
Delapan prajurit Rajapura yang menjaga gerbang kota langsung menatap ke arah Mapanji Jayagiri dan Gayatri yang berjalan mendekati mereka setelah melompat turun dari kuda mereka masing-masing sembari menuntun hewan tunggangan itu. Seorang kepala regu penjaga langsung berjalan maju begitu Mapanji Jayagiri dan Gayatri telah sampai.
"Siapa kalian? Saat ini Kota Kadipaten Rajapura sedang tidak menerima tamu asing dari luar wilayah.
Cepat katakan, apa keperluan kalian berdua kemari?", suara keras dari kepala regu prajurit penjaga ini membuat semua orang yang ada di tempat itu langsung memandang ke arah Mapanji Jayagiri dan Gayatri yang sedang berhadapan dengan kepala regu prajurit.
"Kami adalah utusan Gusti Adipati Aghnibrata, Penguasa Kadipaten Kalingga untuk menyampaikan nawala pada Gusti Adipati Waramukti.
Ini buktinya!", Mapanji Jayagiri mengeluarkan sebuah lencana perak bergambar trisula yang menjadi lambang Kadipaten Kalingga.
Melihat itu, kepala regu prajurit penjaga gerbang Kota Rajapura langsung berkata, " Kalau begitu, kalian ikuti aku untuk menghadap pada Gusti Adipati Waramukti di Istana Kadipaten".
Setelah berkata demikian, si kepala regu prajurit penjaga segera melangkah ke arah beberapa ekor kuda yang tertambat pada tiang pancang di sebelah gapura masuk Kota Rajapura. Dengan cepat, dia melepaskan salah satu kuda dan melompat ke atas nya. Sebentar kemudian kepala regu prajurit penjaga gerbang itu bersama Mapanji Jayagiri dan Gayatri telah memacu kuda tunggangan mereka menuju ke arah Istana Rajapura.
Setelah melewati penjagaan keamanan ketat di luar tembok istana, sang kepala regu prajurit penjaga gerbang kota langsung membawa Mapanji Jayagiri dan Gayatri masuk ke dalam Pendopo Agung Kadipaten Rajapura dimana Adipati Waramukti, Patih Krendawahana, Senopati Gopala dan Tumenggung Jungkung sedang membicarakan beberapa hal penting.
Sang kepala regu prajurit penjaga gerbang segera berjongkok di hadapan Adipati Waramukti bersama dengan Mapanji Jayagiri dan Gayatri. Mereka menghormat pada penguasa Tanah Rajapura itu sebelum duduk bersila di lantai Pendopo Agung Kadipaten Rajapura.
"Ada apa kau menghadap tanpa di panggil, prajurit? Dan siapa mereka?", tanya Adipati Waramukti segera.
"Mohon ampun Gusti Adipati..
Dua orang ini adalah utusan dari Adipati Aghnibrata. Mereka berdua sudah menunjukkan lencana perak yang merupakan tanda pengenal dari istana Kalingga. Mereka bilang akan mengantarkan Nawala dari Adipati Aghnibrata untuk Gusti Adipati Waramukti", lapor si kepala regu prajurit penjaga itu.
"Apa benar demikian, hai utusan dari Kalingga?", Adipati Waramukti segera mengalihkan pandangannya pada Mapanji Jayagiri dan Gayatri.
"Benar demikian, Gusti Adipati..
Hamba Giri dan ini kakak perempuan hamba Gayatri. Kami utusan dari Gusti Adipati Aghnibrata dari Kalingga. Kedatangan kami kemari untuk menghaturkan surat balasan ini pada Gusti Adipati Waramukti", sambil bicara, Mapanji Jayagiri merogoh kantong baju nya dan mengeluarkan sebuah kantong kain berwarna merah. Segera dia menghaturkan kain berwarna merah itu dengan kedua tangannya sebagaimana lazimnya seorang pengantar nawala untuk orang yang lebih tinggi derajatnya.
Seorang dayang istana segera berjalan mendekati Mapanji Jayagiri dan mengambil kantong kain berwarna merah itu kemudian menyerahkannya pada Adipati Waramukti. Segera Adipati Waramukti membaca surat itu usai membuka kantong kain berwarna merah.
Usai membaca surat itu, Adipati Waramukti dengan penuh kemarahan meremas lembaran daun lontar di tangannya.
"Jawaban apa ini? Kenapa Adipati Aghnibrata memberikan jawaban mengambang seperti ini?
Hai utusan dari Kalingga, sampaikan pada junjungan mu aku butuh kepastian", ujar Adipati Waramukti dengan keras.
