Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Menuju Pakuwon Tumapel


__ADS_3

Perempuan cantik berbaju putih yang tak lain adalah Dyah Kirana menggeram sesaat sebelum tangan kanannya hendak meraih gagang pintu bilik kamar tidur nya, namun sebuah tangan lain buru-buru mencekal pergelangan tangannya. Dyah Kirana segera menoleh ke arah si empunya tangan segera.


"Kenapa Kangmbok Luh Jingga? Akan ku hajar perempuan gatal itu sekarang juga", tanya Dyah Kirana segera. Luh Jingga segera tersenyum penuh arti.


"Tak perlu bersusah payah, Kirana. Kau pikir Kangmas Pangeran akan tergoda oleh perempuan seperti dia? Kau terlalu merendahkan Kangmas Pangeran.


Sekarang kita lihat saja, tipu daya apa yang akan dia lakukan untuk menggoda Kangmas Pangeran? Aku penasaran dengan itu semua", ucap Luh Jingga sambil tersenyum. Meski masih sedikit dongkol, Dyah Kirana menuruti omongan Luh Jingga. Kedua orang perempuan cantik itu segera duduk di sebelah jendela kamar tidur yang bisa melihat langsung ke arah halaman samping rumah kediaman Jagabaya Kusumo.


Wening membawa nampan berisi beberapa potong makanan dan sebakul nasi putih sementara Rara Lestari yang sudah berganti pakaian nampak membawa kendi berisi air minum. Keduanya nampak begitu antusias untuk mendekati Panji Tejo Laksono yang masih asyik membolak-balik jagung muda di atas bara api unggun.


"Permisi Kisanak, ini nasi putih untuk kalian makan malam", ujar Wening sembari meletakkan bakul nasi putih itu ke samping Panji Tejo Laksono. Panji Tejo Laksono langsung menganggukkan kepalanya pada Wening sambil menjawab singkat sembari menoleh ke arah pelayan rumah Ki Jagabaya Kusumo itu, "Terimakasih Nisanak".


Melihat sikap cuek Panji Tejo Laksono pada Wening, Rara Lestari pun tersenyum penuh kemenangan. Dia segera memberi isyarat pada Wening untuk sedikit menjauh.


"Ini air minum nya, Kisanak. Siapa nama mu tadi? Tejo ya?", Rara Lestari memamerkan senyum manis nya sembari meletakkan kendi berisi air minum itu di samping tempat Panji Tejo Laksono duduk.


Belum sempat Panji Tejo Laksono menjawabnya, Gumbreg langsung menyambar kendi berisi air minum itu dan segera menenggak isinya.


Gllukkk gllukkk gllukkk...


"Weh segarnya...


Terimakasih loh Nyi Jagabaya untuk air minum nya. Sekarang silahkan Nyi Jagabaya kembali ke dalam rumah. Tidak pantas seorang wanita bersuami duduk berbincang dengan kami di malam hari seperti ini. Nanti apa kata orang-orang? Bisa-bisa Nyi Jagabaya dituduh sebagai perempuan tidak benar. Bisa-bisa martabat Ki Jagabaya Kusumo sebagai pamong praja turun nantinya", usir Gumbreg dengan halus.


"Paman Gudel benar, Nyi..


Silahkan Nyi Lestari kembali beristirahat di kamar. Selamat malam ", imbuh Panji Tejo Laksono sembari mengangguk hormat kepada Rara Lestari.


Wening terkikik geli sedangkan Rara Lestari meremas ujung kain jarik nya dengan penuh kekesalan. Keduanya segera bergegas meninggalkan tempat itu dan kembali masuk ke dalam rumah.


Di dalam kamar tidur, wajah cantik Dyah Kirana langsung cerah dan terlihat lega melihat itu semua. Luh Jingga pun tersenyum penuh arti.


"Kau sudah lihat sendiri bukan Kirana? Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono tidak akan mudah di goda oleh sembarang perempuan cantik. Jadi kau tenang saja", ucap Luh Jingga yang segera mendapat anggukan kepala dari Dyah Kirana. Keduanya segera berbaring di ranjang tidur mereka masing-masing.


"Huffffffffttt...


Selamat selamat selamat.. Untung saja aku sadar ada yang sedang mengintip kita, Gusti Pangeran hehehehe", bisik Demung Gumbreg segera pada Panji Tejo Laksono.


