Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pengelana dari Jauh


__ADS_3

"Kau tidak perlu tahu darimana pedang pusaka ini. Ini kesempatan terakhir mu untuk pergi dari tempat ini, kakek tua.


Kalau kau pergi sekarang, aku akan membiarkan mu. Tapi kalau kamu memaksa untuk membela murid mu yang kurang ajar itu, jangan salahkan aku jika bertindak tegas", ucap Panji Tejo Laksono sambil menatap tajam ke arah Mpu Selawana.


Phhuuuiiiiiihhhhh..!


"Kau pikir dengan membawa pedang pusaka itu maka kau sudah menang dari ku. Aku belum kalah dari mu, bocah bau kencur!".


Usai berkata demikian, Mpu Selawana segera memutar tongkat besi nya dan dengan cepat mengayunkan nya pada Panji Tejo Laksono. Selarik sinar kuning kehitaman yang diikuti oleh angin berbau wangi segera menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono.


Whhhhuuuuggghhh!


Sekali hentak, tubuh Panji Tejo Laksono melenting tinggi ke udara. Hingga sinar kuning kehitaman itu menghantam batu besar yang ada di belakang Panji Tejo Laksono.


Blllaaammmmmmmm!


Batu sebesar tubuh kerbau itu langsung meledak berkeping-keping. Sementara itu Panji Tejo Laksono mendarat di atas pelepah daun kelapa yang tumbuh di tepi jalan raya. Segera Iblis Picak menghantamkan tangan kirinya yang berwarna biru kehitaman dari Ajian Awan Pelebur Jiwa ke arah Panji Tejo Laksono.


Shhiiiuuuuuuttttt!!!


Melihat itu, Panji Tejo Laksono langsung menebas pelepah daun kelapa hingga dia meluncur turun ke bawah menghindari sinar biru kehitaman yang di lepaskan oleh Mpu Selawana.


Blllaaaaaarrr!


Kraaatttaaakkkk....


Brrruuuaaaaakkkkh!!!


Ujung pohon kelapa itu meledak dan patah akibat terkena hantaman Ajian Awan Pelebur Jiwa milik Iblis Picak dari Sungai Wulayu. Sementara itu Panji Tejo Laksono meluncur turun ke arah Mpu Selawana dengan pelepah daun kelapa untuk menyerangnya.


Mpu Selawana dengan cepat bersalto mundur berulang kali menghindari sambaran pelepah daun kelapa yang di tumpangi oleh sang pangeran muda. Begitu ada ruang kosong untuk menyerang, Iblis Picak dari Sungai Wulayu itu segera menghantamkan gagang tongkat besi hitam nya ke arah pelepah daun kelapa yang menyerangnya.


Whuuthhh!


Blllaaaaaarrr!!


Panji Tejo Laksono langsung melenting tinggi ke udara, bersalto sekali dan mendarat sejauh dua tombak di belakang Mpu Selawana. Kali ini dia sudah merasa cukup puas bertarung dengan Iblis Picak dari Sungai Wulayu itu. Segera dia merapal Ajian Tameng Waja untuk melindungi diri. Secepat kilat, sinar kuning keemasan membungkus tubuh sang pangeran muda.


Melihat Panji Tejo Laksono yang berhenti bergerak, Mpu Selawana langsung melesat cepat kearah Panji Tejo sembari menghantamkan tongkat besi hitam nya ke tubuh sang pangeran muda.


Kali ini Panji Tejo Laksono tidak berusaha untuk menghindar ataupun menangkis serangan itu.


"Modar kowe, bocah bau kencur!"


Thrrraaannnnggggg!!


Jllleeeebbbbpph!


Denting nyaring terdengar saat tongkat besi hitam nya menghajar tubuh Panji Tejo Laksono yang di bungkus sinar kuning keemasan. Mata Iblis Picak dari Sungai Wulayu melebar melihat senjata andalannya yang di lambari Ajian Mawa Geni tidak mampu menggores kulit Panji Tejo Laksono.


