
"Eh Kangmas Pangeran...
Aku kira Kangmas Pangeran pergi kemana tak tahunya sedang duduk di dekat jendela. Aku tadi ingin mencari mu Kangmas", ucap Rara Kinanti sambil tersenyum penuh arti.
"Mencari ku? Apa masih mau lagi?", Panji Tejo Laksono mengedipkan sebelah matanya ke arah Rara Kinanti yang langsung membuat wajah perempuan cantik yang baru saja kehilangan keperawanan nya itu memerah.
"Aaaaahh bu-bukan begitu juga Kangmas..
Aku letih sekali. Kalau Kangmas Pangeran menginginkannya lagi, besok saja ya. Itu anu ku masih sakit", balas Rara Kinanti segera.
Hehehehe...
Panji Tejo Laksono terkekeh kecil karena mendengar jawaban jujur dari istri ketujuh nya. Melihat Panji Tejo Laksono terkekeh geli, Rara Kinanti memberengut kesal.
"Ini semua karena ulah mu Kangmas Pangeran.. Aku jadi susah berjalan seperti ini", sungut manja Rara Kinanti.
"Tenang saja, nanti juga akan segera pulih kembali seperti semula. Tadi pelayan mu sudah mengantar jamu. Apa kau ingin meminumnya sekarang?", Panji Tejo Laksono menunjuk ke arah secangkir ramuan yang ada di atas meja kecil pada sudut kamar pengantin mereka. Rara Kinanti mengangguk cepat dan Panji Tejo Laksono pun segera mendudukkan kembali Rara Kinanti ke tepi ranjang. Dia segera mengambil cangkir ramuan yang menebarkan aroma wangi itu dan memberikannya kepada Rara Kinanti.
Perlahan, Rara Kinanti meneguk cairan berwarna hijau tua itu segera. Perutnya terasa hangat setelah meminumnya.
"Jangan buru-buru keluar. Nanti biar pelayan mu itu yang membantu mu untuk mandi. Aku ada urusan penting sebentar. Nanti aku akan segera kembali..", Panji Tejo Laksono mengecup kening sang istri ketujuh lalu bergegas meninggalkan tempat itu.
Rara Kinanti hanya bisa tersenyum saja sambil terus memandangi punggung suaminya yang kemudian menghilang di balik pintu kamar pribadinya.
Di serambi Keputran Lodaya, sudah berkumpul Tumenggung Ludaka, Senopati Gardana, Demung Gumbreg, Juru Naratama dan Endang Patibrata. Mereka sedang berbincang santai membicarakan tentang keramaian Kota Lodaya semalam. Pembicaraan mereka langsung terhenti saat melihat kedatangan Panji Tejo Laksono.
"Sembah bakti kami Gusti Pangeran", ucap semua orang yang ada di tempat itu segera.
Hemmmmmmm...
"Jangan banyak adat sekarang. Ada hal penting yang perlu aku bicarakan dengan kalian semua. Sekarang dengarkan aku bicara", ucap Panji Tejo Laksono yang kemudian duduk bersila di antara mereka.
"Aku akan melakukan perjalanan ke perbatasan wilayah Kadipaten Anjuk Ladang dan Lewa. Ini harus dilakukan dengan diam-diam karena tidak boleh menarik perhatian orang. Jadi aku akan melakukan penyamaran.
Senopati Gardana dan kau Juru Naratama, kalian berdua segera pimpin para prajurit pengawal Seloageng untuk secepatnya pulang. Dan Paman Ludaka dan Paman Gumbreg, kalian berdua aku ijinkan untuk kembali ke Kotaraja Daha juga", imbuh Panji Tejo Laksono segera.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Bukannya kami membangkang terhadap perintah dari Gusti Pangeran tapi Gusti Prabu Jayengrana sendiri telah memerintahkan kepada hamba dan Gumbreg untuk mengawal kemanapun Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono pergi. Kami tahu bahwa kemampuan beladiri kami tidak sehebat Gusti Pangeran, tapi walaupun begitu kami sudah menerima perintah jadi kemanapun Gusti Pangeran pergi, kami harus ikut. Benar kan Mbreg?", Tumenggung Ludaka segera menyikut pinggang Demung Gumbreg agar dia ikut bicara.
"Wah betul itu Gusti Pangeran..
Sekalipun langit runtuh, kami ikut kemanapun Gusti Pangeran pergi. Daripada kena marah Sinuhun Prabu Jayengrana, tidur di tengah hutan pun kami tetap harus mengawal Gusti Pangeran", sahut Demung Gumbreg cepat.
"Walaupun aku tidak bawa bekal dan uang banyak untuk perjalanan, Paman Gumbreg mau ikut juga?", Panji Tejo Laksono mencoba mencari tahu kesungguhan hati perwira bertubuh tambun itu.