"Hehehehe, iya Paman. Aku juga menyadari kalau daun jendela kamar tidur Luh Jingga dan Dyah Kirana tidak tertutup sempurna.


Kalau sampai dua wanita itu melihat aku baik-baik dengan istri Ki Jagabaya Kusumo, bisa-bisa mereka membuat keributan di tempat ini hehehe", jawab Panji Tejo Laksono sambil tersenyum penuh arti. Ketiga orang itu kembali melanjutkan bakar jagung muda nya yang sempat tertunda karena kehadiran Wening dan Rara Lestari sang istri ketiga Ki Jagabaya Kusumo.


Rara Lestari yang geram setelah di usir oleh Panji Tejo Laksono, diam-diam berjalan mendekati sangkar burung merpati di belakang rumah. Setelah menuliskan sesuatu pada secarik kain putih, perempuan cantik itu segera mengambil seekor burung merpati dan mengikatkan kain putih itu ke kaki burung. Segera dia melepaskan nya dan burung merpati itu segera menghilang di kegelapan malam.


"Kau akan menerima pelajaran berharga karena berani menghina Rara Lestari....!!"


Malam terus merangkak naik. Hawa dingin lereng Gunung Kawi merayap turun ke wilayah Wanua Pucung yang memang ada di kaki nya. Burung burung malam sesekali berkicau di ranting pohon yang tertutup gelapnya malam. Suasana di sekitar tempat itu semakin sunyi dan sepi.


*****


Suasana pagi itu terlihat begitu indah. Cahaya mentari pagi begitu indah menyinari bumi lewat sela sela awan kelabu yang berarak di atas langit. Kedatangan awan awan kelabu ini yang di sertai hembusan angin dari selatan menjadi pertanda bahwa sebentar lagi musim hujan akan segera tiba.


Namun keindahan alam pagi itu menjadi terusik dengan sebuah pemandangan yang memilukan hati di jalan raya yang membelah hutan di barat Wanua Siganggeng.

__ADS_1


Seorang gadis muda berusia sekitar dua windu tengah menangis tersedu-sedu di atas mayat seorang lelaki tua yang tubuhnya penuh luka dan bersimbah darah. Gadis berkulit sawo matang ini sepertinya benar-benar kehilangan orang tua itu. Di sekelilingnya ada 4 orang berbadan besar dengan wajah sangar nampak menyeringai lebar melihat pemandangan ini.


"Romo huhuhuhuhu...


Romo tidak boleh mati. Kalau Romo mati aku ikut siapa Romo huhuhuhuhu...???", isak sendu si gadis muda itu sembari terus memeluk jasad lelaki tua yang kini terbujur kaku di atas tanah.


"Huahahahahahaha... Sriati, tak perlu kau tangisi kematian tua bangka itu. Ayo kau sekarang ikut aku ke Karang Gomeng. Akan ku jadikan kau istri ku yang kedua hahahaha", ucap salah satu lelaki bertubuh gempal yang sepertinya merupakan pimpinan dari keempat orang itu segera. Gadis berkulit sawo matang yang di panggil dengan nama Sriati itu segera menoleh ke arah lelaki bertubuh gempal itu dengan penuh kemarahan.


"Danarjati, kau lelaki bajingan..!!


Demi mendapatkan aku, kau tega membunuh ayah ku. Aku akan membunuh mu keparat!!", sedikit terburu-buru, Sriati segera menyambar sebuah batu seukuran kepalan tangan lalu melompat ke arah lelaki yang bernama Danarjati itu sambil mengeprukkan batu di tangan kanannya ke kepala pria bertubuh gempal itu segera.


Danarjati hanya menyeringai lebar sambil berkelit menghindari serangan Sriati. Tangan gempal lelaki itu menepak punggung Sriati hingga gadis cantik berkulit sawo matang itu langsung terjungkal ke tanah. Dia langsung pingsan saat itu juga.


"Hehehe, kau akan segera menikmati tubuh perempuan ini, Danarjati. Kalau kau sudah bosan dengan nya, aku bersedia menampung nya", ujar salah seorang kawan Danarjati sambil tersenyum licik.


"Itu tidak akan pernah terjadi, Waluya..


Perempuan ini sudah membuat ku tergila-gila. Terpaksa ku gunakan jalan kekerasan untuk mendapatkan nya karena lelaki tua itu terus menghalangi niat ku", ujar Danarjati sambil bergerak untuk menggendong tubuh Sriati yang lemas tak berdaya.


