Landung, mohon maaf karena tidak menyambut kedatangan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sejak tadi", ujar Tumenggung Landung segera.


"Sudahlah Paman..


Ini adalah masa peperangan. Sopan santun bisa di kesampingkan lebih dulu asal kita mencapai tujuan. Aku bukan orang yang gila hormat.


Oh iya, sekarang ada hal lain yang lebih penting. Paman Ludaka, Paman Purusoma, tolong kalian berdua segera urus para prajurit Rajapura yang menyerah itu. Perlakukan mereka dengan baik, karena bagaimanapun mereka hanya bawahan yang melaksanakan perintah.


Paman Gumbreg dan Paman Rajegwesi, untuk urusan para prajurit Panjalu yang terluka aku serahkan kepada kalian berdua. Usahakan untuk segera membangun tempat berteduh bagi mereka", perintah Panji Tejo Laksono segera. Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi, Rakryan Purusoma dan Demung Gumbreg pun serempak menjawab, " Sendiko dawuh Gusti Pangeran".


Setelah itu, keempat orang perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera melaksanakan tugas yang diberikan oleh sang pangeran muda.


"Paman Landung, apa kau tidak punya tempat berteduh di sekitar tempat ini?", Panji Tejo Laksono menoleh ke arah Tumenggung Landung yang masih berdiri di tempatnya. Hujan deras yang mengguyur tepian Hutan Koncar, membuat basah sekujur tubuh mereka. Tumenggung Landung tersenyum tipis mendengar ucapan Panji Tejo Laksono. Segera Tumenggung Landung berjalan kearah rimbun pepohonan yang tumbuh di samping batu batu besar. Panji Tejo Laksono, Mapanji Jayagiri, Luh Jingga, Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari, Ayu Ratna dan Gayatri segera mengikuti langkah Tumenggung Landung.


Di balik rimbun pepohonan itu, sebuah pondok kayu yang cukup besar tersembunyi dengan rapi hingga siapa pun tak akan pernah menduga bahwa disana ada tempat seperti itu. Pondok kayu yang terbuat dari tatanan kayu yang diikat dengan tali ijuk ini memang menjadi markas sementara para anggota Pasukan Lowo Bengi yang di tugaskan untuk mengintai pergerakan prajurit Rajapura yang keluar masuk ke kota dari sisi timur. Bersebelahan dengan pondok kayu itu, puluhan gubuk kecil tersebar mengitari tempat itu. Sebidang padang rumput yang penuh ilalang dan tumbuhan perdu juga ada di sana. Di sanalah nanti pasukan Panji Tejo Laksono mendirikan tenda perkemahan untuk bermalam sebelum menyerbu ke arah Kota Kadipaten Rajapura.


Begitu sampai di pondok kayu itu, Panji Tejo Laksono segera duduk di atas dipan kayu yang mengitari sebuah tumpukan kayu kering yang sepertinya memang di siapkan untuk membuat api unggun. Keempat orang calon istri nya dan Mapanji Jayagiri pun segera melakukan hal yang sama. Tumenggung Landung pun segera menyalakan api untuk berdiang menghangatkan tubuh mereka yang kedinginan.


Api perlahan mulai membakar kayu kering. Panas yang keluar dari api, membuat rasa dingin yang menyerang tubuh mereka perlahan menghilang.


Gayatri yang belum pernah melihat sosok Song Zhao Meng, menatap wajah cantik Putri Kaisar Huizong ini lekat-lekat.


"Gusti Pangeran, siapa gadis ini? Sepertinya dia bukan orang Jawa", tanya Gayatri seraya memandang Panji Tejo Laksono. Mapanji Jayagiri yang juga penasaran ikut memandang ke arah Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari.

__ADS_1


"Ini adalah putri Kaisar Huizong dari Negeri Tiongkok, Gayatri. Dia adalah amanat yang di berikan kepada ku sebagai bentuk kekerabatan dengan mereka.


