
Gerimis yang turun tak menghalangi suasana tegang yang sedang terjadi.
Tumenggung Ludaka membantu Ki Lurah Mpu Dirgo yang luka dalam akibat hantaman tenaga dalam Mpu Walandit. Mulut orang yang di anggap sesepuh oleh warga Wanua Weleri ini mengeluarkan darah segar pertanda bahwa dia menderita cidera dalam serius. Tumenggung Ludaka segera menyalurkan tenaga dalam nya untuk membantu Mpu Dirgo mengobati luka dalam.
Mpu Walandit memicingkan matanya menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang kini berdiri di hadapannya. Kakek tua itu segera menoleh ke arah Mpu Dirno yang berdiri di samping nya.
"Apa dia orang yang menguasai Ajian Tameng Waja itu, Dirno?
Bocah bau kencur seperti dia, apa kau tidak salah lihat?", tanya Mpu Walandit sembari menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono. Ada semacam perasaan tak percaya dalam omongan Mpu Walandit setelah melihat Panji Tejo Laksono masih sangat muda.
"Benar Guru..
Pemuda ini yang menguasai Ajian Tameng Waja. Ajian Cadas Ngampar ku tidak mampu menggores kulit tubuh nya", jawab Mpu Dirno segera.
Mendengar jawaban Mpu Dirgo yang sangat meyakinkan, Mpu Walandit kembali menatap ke arah Panji Tejo Laksono seakan menelisik seluruh tubuh pangeran muda itu.
"Apa hubungan mu dengan Narashima, bocah?
Apa kau ini murid nya?", tanya Mpu Walandit sembari menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
"Apa hubungan ku dengan Mpu Narashima itu tidak penting, kakek tua..
Kau sudah berbuat onar di tempat ini. Aku sarankan agar kau segera pergi dari tempat ini. Jika tidak.....", Panji Tejo Laksono tidak menyelesaikan omongannya.
"Jika tidak apa? Kau mengancam ku?", Mpu Walandit mendelik ke arah sang pangeran muda.
"Jika tidak jangan salahkan aku jika terpaksa harus memakai cara kasar kepada orang tua seperti mu", lanjut Panji Tejo Laksono.
Phhuuuiiiiiihhhhh...
"Huahahahahahaha...
Rupanya kau punya nyali juga bocah tengik. Semua orang dunia persilatan saja gemetar jika mendengar nama ku, dan kau begitu mudahnya mengusir ku. Aku Mpu Walandit dikenal sebagai Si Jari Sakti dari Bukit Manoreh dan kau kunyuk sialan berani mengusir ku?
Sudah berapa banyak nyawa yang kau punya ha?", Mpu Walandit menggeram keras.
Mendengar namanya di sebutkan, Nalayana yang berdiri di bawah atap pendopo kediaman Lurah Wanua Weleri terkejut bukan main. Dirinya pernah mendengar bahwa kakek tua itulah yang mengobrak-abrik Padepokan Golok Setan hanya karena persoalan sepele. Bahkan pimpinan Padepokan Golok Setan pun sampai meregang nyawa di tangan Mpu Walandit alias Si Jari Sakti dari Bukit Manoreh.
"Saudara Panji,
Hati hati dengan kakek tua itu. Dia bukan orang sembarangan".
Mendengar teriakan Nalayana, Panji Tejo Laksono hanya tersenyum tipis sembari menatap ke arah Mpu Walandit yang menyeringai lebar menatap nya.
"Kau tenang saja, Saudara Nalayana. Aku tahu apa yang mesti aku lakukan.
Lagipula, apa yang perlu di takuti dari seorang kakek tua berjari buntung yang suka mengganggu kedamaian orang lain seperti dia?", ujar Panji Tejo Laksono segera.
Murka sudah Mpu Walandit mendengar ucapan Panji Tejo Laksono.
"Dasar bocah kurang ajar!
