
"Wiro siapa? Wiro sableng? Atau Wiro gendeng?"
Senyum lebar segera tersungging di wajah cantik Gayatri. Niat iseng nya muncul melihat tampang si gendut yang mengaku bernama Wiro itu. Panji Tejo Laksono tersenyum tipis mendengar pertanyaan Gayatri sedangkan Si Wiro terlihat kesal mendengar pertanyaan Gayatri.
"Sableng gundul mu itu..
Namaku Wiropati, anak Akuwu lama Pakuwon Brumbun yang di singkirkan oleh adiknya sendiri. Jelek jelek begini aku ini anak bangsawan", ujar si gendut yang bernama Wiropati itu sembari memandangi air sungai kecil yang mengalir bening di depan nya. Sesaat dia termenung seperti tengah memikirkan sesuatu yang membebani pikiran nya.
"Hah? Anak bangsawan kenapa kau di uber terus sama centeng centeng itu?", kembali Gayatri melontarkan pertanyaan pada Wiropati yang sudah bersiap untuk pergi.
"Semenjak ayah ku di lengserkan dari kursi Akuwu Brumbun oleh paman ku dan terbunuh dalam pertikaian antara mereka, aku hidup sebatang kara dan terlunta-lunta. Kesana kemari harus mencari makan untuk bertahan hidup.
Kemarin aku terpaksa mencuri makanan di rumah Juragan Dipo. Aku ketahuan oleh mereka hingga Juragan Dipo menyuruh orang orang nya untuk menangkap ku sampai dapat. Tadi malam aku berhasil lolos tapi tadi pagi mereka melihat aku di jalan lalu memburu ku hingga sampai ke tempat ini", Wiropati tersenyum kecut menceritakan kisah hidupnya.
Hemmmmmmm...
"Memelas juga cerita mu, gendut..
Sebaiknya kau mencari pekerjaan atau berguru pada seorang pendekar agar kau bisa mempertahankan diri agar tidak di tindas orang", ujar Panji Tejo Laksono sembari menatap wajah Wiropati yang lebam dan membengkak akibat pukulan centeng Juragan Dipo.
"Nah itu pemikiran yang bagus..
Pendekar muda, tolong angkat lah aku sebagai murid mu agar aku bisa kepandaian ilmu beladiri ya", sahut Wiropati dengan cepat.
"Tidak mau!
Aku masih terlalu muda. Tidak pantas menerima seorang murid. Lebih baik kau cari sendiri guru yang cocok untuk mengajari mu", sergah Panji Tejo Laksono sembari melepaskan baju nya yang basah akibat siraman air Gayatri tadi.
Mata Gayatri melebar ketika melihat tubuh kekar Panji Tejo Laksono. Buru buru perempuan itu membuang muka dengan wajah bersemu merah.
"Kau ini... Sudah memberikan pemecahan masalah untuk ku hanya setengah setengah. Kalau mau bantu sampai tuntas dong", Wiropati bersungut-sungut.
"Sekarang kau ikut saja dengan ku hingga ke Kurawan. Siapa tahu nanti kau beruntung dan bisa menemukan sosok guru yang cocok untuk mu, gendut..
Bukankah itu lebih baik Gayatri?", Panji Tejo Laksono menoleh ke arah Gayatri yang sedang menata pelana kuda nya.
"Lebih baik sih iya tapi bagaimana membawa si gendut itu bersama kita?
Aku tidak mau ya berkuda dengan dia", Gayatri melengos pergi masuk ke dalam gubuk untuk mengambil barang bawaan nya.
"Benar juga kata Gayatri..
Kalau begitu kita belikan kuda untuk Wiropati di kota Pakuwon Brumbun nanti. Ayo kita tinggalkan tempat ini ", ajak Panji Tejo Laksono yang segera melompat naik ke atas kuda nya. Si gendut Wiropati menumpang di belakang Panji Tejo Laksono.
Mereka segera bergegas menggebrak kuda menuju ke arah kota Pakuwon Brumbun. Derap langkah kaki kuda mereka terdengar nyaring melaju di jalanan berbatu.
Debu jalanan beterbangan mengiringi langkah kaki kuda mereka.
