
Ramainya pengunjung di warung makan ini membuat Panji Tejo Laksono sedikit merasa heran saat masuk ke dalam nya. Ada aura aneh yang sedikit membuat bulu kuduk nya berdiri. Namun sang pangeran muda berupaya untuk tidak berpikiran macam-macam dan langsung duduk di salah satu bangku kosong yang ada di sudut ruangan warung makan yang lumayan besar ini. Song Zhao Meng, Dyah Kirana dan Ki Jatmika pun mengekor di belakangnya.
Seorang perempuan muda berbaju minim yang menonjolkan setiap lekuk tubuhnya berjalan lenggak-lenggok seperti tengah menggoda setiap mata yang memandangnya, berjalan mendekati meja makan tempat Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya duduk. Aroma wangi tubuhnya seperti pesona tersendiri bagi para lelaki yang ada di dalam tempat itu.
"Pendekar muda, selamat datang di warung makan kami..
Silahkan pesan sesuai keinginan. Kami akan melayani dengan sepenuh hati", ujar si perempuan muda itu dengan gaya sedikit genit. Bibirnya yang merah merona sengaja dibuat-buat dengan sedikit menggigit bibir bawahnya. Mata perempuan muda itu terus saja menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono seakan ingin menelannya bulat-bulat.
"Kami pesan makanan paling enak di tempat ini. Apa saja, yang penting bisa untuk mengganjal perut", ujar Panji Tejo Laksono segera.
"Kalau begitu, tunggulah sebentar ya.. Aku jamin kau pasti suka dengan masakan kami", ujar si perempuan muda itu dengan gaya menggoda nya yang khas. Sebelum berbalik badan, si wanita muda ini sempat mengerlingkan sebelah matanya ke arah Panji Tejo Laksono.
Dyah Kirana mendengus dingin. Dia sangat kesal dengan sikap perempuan muda itu yang sengaja menggoda Panji Tejo Laksono di depan mata nya. Dia melirik ke arah Song Zhao Meng yang juga menekuk wajahnya tanda geram pada wanita muda tadi.
"Kangmbok Wulandari, ada yang tidak beres dengan warung makan ini. Ada aura jahat yang menyebar ke seluruh ruangan. Kita harus berhati-hati di tempat ini", ujar Dyah Kirana segera.
"Hehehehe..
Nini Kirana, jangan asal menuduh. Kalau salah bisa berbahaya. Apa kau cemburu pada gadis muda itu hingga berkata seperti itu?", seloroh Ki Jatmika sambil meraih kendi air minum yang ada di meja mereka.
"Huuuhhhhhhh... Cemburu pada perempuan itu? Tidak sama sekali, dia tidak setingkat dengan ku ataupun Kangmbok Wulandari ataupun para wanita Kakang Tejo. Aku cuma kesal dengan ulah nya yang menggoda Kakang Tejo.
Tapi aku memang merasakan sesuatu yang aneh dengan tempat ini. Kau juga merasakannya kan Kakang?", Dyah Kirana mengalihkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono yang segera mengangguk cepat begitu Dyah Kirana selesai bicara.
Dyah Kirana segera menggosokkan kakinya ke lantai Warung Makan Kembang Sore ini sembari komat-kamit membaca mantra. Dengan cepat, satu hentakan kecil di lakukan oleh Dyah Kirana ke lantai. Terdengar suara kecil yang segera mengakibatkan sebuah aura bening berpendar cepat ke seluruh ruangan. Saat itu, mata Ki Jatmika, Song Zhao Meng dan Panji Tejo Laksono seketika melihat pemandangan yang mengerikan.
Sesosok makhluk menyeramkan dengan taring besar dan dua tanduk menghiasi kepalanya sedang duduk di samping pintu menuju ke arah dapur. Matanya yang memancarkan cahaya merah menyala seolah ingin menerkam semua orang yang lalu lalang di tempat itu. Sedangkan wajah para pelayan warung makan yang semula cukup menarik hati seketika berubah menjadi buruk rupa.