Kau harus di beri pelajaran agar sopan pada orang yang lebih tua!", maki Mpu Walandit sembari bersiap untuk menyerang.
Usai menarik nafas dalam-dalam, Mpu Walandit segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Dia segera mengibaskan tangan kanannya ke arah sang pangeran muda.
Whuuussshh !
Desiran angin kencang bertenaga dalam tingkat tinggi menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono. Putra Panji Watugunung itu segera melompat ke samping kanan menghindari angin kencang yang menderu memotong rinai gerimis.
Begitu jarak sudah dekat, Mpu Walandit dengan cepat mengayunkan tangan kanannya ke arah Panji Tejo Laksono. Adu kepandaian ilmu silat pun segera terjadi.
Sepuluh jurus telah terlewati. Semua orang menahan nafas melihat pertarungan sengit antara Panji Tejo Laksono dan Mpu Walandit.
"Luh Jingga,
Sepertinya kakek tua itu berilmu tinggi. Kita harus membantu Gusti Pangeran Panji", ucap Gayatri dengan penuh kekhawatiran.
"Kau tenang dulu Gayatri..
Kalau kita gegabah dalam bertindak, bisa bisa kita malah jadi beban untuk Gusti Pangeran. Kalau memang nanti di butuhkan, kita akan langsung bergerak. Sudah sekarang perhatikan saja. Lihat Paman Ludaka dan Paman Gumbreg saja masih terlihat tenang", jawab Luh Jingga sambil melirik ke arah dua perwira tinggi prajurit Panjalu yang masih berdiri di tempatnya.
Gayatri akhirnya memilih untuk menuruti omongan Luh Jingga meski dengan rasa cemas melanda hati.
Whuuthhh !
Plllaaakkkkk ! plllaaakkkkk !
Dua pukulan keras beruntun di lepaskan oleh Mpu Walandit. Panji Tejo Laksono menggunakan ilmu silat Padas Putih untuk menangkisnya. Sang pangeran muda dari Kadiri ini segera merendahkan tubuhnya lalu menyikut rusuk kiri Mpu Walandit.
Dhuuuggggh !
__ADS_1
Oouugghhhh !
Mpu Walandit melengguh saat sikut Panji Tejo Laksono menghantam rusuknya. Pria tua itu terhuyung mundur. Panji Tejo Laksono langsung memutar badannya dan membuat tendangan keras melingkar ke arah punggung.
Bhhuukh !
Mpu Walandit langsung terjungkal ke atas tanah. Pakaiannya yang lusuh menjadi kotor setelah dia terjerembab ke tanah becek dan berlumpur di halaman rumah Ki Lurah Mpu Dirgo.
Darah segar keluar dari sudut bibirnya. Kakek tua itu mendengus keras lalu berdiri sambil meleletkan lidahnya ke sudut bibirnya. Dia marah besar.
Perlahan ia mencabut keris pusaka di pinggangnya. Setelah meletakkan keris pusaka itu ke dahinya, dia segera mencabut keris itu dari sarungnya.
Shrraaanggg !
Dengan cepat ia melompat ke arah Panji Tejo Laksono sambil membabatkan keris pusaka itu ke leher sang pangeran.
Panji Tejo Laksono dengan segera merunduk sedikit menghindari sabetan keris pusaka Mpu Walandit. Melihat serangan nya tak memenuhi harapan, Mpu Walandit terus mengayunkan keris pusaka di tangan kanannya ke arah Panji Tejo Laksono bertubi tubi.
Whuuthhh ! whuuthhh !
Panji Tejo Laksono harus berjumpalitan ke belakang untuk menghindari sabetan keris pusaka milik Mpu Walandit. Pada titik terakhir, Panji Tejo Laksono melompat tinggi ke udara dan mendarat di cabang pohon sawo besar yang ada di sisi kanan halaman rumah Ki Lurah Mpu Dirgo.