Aku sudah menikahinya, meski belum di laksanakan dengan upacara adat negeri kita. Jadi mulai sekarang dia adalah saudara mu juga", jawab Panji Tejo Laksono sambil tersenyum simpul.


"Wah Kangmas Tejo Laksono memang pintar sekali mencari istri. Aku salut pada mu, Kangmas..


Eh kakak ipar, apa kau punya adik atau saudara yang secantik dirimu?", gurau Mapanji Jayagiri yang membuat Song Zhao Meng segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.


"Kau ini jangan asal bicara, Dhimas Jayagiri.


Memang kau berani menduakan cinta Dewi Nareswari yang sudah di jodohkan dengan mu?", mendengar pertanyaan Panji Tejo Laksono itu, Mapanji Jayagiri tersenyum kecut.


"Aku hanya bercanda Kangmas..


Nareswari galaknya seperti harimau baru beranak. Sebenarnya aku tidak begitu menyukainya, tapi karena ini adalah permintaan dari Kanjeng Ibu Ratu Naganingrum, aku tidak berani menolaknya. Andai saja aku sebebas Kangmas Tejo Laksono, tentu aku tidak akan merana seperti ini", jawab Mapanji Jayagiri memelas. Memang, sebenarnya Mapanji Jayagiri tidak menyukai perjodohan dengan Dewi Nareswari dari Galuh Pakuan. Namun karena Prabu Langlangbumi, kakak Dewi Naganingrum tidak memiliki putra laki-laki, maka di mintalah Mapanji Jayagiri sebagai menantu untuk meneruskan trah keturunan Sang Maharaja Jayabhupati. Mereka memang di jodohkan sejak Mapanji Jayagiri berusia 4 warsa sehingga kalau di hitung mereka telah di jodohkan selama lebih dari satu setengah windu.


"Kau tidak boleh begitu, Dhimas Jayagiri.


Saat mereka sedang asyik berbincang, dari luar dua orang prajurit Lowo Bengi menggotong seorang prajurit Panjalu masuk ke dalam pondok kayu tempat Panji Tejo Laksono dan keempat calon istri nya berteduh. Tumenggung Landung langsung menghentikan langkah mereka.


"Ada apa ini? Kenapa kalian menggotong prajurit itu kemari?", tanya Tumenggung Landung segera.


"Mohon ampun Gusti Tumenggung..


Kami menemukan dia pingsan di dekat pohon besar sebelah sana. Ketika kami periksa, badannya panas sekali. Karena itu kami memutuskan untuk membawanya kemari", ujar seorang anggota Pasukan Lowo Bengi sembari menghormat pada Tumenggung Landung.


Mendengar jawaban itu, Tumenggung Landung berjalan mendekati si prajurit yang sedang pingsan ini. Hal ini juga menarik perhatian Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari, Luh Jingga, Gayatri dan Ayu Ratna juga Mapanji Jayagiri. Mereka segera mengerubungi si prajurit. Tanpa sengaja, Song Zhao Meng langsung mengenali si prajurit yang pingsan itu. Meski si prajurit wajah nya coreng moreng dengan jelaga, namun air hujan membuat jelaga yang menutupi sebagian wajah nya yang putih itu luntur.


"Lan Er? Kakak Thee, bukankah dia Wanyan Lan?", tanya Song Zhao Meng sambil menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang segera mengangguk.


"Benar, Wulandari..

__ADS_1


Dia adalah Wanyan Lan, putri dari Kepala Suku Wanyan di Suku Jurchen. Aku sudah tahu dari awal jika dia menyamar sebagai salah satu prajurit Kalingga untuk ikut dalam pasukan ini", Panji Tejo Laksono menatap wajah cantik Wanyan Lan yang sebagian besar masih tertutup jelaga. Luh Jingga segera mengambil melepaskan selendang warna jingga nya dan mengusap wajah Wanyan Lan yang menghitam. Begitu selendang yang masih setengah basah itu di usapkan pada wajah Wanyan Lan, wajah aslinya terlihat jelas. Dia begitu cantik dan menarik.