Sesampainya di sana, Panji Tejo Laksono membelikan seekor kuda untuk Wiropati. Tak lupa mereka membeli caping bambu untuk menutupi wajah agar tidak tertimpa masalah seperti kemarin. Setelah mendapatkan tunggangan untuk Wiropati mereka memasuki sebuah warung makan untuk mengisi perut.
Kehadiran mereka di warung makan itu langsung menarik perhatian beberapa orang yang sedang menikmati makanan.
Tak terkecuali seorang lelaki sepuh yang berusia sekitar 5 dasawarsa yang berpakaian layaknya seorang pendekar dengan sebuah tombak pendek di letakkan pada meja makan nya. Baju berwarna coklat tua terlihat lusuh pertanda bukan pakaian baru lagi. Ikat kepala hitam juga jenggotnya yang mulai memutih karena uban semakin menegaskan bahwa dia bukan pendekar tua sembarangan.
Di sampingnya seorang gadis muda berpakaian senada nampak asyik menikmati hidangan yang disajikan tanpa mempedulikan sekitarnya. Di lihat dari cara makannya persis seperti orang yang tidak makan selama beberapa hari.
Si lelaki sepuh itu segera menyepak kaki si gadis muda setelah melihat kedatangan Panji Tejo Laksono, Gayatri dan Wiropati.
"Makan terus.. Perhatikan sekeliling mu, Widowati", gumam lelaki sepuh berjenggot putih itu perlahan. Meski tak terdengar oleh telinga orang lain, tapi si gadis muda yang di panggil Widowati itu masih mampu untuk mendengar nya.
Segera gadis muda itu mendongak ke arah lelaki sepuh yang duduk di hadapannya.
__ADS_1
Mata Widowati langsung menyisir sekeliling ruangan warung makan itu dan melihat tiga orang yang sedang duduk tak jauh dari tempat mereka.
"Ada apa Romo?
Apa ada sesuatu yang aneh dengan tiga orang itu?", bisik Widowati yang menatap heran kearah lelaki sepuh yang tak lain adalah ayahnya.
Lelaki tua itu bernama Mpu Wanamarta, seorang pendekar yang cukup disegani di dunia persilatan Tanah Jawa. Dia mendapat julukan Si Tombak Terbang dari Padang Rumput Utara. Konon katanya, Mpu Wanamarta pernah mengalahkan sepasukan perampok yang berjumlah puluhan orang dengan senjata tombak pendek nya untuk menyelamatkan rombongan Adipati Lasem yang di sergap. Karena itu namanya begitu tersohor sebagai pahlawan Kadipaten Lasem hingga memperoleh sebidang tanah lungguh yang luas sebagai tempat nya mendirikan perguruan. Namun hingga saat ini dia hanya mau mengajari putrinya Widowati dan dua orang anak murid nya yang tidak ikut dalam perjalanan mereka kali ini.
Mpu Wanamarta baru saja menghadiri undangan sahabat karibnya yang baru melangsungkan pernikahan putranya di Pakuwon Brumbun. Saat ini dia tengah dalam perjalanan pulang ke Lasem.
"Makanya kau jangan makan saja..
Biar tahu ada pendekar tangguh yang sedang duduk di kursi sebelah itu. Aku yakin pemuda bercaping bambu itu bukan orang biasa", ujar Mpu Wanamarta dengan cepat.
"Biarkan saja Romo, asal tidak menggangu kita tidak perlu kita hiraukan.
Makanan disini sangat enak, beda jauh dengan makanan di tempat kawan mu itu. Sayang kalau tidak di habiskan", jawab Widowati sembari kembali menyuapkan makanan ke mulutnya tanpa peduli Mpu Wanamarta geleng-geleng kepala melihat kelakuan putri nya itu.
Usai mengisi perut nya, Panji Tejo Laksono, Gayatri dan Wiropati segera berlalu pergi setelah Panji Tejo Laksono membayar makanan mereka. Melihat mereka pergi, Mpu Wanamarta langsung mengikuti mereka sembari menggelandang tangan Widowati yang masih memegang seekor ikan.
Rombongan Panji Tejo Laksono terus memacu kudanya menuju ke arah Utara tepatnya ke arah Kota Wuwatan yang merupakan ibukota Kadipaten Kurawan.