Melihat itu, Mpu Walandit segera melompat ke atas pohon, memburu sang pangeran muda dari Kadiri dengan sabetan senjata pusaka di tangan nya.
Pertarungan di atas pohon besar itu berlangsung sengit.
Panji Tejo Laksono langsung melompat turun dari dahan pohon sawo besar itu saat serangan keris pusaka Mpu Walandit mengancam nyawa nya. Mpu Walandit terus mengejar nya dengan serangan serangan nya yang mematikan.
Setelah Panji Tejo Laksono mendarat di tanah, dia segera melompat menjauh sambil menghantamkan tapak tangan kanan nya. Selarik angin panas berseliweran melesat cepat kearah Mpu Walandit.
Whhhuuuuusssshhh !
Mpu Walandit terpaksa harus berguling ke tanah untuk menghindari hantaman angin panas yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono.
Blllaaaaaarrr !
Sebatang pohon randu yang tumbuh di samping halaman langsung meledak dan hancur berkeping keping saat angin panas yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono menghantamnya.
Panji Tejo Laksono segera mengheningkan cipta sejenak. Dari dalam tubuhnya sebuah sinar kuning keemasan berbentuk sebilah keris tercipta. Dia jarang sekali mau memakai keris pusaka yang tersembunyi di dalam tubuhnya kecuali jika memang terdesak dan Pedang Naga Api tidak dia bawa. Perlahan keris pusaka itu mulai menunjukkan wujud aslinya.
Sebuah keris pusaka luk 11 dengan ukiran naga berwarna kuning keemasan lengkap kepala naga pada salah satu bilah depan gagang nya muncul di depan dada Panji Tejo Laksono. Meski cuaca gerimis mengaburkan pandangan mata semua orang namun pamor keris pusaka itu tetap saja terlihat oleh semua orang.
Melihat lawan sudah mengeluarkan senjata, Mpu Walandit kembali melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Satu sabetan keris mengarah ke leher sang putra tertua Prabu Jayengrana.
Thhraaaangggggggg !
Thrrraaannnnggggg !
Adu keris pusaka itu menciptakan bunyi nyaring dan bunga api kecil yang menakutkan. Jual beli serangan yang mengancam keselamatan hidup berlangsung sengit dan penuh bahaya.
Setelah hampir 15 jurus berlalu...
Panji Tejo Laksono menyabetkan Keris Nagasasra ke arah leher Mpu Walandit setelah melompat ke udara usai menghindar dari sabetan keris pusaka di tangan Si Jari Sakti dari Bukit Manoreh yang mengincar kakinya.
Whuuthhh !
Mpu Walandit yang dalam keadaan kuda-kuda lemah terpaksa membabatkan kerisnya untuk menyelamatkan nyawa.
Thrrraaannnnggggg !
Keris pusaka Mpu Walandit terlepas dari genggaman tangan kakek tua itu dan melesat cepat kearah Mpu Dirno yang sedang lengah.
Chhreepppppph !
Aaauuuuggggghhhhh !
Meski sempat berkelit, nyatanya keris pusaka itu masih menancap di lengan kiri Mpu Dirno. Segera Mpu Dirno membekap lengan kiri nya yang mulai mengeluarkan darah. Rasa sakit bercampur gatal dan panas mulai menyebar ke seluruh lengan. Rupanya warangan keris pusaka itu mengandung racun. Melihat itu Mpu Walandit langsung bersalto mundur beberapa tombak ke dalam. Dia segera merogoh kantong baju dan melemparkan sebotol obat penawar racun ke arah Mpu Dirno.
"Cepat minum Dirno..
Itu penawar nya", ujar Mpu Walandit segera. Mendengar omongan Mpu Walandit, Mpu Dirno langsung menenggak isi botol keramik kecil bersumbat kayu randu itu. Kemudian dia segera duduk bersila untuk mencegah racun keris pusaka menyebar dengan mengatur jalan nafas nya.