"Akan hamba sampaikan kepada Gusti Adipati Aghnibrata mengenai permintaan dari Gusti Adipati Waramukti.
Kalau begitu, ijinkan kami mohon diri untuk kembali ke Kalingga", mendengar ucapan Mapanji Jayagiri, Adipati Waramukti segera mengangkat tangan kanannya. Mapanji Jayagiri dan Gayatri segera menghormat pada Adipati Waramukti sebelum mundur dari Pendopo Agung Kadipaten Rajapura.
Mata Mapanji Jayagiri dan Gayatri terus mengamati situasi dan keadaan Istana. Begitupun saat mereka meninggalkan istana itu dan berkuda dengan kawalan para prajurit Rajapura. Sesampainya di pintu gerbang istana, tak sengaja mereka bertemu dengan Tumenggung Gurunwangi, Demung Anggasuta dan Juru Kanoman yang baru saja kembali dari tempat para prajurit Rajapura berlatih di lereng Gunung Agung. Namun Tumenggung Gurunwangi sedikit pangling karena dandanan Mapanji Jayagiri yang berubah.
Meski mengenal Tumenggung Gurunwangi, Mapanji Jayagiri dan Gayatri segera menggebrak kudanya dengan berpura-pura tidak mengenal sang perwira tinggi prajurit Rajapura itu. Secepat mungkin mereka memacu kuda nya meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian mereka telah menghilang dari pandangan mata karena melewati tikungan jalan.
Tumenggung Gurunwangi buru-buru mendekati kepala regu prajurit penjaga gerbang kota yang mengawal Mapanji Jayagiri untuk bertanya.
"Hei kau, apa kau tahu siapa mereka?", tanya Tumenggung Gurunwangi segera.
"Mohon ampun Gusti Tumenggung..
__ADS_1
Mereka berdua adalah utusan dari Kalingga. Mereka baru saja mengantarkan surat balasan Adipati Aghnibrata untuk Gusti Adipati Waramukti", jawab si kepala regu prajurit dengan hormat.
Hemmmmmmm...
"Sepertinya aku pernah bertemu dengan mereka. Tapi dimana ya....", gumam Tumenggung Gurunwangi sembari mengerutkan keningnya seakan sedang berpikir keras.
"Mohon maaf Gusti Tumenggung..
Kalau di pikir pikir, si lelaki itu sangat mirip dengan orang yang aku lawan di tepi dermaga tempo hari. Gusti Tumenggung ingat tidak?", sahut Demung Anggasuta segera.
"HAAHHHHHHHHHHH...??!!
Bangsat, kau benar Anggasuta. Dia adalah pendekar berpedang butut yang menguasai Ilmu Silat Cakar Rajawali Galunggung itu. Dasar brengsek..!! Ayo kita kejar mereka!", Tumenggung Gurunwangi segera mencari tali kekang kudanya dan bergegas menggebrak kuda nya menuju ke arah Mapanji Jayagiri dan Gayatri menghilang. Juru Kanoman dan Demung Anggasuta langsung mengikuti langkah sang pimpinan dan ikut mengejar Mapanji Jayagiri dan Gayatri beserta 8 prajurit mereka.
Namun begitu sampai di Wanua Sambireja, Tumenggung Gurunwangi dan para pengikutnya sama sekali tidak menemukan jejak keberadaan Mapanji Jayagiri dan Gayatri yang menghilang bagai di telan bumi.
"Bangsat !
Cepat sekali mereka menghilang nya. Ayo kita segera kembali ke Kota Rajapura. Dua orang itu pasti mata-mata yang dikirim oleh Panjalu untuk menyusup ke dalam wilayah kita. Kita harus melakukan perubahan rencana kalau begini", ucap Tumenggung Gurunwangi sembari menarik tali kekang kudanya untuk berbelok arah. Dengan sekencang-kencangnya, kuda Tumenggung Gurunwangi melesat cepat kembali ke arah Kota Rajapura diikuti oleh seluruh pengikutnya.
Dari atas pohon beringin besar yang ada di tepi Wanua Sambireja, Mapanji Jayagiri dan Gayatri terus menatap ke arah perginya Tumenggung Gurunwangi dan para pengikutnya.
"Kenapa kita mesti bersembunyi seperti ini, Kangmbok Gayatri?
Bukankah dengan kemampuan beladiri kita, mudah saja kita mengalahkan mereka?", tanya Mapanji Jayagiri sembari terus menatap ke arah Tumenggung Gurunwangi yang semakin mengecil di kejauhan.
"Tugas utama kita adalah mengawasi situasi Kota Rajapura dan sekitarnya, Gusti Pangeran.