"Sihir ilusi apa ini?!!
Kenapa tiba-tiba mereka berubah menjadi buruk rupa begitu?", Ki Jatmika memukul kepalanya sendiri lalu mengucek matanya untuk menajamkan penglihatan seolah tak percaya melihat apa yang terjadi di depan mata nya.
__ADS_1
"Ini adalah ilusi yang tercipta dari ilmu pengasihan tingkat tinggi yang bernama Ajian Ilusi Asmara. Tak akan ada orang yang akan menyadari kalau mereka sudah terperangkap dalam ilusi ini begitu memasuki pintu masuk Warung Makan Kembang Sore ini", ujar Dyah Kirana segera.
"Jadi kita semua terkena perangkap ilmu pelet ini? Tapi kenapa kau dan Pendekar Tejo tidak terpengaruh?", tanya Ki Jatmika penasaran.
"Jangan lupa kalau aku adalah putri Resi Ranukumbolo, Ki. Semua orang di dunia persilatan Tanah Jawadwipa mengenal nya sebagai Penyihir Putih bukan?
Sejak kecil aku selalu diajari cara untuk menangkal sihir hitam maupun putih. Sekuat apapun sihir yang di lepaskan, aku akan tetap merasakan nya. Kalau Kakang Tejo, aku tidak tahu pasti tapi setahu ku dia punya sesuatu yang melindungi tubuh nya dari berbagai ilmu hitam, pangiwa ataupun teluh", ucapan Dyah Kirana itu segera menyadarkan Ki Jatmika bahwa kawan kawan seperjalanannya adalah para pendekar muda linuwih.
Sementara itu, perempuan yang sempat menggoda Panji Tejo Laksono segera berbisik pada salah seorang kawannya. Sang kawan mengangguk mengerti dan si perempuan muda tadi segera bergegas menuju ke arah dalam bangunan warung makan itu.
Agak jauh masuk ke dalam, seorang wanita cantik yang terlihat anggun dengan wajah tanpa riasan sedikitpun terlihat sedang duduk bersila di lantai sembari memejamkan mata. Pakaian nya yang berwarna biru muda dari kain sutra semakin menambah kecantikannya. Beberapa cunduk mentul berwarna keemasan bertengger manis di sanggul rambut nya yang ujungnya di biarkan bergerai begitu saja namun berhiaskan rangkaian bunga melati. Beberapa perhiasan yang menghiasi tubuhnya pun semakin menegaskan bahwa dia adalah seorang perempuan cantik yang mengagumkan.
Di depan perempuan cantik yang berusia sekitar 2 setengah dasawarsa ini terdapat sebuah kuali besar berisi air bening yang penuh bebungaan. Dari wujud nya, sepertinya itu adalah kelopak bunga mawar dan kenanga. Tak jauh dari itu, sebuah anglo tanah liat yang mengepulkan asap harum setanggi dan kemenyan semakin menambah suasana sakral di tempat itu.
Si wanita muda yang sempat menggoda Panji Tejo Laksono itu langsung menghormat pada perempuan cantik itu. Segera perempuan cantik yang duduk bersila itu berbicara tanpa membuka mata nya.
"Kenapa kau kemari, Kantil?
"Maaf Nyi Kembang Sore..
Ada beberapa orang yang masuk ke dalam warung makan kita tapi mereka tidak terpengaruh sama sekali dengan ilmu pengasihan yang ada di tempat kita. Saya takut ini akan menjadi masalah besar bagi kita, Nyi..", ucap si perempuan muda yang ternyata bernama Kantil ini segera.
Hemmmmmmm...
Terdengar suara dengusan nafas gusar dari si perempuan cantik ini lalu dia perlahan membuka matanya.
"Siapa mereka? Apa mereka orang-orang yang biasa mengganggu kita?", tanya perempuan cantik yang di panggil dengan nama Nyi Kembang Sore ini segera.
"Bukan Nyi.. Saya baru pertama kali melihat mereka datang ke tempat kita", jawab Kantil sembari membungkuk hormat pada Nyi Kembang Sore.
