Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Rencana Selanjutnya


__ADS_3

Di bawah keremangan cahaya bulan separuh yang menggantung di langit malam, pertarungan antara para prajurit Panjalu dan Rajapura berlangsung sengit. Kedua pihak sama-sama tidak ingin kalah. Namun karena yang tersisa dari para prajurit Rajapura hanya para prajurit biasa, perlawanan sengit mereka sama sekali tidak berguna. Satu persatu dari mereka mulai berjatuhan, tewas di tangan para prajurit Panjalu.


Adipati Rajapura, Waramukti, masih menatap ke arah kepulan asap tebal yang menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Namun mata penguasa Tanah Rajapura itu melebar setelah melihat asap tebal itu mulai menghilang.


Perlahan Panji Tejo Laksono muncul di tengah kepulan asap tebal. Selayaknya seorang dewa yang baru saja turun dari kahyangan dan menginjakkan kakinya ke atas bumi, tubuh sang pangeran muda dari Kadiri ini bersinar kuning keemasan.


"Apa kau masih keras kepala tidak mau menyerah Adipati Waramukti?!


Ini kesempatan terakhir untuk mu!", ujar Panji Tejo Laksono sembari menatap tajam ke arah Adipati Waramukti. Pangeran muda dari Kadiri ini terlihat sangat menakutkan.


"Huhhhhh...


Aku akan berhenti sampai Jayengrana turun dari tahtanya dan menyerahkan nya pada ku sebagai penerus Kangmas Pangeran Suryanata", ujar Adipati Waramukti dengan penuh kesombongan. Pria berkumis tipis ini terlihat sama sekali tidak takut dengan Panji Tejo Laksono meski dua serangan nya sama sekali tidak mampu melukai tubuh Panji Tejo Laksono.


"Rupanya kau memang harus di musnahkan dari muka bumi ini, Waramukti!", Panji Tejo Laksono menggeram keras sembari mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki. Hawa panas menyengat langsung menyebar ke seluruh tempat itu. Perlahan aura merah kekuningan seperti cahaya matahari tercipta dari tubuh Panji Tejo Laksono. Kali ini dia bermaksud untuk menghabisi nyawa Adipati Waramukti dengan Ilmu Sembilan Matahari tahap akhir yang bernama Sembilan Matahari Menyinari Dunia.


Para prajurit yang sedang bertarung pun tak sanggup berdekatan dengan tempat pertarungan antara Panji Tejo Laksono dan Adipati Dolken. Demung Gumbreg yang memiliki tenaga dalam tinggi saja harus menjauh 4 tombak jauhnya karena merasakan panasnya angin panas yang menyertai aura merah kekuningan yang keluar dari tubuh Panji Tejo Laksono.


Diam diam Adipati Waramukti merasakan kengerian luar biasa melihat kemampuan kanuragan milik lawan. Namun dia masih bertekad untuk mengalahkan Panji Tejo Laksono dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam nya.


Saat Ilmu Sembilan Matahari tahap akhir sudah selesai di persiapkan, Panji Tejo Laksono langsung menghantamkan bola sinar merah kekuningan yang berisi delapan bola sinar yang lebih kecil.


"Sembilan Matahari Menyinari Dunia...


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt..!!!"


Bola besar sinar merah kekuningan itu langsung melesat cepat kearah Adipati Waramukti yang mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada Ajian Cadas Ngampar. Meski sedikit takut, Adipati Waramukti segera memapak bola sinar merah kekuningan yang di hantamkan pada nya.


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!


BLLLAAAMMMMMMMM !!!


Ledakan dahsyat terdengar saat membentur tubuh Adipati Waramukti. 8 bola sinar merah kekuningan kecil lainnya itu langsung mengarah ke arah Pendopo Agung Kadipaten Rajapura, menciptakan delapan ledakan keras beruntun seperti bunyi petir menghantam pepohonan.


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!


Gllleeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrrr...


Kraaatttaaakkkk Bruuuuaaaakkkkhhh !!

__ADS_1


Pendopo Agung Kadipaten Rajapura meledak keras dan roboh di sertai dengan bunyi yang memekakkan gendang telinga. Ratusan prajurit yang bertarung di dekat pendopo agung sebagian besar terkena imbas dari ledakan dahsyat beruntun itu. Yang sempat melihat bisa selamat meski mengalami luka luka, sedangkan yang naas langsung tewas seketika setelah terkena pecahan benda-benda dari meledaknya Pendopo Agung Kadipaten Rajapura. Debu beterbangan menyertai kepulan asap yang menyelimuti seluruh tempat itu.


