Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pelajaran untuk Fan Zhong Yan


__ADS_3

Fan Zhong Yan mendengus dingin. Tatapan matanya begitu angkuh memandang ke arah Han Mo Gei, Si Naga Hitam dari Luoyang.


Sebagai putra satu-satunya Walikota Fan Huo Liang, Fan Zhong Yan memang di manjakan oleh kedua orang tuanya. Dia adalah satu-satunya laki laki dari 4 bersaudara. 3 lainnya anak Walikota Fan adalah perempuan. Terang saja Fan Zhong Yan merasa telah menjadi anak kesayangan Walikota Fan. Selama ini, apa yang diinginkan oleh nya selalu di turuti oleh pimpinan Kota Luoyang ini. Jika dia berbuat kesalahan, maka Walikota Fan akan melakukan segala sesuatu untuk menyelamatkan Fan Zhong Yan.


Namun kali ini kenakalan Fan Zhong Yan akan terkena sandungan nya dan dia akan mendapatkan pelajaran yang tidak akan bisa dia lupakan seumur hidup.


"Tuan Han,


Aku tidak berniat membuat keributan di tempat mu. Tapi para tamu mu ini sudah merendahkan martabat ku sebagai putra Walikota Fan Huo Liang, penguasa Kota Luoyang yang di tunjuk langsung oleh Kaisar Huizong.


Jika sampai aku tidak membalas perbuatan mereka, ini sama saja dengan merendahkan martabat Walikota Fan Huo Liang. Aku memandang mu sebagai seorang pendekar besar, namun aku minta dengan hormat agar kau tidak ikut campur dalam urusan ini", ucap Fan Zhong Yan sambil menatap sinis pada Han Mo Gei.


"Tuan Muda Fan,


Kau memang putra Walikota Fan Huo Liang. Tapi ini adalah tempat ku. Penginapan Bunga Naga mempunyai prinsip yaitu pelanggan, tak peduli bangsawan ataupun raja, dia akan diperlakukan sama seperti yang lain.


Kalau kau memaksa untuk membuat para pelanggan ku tak nyaman dengan ulah mu, aku tidak akan sungkan lagi pada mu", balas Han Mo Gei dengan keras, seakan dia tidak takut sama sekali dengan ancaman Fan Zhong Yan yang menggunakan nama besar ayahnya.


"Tuan,


Ini adalah urusan kami. Sekalipun ini menyangkut Penginapan Bunga Naga ini, kami tidak bermaksud untuk membuat keributan di tempat ini. Kami berterimakasih pada Tuan yang sudah membela kami tapi ijinkan kami untuk berbuat sesuatu untuk membela diri kami sendiri", Putri Song Zhao Meng angkat bicara.


Keributan yang terjadi di Penginapan Bunga Naga semakin menarik orang untuk menonton. Mereka semakin berjubel memadati rumah makan dan sangat menunggu hasil akhir dari keributan itu.


"Huh, andai saja Nona Besar diam saja, aku pun tidak akan tinggal diam.


Kalau Nona Besar ada masalah, aku di belakang mu. Rumah makan Penginapan Bunga Naga ini bebas kau gunakan", ujar Han Mo Gei sembari beringsut mundur meski dengan tatapan mata tajam ke arah Fan Zhong Yan.


Setelah Han Mo Gei mundur, Song Zhao Meng melangkah maju ke depan Fan Zhong Yan dengan sikap tak kalah angkuh. Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya yang lain pun ikut berdiri dari tempat duduknya. Mereka semua bersiap andaikata Fan Zhong Yan berbuat macam-macam.


"Tuan Muda Fan,


Apa yang kau inginkan sekarang? Kau ingin adu ilmu beladiri atau kita selesaikan dengan cara lain?", tanya Putri Song Zhao Meng segera.


"Hehehehe..


Buat apa kita bertarung? Lebih baik kau ikut dengan ku malam ini. Kita akan bersenang-senang sepuasnya dan masalah ini aku anggap tidak ada", senyum licik Fan Zhong Yan terukir di wajah nya yang menjijikan.


