
"Bajingan!!!
Aku akan mengadu nyawa dengan mu!!", teriak Mpu Saranjana sambil mengayunkan Golok Iblis Air nya ke arah Panji Tejo Laksono.
Dengan cepat, Panji Tejo Laksono langsung mengangkat Pedang Naga Api di tangan kanannya untuk menangkis sabetan Golok Iblis Air.
Thrrraaannnnggggg!!!
Ujung Golok Iblis Air yang beradu dengan Pedang Naga Api langsung rompal. Namun itu semua belum selesai. Panji Tejo Laksono langsung mendesak maju sambil menghantamkan tapak tangan kiri nya yang di lambari Ajian Tapak Dewa Api ke arah dada Mpu Saranjana.
Dalam keadaan yang putus asa, Mpu Saranjana memapak hantaman tangan kiri Panji Tejo Laksono dengan tangan kiri nya yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi.
Blllaaammmmmmmm!!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!
Tangan kiri Mpu Saranjana langsung hancur setelah beradu tenaga dalam dengan Panji Tejo Laksono. Kakek tua renta itu terhuyung huyung mundur sambil memegangi gagang Golok Iblis Air untuk menjadi penyangga tubuhnya.
"Kau sudah tidak mungkin menang melawan ku, kakek tua!
Aku bisa mengampuni nyawa mu andai kamu mengatakan siapa orang yang mengirim mu untuk membunuh ku", ujar Panji Tejo sambil menatap tajam ke arah Mpu Saranjana.
Phhuuuiiiiiihhhhh..
"Kau melepaskan ku tapi tidak dengan dia, Panji Tejo Laksono. Aku gagal membawa pulang kepala mu maka aku juga pasti akan kehilangan kepala", ucap Mpu Saranjana sembari terengah-engah nafasnya. Darah segar terus keluar dari luka di lengan kiri nya yang putus.
"Maka lebih baik aku mati bersamamu di tempat ini!", imbuh Mpu Saranjana sambil menancapkan Golok Iblis Air nya ke tanah di depannya.
Dengan cepat ia menotok beberapa jalan darah nya hingga aliran darah segar yang keluar dari luka berhenti menetes. Tak hanya itu, Mpu Saranjana terus menotok jalan darah nya yang lain sambil mengerahkan seluruh tenaga dalam nya. Ini langsung membuat tubuh lelaki tua membengkak dan terus membesar.
Panji Tejo Laksono yang menyadari sesuatu yang tidak beres sedang di lakukan oleh Mpu Saranjana, langsung berteriak keras.
"Semuanya! Cepat menjauh dari sini! Orang ini hendak meledakkan dirinya!!!".
Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah Luh Jingga dan Dyah Kirana sembari merapal mantra Ajian Tameng Waja. Tubuhnya seketika memancarkan cahaya kuning keemasan yang menyilaukan mata. Tumenggung Ludaka langsung menggelandang tangan Demung Gumbreg untuk menjauhi tempat ini. Para pekerja yang di sewa oleh Demung Gumbreg pun langsung berusaha keras untuk lari sejauh mungkin dari tempat itu.
"HAHAHAHAHAHAHAHA...
Matilah kalian semua!!!!", teriak Mpu Saranjana sesaat sebelum sebuah ledakan dahsyat terdengar.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!!
Gelombang kejut besar langsung menyapu ke segala arah. Membuat pohon dan semak belukar yang ada di sekitar tempat itu tercerabut dari akar nya dan hangus terbakar. Kayu kayu yang di persiapkan untuk membangun puri kecil itu juga beterbangan tak tentu arah bersamaan dengan debu, pasir dan kerikil hingga suasana di tempat itu seketika gelap gulita.
Saat debu yang beterbangan mulai mereda, terlihat sebuah pemandangan yang mengerikan. Tubuh Mpu Saranjana hancur berantakan dan tersebar ke segala arah juga sebuah lobang sebesar kerbau tercipta di tempat anggota Sepasang Iblis Pemotong Kepala itu berdiri.
Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Tameng Waja untuk melindungi Luh Jingga dan Dyah Kirana perlahan melepaskan pelukannya pada kedua perempuan cantik itu dan menatap ke arah sekeliling tempat itu. Hampir sejauh 20 depa dari pusat ledakan keras tadi rata dengan tanah. Daun-daun pepohonan dan semak belukar yang tidak jauh dari tempat itu hangus dan meranggas. Itu masih di tambah dengan kayu-kayu bakal puri kecil yang berserakan dimana-mana.
Segera Panji Tejo Laksono menarik nafas lega melihat Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka berjalan mendekati mereka. Meski sempat terlempar akibat gelombang kejut tadi, namun keduanya selamat walaupun baju mereka kotor penuh tanah setelah bergulingan di atas tanah.
"Gusti Pangeran tidak apa-apa?", tanya Demung Gumbreg segera.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Paman Gumbreg", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum mendengar ucapan perwira bertubuh tambun itu mengkhawatirkannya.