Mpu Walandit segera menangkupkan kedua telapak tangan nya di depan dada. Mulutnya komat-kamit membaca mantra. Sebuah sinar merah terang muncul di kedua telapak tangan Mpu Walandit. Rupanya dia merapal Ajian Cadas Ngampar.
Secepat kilat dia menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah terang ke arah Panji Tejo Laksono.
"Cadas Ngampar...
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat... !!"
Whhhhuuuuggghhh !
__ADS_1
Selarik sinar merah menyala berhawa panas menyengat langsung menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono. Melihat bahaya mengancam, Panji Tejo Laksono langsung melenting tinggi ke udara menghindari sinar merah terang yang di lepaskan oleh Mpu Walandit.
Blllaaammmmmmmm!!
Ledakan keras terdengar saat sinar merah terang menghantam tanah berlumpur di halaman rumah Ki Lurah Mpu Dirgo. Lobang sebesar tampah tercipta di sana. Panji Tejo Laksono mendarat di atas dahan pohon sawo besar. Melihat itu, Mpu Walandit kembali menghantamkan tangan kanannya ke arah Panji Tejo Laksono.
Whuuthhh !
Blllaaammmmmmmm!
Sesaat sebelum sinar merah menghantam, Panji Tejo Laksono telah lebih dulu turun. Cabang besar pohon sawo berderak dan patah menyusul ke arah Panji Tejo Laksono. Melihat itu, Panji Tejo Laksono langsung melompat ke atas lalu menendang cabang dahan pohon sawo itu hingga melesat ke arah Mpu Walandit.
"Bangssaaaaaattttt.... !"
Mpu Walandit segera menghantamkan kedua telapak tangan nya ke arah cabang pohon sawo besar yang menuju ke arah nya.
Blllaaaaaarrr!!
Cabang besar itu meledak dan hancur berantakan. Sementara itu Panji Tejo Laksono yang memperoleh kesempatan mengambil nafas dengan cepat merapal mantra Ajian Tameng Waja. Tubuhnya segera diliputi oleh sinar kuning keemasan bersamaan dengan ia menyimpan kembali Keris Nagasasra ke dalam tubuhnya.
Mpu Walandit yang melihat sinar kuning keemasan di tubuh Panji Tejo Laksono menggeram keras. Segera dia menghantamkan tapak tangan kanannya ke arah Panji Tejo Laksono.
Shhiiiuuuuuuttttt !
Namun kali ini sang pangeran muda dari Kadiri ini tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri hingga sinar merah terang itu telak menghajar tubuh nya.
Dhuuaaaaaaarrrrrr !
Ledakan dahsyat terdengar saat Ajian Cadas Ngampar menghantam tubuh Panji Tejo Laksono. Asap putih tebal mengepul dari sekitar tempat Panji Tejo Laksono berdiri, namun cepat menghilang tersapu oleh gerimis yang terus mengguyur wilayah Wanua Weleri. Namun bukannya terluka justru Panji Tejo Laksono terlihat tersenyum tipis sembari menatap ke arah Mpu Walandit.
"Dasar bedebah!
Kau belum menang bangsat!", umpat Mpu Walandit yang merasa dirinya di hina dengan senyum Panji Tejo Laksono.
Kakek tua itu segera menyatukan dua telunjuk tangan nya di depan dada. Disana terkumpul sinar merah kebiruan yang berhawa panas mengerikan. Itu adalah Ajian Jari Pencabut Nyawa yang merupakan ilmu kedigdayaan andalan milik Mpu Walandit.
"Gusti Pangeran, berhati-hatilah!
Itu Ajian Jari Pencabut Nyawa!", teriak Nalayana yang cemas juga melihat Mpu Walandit sudah mengeluarkan ilmu pamungkas nya.
Kesal karena ada yang mengganggu, Mpu Walandit langsung mengarahkan jari telunjuk kiri nya ke arah Nalayana.