Namun belum sampai tangan Danarjati menyentuh kulit Sriati, tiba-tiba saja..


Whhhiiiiiiinngggghh..


Chhreepppppph... Aaauuuuggggghhhhh !!


Danarjati meraung kesakitan saat melihat sebuah ranting pohon menembus telapak tangannya. Sebuah bayangan berkelebat cepat menyambar tubuh Sriati. Kejadian ini berlangsung begitu cepat hingga para kawan Danarjati tak sempat menghalangi niat si bayangan hitam itu. Sang bayangan yang berhenti kurang lebih 5 tombak jauhnya dari tempat mereka berdiri.


"Kurang ajar!! Bajingan busuk, kenapa kau mengganggu urusan ku ha? Lepaskan gadis itu sekarang juga. Apa kau ingin menjadi musuh Padepokan Ular Siluman?", hardik Danarjati setelah mencabut ranting pohon yang menancap di telapak tangan kanannya. Dia mengancam orang itu dengan menggunakan nama besar Padepokan Ular Siluman, sebuah perguruan silat yang cukup disegani di selatan Gunung Kawi tepatnya di Wanua Karang Gomeng.


"Calon istri? Aku tidak yakin kalau perempuan cantik ini mau menjadi istri mu, bandot tua!


Kau sudah berumur lebih dari 3 dasawarsa sedangkan gadis ini paling banyak 2 windu. Mana mungkin dia mau menjadi istri mu? Kalau bicara yang masuk akal sedikit lah.


Aku Naratama, Pendekar Golok Angin bukanlah orang yang bisa melihat ketidakadilan terjadi di muka bumi ini", balas si lelaki bertubuh kekar itu segera.


"Kampret tengik!


Mulutmu benar-benar minta di kasih pelajaran rupanya. Kawan-kawan,ayo kita hajar bajingan itu! ", teriak Danarjati sembari mencabut pedang nya yang bergagang kepala ular. Danarjati memang calon penerus Padepokan Ular Siluman hingga di percaya memegang simbol Padepokan Ular Siluman yaitu Pedang Ular Putih, karena ayahnya Mpu Sawer sang pimpinan Padepokan Ular Siluman sudah berusia lanjut.


Sembari menggeram keras, Danarjati segera melesat cepat kearah Naratama dengan membabatkan Pedang Ular Putih nya. Cahaya putih redup langsung menerabas cepat kearah si Pendekar Golok Angin.


Shhrreeettthhh...!!


Sembari menggendong tubuh Sriati yang pingsan, Naratama menjejak tanah dengan keras hingga tubuhnya melenting tinggi ke udara untuk menghindari hawa sabetan pedang milik lawannya dan mendarat di dahan pohon yang besar. Namun dua kawan Danarjati yang memapak pergerakan Naratama dengan membabatkan pedang mereka ke arah tempat Naratama hinggap.


Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!


Naratama bersalto dua kali di udara untuk menghindari sabetan pedang dua kawan Danarjati. Salah satu kawan Danarjati rupanya terus mencari kesempatan untuk menyerang Naratama. Begitu sang pendekar berbaju biru muda tanpa lengan baju itu mendarat, dia segera melayangkan tendangan keras kearah punggung Naratama.


Dhiiieeeessshh..


Oouuugghhhhhh !!

__ADS_1


Naratama yang tidak melihat serangan itu segera terjungkal dengan tetap menggendong tubuh Sriati. Namun pendekar golongan putih yang cukup disegani di kawasan selatan Jenggala ini segera bangkit. Setetes darah segar mengalir keluar dari mulut nya. Kini Danarjati dan kawan-kawan nya mengepung Naratama di keempat penjuru mata angin.


Mereka berempat serempak menyerang Naratama dengan jurus silat berpedang andalan Padepokan Ular Siluman, Sepasang Ular Siluman Mencari Mangsa. Naratama sembari menggendong tubuh Sriati yang pingsan, mencabut senjata andalannya Golok Angin untuk meladeni permainan silat mereka.


Whuuthhh whuuthhh..


Thhraaaangggggggg thrrraaannnnggggg..


Dhaaaasssshhh dhhaaaassshhh..!!!