"Kalau dia tidak perlu di khawatirkan, Gusti Pangeran. Lemak gajih di tubuhnya bisa melindungi tubuh nya meski harus berguling-guling seperti celeng liar mengamuk hehehe..", sahut Tumenggung Ludaka seraya terkekeh kecil.
__ADS_1
"Eh kampret, kalau bicara mikir perasaan orang dong..
Bukankah kau tadi juga ikut berguling di tanah, Lu? Berarti kau juga termasuk salah satu celeng liar itu", jawab Demung Gumbreg tak mau kalah.
"Sudah sudah jangan ribut Paman berdua..
Kalian ini seperti kucing dan tikus saja. Selalu ribut dan tak mau kalah, tapi kalau tidak ada salah satunya saling mencari.
Oh iya, kalian berdua di sini ingin membangun puri untuk siapa? Bukankah kalian berdua sudah punya rumah masing-masing?", Panji Tejo Laksono menatap kedua orang perwira tinggi prajurit Panjalu itu bergantian.
Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka saling berpandangan sejenak mendengar pertanyaan itu.
"Anu Gusti Pangeran, ini untuk kediaman selir hamba", Demung Gumbreg mulai buka suara.
HAAAHHHHH....!!!
Kaget Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga serta Dyah Kirana mendengar jawaban itu. Pikir mereka, selama ini Gumbreg sangat takut pada istrinya Juminten, kog berani-beraninya berniat mengangkat selir.
"Paman Gumbreg, nyali mu tinggi sekarang ya..
Kalau sampai Bibi Juminten tau, apa Paman sudah siap dengan resikonya?", tanya Luh Jingga yang memang cukup dekat dengan Demung Gumbreg.
"Ya jangan sampai tahu. Soalnya aku mengangkat selir ini adalah untuk....
Waaaddddaaaaauuuuwwwhhh!!", Demung Gumbreg langsung menjerit keras saat kaki nya diinjak oleh Tumenggung Ludaka. Sebelumnya keduanya telah sepakat untuk tidak memberitahu siapapun soal Kenanga. Melihat Demung Gumbreg hendak membocorkan rahasia itu, tentu saja dia tidak akan membiarkannya.
"Kenapa kau injak jempol kaki ku, Lu? Ini sudah cantengan dari kemarin. Sakit tahu..!!", Demung Gumbreg meringis mengelus kakinya yang berdarah.
"Aku melihat tadi ada nyamuk di kaki mu jadi aku terpaksa menginjak kaki mu itu..", jawab Tumenggung Ludaka enteng.
"Dasar kawan tidak ada otak..
Panji Tejo Laksono langsung geleng-geleng kepala melihat ulah kedua orang tua itu.
Usai berbincang cukup lama dengan dua orang perwira paruh baya itu, Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana serta Luh Jingga pamit pulang ke Istana Katang-katang.
Selepas mereka pergi, Tumenggung Ludaka segera menyikut dada Demung Gumbreg.
"Kau sebaiknya tutup mulut mu, Mbreg..
Jangan sembarangan membocorkan rahasia ini. Kalau sampai ini menyebar, keselamatan Kenanga adalah taruhannya dan rencana kita untuk membantu Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono duduk di singgasana Yuwaraja Panjalu akan sulit di lakukan. Kau mengerti?".
"Aku mengerti Lu.. Mulut ku ini memang sulit di ajak bekerjasama. Kau harus sering-sering mengingatkanku", jawab Demung Gumbreg. Mereka berdua kembali melanjutkan rencana untuk membangun puri kecil untuk Kenanga.
Di ruang pribadi raja, Prabu Jayengrana sedang mengernyitkan keningnya setelah mendengar kata-kata yang baru saja di omongkan oleh Mpu Kepung.
"Apa sebaiknya kita menanyai Tejo Laksono dulu Kangmas Prabu?", ujar Dewi Anggarawati yang duduk mendampingi sang raja Panjalu itu.
"Mohon ampun Gusti Ratu Pertama..
Tugas ini jujur saja sangat berbahaya. Memasuki wilayah musuh yang baru saja kita kalahkan tentu akan membuat mereka akan menaruh dendam pada kita.
Tapi kita tidak bisa terus-terusan menanggung biaya hidup para tawanan yang ada di benteng pertahanan kita. Kita baru saja melakukan peperangan dan ini sangat menguras keuangan kerajaan kita", ujar Mpu Kepung sembari menghormat pada Dewi Anggarawati.
"Aku tidak keberatan jika putra ku yang harus berangkat ke Jenggala, Mahamantri.
__ADS_1
Tapi putra ku masih kelelahan setelah beberapa kali memimpin perang di tiga tempat berbeda. Tentu dia butuh waktu istirahat untuk memulihkan tenaga nya kembali", ujar Dewi Anggarawati dengan cepat.
"Keberangkatan ke Jenggala tidak harus hari ini, Gusti Ratu Pertama..