"Ya kalau tidak bawa bekal, apa boleh buat? Terpaksa aku ikut juga. Saya lebih suka kelaparan dan kedinginan daripada kena marah Sinuhun Prabu Jayengrana. Hiiiii serem banget loh..", Demung Gumbreg bergidik ngeri kala teringat akan perubahan wujud Prabu Jayengrana saat murka dan menjadi buta aghni.
__ADS_1
Tumenggung Ludaka dan Panji Tejo Laksono terkekeh kecil melihat sikap lucu Demung Gumbreg. Endang Patibrata tersenyum tipis sedangkan Senopati Gardana dan Juru Naratama hanya diam saja.
"Baiklah...
Karena siang ini juga kita harus berangkat, aku akan berpamitan dengan Kanjeng Romo Pangeran Arya Tanggung. Kalian semua bersiap-siaplah untuk berangkat", titah sang pangeran muda dari Kadiri ini segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ucap Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg, Senopati Gardana dan Juru Naratama kompak bersamaan. Mereka semua segera membubarkan diri.
Pangeran Arya Tanggung tertegun sejenak setelah mendengar kata-kata pamit yang di ucapkan oleh Panji Tejo Laksono. Dewi Anggraeni juga langsung terdiam seketika.
Hemmmmmmm..
"Jadi ini alasan mu mempercepat pernikahan mu dengan Rara Kinanti, Nakmas Pangeran?", tanya Pangeran Arya Tanggung sembari menatap tajam tampan Panji Tejo Laksono.
"Salah satunya ini Kanjeng Romo Pangeran..
Karena itu saya ingin menitipkan Dinda Kinanti disini selama saya membereskan masalah ini. Saya lebih percaya dengan pengamanan di Lodaya daripada harus membawa Dinda Rara Kinanti ikut ke Lewa. Setelah masalah ini selesai, saya akan menjemput Dinda Kinanti untuk saya boyong ke Kotaraja Daha", jawab Panji Tejo Laksono segera.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan mu. Romo tidak akan menghalanginya. Lagipula tugas ini menyangkut kepentingan masyarakat banyak dan masa depan Kerajaan Panjalu selanjutnya. Berhati-hatilah Nakmas Pangeran", ujar Pangeran Arya Tanggung sembari mengelus kumisnya yang tebal.
"Terimakasih atas pengertiannya, Kanjeng Romo Pangeran, Biyung Ratu..
Saya mohon pamit..", Panji Tejo Laksono langsung menyembah pada Pangeran Arya Tanggung dan Dewi Anggraeni sebelum bergegas keluar dari dalam ruang pribadi Penguasa Tanah Perdikan Lodaya ini. Kedua orang suami istri itu hanya bisa menatap ke arah perginya Panji Tejo Laksono tanpa berkata apa-apa lagi.
Derai air mata langsung membasahi pipi Rara Kinanti kala Panji Tejo Laksono berpamitan pada nya. Putri Pangeran Lodaya ini benar-benar merasa sedih tak terperikan.
"Aku pergi untuk melaksanakan tugas ku sebagai ksatria Panjalu, Dinda Kinanti. Aku pasti akan segera menjemput mu begitu selesai masalah ini", Panji Tejo Laksono mengelus rambut Rara Kinanti yang hitam legam.
"Kangmas Pangeran janji?", Rara Kinanti mendongakkan kepalanya ke arah wajah tampan Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda ini segera mengangguk pasti.
"Iya Kangmas janji.. Soal keselamatan, Dinda Kinanti tidak perlu khawatir. Ada saudari tua mu yang jago ilmu berpedang, ada Paman Ludaka yang ahli dalam bidang penyamaran juga ada Paman Gumbreg yang jago makan", Panji Tejo Laksono melebarkan tangannya ke arah Endang Patibrata, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg yang sudah menunggu nya.
Rara Kinanti segera menoleh ke arah mereka bertiga.
"Kangmbok Patibrata, tolong jaga Kangmas Pangeran ya? Jangan lupa untuk mengurusi makan nya", ucap Rara Kinanti yang segera disambut anggukan cepat dari Endang Patibrata.
"Kau tidak perlu khawatir, Nimas Kinanti. Tunggulah beberapa waktu lagi. Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono pasti akan segera menjemput mu", balas Endang Patibrata dengan penuh keyakinan.
Meski dengan berat hati, Rara Kinanti melepaskan kepergian suaminya hingga depan pintu gerbang Istana Lodaya. Mata perempuan cantik itu langsung berkaca-kaca saat Panji Tejo Laksono melompat ke atas kuda nya dan menggebrak kuda tunggangan nya itu ke arah barat. Endang Patibrata, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg pun segera mengikuti langkah sang pangeran. Rara Kinanti terus menatap ke arah perginya Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan hingga mereka menghilang dari pandangan matanya.
"Kau harus segera kembali dan menjemput ku Kangmas Pangeran".
*****
Blllaaaaaammmm blllaaammmmmmmm!!!