"Taji, sepertinya dua orang itu sedang mengikuti kita..
Sejak dari warung makan itu mereka terus mengekor di belakang kita. Sepertinya mereka memiliki suatu tujuan", ujar Gayatri yang berkuda di samping Panji Tejo Laksono sembari melihat ke belakang pada dua orang berkuda mengekori mereka.
"Tak usah kau pedulikan, Gayatri..
Kita tidak punya banyak waktu untuk sesuatu yang tidak penting. Selepas ini kita harus sudah kembali ke Kadiri", ujar Panji Tejo Laksono sembari menepak punggung kudanya untuk melaju lebih cepat. Gayatri tak menjawab tapi terus mengikuti pergerakan Panji Tejo Laksono bersama Wiropati yang mengekor di belakangnya.
Setelah melewati persawahan luas yang baru saja panen, mereka memasuki hutan kecil yang ada di selatan kota Wuwatan.
Dua orang lelaki berpakaian serba biru terlihat sedang di kepung puluhan orang pendekar berpakaian serba merah dengan beberapa garis warna hitam. Terlihat dua orang itu sudah terduduk di tanah dengan beberapa sayatan senjata tajam menghiasi tubuh mereka. Seorang bahkan terlihat memuntahkan darah segar pertanda bahwa dia mengalami cidera dalam serius.
Tak berapa lama kemudian, Mpu Wanamarta dan Widowati sampai di dekat Panji Tejo Laksono dan Gayatri serta Wiropati.
Melihat peristiwa yang terjadi di depannya, Mpu Wanamarta menggeram keras.
"Kelelawar Merah..
Dasar keparat! Beraninya mengeroyok murid Padepokan Bukit Biru"
Usai berkata demikian Mpu Wanamarta segera melesat cepat kearah mereka sembari memutar tombaknya. Selarik angin dingin berdesir kencang seakan angin dingin dari dewa kematian menderu cepat kearah para lelaki berbaju merah hitam.
Whuuussshh!!!
"Bangsat!
Kita di bokong! Cepat menghindar!!"
Teriak ngeri seorang diantara kelompok pendekar berbaju merah hitam. Kelompok ini berusaha keras menghindari hantaman angin dingin dari putaran tombak pendek Mpu Wanamarta.
Blllaaammmmmmmm!!!
Puluhan orang berbaju merah hitam yang merupakan anggota Perguruan Kelelawar Merah berhasil menghindar. Namun beberapa orang yang bernasib sial karena terlambat menghindar, mencelat jauh dan menyusruk padang rumput di tepi hutan kecil itu dengan keras. Darah muncrat keluar dari mulut mereka. Dua orang langsung diam tak bergerak, entah pingsan atau tewas sedangkan 3 orang lainnya masih sadar sambil mengerang kesakitan.
Si pemimpin Perguruan Kelelawar Merah yang bernama Surendra nampak menatap bengis pada Mpu Wanamarta yang mendarat di depan dua lelaki berbaju biru itu dengan ringannya.
"Tombak Terbang dari Padang Rumput Utara!!
Kenapa kau ikut campur dalam urusan kami ha? Apa kau ingin bermusuhan dengan Perguruan Kelelawar Merah?", hardik Surendra sembari menunjukkan wajah bengisnya.
__ADS_1
"Surendra, salah satu dari 10 murid utama Mpu Dipayana alias Kelelawar Iblis Gunung Lawu..
Namamu bagus tapi sayang tidak dengan kelakuan mu. Apa kau tidak tahu, guru utama Padepokan Bukit Biru adalah saudara angkat ku? Apa kau pikir aku akan diam saja melihat perlakuan sewenang-wenang mu yang mengeroyok dua murid saudara angkat ku?", Mpu Wanamarta mendelik ke arah Surendra.
"Huhhhhh...
Hanya mengandalkan nama besar mu kau sudah berani menggertak kami?
Jumlah kami lebih banyak daripada kau. Hari ini aku Surendra Si Kelelawar Merah akan menjajal kemampuan beladiri Si Tombak Terbang dari Padang Rumput Utara ", ujar Surendra sembari bersiap untuk menyerang ke arah Mpu Wanamarta.