Kami hanya percaya dengan kemampuan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono yang memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi untuk melakukan tugas ini", sahut Mpu Gandasena seraya menghormat pada Dewi Anggarawati.
Prabu Jayengrana menghela nafas berat mendengar ucapan mereka. Sekalipun tahu bahwa Panji Tejo Laksono akan menerima tugas apapun yang dia perintahkan, namun dari lubuk hati yang paling dalam dia tidak rela putranya itu harus menanggung beban itu seorang diri.
"Aku akan mempertimbangkan usulan kalian. Tapi perkara mau tidak nya Panji Tejo Laksono berangkat ke Jenggala, itu lain urusan.
Sebagaimana kata Dinda Anggarawati, Tejo Laksono pasti sangat kelelahan setelah beberapa kali melakoni pertarungan yang menguras tenaga dan pikiran. Jadi biarkan aku mencari sendiri pemecahan masalah ini.
Kalian semua boleh undur diri", Prabu Jayengrana segera mengibaskan tangannya sebagai isyarat kepada para punggawa Istana Kotaraja Kadiri itu untuk segera pergi.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", ujar Mpu Kepung, Mpu Gandasena dan Wiku Wikalpa sembari menghormat pada Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana. Meski masih belum mendapatkan kepastian dari sang raja, mau tidak mau mereka segera undur diri dari ruang pribadi raja.
Setelah mereka bertiga pergi, Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana segera menepuk tangan nya dua kali. Dua orang prajurit penjaga ruang pribadi raja segera menyembah pada sang penguasa Kerajaan Panjalu itu.
"Panggil Panji Tejo Laksono kemari..
Ada yang perlu aku bicarakan dengan nya", titah sang raja dengan cepat. Dua orang prajurit itu segera menyembah pada Prabu Jayengrana sebelum meninggalkan ruang pribadi raja.
Setelah beberapa saat lamanya, Panji Tejo Laksono datang ke tempat itu dengan kawalan dua orang prajurit penjaga. Sang pangeran segera duduk bersila di lantai ruang pribadi raja sedangkan dua orang prajurit yang mengawalnya kembali ke tempat mereka bertugas.
"Sembah bakti saya Kanjeng Romo Prabu..
Ada perlu apa kiranya hingga Kanjeng Romo Prabu memanggil saya kemari?", tanya Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada sang ayah dan ibunya.
"Putraku Tejo Laksono..
Sebenarnya aku berat untuk mengatakannya tapi ini juga menjadi masalah yang dihadapi oleh Panjalu saat ini", jawab Prabu Jayengrana sambil menghela nafas panjang.
"Mohon Kanjeng Romo Prabu segera mengatakannya. Siapa tahu saja saya bisa membantu memberikan pemecahan permasalahan yang sedang di hadapi oleh negeri ini", tukas Panji Tejo Laksono segera.
Hemmmmmmm..
Prabu Jayengrana kemudian menceritakan tentang keadaan keuangan kerajaan Panjalu setelah menghabiskan banyak biaya untuk perang yang baru saja selesai mereka hadapi. Di tambah lagi beban yang harus di tanggung pemerintah Panjalu terhadap para tawanan perang Jenggala yang jumlahnya mencapai puluhan ribu orang.
Kemudian sejumlah punggawa istana negara menganjurkan agar pihak Panjalu mengirim utusan ke Jenggala untuk membicarakan masalah ini.
"Lantas siapa yang hendak di utus ke Jenggala, Kanjeng Romo Prabu? Tugas ini sangat berat karena kita akan memasuki wilayah musuh yang baru saja kita kalahkan", ujar Panji Tejo Laksono sembari menatap wajah Prabu Jayengrana seakan meminta jawaban.
"Para punggawa istana mengusulkan agar kau yang berangkat ke sana, putra ku..
Itu bukan kewajiban mu, kau boleh menolak jika merasa keberatan", sahut Dewi Anggarawati seakan ingin meminta agar Panji Tejo Laksono menolaknya.
"Kanjeng Biyung Ratu,
Saya paham dengan apa yang kau maksud kan tetapi.. Menjadi ksatria yang selalu mengutamakan dharma dan negara, adalah keinginan Ananda. Jadi mohon Biyung Ratu mengijinkan aku yang berangkat ke Jenggala", ujar Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Dewi Anggarawati.
"Kalau itu yang menjadi keinginan mu, Biyung tidak akan bisa berbuat apa-apa. Saat nanti kau berangkat ke Jenggala, berhati-hatilah putra ku.
Biyung akan selalu mendoakan mu pada Hyang Agung agar selalu melindungi mu", ujar Dewi Anggarawati sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati sang pangeran. Segera putri Adipati Tejo Sumirat dari Seloageng itu memeluk tubuh putranya.
Setelah Dewi Anggarawati melepaskan pelukannya, Panji Tejo Laksono kemudian berkata,
__ADS_1
"Tapi sebelumnya saya minta waktu 2 pekan untuk beristirahat memulihkan tenaga.
Saya akan pulang ke Seloageng".