Jika sampai terjadi keributan lebih dulu, mereka akan semakin waspada terhadap segala sesuatu yang berasal dari luar wilayah mereka. Jadi ini bukan hanya tentang bisa atau tidaknya kita mengalahkan mereka, tapi ini untuk kepentingan selanjutnya yang lebih penting.
****
Sementara situasi di Rajapura semakin memanas, di Laut China Selatan sebuah perahu jung besar berbendera biru dan merah dengan sulaman benang emas bergambar burung Garuda, nampak tengah melaju kencang kearah selatan dengan terpaan angin laut dari Utara.
Di depan haluan kapal, seorang lelaki bertubuh tegap dengan wajah tampan yang memakai baju biru tua dari sutra halus nampak berdiri. Di kepalanya sebuah ikat rambut dari emas berukir indah yang di tusuk konde emas menunjukkan bahwa dia adalah seorang bangsawan. Pandangan mata lelaki muda bertubuh tegap ini nampak lurus ke arah langit selatan yang biru. Sudah lebih dari sepekan perahu jung besar itu meninggalkan Tanah Tiongkok dan terus bergerak menuju ke arah selatan. Selepas melewati Negeri Champa dan berlabuh sebentar di Prey Nagara untuk mengisi air bersih dan bahan makanan, perahu jung besar itu langsung meninggalkan wilayah Kekaisaran Khmer tanpa beristirahat sebentar.
Dari arah belakang, muncul dua orang gadis cantik yang memakai pakaian berbeda. Satunya berpakaian layaknya seorang putri dari Tanah Tiongkok, sedangkan satunya lagi mengenakan pakaian berwarna merah kekuningan yang selalu menjadi ciri khas nya. Dua orang gadis cantik itu melangkah mendekati sang pemuda tampan yang masih menatap ke arah langit selatan.
"Gusti Pangeran,
Apa yang sedang merisaukan hati mu hingga kau terus menatap ke arah langit selatan sejak kemarin?", tanya si gadis cantik berbaju merah kekuningan yang tak lain adalah Luh Jingga pada Panji Tejo Laksono yang segera menoleh ke arah mereka berdua.
"Semalam aku bermimpi, Luh..
Aku melihat di langit barat Panjalu ada kobaran api yang membumbung tinggi ke angkasa. Jujur saja, aku sangat kepikiran sedang terjadi sesuatu di wilayah barat Negeri Panjalu. Kau tahu sendiri, Ayu Ratna tinggal di wilayah barat Panjalu dan itu adalah alasan ku tidak tenang dengan perjalanan ini", jawab Panji Tejo Laksono dengan suara yang penuh kekhawatiran.
"Kakak Thee,
Jangan terlalu khawatir dengan keselamatan Kak Ayu Ratna. Berdoa saja kepada Dewa Yang Agung, minta keselamatan untuk nya.
Kita masih sangat jauh dari Tanah Jawadwipa bukan? Setidaknya ini saja yang bisa kita lakukan saat ini", sahut Song Zhao Meng dengan bahasa Jawa Kuno yang kaku. Mendengar ucapan Song Zhao Meng yang terdengar lucu, mau tidak mau Panji Tejo Laksono tersenyum juga.
__ADS_1
"Hehehehe, kau harus mengasah kemampuan bahasa Jawa Kuno mu lagi, Meng Er.. Kalau sampai Ibunda Ratu Anggarawati mendengar logat bicara mu yang seperti ini, bisa bisa dia tertawa cekikikan", ucap Panji Tejo Laksono sembari mengelus kepala Song Zhao Meng.
"Ya memang harus belajar banyak, Kak Thee..
Luh Jingga dan Paman Purusoma setiap hari selalu mengajari ku kata kata bahasa Jawa Kuno. Aku kapok bertanya pada Paman Gendut yang disana itu. Kapan hari aku bertanya malah di ajari kata kata kasar", Song Zhao Meng segera menunjuk ke arah Demung Gumbreg yang sedang asik memancing ikan di geladak samping kapal jung.
Panji Tejo Laksono segera melotot lebar ke arah Demung Gumbreg karena sudah berani mengerjai Song Zhao Meng. Melihat sikap Panji Tejo Laksono yang seperti hendak menelan orang bulat-bulat, Gumbreg langsung kabur ke arah buritan kapal jung.
Tumenggung Ludaka yang juga sedang memancing ikan, sedikit kaget melihat kemunculan Demung Gumbreg yang datang dengan nafas ngos-ngosan.