Di saat yang bersamaan, dia merasakan sesuatu yang panas menembus ulu hati hingga punggungnya. Saat dia menyadari hal yang terjadi, Panji Tejo Laksono menyeringai lebar sembari mencabut Pedang Naga Api yang menusuk perut lelaki tua itu.


"Ka-kau ba-bajingannnn licik!!!"


Mpu Selawana terhuyung huyung mundur sambil membekap luka yang menganga di perutnya. Luka robek lebar itu terus mengucurkan darah segar. Tak lama kemudian Mpu Selawana roboh ke tanah. Tubuhnya mengejang hebat sebentar lalu diam untuk selamanya. Hari itu Iblis Picak dari Sungai Wulayu, tokoh besar golongan hitam dunia persilatan Tanah Jawadwipa, tewas bersimbah darah di tangan Panji Tejo Laksono.


Melihat kematian gurunya, dua murid Iblis Picak dari Sungai Wulayu kabur menyelamatkan diri. Benggol sendiri tewas di tangan Demung Gumbreg dengan kepala remuk di kepruk pentung sakti nya.


Panji Tejo Laksono langsung menyarungkan Pedang Naga Api kembali dan membungkus nya dengan kain hitam yang di bawanya.


"Terimakasih atas bantuan mu, Nyi Kinanti. Tanpa pemberitahuan dari mungkin aku sudah mati di tangan Iblis tua itu", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.


"Itu bukan sesuatu yang penting, Kisanak.. Lagipula kalian tadi sudah membantu ku mengamankan warung makan ku dari ulah si Benggol, jadi kita impas sekarang", jawab Nyi Kinanti seraya mengangguk mengerti. Saat mereka sedang berbincang, Jaluwesi berlari cepat kearah Panji Tejo Laksono dan Nyi Kinanti.


"Gusti Pangeran.. Celaka Gusti..


Luh Jingga terkena racun saat bertarung melawan anak murid iblis tua itu", ucap Jaluwesi dengan cepat.

__ADS_1


Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono langsung berlari menuju ke arah Nini Luh Jingga yang sedang di rebahkan tubuh nya di bawah pohon rindang. Pun Nyi Kinanti segera mengikuti langkah sang pangeran muda mendekati Luh Jingga yang pucat wajahnya. Sebuah luka sayatan pedang pada lengan atas kiri Luh Jingga nampak berwarna hitam dan terus mengeluarkan darah kehitaman.


"Kakang Tejo,


Bagaimana ini? Luh Jingga Kakang..", raut wajah panik terlihat pada Gayatri yang memangku kepala Luh Jingga.


"Kita harus cepat membawa Luh Jingga ke kota untuk mencari tabib. Ayo cepat!", perintah Panji Tejo Laksono segera.


"Tunggu, kau tidak akan sempat menolong nyawa nya saat sampai di Kota Pakuwon Randublatung.


Dia terkena Racun Kumbang Merah. Hidupnya tidak akan bertahan lebih dari seperempat hari. Aku bisa menolong nya kalau diijinkan", sergah Nyi Kinanti dengan cepat.


"Baiklah, cepat kau tolong Luh Jingga, Nyi..


Tolong selamatkan nyawa nya", ujar Panji Tejo Laksono segera.


Mendengar permintaan itu, Nyi Kinanti dengan cepat memeriksa denyut nadi di tangan kanan Luh Jingga.


"Untung saja racun nya belum menyebar terlalu lama. Tolong bantu dia untuk duduk bersila, cepatlah!", perintah Nyi Kinanti. Gayatri yang memangku kepala Luh Jingga langsung membantu Luh Jingga untuk duduk bersila.


Hupph!


Thukk! thuukk!!


Dengan gerakan cekatan dan gesit, Nyi Kinanti segera menotok beberapa titik nadi utama di tubuh Luh Jingga. Lalu perempuan cantik itu segera duduk bersila di belakang punggung putri Resi Damarmoyo itu sembari menotok beberapa jalan darah di punggung Luh Jingga.


Lalu Nyi Kinanti segera merogoh kantong baju nya, mengeluarkan botol keramik kecil bersumbat kayu randu. Segera dia mengambil sebutir pil berwarna merah dari dalam botol keramik kecil itu segera.