"Lancang !!


Tarik kembali ucapan mu, kalau tidak..."


Belum sempat Jenderal Liu King menyelesaikan omongannya, Song Zhao Meng mengangkat tangan kanannya sebagai tanda agar Jenderal Liu King menutup mulutnya. Melihat isyarat tangan itu, Jenderal Liu King langsung diam.


"Tuan Muda Fan Zhong Yan,


Kau berani sekali rupanya ya? Apa kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa ha?", Song Zhao Meng mulai kesal dengan sikap Fan Zhong Yan, namun tutur kata nya masih lembut. Di istana Kaisar Huizong, tata krama istana adalah ilmu wajib yang harus di pelajari. Semarah apapun seorang putri, di harus bisa mengendalikan emosi nya.


"Aku tidak peduli kau siapa dan dari mana asal mu, yang penting malam ini kau harus tidur dengan ku", balas Fan Zhong Yan dengan kurang ajar.

__ADS_1


"Oh ya? Jadi kau tidak peduli aku siapa? Nasib mu menyedihkan sekali rupanya.


Apa kau masih tetap tidak peduli dengan ini?", Song Zhao Meng mengeluarkan sebuah lencana emas bergambar burung Hong, yang bawahnya tergantung sebuah giok berukir burung Phoenix yang indah.


Mata Fan Zhong Yan langsung melotot lebar melihat benda di tangan Song Zhao Meng. Itu adalah tanda bahwa orang yang memegang nya adalah putri Kaisar Huizong sendiri. Lemas dengkul Fan Zhong Yan. Dia sama sekali tidak menduga bahwa orang yang di ganggu nya saat ini adalah putri Kaisar Huizong sendiri. Segera Fan Zhong Yan berlutut dihadapan Song Zhao Meng. Para pengawal pribadi nya dan seluruh orang yang ada di tempat itu segera ikut berlutut di hadapan Song Zhao Meng. Hanya para pengikutnya juga Wanyan Lan dan Panji Tejo Laksono beserta kawan kawan nya yang tidak berlutut.


"Tuan Putri,


Mohon ampuni aku. Ini semua adalah kesalahpahaman. Ya ini semua adalah kesalahpahaman", ujar Fan Zhong Yan dengan penuh ketakutan.


"Kesalahpahaman kau bilang? Enak sekali kau bicara. Apa kau pikir aku ini bodoh ha?


Kau sudah berani kurang ajar pada Putri Kaisar Huizong, maka hukuman yang setimpal atas perbuatan mu adalah hukuman mati.


Jenderal Liu King....", teriak Song Zhao Meng memanggil kepala pengawal pribadi nya. Lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal dan jambang lebat itu segera maju ke arah Putri Song Zhao Meng dan menghormat pada sang putri.


Belum sempat Putri Song Zhao Meng memerintahkan kepada Jenderal Liu King untuk berbuat sesuatu, dari arah pintu rumah makan, seorang lelaki paruh baya berpakaian layaknya seorang walikota setengah terburu buru mendekati Putri Song Zhao Meng. Dengan cepat dia berlutut di samping Fan Zhong Yan yang sedang menunduk dengan wajah pucat pasi.


Dia adalah Walikota Luoyang, Fan Huo Liang. Saat mulai terjadi keributan, seorang yang di tugaskan Fan Huo Liang untuk mengikuti diam diam semua tingkah laku Fan Zhong Yan, langsung berlari menuju ke arah Kediaman Walikota Luoyang. Kedatangan Fan Huo Liang benar benar tepat waktu.


"Tuan Putri Song,


Hamba Fan Huo Liang, Walikota Luoyang memohon kepada Tuan Putri Song agar berwelas asih", ujar lelaki paruh baya itu sembari bersujud kepada Putri Song Zhao Meng.


"Tuan Walikota,


"Mohon maaf jika hamba menentang perintah dari Tuan Putri. Hamba hanya akan bangun jika Tuan Putri Song berjanji untuk melepaskan Zhong Yan dari hukuman mati.