Perang antara para prajurit yang setia dengan Adipati Waramukti melawan para prajurit Panjalu langsung terhenti seketika setelah kejadian itu.


Apalagi saat melihat Adipati Waramukti yang tewas dengan keadaan mengerikan. Tubuh penguasa Kadipaten Rajapura itu tergeletak tak bernyawa. Seluruh tubuh nya hangus seperti terbakar api, bahkan pakaian nya pun juga ikut menjadi abu. Jika sebelumnya mereka tidak tahu bahwa lawan Panji Tejo Laksono adalah Adipati Waramukti, maka sulit sekali untuk percaya bahwa yang menjadi mayat gosong itu adalah penguasa Rajapura.


Begitu melihat Adipati Waramukti tewas di tangan Panji Tejo Laksono, sisa sisa prajurit Rajapura yang setia kepadanya langsung melemparkan senjata mereka masing-masing ke tanah dan berlutut sambil meletakkan tangan di belakang kepala sebagai tanda menyerah tanpa syarat.


Sorak sorai para prajurit Panjalu pun terdengar memenuhi sekitar istana Rajapura.


"Hidup Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono!


Hidup Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono!


Hidup Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono!!"


Saat para prajurit Panjalu tengah bersuka cita dengan kemenangan ini, dari arah pintu gerbang istana Rajapura, serombongan orang bergegas masuk ke dalam istana. Mereka tak lain adalah Senopati Agung Narapraja, Mapanji Jayawarsa dan Tumenggung Sindupraja. Sang pengawal pribadi Mapanji Jayawarsa, Demung Randuwangi juga mengekor di belakangnya. Tak lupa juga para wanita Panji Tejo Laksono yang tidak di libatkan pada penyerbuan malam hari itu juga ikut. Rupanya ledakan dahsyat beruntun saat Pendopo Agung Kadipaten Rajapura meledak suaranya terdengar hingga puluhan tombak jauhnya dan membuat seisi Kota Rajapura yang terlelap menjadi terbangun dan mencari ke arah sumber suara.


"Sembah bakti hamba Gusti Pangeran..


Apakah Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono baik baik saja?", tanya Senopati Agung Narapraja begitu sampai di dekat Panji Tejo Laksono.


Kau tidak perlu mencemaskan keadaan ku. Yang jelas kini ancaman keamanan di wilayah barat Panjalu telah berakhir", Panji Tejo Laksono menggerakkan tangan kanannya ke arah mayat Adipati Waramukti yang tergeletak di depan Pendopo Agung Kadipaten Rajapura yang kini porak poranda rata dengan tanah.


Semua orang yang baru saja datang langsung menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Panji Tejo Laksono. Mereka saling berpandangan sejenak karena mereka masih belum memahami omongan Panji Tejo Laksono.


"Mohon ampun Gusti Pangeran.. Hamba masih belum memahami maksud titah Gusti Pangeran", sahut Senopati Agung Narapraja segera.


"Mohon maaf Kakang Senopati Agung Narapraja..


Itu adalah mayat Adipati Waramukti yang tewas di tangan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Gusti Pangeran mengeluarkan kedigdayaannya hingga berhasil membunuh Adipati Waramukti", sahut Senopati Muda Jarasanda segera.


"Kalau pendopo agung itu, siapa yang melakukannya?", Mapanji Jayawarsa yang penasaran ikut bertanya.


"Itu juga akibat ajian pamungkas Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, Gusti Pangeran", jawab Senopati Muda Jarasanda sambil tersenyum penuh arti. Semua orang yang ada terkejut bukan main mendengar jawaban Jarasanda, kecuali para wanita Panji Tejo Laksono yang pernah melihat langsung kedigdayaan calon suami mereka.


Demung Randuwangi terlihat menekuk wajahnya sembari menunduk. Di benaknya terbayang tugas berat menanti masa depan nya setelah melihat kemampuan kanuragan Panji Tejo Laksono yang luar biasa.


Malam itu, pemberontak Rajapura di taklukkan oleh para prajurit Panjalu di bawah pimpinan Panji Tejo Laksono. Dengan begitu, resmi pemerintahan daerah kekuasaan Adipati Waramukti ini menjadi kosong tanpa pemimpin. Saat itu juga, Panji Tejo Laksono memerintahkan kepada para prajurit Panjalu untuk membersihkan seluruh istana dari mayat mayat para prajurit Rajapura yang terbunuh. Setelah itu, bersama keempat orang calon istri nya Panji Tejo kembali ke tempat Nyi Sintren untuk beristirahat.