Setelah menjejak tanah dengan keras, Surendra melesat cepat kearah Mpu Wanamarta sembari mengayunkan cakar tangan nya ke arah pendekar sepuh yang berjuluk Si Tombak Terbang dari Padang Rumput Utara itu.
Whuuthhh whhhuuuggghhhh!!
Mpu Wanamarta berkelit gesit menghindari serangan beruntun dari Surendra. Lelaki tua itu segera memutar tombak pendek nya lalu mengayunkan gagang tombak ke arah pinggang Surendra.
Dengan ringannya, Surendra menjejak tanah lalu melenting tinggi ke udara. Kemampuan utama Perguruan Kelelawar Merah memang ilmu meringankan tubuh mereka yang tinggi.
Bersalto sekali di udara, Surendra meluncur turun ke arah Mpu Wanamarta dengan posisi kepala di bawah dan menyerang Si Tombak Terbang dari Padang Rumput Utara itu dari atas.
Shhraakk shrraaaakkkkhhhh!
Mpu Wanamarta dengan cepat memutar tombak pendek nya menangkis cakaran Surendra yang menggerendeng cepat kearah nya.
Plakkkk plllaaakkkkk..
Blllaaaaaarrr!!!
Surendra terpental ke belakang namun dengan cepat ia bersalto di udara untuk mengurangi daya dorong benturan tenaga dalam antara dirinya dengan Mpu Wanamarta. Surendra segera mendarat dan masih terseret dua langkah ke belakang. Seteguk darah segar di muntahkan oleh Surendra. Dengan kasar Surendra mengusap sisa darah yang membasahi ujung bibirnya.
Sementara itu Mpu Wanamarta hanya terdorong mundur beberapa langkah ke belakang, pertanda bahwa dia memiliki tenaga dalam yang lebih tinggi.
"Aku masih belum kalah, Mpu Wanamarta..
Ayo kita lanjutkan lagi", selesai berkata demikian, Surendra kembali melesat cepat kearah Mpu Wanamarta dengan jemari tangannya yang di liputi oleh sinar merah kehitaman Ajian Cakar Kelelawar Iblis yang merupakan ilmu andalan Perguruan Kelelawar Merah.
Mpu Wanamarta segera menyalurkan tenaga dalam nya pada tombak pendek nya. Tiba tiba saja tombak berputar cepat di samping tubuh Mpu Wanamarta tanpa di pegang tangan. Ini adalah ilmu yang membuat Mpu Wanamarta mendapat julukan Si Tombak Terbang dari Padang Rumput Utara, Ilmu Tombak Dewa Bayu.
Pertarungan sengit antara mereka segera terjadi. Jual beli pukulan berlangsung cepat dan berbahaya.
Sementara itu Panji Tejo Laksono yang menonton pertarungan sengit itu tersenyum lebar. Gayatri yang berkuda di samping nya tak habis pikir mengapa Panji Tejo Laksono tersenyum seperti itu. Tak dapat menahan diri, Gayatri langsung bertanya.
"Taji,
Apa yang membuat mu begitu senang?"
"Ilmu tombak kakek tua itu mengingatkan ku pada seseorang yang sangat dekat dengan ayah ku, Gayatri...
Meski belum sehebat milik teman dekat ayah ku itu, tapi jarak perbedaan tingkat nya tidak terlalu besar", ujar Panji Tejo Laksono yang teringat pada Mapatih Warigalit.
"Hemmmmmmm...
Aku penasaran dengan cerita mu itu Taji? Apa iya ada orang yang sehebat itu, yang setingkat lebih tinggi dari pada kakek tua itu?", Gayatri mengelus hidungnya.
"Kau akan mengetahuinya nanti Gayatri, tapi sekarang itu bukan lah hal utama yang membuat ku senang", ucap Panji Tejo Laksono sembari terus menatap ke arah pertarungan Mpu Wanamarta dan Surendra.
"Lantas apa yang membuat mu sekarang begitu senang Taji?
Cepat katakan pada ku", Gayatri terlihat tidak sabar menunggu jawaban dari mulut Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri ini nampak tersenyum lebar penuh arti sebelum berbicara.
"Sepertinya kita sudah menemukan guru yang cocok untuk Wiropati"
__ADS_1