"Tolong ambilkan air. Lalu minumkan pil penawar racun itu kepadanya", ucap Nyi Kinanti segera. Demung Gumbreg yang ikut mendekat, langsung bergegas mengambil bumbung bambu yang biasa dia gunakan untuk menyimpan air selama perjalanan kemudian mengulurkan nya pada Panji Tejo Laksono yang berjongkok di depan Luh Jingga. Dengan segera, Panji Tejo Laksono meminumkan air dan obat penawar racun yang di berikan oleh Nyi Kinanti.


Setelah Luh Jingga meminum obat penawar racun, Nyi Kinanti langsung menyalurkan tenaga dalam nya pada punggung Luh Jingga.


Huuuuooogggghhh!


Luh Jingga muntah darah kehitaman pertanda darah itu mengandung racun keji. Nyi Kinanti terus menotok beberapa titik nadi di punggung Luh Jingga. Putri Resi Damarmoyo itu terus menerus muntah darah kehitaman berulang kali. Namun semakin lama warna hitam semakin menghilang. Setelah muntah darah terakhir terlihat segar seperti biasa, Nyi Kinanti segera melepaskan totokan nya. Seluruh racun di tubuh Luh Jingga telah di keluarkan. Bahkan luka sayat di lengan kiri nya hanya terlihat seperti luka sayat biasa.


Gayatri merobek selendang bajunya untuk membalut luka di lengan kiri Luh Jingga. Sementara itu Panji Tejo Laksono menggantikan Nyi Kinanti menyalurkan tenaga dalam nya pada Luh Jingga untuk merawat luka dalam nya.


Sepertinya kita tidak bisa meneruskan perjalanan lagi. Sebentar lagi malam menjelang, sebaiknya kita beristirahat di tempat ini saja", ujar Tumenggung Ludaka sambil menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Kalau begitu, carilah tempat untuk kita bermalam Paman. Lagi pula Luh Jingga sedang lemah, kita tidak bisa memaksakan kehendak untuk terus bergerak", jawab Panji Tejo Laksono sembari mengangguk mengerti.


Usai mendapat perintah dari Panji Tejo Laksono, Tumenggung Ludaka segera mencari tempat untuk bermalam. Tak jauh dari tempat mereka, ada sebuah bangunan kosong yang sepertinya sering di singgahi orang yang kemalaman di jalan. Tumenggung Ludaka memutuskan untuk mengajak Panji Tejo Laksono bermalam di tempat itu. Sementara para prajurit pengawal sudah selesai mengurusi mayat Iblis Picak dari Sungai Wulayu dengan melemparkan nya ke jurang agar menjadi mangsa binatang buas.


Senja dengan cepat berganti malam. Api unggun menyala menerangi seluruh bangunan kosong itu. Tumenggung Ludaka telah menetapkan giliran jaga untuk melindungi semua orang. Sementara itu Gayatri di bantu Demung Gumbreg dan Siwikarna menyiapkan makanan yang menjadi bekal perjalanan mereka berupa dendeng daging kering dan nasi putih. Tadi sebelum gelap Jaluwesi sempat mencabut dua pohon singkong yang tumbuh liar di dekat tempat itu hingga menjadi penambah makan malam mereka.


"Bagaimana keadaan Luh Jingga, Nyi?", tanya Panji Tejo Laksono pada Nyi Kinanti yang sedang menyeka keringat yang membasahi kening Luh Jingga.


"Kisanak tak perlu khawatir dengan perempuan ini. Sebentar lagi pasti akan sadar. Dia hanya sedikit lemah karena pengaruh Racun Kumbang Merah itu.


Ada yang perlu aku tanyakan pada mu. Pertanyaan ini dari tadi mengganggu pikiran ku", Nyi Kinanti menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono.


"Tanyakan saja Nyi. Kau sudah menolong orang ku, tentu saja aku harus membayar pertolongan mu", ujar Panji Tejo Laksono segera.


"Para pengikut mu memanggil mu dengan sebutan Gusti Pangeran. Apa kau ini benar-benar seorang pangeran?", tanya Nyi Kinanti sembari menatap ke arah Panji Tejo Laksono seakan mencari kejujuran dalam setiap jawaban nya.