Hemmmmmmm..
__ADS_1
"Baiklah, akan ku lihat sejauh mana kemampuan mereka", setelah berkata demikian, Nyi Kembang Sore meraup kembang tujuh rupa yang ada di atas tampah.
Segera dia menaburkan bebungaan itu di atas kuali besar berisi air bening itu sambil komat-kamit membaca mantra.
Perlahan muncul gambar Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya yang sedang menunggu kedatangan pesanan mereka. Mata perempuan cantik itu langsung melebar begitu melihat ketampanan sang pangeran muda dari Kadiri ini.
"Tampan sekali...
Dia harus menjadi milik ku hehehehe.. Kantil, kau benar benar pintar mencarikan seorang pejantan untuk ku", ucap Nyi Kembang Sore sembari tertawa kecil.
Nyi Kembang Sore adalah seorang pendekar yang juga merupakan seorang dukun pengasihan yang tersohor. Dulu dia adalah istri Akuwu Tumapel namun setelah suaminya meninggal dunia dan di gantikan oleh adik iparnya, kehidupan perempuan cantik itu berubah total. Sang adik ipar yang menaruh hati pada nya menggunakan segala cara untuk mendapatkan tubuhnya. Namun Nyi Kembang Sore atau dulu dikenal sebagai Nyi Banowati sudah lebih dulu waspada dengan gerak gerik mencurigakan dari adik iparnya ini.
Tepat sebelum Akuwu Tumapel yang baru ingin memperkosa nya, Nyi Banowati berhasil kabur dengan bantuan dari dayang setia nya, Kantil. Setelah berhasil kabur dari istana Pakuwon Tumapel, Nyi Banowati lantas menuju ke arah Wanua Panawijen untuk pulang ke kampung halamannya. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Nyi Ayu Pangukir, seorang pendekar wanita yang di segani di dunia persilatan.
Nyi Ayu Pangukir yang bersimpati dengan nasib Nyi Banowati yang terlunta-lunta nasib nya, kemudian membawa perempuan cantik itu ke Padepokan Gunung Anjasmoro dan mengangkatnya menjadi murid. Disana Nyi Banowati diajari berbagai macam ilmu beladiri dan ilmu sihir termasuk Ajian Pengasihan Pemikat Sukma.
Sepeninggal Nyi Ayu Pangukir, Nyi Banowati memutuskan untuk meninggalkan Padepokan Gunung Anjasmoro dan berkelana ke Utara. Berbekal ilmu beladiri yang tinggi juga parasnya yang cantik, perempuan yang mengubah namanya menjadi Nyi Kembang Sore ini begitu cepat memperoleh ketenaran. Orang persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur menyebutnya sebagai Sang Ratu Pemikat.
Namun karena ingin tinggal dan menetap, akhirnya Nyi Kembang Sore membuka usaha berupa warung makan bersama Kantil yang setia menemaninya hingga saat ini.
Nyi Kembang Sore segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah warung makan nya yang sedang penuh pengunjung. Kedatangan nya langsung menarik perhatian para lelaki yang sedang menikmati makanan di tempat itu. Seakan mata mereka ingin melompat keluar dari dalam rongga mata saking terpana nya melihat kecantikan Nyi Kembang Sore.
Namun Nyi Kembang Sore mengacuhkan setiap ucapan yang keluar dari mulut para lelaki yang dia jumpai dan terus berjalan mendekati meja makan tempat Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya berada. Ini langsung menimbulkan rasa iri hati pada setiap lelaki yang memujanya.
"Selamat datang di warung makan kami, Kisanak..
Harap bersabar dalam menunggu hidangan terbaik kami di siapkan", ujar Nyi Kembang Sore dengan ramah. Dari sini terlihat jelas bahwa perempuan cantik itu tertarik pada Panji Tejo Laksono.
Dyah Kirana yang kurang suka melihat sikap Nyi Kembang Sore ini, langsung melengos membuang muka nya sambil berkata,
"Dasar perempuan penggoda..!!"
__ADS_1