Dia adalah satu-satunya orang yang akan meneruskan marga keluarga hamba di masa depan. Jika Tuan Putri menghukum mati dia, sama dengan Tuan Putri melenyapkan Keluarga Fan di masa depan. Hamba rela menerima hukuman mati sebagai pengganti hukuman Fan Zhong Yan, Tuan Putri", ucap Fan Huo Liang sembari terus bersujud di hadapan Song Zhao Meng.


Mendengar ucapan itu, Song Zhao Meng merasa bimbang. Dia segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang masih tenang berdiri di tempatnya. Andai tatapan mata Song Zhao Meng berbicara, tentu dia akan bertanya kepada Panji Tejo Laksono apa yang harus dia perbuat. Melihat isyarat mata Song Zhao Meng, Panji Tejo Laksono langsung mengangguk. Dan itu sudah cukup untuk membuat Song Zhao Meng membuat keputusan.


"Walikota Fan, baiklah..


Memandang bahwa kau adalah pejabat yang berbakti kepada Kekaisaran Song juga kesetiaan mu pada ayah ku, aku bisa mengampuni nyawa Fan Zhong Yan", ucap Song Zhao Meng dengan tegas. Mendengar ucapan itu, Walikota Fan Huo Liang langsung mengangkat kepalanya dan berkata, "Terimakasih atas kemurahan hati Tuan Putri".


"Aku masih belum selesai bicara..


Karena kau gagal mendidik putra mu, biar aku yang mendidik nya. Dengarkan omongan ku baik-baik.


Selama aku di Luoyang, Fan Zhong Yan akan menjadi pelayan di rumah makan Penginapan Bunga Naga sebagai ganti rugi kerusakan yang dia lakukan. Kalau dia sebentar saja lalai dalam pelayanan yang dia berikan, tuan pemilik Penginapan Bunga Naga yang akan menjadi pengawas nya akan memberikan hukuman selayaknya.


Sedangkan kau Walikota Fan, kau harus menanggung biaya makan dan hidup seluruh pengawal ku sampai aku meninggalkan Kota Luoyang.


Apa kau mengerti apa yang harus dilakukan?", ujar Song Zhao Meng sembari tersenyum licik memandang ke arah Fan Huo Liang dan putranya.


Rakryan Purusoma yang berdiri di samping Demung Gumbreg langsung menggumam lirih, " Wah Tuan Putri Song Zhao Meng ternyata kejam sekali".


"Apa maksud mu dengan kejam sekali, Purusoma?

__ADS_1


Apa yang telah dia lakukan?", Gumbreg penasaran sekali dengan omongan Rakryan Purusoma.


"Tuan Putri meminta agar Walikota Fan Huo Liang membayar semua biaya yang kita butuhkan selama ada di kota ini sebagai ganti dari hukuman mati putranya itu", jawab Rakryan Purusoma segera.


"Itu bukan kejam tapi cerdik Purusoma. Kau ini benar-benar bodoh ya?


Sudahlah, karena makan ada yang menanggung, kita bisa makan sepuasnya tanpa batas Purusoma hahahaha. Panggil pelayan itu dan pesan makanan daging sebanyak mungkin. Aku mau balas dendam", ujar Gumbreg sambil tertawa lepas.


'Huh, urusan perut saja pasti yang utama. Dasar kebo bunting', maki Rakryan Purusoma dalam hati.


Dengan wajah masam dan senyum yang dipaksakan, Walikota Fan Huo Liang menerima syarat dari Putri Song Zhao Meng. Bagaimanapun, menanggung biaya hidup ratusan orang yang menjadi pengikut Putri Song Zhao Meng membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sekali makan saja bisa menghabiskan puluhan tail emas. Tentu saja akan menguras gudang harta Keluarga Fan. Tapi jika di bandingkan dengan nyawa Fan Zhong Yan, ini setimpal.


Setelah permasalahan ini di selesaikan, Fan Huo Liang Walikota Luoyang mohon pamit untuk pulang ke Kediaman Walikota. Sementara itu, Fan Zhong Yan langsung berganti baju pelayan rumah makan Penginapan Bunga Naga itu segera.