Mapanji Jayagiri yang melihat itu semua langsung melongo terpesona dengan kecantikan perempuan asal Tanah Tiongkok Utara ini.


"Di-dia ini perempuan, kakak ipar?", Mapanji Jayagiri menoleh ke arah Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari segera.


"Benar, adik dari Kakak Thee..


Dia adalah perempuan. Kami menemukan dia di dalam karung beras yang ada di dalam gudang penyimpanan makanan pada kapal setelah dua hari meninggalkan Tanah Tiongkok", jawab Song Zhao Meng sembari menatap ke arah wajah cantik Wanyan Lan yang masih pingsan.


"Sudah jangan kau berpikir yang tidak-tidak, Dhimas Jayagiri..


Wulandari, bukankah kau belajar ilmu pengobatan pada nenek Sima Qian di Zhengzhou? Sekarang coba kau periksa keadaan Wanyan Lan", mendengar permintaan dari Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng segera mengangguk. Tangan Song Zhao Meng segera meraba nadi tangan Wanyan Lan. Lalu segera dia meraba leher sang putri Kepala Suku Wanyan itu.


"Sepertinya dia menderita demam tinggi karena tubuhnya tidak terbiasa dengan udara di Tanah Jawadwipa ini, Kak Thee..


Sebaiknya dia beristirahat disini. Setelah hujan ini mereda, aku akan mencarikan beberapa dedaunan yang bisa menurunkan panas tubuhnya", Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari pun segera membantu Wanyan Lan untuk di pindahkan ke sebuah ranjang tidur yang ada di sudut ruangan. Tumenggung Landung segera memberikan selimut kering untuk menutupi tubuh Wanyan Lan agar tidak kedinginan.


Setelah itu, semua orang kembali berdiang di depan api unggun. Sementara di luar, hujan deras terus mengguyur Hutan Koncar. Siang dengan cepat berganti malam. Song Zhao Meng nampak memeriksa keadaan tubuh Wanyan Lan setelah mengganti obat tempel di dahi perempuan cantik itu sementara para perwira tinggi prajurit Panjalu yang ada di tempat itu berkumpul untuk membahas langkah langkah mereka dalam upaya penaklukan Kota Kadipaten Rajapura.


"Sebaiknya kita bergerak lebih dulu atau menunggu kedatangan pasukan pimpinan Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa, Gusti Pangeran?", tanya Tumenggung Ludaka sambil melemparkan potongan kayu kering ke dalam perapian.


"Kalau berdasarkan laporan telik sandi bahwa di dalam Kota Kadipaten Rajapura ada kurang lebih 20 ribu orang prajurit, maka kita sebaiknya menunggu para prajurit Panjalu untuk membuat konsentrasi mereka tertuju pada mereka.


Dari situ, kedatangan kita akan menjadi kejutan besar bagi para prajurit Rajapura jika kita menyerbu masuk dari arah berlawanan. Bukankah begitu, Dhimas Jayagiri?", Panji Tejo Laksono menyenggol kaki kiri Mapanji Jayagiri yang sedari tadi terus-menerus mencuri pandang ke arah Wanyan Lan yang masih dalam perawatan Song Zhao Meng.


"Eh anu iya Kangmas Tejo Laksono..


Aku ikut saja apa yang Kangmas Tejo perintahkan", Mapanji Jayagiri tergagap berbicara dan menjawab pertanyaan Panji Tejo Laksono sebisanya saja karena perhatian nya sedang terpaku pada sosok Wanyan Lan. Melihat ulah adiknya ini, Panji Tejo Laksono geleng-geleng kepala sembari tersenyum penuh arti.


'Jayagiri kepincut dengan Wanyan Lan rupanya'

__ADS_1


__ADS_2