Dua orang lelaki bertubuh kekar dengan pakaian atas berwarna kuning tua dan celana pendek selutut berwarna hijau kusam terpental jauh ke belakang setelah ledakan dahsyat beruntun itu terdengar. Tubuh keduanya menghantam tanah dengan keras dan segera kedua muntah darah segar. Namun kedua orang ini segera bangkit dari tempat jatuhnya meski sedikit sempoyongan.
__ADS_1
"Perempuan iblis itu benar benar hebat, Kakang. Apa yang harus kita lakukan?", tanya si lelaki yang lebih muda sembari meludahkan sisa darah yang ada di mulutnya.
"Kita harus mengerahkan seluruh tenaga dalam kita kalau tidak mau mampus di tangan janda iblis itu, Adhi..
Bila perlu kita gabungkan Ajian Tapak Besi Penghancur Bumi kita untuk dapat menundukkan wanita pembunuh itu", ujar seorang lelaki yang lebih tua sambil mengibaskan tangannya yang ngilu setelah beradu ilmu kesaktian dengan sosok yang ada di balik debu beterbangan.
Setelah debu yang beterbangan mulai mereda, wajah seorang wanita cantik berambut kuning keemasan dengan kemben putih yang seperti tidak muat menutupi *********** yang montok dengan jarit sebatas lutut menyembul dari arah yang berlawanan. Perempuan cantik bertubuh montok ini tersenyum penuh penghinaan terhadap dua orang itu.
"Dua cecunguk Perguruan Gunung Lintang..
Nama besar kalian sebagai Dua Tapak Besi Gunung Lintang rupanya hanya julukan palsu. Tak lebih dari pepesan kosong yang tidak ada isinya. Memalukan!!", teriak wanita bertubuh montok dengan jarit sebatas lutut ini keras.
Mendengar hinaan perempuan cantik itu, dua orang yang merupakan pendekar yang punya nama besar di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah tengah ini menggeram murka. Mata keduanya melotot kereng pada perempuan cantik itu.
"Jangan jumawa dulu, Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga!!
Kami belum mengeluarkan seluruh kemampuan kami. Sekarang bersiaplah untuk menerima Ajian Tapak Besi Penghancur Bumi kami", teriak si lelaki yang lebih tua sambil berdiri menjajari adik seperguruan nya.
Keduanya merentangkan kedua tangannya ke samping hingga tangan kanan si lelaki yang lebih tua bertepuk dengan tangan kiri si lelaki yang lebih muda. Cahaya ungu hitam berhawa panas bergulung dari kedua tangan yang beradu lalu dengan cepat menyebar ke seluruh tangan dua orang itu. Secepat kilat keduanya menghantamkan tapak tangan mereka berdua yang berwarna ungu hitam itu ke arah sang perempuan cantik berbaju putih dan kuning.
"Tapak Besi Penghancur Bumi..
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat!!!"
Dengan lincah perempuan cantik yang di sebut sebagai Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga itu melompat tinggi ke udara menghindari serangan lawan.
Shiiuuuuuuttttt shhiuuuuttthh..
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!
Melihat lawannya mudah menghindar, kedua tangan yang dijuluki sebagai Dua Tapak Besi Gunung Lintang itu kembali melemparkan ajian pamungkas milik mereka. Ledakan dahsyat beruntun terus terdengar dari pertarungan antara mereka. Dalam waktu singkat, tepi sungai kecil yang terletak di tepi hutan perbatasan Karang Anom dan Lodaya ini hancur porak poranda.
Setelah sekian kali menghindari serangan berbahaya dari lawannya, Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah Dua Tapak Besi Gunung Lintang dan menghantamkan kedua telapak tangannya yang di lambari cahaya putih kekuningan berhawa dingin. Kecepatan tinggi sang perempuan cantik yang bernama asli Lesmanawati itu membuat Dua Tapak Besi Gunung Lintang gelagapan.
Keduanya segera memapak hantaman tangan Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga itu dengan kedua tapak tangan mereka.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!
Teriakan keras terdengar berbarengan dengan ledakan dahsyat yang menggetarkan seisi hutan kecil itu. Dua Tapak Besi Gunung Lintang terpelanting jauh ke belakang dan menyusruk tepian sungai kecil itu. Keduanya kembali memuntahkan darah segar. Sedangkan si perempuan cantik berbaju putih kuning itu juga tersurut mundur beberapa tombak ke belakang namun dia masih sanggup berdiri.
Saat Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga itu hendak melesat ke arah lawan untuk menghabisi nyawa mereka, dari arah timur terdengar suara langkah kaki kuda mendekat. Perempuan cantik itu segera mendongak ke arah mereka. Rupanya yang datang adalah rombongan Panji Tejo Laksono.
Begitu Panji Tejo Laksono menarik tali kekang kudanya di dekat tempat pertarungan sengit itu, Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga langsung mendengus keras.
"Hai Pemuda Tampan, apa kau ingin ikut campur??"
__ADS_1