"Dia memang seorang pangeran, Nyi...


Dia adalah putra sulung Prabu Jayengrana dari Kadiri", sahut Gayatri yang datang membawa piring kayu yang berisi makan malam. Tersentak Nyi Kinanti mendengar ucapan Gayatri.


"Pu-putra sulung Prabu Jayengrana?


I-itu berarti dia anak raja Panjalu? Jagat Dewa Batara, apa yang sudah ku lakukan?


Gus-Gusti Pangeran, maafkan aku telah tidak sopan pada mu. Mohon ampuni aku, Gusti Pangeran", Nyi Kinanti segera berlutut dan menyembah pada Panji Tejo Laksono.


"Hei apa yang sudah kau lakukan Nyi?

__ADS_1


Jangan seperti ini, berdirilah. Jangan terlalu banyak adat padaku", ucap Panji Tejo Laksono sambil mengangkat bahu Nyi Kinanti.


"Terimakasih atas kebaikan hati Gusti Pangeran", Nyi Kinanti segera duduk bersimpuh di hadapan Panji Tejo. Mereka kemudian duduk bersama, memperbincangkan banyak hal.


Malam semakin larut. Panji Tejo Laksono sudah merebahkan tubuhnya di tempat yang sudah di siapkan, begitu juga dengan Gayatri yang memilih tidur di dekat Luh Jingga. Cuaca dingin bercampur angin kencang yang menderu membawa uap air menandakan bahwa hujan akan segera turun.


Di iringi kilat dan suara guntur bergemuruh, hujan deras mengguyur sekitar tempat itu. Demung Gumbreg yang sudah tertidur pulas terpaksa harus bangun karena atap bangunan kosong di atas tempat tidurnya bocor. Sambil menggerutu, dia berpindah ke sebelah Tumenggung Ludaka yang masih terjaga di dekat perapian.


"Kau kog sudah bangun Mbreg? Ini kan belum giliran mu jaga", tanya Tumenggung Ludaka sambil menggeser posisi tubuhnya untuk memberi ruang kepada Demung Gumbreg berdiang di depan api unggun.


"Bagaimana aku bisa tidur kalau air hujan membasahi tubuhku Lu? Kau ini ada ada saja", omel Demung Gumbreg yang segera menyambar singkong bakar di depannya.


"Ya sudah, kau gantikan aku berjaga. Aku mengantuk sekali hooooaaaahhhmmmmm", Tumenggung Ludaka menguap lebar sambil bergegas merebahkan tubuhnya di dekat perapian itu.


"Huhhhhh dasar tidak setia kawan. Aku bangun malah di tinggal tidur", gerutu Demung Gumbreg. Dia segera melemparkan kayu kering yang di kumpulkan tadi sore untuk menjaga nyala api terus berkobar. Siwikarna yang bertugas menjaga mereka pun merapatkan selimut penutup tubuhnya karena udara semakin dingin menusuk tulang.


Dari arah pintu bangunan yang terbuka, muncul 3 orang yang basah kuyup oleh air hujan.


"Kulonuwun, Kisanak!"


Khyyaaaaaaaa....!!!!


Kaget Demung Gumbreg dan Siwikarna mendengar suara yang tiba-tiba muncul di arah pintu bangunan itu. Saking kagetnya, Demung Gumbreg sampai meloncat dari tempat duduknya dan menginjak kaki Tumenggung Ludaka yang sedang tertidur. Akibatnya, Tumenggung Ludaka yang baru saja tertidur beberapa saat langsung terbangun sambil mengaduh kesakitan.


"Aduhh kaki ku diinjak kebo!"


Setelah melihat Demung Gumbreg yang berdiri di dekat nya, Tumenggung Ludaka langsung mendelik ke arah perwira bertubuh tambun itu.


"Hei Kebo,


Kenapa kau injak kaki ku ha? Kau ada dendam dengan ku?", omel Tumenggung Ludaka sambil mengelus kakinya yang sakit.


"I-itu Lu.. Ada ada hantu", Demung Gumbreg langsung menunjuk ke arah pintu bangunan kosong. Segera Tumenggung Ludaka menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Demung Gumbreg. Benar saja ada tiga sosok berpakaian putih yang terlihat basah kuyup.