"Kau kenapa Mbreg? Seperti baru saja melihat setan saja", tanya Tumenggung Ludaka yang keheranan dengan sikap Gumbreg.
"Huffffffffttt huhhhhh huhhhhh...
A-aku baru saja kena marah Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, Lu.. huh huhhhh...", jawab Gumbreg tersengal-sengal mengatur nafasnya.
"Kau buat masalah apalagi kali ini?", Tumenggung Ludaka mengalihkan pandangannya pada tali pancing nya yang terlihat bergerak-gerak seperti sedang di makan ikan.
"Kemarin aku di tanya Putri Meng Er soal kata kata bahasa Jawa Kuno. Lha aku ajari kata kasar seperti bangsat dan keparat. Eh si Luh Jingga yang diajak bicara Putri Meng Er malah bilang itu kata kasar, dan apesnya Putri Meng Er melaporkan itu ke Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono baru saja.
Dan akhirnya kau tahu sendiri seperti apa", jawab Gumbreg sambil menata nafas nya.
"Mbreg Mbreg.. Kau ini memang suka cari perkara. Sekarang nikmati saja buah dari keusilan mu itu sendiri. Aku tidak mau kena getahnya ", ujar Tumenggung Ludaka sambil menarik pancing nya karena kailnya dimakan ikan.
Whhhuuuggghhhh..
Plaaakkkkk .. Aduuuuuhhhh..!!
Gumbreg mengaduh kesakitan setelah sentakan keras Tumenggung Ludaka pada pancing membuat ikan kerapu besar yang makan umpannya melesat cepat keatas geladak kapal dan menimpa muka Demung Gumbreg.
"Itu upahnya jika suka jahil sama orang, Paman Gumbreg! Nikmat bukan mukanya kena timpuk ikan besar hehehehe", ujar Luh Jingga yang baru saja mengambil air minum untuk Panji Tejo Laksono yang masih berdiri di ujung haluan kapal bersama Song Zhao Meng.
Gumbreg menggerutu sembari membersihkan wajah nya dari air laut yang terbawa ikan, sedangkan Tumenggung Ludaka mengulum senyum karena takut Gumbreg mengomel.
Perahu jung besar itu terus bergerak menuju ke arah selatan.
Setelah hampir tiga hari terapung di lautan lepas, dari arah depan terlihat daratan yang merupakan pelabuhan Pulau Tumasik. Untung saja perjalanan mereka kali ini berjalan nyaris tanpa hambatan berarti. Kapal jung besar milik rombongan Panji Tejo Laksono kali ini harus merapat untuk mengisi air bersih yang mulai menipis dan menambah persediaan bahan makanan.
Syahbandar pelabuhan Tumasik, Maranatha yang mendapat laporan dari juru pandang di ujung pelabuhan tentang adanya kapal jung besar berbendera biru merah bersulam gambar burung Garuda merapat ke pelabuhan, buru buru berjalan cepat setengah berlari menghampiri kapal jung besar itu karena tahu bahwa yang datang adalah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.
Melihat kapal jung membuang sauh di tepi pelabuhan, dan Panji Tejo Laksono turun dari atas kapal bersama Luh Jingga dan Song Zhao Meng, Maranatha buru buru membungkuk hormat pada Panji Tejo Laksono.
"Selamat datang di Pelabuhan Pulau Tumasik, wahai bomoh yang perkasa. Maranatha siap membantu segala keperluan tuan ku", ujar Maranatha dengan sopan.
"Tuan Maranatha sungguh baik sekali pada ku. Aku hanya singgah sebentar untuk mengisi persediaan air bersih dan bahan makanan", jawab Panji Tejo Laksono segera.
"Anak buah patik akan membantu segala keperluan tuan ku bomoh yang perkasa.
Sembari menunggu mereka bekerja, sebaiknya tuan ku membersihkan diri di kediaman patik. Itu akan membuat badan tuan ku menjadi lebih segar sebelum melanjutkan perjalanan", mendengar ucapan Maranatha, Luh Jingga dan Song Zhao Meng yang memang sudah tidak mandi sejak kemarin demi menghemat air langsung tersenyum senang. Panji Tejo Laksono pun akhirnya mengiyakan ajakan Maranatha ke rumah nya.
Dua pasang mata menatap tajam ke arah berlalu nya rombongan Panji Tejo Laksono. Wajah kedua orang itu terlihat seram dan di leher mereka tergantung sebuah bandul kalung bergambar tengkorak manusia yang menjadi tanda bahwa mereka adalah anggota Bajak Laut Tsang.
__ADS_1
"Itu adalah seorang putri China..
Cepat lapor kepada pimpinan!"