Karena sudah ada yang menanggung biaya, para pengawal pribadi Putri Song Zhao Meng memesan makanan dalam jumlah banyak. Puluhan guci arak dan daging di sajikan seakan mereka sedang berpesta pora.


Han Mo Gei dan istri nya pun ikut senang dengan adanya acara ini. Di samping dia memperoleh untung besar dari acara ini, sedikit banyak rasa kekesalan nya sebagai warga Kota Luoyang terobati. Selama ini Fan Zhong Yan menindas rakyat Kota Luoyang seenak jidat nya, namun kini dengan dandanan pelayan rumah makan Penginapan Bunga Naga, semua orang bisa memerintah nya.


Fan Zhong Yan pun benar benar memperoleh pelajaran yang berharga. Harta Keluarga Fan berkurang banyak akibat ulahnya, sedangkan martabat nya sebagai putra Walikota Luoyang benar benar runtuh hingga titik terendah. Dia sungguh menyesali apa yang sudah dia lakukan.


Siang dengan cepat di gantikan sore. Tak lama kemudian, senja menyusul di belakangnya. Semburat merah menyala di langit barat Kota Luoyang, benar benar menjadi pemandangan indah yang tidak bisa terlupakan.


Panji Tejo Laksono terlihat menatap ke arah cakrawala langit barat yang memerah pertanda sebentar lagi malam akan segera tiba di balik jendela kamar tidur nya di lantai dua. Entah apa yang sedang di pikir oleh pangeran muda dari Kadiri itu.


Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh..!!


Pintu kamar tidur terbuka dan wajah cantik Luh Jingga menyembul di sana dengan membawa nampan berisi beberapa makanan ringan dan sepoci teh. Sembari tersenyum simpul, Luh Jingga berjalan mendekati Panji Tejo Laksono yang menatap wajah cantik nya lekat-lekat.


"Gusti Pangeran, kenapa menatap ku seperti itu? Ada yang aneh ya dengan dandanan ku?", tanya Luh Jingga usai meletakkan nampan yang dia bawa ke atas meja kecil di depan Panji Tejo Laksono.


"Tidak ada yang aneh Luh..


Hanya saja kau terlihat cantik sekali sore ini", puji Panji Tejo Laksono sambil tersenyum penuh arti. Mendengar pujian dari orang yang di sayangi, Luh Jingga segera merapatkan duduknya di samping Panji Tejo Laksono lalu menyenderkan kepalanya di bahu kiri sang pangeran muda.


"Luh Jingga merindukan kebersamaan kita di kapal jung besar milik rombongan kita, Gusti Pangeran..


Disana begitu tenang, tanpa ada masalah sedikit pun", ujar Luh Jingga sembari menatap ke arah langit sore hari yang berwarna jingga.


"Kau tenang saja..


Setelah kita menyelesaikan tugas dari Kanjeng Romo Prabu Jayengrana, kita akan segera pulang ke Tanah Jawadwipa. Seindah-indahnya negeri orang, masih lebih indah negeri kita sendiri Luh", ucap Panji Tejo Laksono sembari ikut menatap indahnya langit sore itu. Luh Jingga tak menjawab omongan Panji Tejo Laksono, dia hanya semakin membenamkan wajahnya di dada sang pangeran muda.


Sementara itu di luar pintu kamar tidur Panji Tejo Laksono, ada air mata seorang wanita cantik yang sedang menetes. Dia begitu menyukai Panji Tejo Laksono, tapi tidak sedikitpun memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya pada Panji Tejo Laksono.


Dia adalah Wanyan Lan alias Huang Lung. Si gadis cantik yang menyamar sebagai laki-laki untuk bisa bersama dengan Panji Tejo Laksono hingga ke ibukota Kaifeng. Perlahan Wanyan Lan mengusap air matanya sembari bergumam lirih melihat Panji Tejo Laksono yang masih duduk bersama dengan Luh Jingga.


"Kakak Thee,


Kemanapun kau pergi, aku akan selalu mengikuti mu".

__ADS_1


__ADS_2