"Hantu dengkul mu itu,


Itu orang yang kehujanan. Lihat kaki nya menapak tanah. Dasar kebo penakut", maki Tumenggung Ludaka sambil berdiri dari tempat tidur nya. Mendengar perkataan itu, Demung Gumbreg menatap ke arah ketiga orang itu segera.


"Ah brengsek menakuti orang saja.


Heh siapa kalian? Kenapa di malam hujan deras begini keluyuran di tengah hutan seperti ini? Kalian perampok ya?", ujar Demung Gumbreg sambil mendengus kesal karena kehadiran mereka.


"Hei Kisanak, jaga bicaramu ya.. Kami ini kemalaman di jalan, dan bingung mencari tempat untuk berteduh.


Seenaknya saja menuduh orang", sahut seorang diantara mereka yang merupakan seorang wanita muda.


"Irawati, jaga sikap mu..


Maafkan kami mengganggu istirahat kalian Kisanak. Kami benar-benar mencari tempat untuk berteduh. Tadi kami bermalam di ujung hutan sama tapi karena hujan, kami terpaksa berpindah tempat untuk berteduh. Aku Begawan Suradharma mohon welas asih kalian untuk mengijinkan kami menumpang berteduh di sini", ujar seorang lelaki sepuh berjenggot putih panjang yang mengaku bernama Begawan Suradharma itu dengan sopan.


"Silahkan silahkan saja, Begawan Suradharma. Tempat ini masih cukup luas untuk berteduh kalian. Kalau mau, kalian bisa berdiang untuk menghangatkan tubuh", jawab Tumenggung Ludaka dengan santun.


Mendengar jawaban itu, Begawan Suradharma membungkuk hormat kepada Tumenggung Ludaka. Bersama dengan Irawati dan seorang murid lelaki nya yang bernama Sujiwa, mereka bertiga segera duduk di dekat api unggun yang menyala untuk mengeringkan pakaian mereka yang basah.


"Sebenarnya tujuan kalian mau kemana, Begawan Suradharma? Kenapa kalian bertiga bisa sampai kemalaman di tempat ini?", tanya Tumenggung Ludaka yang segera duduk bersila di lantai. Rasa kantuknya lenyap seketika akibat injakan kaki Gumbreg tadi.


"Kami berasal dari Bojonegoro, ingin ke Gunung Damalung di barat Gunung Lawu untuk menghadiri pertemuan pendekar yang diselenggarakan oleh Padepokan Pedang Awan.


Saat ini pimpinan aliran putih sedang kosong setelah meninggalkan Maharesi Purnamasidi dari Gunung Mandrageni meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Ada beberapa pendekar yang berambisi untuk menggantikan posisinya, jadi takutnya ada pertumpahan darah disana.


Aku pribadi sudah meminta bantuan kepada pemerintah Kadipaten Kembang Kuning untuk mengirimkan wakil sebagai penengah antara mereka. Semoga saja itu berhasil meredam pergolakan setelah mangkatnya Maharesi Purnamasidi", jawab Begawan Suradharma sambil tersenyum simpul.


"Ada perjanjian tidak tertulis yang diterima oleh semua pihak bahwa pihak kerajaan Panjalu tidak akan ikut campur dalam urusan dunia persilatan, namun jika pergolakan pemilihan pimpinan aliran putih ini mengganggu keamanan negara, maka pihak Istana Katang-katang akan bertindak tegas.


Bukankah seperti itu, Begawan Suradharma?", Tumenggung Ludaka menambahkan kayu kering di perapian sambil tersenyum.


"Kisanak begitu memahami aturan yang berlaku. Siapa kalian ini sebenarnya?", tanya Sujiwa yang sedari tadi memperhatikan sekeliling tempat itu.

__ADS_1


"Oh tentu saja kami paham karena kami ini..", belum sempat Demung Gumbreg menyelesaikan omongannya, sebuah suara menyahut omongan Demung Gumbreg dari belakang.


"Pengelana dari Jauh"


__ADS_2