Shhiiiuuuuuuttttt..!
Sinar merah kebiruan sebesar telunjuk jari langsung melesat cepat kearah Nalayana. Panji Tejo Laksono langsung melompat menghadang serangan itu dengan tubuhnya.
Blllaaammmmmmmm!!
Kerasnya ledakan itu membuat Panji Tejo Laksono terdorong mundur selangkah namun tubuhnya masih tak terluka sedikitpun.
"Bedebah tua!
Kau berani mengancam keselamatan kawan-kawan ku. Aku tidak akan sungkan lagi padamu".
Usai berkata demikian, Panji Tejo Laksono langsung memejamkan matanya. Saat terbuka, warna bola matanya berubah menjadi merah menyala. Rupanya dia menggunakan Ajian Dewa Naga Langit untuk meningkatkan kekuatan nya karena Ajian Jari Pencabut Nyawa tadi mampu mendorong tubuh nya ke belakang. Di samping itu kedua telapak tangan nya telah berwarna merah menyala seperti api karena Ajian Tapak Dewa Api yang di rapalkan.
Selepas itu dia melesat cepat kearah Mpu Walandit. Melihat lawan bergerak menuju ke arah nya, Mpu Walandit segera melepaskan Ajian Jari Pencabut Nyawa bertubi-tubi kearah Panji Tejo Laksono.
Shhiiiuuuuuuttttt !
Shiuuutttt !
Blllaaaaaarrr ! Blllaaammmmmmmm !
Ledakan keras beruntun terdengar namun Panji Tejo Laksono yang juga menggunakan Ajian Sepi Angin nya sama sekali tidak terpengaruh. Dengan gerakan secepat kilat menyambar, Panji Tejo Laksono langsung menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala seperti api kearah dada Mpu Walandit.
Dhuuaaaaaaarrrrrr !
AAAARRRGGGGGGHHHHH !
Mpu Walandit terpental jauh ke belakang sejauh hampir 4 tombak. Tubuh kakek tua itu menyusruk tanah dengan keras. Sebentar kemudian dia mengejang hebat lalu diam tak bergerak lagi. Dari mata, hidung, telinga dan mulutnya darah segar mengalir keluar. Sementara itu dadanya gosong seperti terbakar api. Mpu Walandit tewas mengenaskan di tangan Panji Tejo Laksono.
Melihat guru nya tewas, Mpu Dirno segera kabur menyelamatkan diri. Tubuhnya menghilang di balik rinai gerimis yang semakin lebat.
Sementara itu Panji Tejo Laksono langsung terduduk karena lemas setelah mengeluarkan banyak tenaga dalam untuk pertarungan nya yang melelahkan melawan Mpu Walandit. Luh Jingga dan Gayatri langsung berlari cepat kearah Panji Tejo Laksono.
Mereka berdua segera memapah tubuh Panji Tejo Laksono menuju ke arah kediaman Ki Lurah Mpu Dirgo.
Karena cuaca yang tidak bersahabat dan keadaan Panji Tejo Laksono yang kurang baik, maka Tumenggung Ludaka selaku yang di tuakan dalam kelompok itu memutuskan untuk menunda keberangkatan mereka ke Kota Kadipaten Kalingga.
Keesokan harinya, rombongan Panji Tejo Laksono melanjutkan perjalanan ke arah Kota Kadipaten Kalingga. Di tengah perjalanan, para murid Perguruan Naga Langit memisahkan diri untuk pulang ke tempat mereka.
__ADS_1
Selepas tengah hari, rombongan Panji Tejo Laksono yang kebingungan menentukan arah bertemu dengan seorang lelaki paruh baya bertangan buntung dan dua orang lelaki yang masih muda di sebuah gubuk kecil di tepi jalan raya menuju ke arah Kalingga.
Dia adalah Pringgalaya.