__ADS_1


Mapanji Jayawarsa menatap ke arah perginya putra sulung Prabu Jayengrana itu sembari menggerututkan giginya. Ada semacam perasaan yang tidak terungkapkan di wajah putra Ratu Ayu Galuh itu.


Malam dengan cepat di gantikan pagi. Suara kokok ayam jantan terdengar bersahutan seakan ingin membangunkan dunia dari dekapan dinginnya gelap malam yang menidurkan umat manusia.


Panji Tejo Laksono menggeliat dari ranjang tempat tidur nya saat pintu kamar di dorong dari luar. Rasa letih nya setelah semalam menguras tenaga dalam nya terasa hilang usai tidur nyenyak semalaman. Suara langkah kaki terdengar mendekat dan meletakkan sebuah nampan yang mana disana ada gendok tanah liat air cuci muka hangat yang di campur daun sirih. Juga secangkir wedang jahe hangat yang aromanya membuat Panji Tejo Laksono tersenyum simpul. Dengan jahil, Panji Tejo Laksono pura-pura tidur sembari terus mengawasi tindak tanduk gadis cantik itu.


Orang yang meletakkan nampan itu segera berjalan mendekati ke arah jendela kamar tidur bermaksud untuk membuka jendela kamar tidur agar cahaya mentari pagi membuat udara dingin di dalam kamar menjadi lebih hangat. Namun tangan kanan Panji Tejo Laksono lebih dulu menarik tangan kiri gadis cantik itu hingga sang gadis cantik oleng dan jatuh ke dalam dekapan hangat sang pangeran muda dari Kadiri.


"Eh ternyata Gusti Pangeran sudah bangun ya..


Mengagetkan ku saja", ujar si gadis cantik itu sembari tersenyum penuh arti.


"Tentu saja aku sudah bangun. Sedari kau membuka pintu kamar tadi, aku sudah bangun kog Luh hehehehe", Panji Tejo Laksono terkekeh kecil sembari memencet hidung mancung Luh Jingga.


"Ih jahatnya..


Tahu begitu, aku tidak akan membuka jendela kamar loh Gusti Pangeran. Sekarang tolong lepaskan aku, Gusti Pangeran. Cuci muka lah dulu supaya segar", ujar Luh Jingga seraya berusaha melepaskan diri dari pelukan hangat Panji Tejo Laksono.


"Ah tidak mau..


Nanti saja kalau aku sudah ingin mandi. Kau temani aku dulu disini ya", Panji Tejo Laksono tetap tidak mau melepaskan pelukannya.


"Tapi Gusti Pangeran, ini...", belum sempat Luh Jingga menyelesaikan omongannya, terdengar suara deheman keras dari arah pintu kamar.


Eheemmmm ekheemmmm ..!!


Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga segera menoleh ke arah pintu. Tiga orang wanita nya yakni Gayatri, Ayu Ratna dan Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari berdiri di sana sembari melotot tidak suka melihat kemesraan mereka berdua. Panji Tejo Laksono melonggarkan pelukannya dan Luh Jingga buru-buru berdiri menjauhi tempat tidur sang pangeran.


"Kangmas Pangeran,


Seperti nya Kangmas Pangeran harus segera menikahi kami. Harus segera, agar kami juga punya kesempatan yang sama untuk melayani mu seperti Luh Jingga", ujar Ayu Ratna sembari berkacak pinggang.


"Benar Kangmas Pangeran..


Ini demi keadilan untuk semua wanita mu. Luh Jingga sudah cukup lama melayani mu jadi tidak ada salahnya jika kami bertiga juga ikut membantu", imbuh Gayatri tak kalah sengit.


"Aku setuju dengan pendapat Cici berdua", sambung Song Zhao Meng dengan cepat.


Mendengar ucapan ketiga gadis cantik calon istri nya itu, Panji Tejo Laksono hanya menghela nafas berat. Dalam otaknya terbayang betapa ribetnya kehidupan nya saat mereka berempat bersama melayani nya. Namun sang pangeran muda dari Kadiri ini sudah tahu resikonya jika beristri lebih dari satu. Sembari tersenyum simpul, dia menatap kearah Luh Jingga, Song Zhao Meng, Ayu Ratna dan Gayatri sambil bertanya,

__ADS_1


"Kalian maunya kapan?"


__ADS_2