Meski kemampuan beladiri Naratama tergolong tinggi, namun menghadapi gempuran empat orang murid utama Padepokan Ular Siluman sembari memanggul tubuh Sriati, Naratama pun kerepotan juga. Dia harus mengeluarkan banyak tenaga untuk menghadapi Danarjati dan kawan-kawan nya. Pertarungan sengit tak berimbang itu berlangsung sengit.


Dua puluh jurus berlalu...


Naratama melompat menghindari sabetan pedang salah satu kawan Danarjati yang mengincar kakinya. Belum sempat dia menjejak tanah dengan sempurna, seorang lainnya membabatkan pedang nya ke arah perut. Naratama melompat mundur sembari melemparkan tubuh Sriati ke atas untuk meringankan gerakan tubuhnya. Dia ingin menggunakan kesempatan itu untuk secepatnya menyelesaikan pertarungan karena tenaga nya sudah banyak di keluarkan.


Melihat itu, Danarjati segera melompat hendak menyambar tubuh Sriati. Naratama bersiap untuk menghalangi niat Danarjati namun dua orang kawan Danarjati dengan cepat menyabetkan pedang mereka ke arah Naratama.


Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh..


Naratama harus berjumpalitan mundur menghindari sabetan pedang yang mengincar dua bagian tubuhnya. Namun itu berakibat fatal. Salah seorang kawan Danarjati memanfaatkan kesempatan ini untuk menjatuhkan Naratama dengan membabat punggung Pendekar Golok Angin itu.


Naratama yang menyadari sesuatu sedang mengancam nyawa nya, berusaha keras untuk menghindar namun dia sedikit terlambat hingga sabetan pedang kawan Danarjati berhasil merobek rusuk kiri nya.


Chhhrrraaaaaaasssssshhh...


Aaaarrrgggggghhhhh !!


Danarjati yang berhasil menangkap tubuh Sriati segera melayangkan tendangan keras kearah perut Si Pendekar Golok Angin yang terhuyung huyung mundur sambil membekap lukanya. Naratama terjengkang ke belakang.


"Hahahaha..


Sehebat apapun ilmu kanuragan mu, kau tetap tidak akan menang melawan kami, Golok Busuk..!! Sekarang jangan salahkan nasib sial mu karena menantang orang-orang Padepokan Ular Siluman", ujar Danarjati sambil memanggul tubuh Sriati. Lelaki bertubuh gempal itu segera memutar pedangnya yang dihiasi ukiran sisik ular pada bilah nya.


Naratama yang sudah menderita luka dalam dan luar, terbatuk-batuk kecil. Dari sudut bibirnya ada darah segar yang meleleh keluar. Dia memejamkan matanya, pasrah menjemput ajalnya saat melihat Danarjati melesat cepat kearah nya sambil mengayunkan pedang nya.


Shhrreeettthhh...


Clllaangggggg!!!


Batu kerikil sebesar telur merpati melesat cepat menghantam bilah Pedang Ular Putih. Lemparan batu kerikil yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi itu langsung membuat tebasan pedang melenceng dari sasaran. Naratama terhindar dari maut.


Mata Danarjati melotot lebar melihat seseorang mengganggu kesenangan nya. Dia mendelik tajam ke arah datangnya batu kerikil itu. Seorang lelaki bercaping bambu yang hampir menutupi seluruh wajah nya, berdiri tak jauh dari tempat mereka bertarung sambil menimang-nimang sebuah batu seukuran yang di lemparkan tadi.


Danarjati langsung berdiri tegak sambil mengacungkan pedangnya kearah si lelaki bercaping bambu dengan penuh amarah.


"Bangsat tengik!!


Siapa kau yang kurang kerjaan mengganggu ku ha?", hardik Danarjati keras. Sang lelaki bertubuh kekar itu segera tersenyum tipis. Itu terlihat dari mulutnya yang tidak tertutup oleh caping bambu.


"Aku hanya orang yang lewat dan tidak suka melihat ada orang yang bermain sebagai Dewa Kematian yang ingin mencabut nyawa manusia.


Lepaskan orang itu dan akan ku ampuni nyawa kalian", ucap lelaki bercaping bambu itu dengan suara berat nya.

__ADS_1


Seorang kawan Danarjati segera berteriak keras sambil memutar pedangnya di samping tubuhnya, "Kurang ajar!


Kau sudah bosan hidup ya?".


__ADS_2