
"Mau mau apa kau utusan dari Kadiri?", gugup Wasesodirjo bicara dengan Panji Tejo Laksono.
"Bukan apa-apa, aku hanya ingin menanyakan beberapa hal penting pada mu saja", jawab Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.
"Kenapa kau seperti ketakutan begitu, hei manusia bungkuk? Apa karena kau tidak punya kawan yang bisa kau ajak untuk membantu mu he?
Nyali mu kalau keroyokan saja seperti mau membelah langit tapi kalau sendirian sudah mirip dengan kucing dapur", sahut Demung Gumbreg yang sedang tidak enak hati dari belakang Panji Tejo Laksono.
"Bu-bukan kah kalian juga begitu? Berani menindas orang saat banyak kawan?", Wasesodirjo melihat ke sekeliling tempat itu, berharap bisa mencari celah untuk melarikan diri.
"Dasar bedebah!
Tempo hari kau begitu jumawa saat membakar api perpecahan di kalangan para pendekar. Tapi begitu melihat jagoan mu kalah, kau menghilang. Pasti kau sengaja memanas-manasi Ki Gendar Pekik. Kau begitu pengecut, pasti kau si suruh orang lain untuk berbuat seperti ini.
Sekarang katakan pada kami, siapa yang menyuruh mu berbuat seperti ini?", Tumenggung Ludaka yang pintar meraba permasalahan langsung mencokok Wasesodirjo dengan pertanyaan yang menyudutkan.
"A-aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.
Segera menyingkir dari hadapan ku kalau tidak aku terpaksa memberi kalian pelajaran", ucap Wasesodirjo segera.
"Oh hebat sekali kau rupanya.
Sudah dalam keadaan terjepit seperti ini masih berani mengancam kami. Utusan dari Kadiri, biar aku yang menghajar cecunguk keparat ini", Nalayana yang ikut mengepung tempat berdiri Wasesodirjo tak mampu menahan diri langsung melesat cepat kearah Pendekar Bongkok dari Goa Karang Pulut itu.
Whhhhuuuuggghhh !
Begitu Nalayana alias Pendekar Naga Biru bergerak, orang-orang yang menjadi pelanggan di warung makan langsung berhamburan keluar takut terkena serangan nyasar. Sementara para prajurit Panjalu dan orang orang Perguruan Naga Langit langsung membuka ruang bagi pertarungan antara Nalayana dan Wasesodirjo.
Dengan cepat, Nalayana menghantamkan tangan kanan dan kiri nya kearah Wasesodirjo bergantian. Segera Wasesodirjo yang menggunakan tongkat kayu berbonggol sebesar kepalan tangan orang dewasa langsung berkelit menghindari juga menangkisnya.
Whuuthhh !
Whuuthhh !
Plllaaakkkkk !
Adu ilmu beladiri tangan kosong itu berlangsung sengit. Kecepatan serangan Pendekar Naga Biru itu dalam menggunakan ilmu silat tangan kosong memaksa Wasesodirjo dalam posisi bertahan.
Secepat kilat, Nalayana melayangkan tendangan keras kearah dada Wasesodirjo. Lelaki bertubuh bungkuk itu dengan cepat menghadang dengan kedua tangan memegang tongkat.
Dhasshhh !
Pendekar Naga Biru dengan cepat merubah gerakan tubuhnya usai menarik kaki kanan setelah menyerang Wasesodirjo lalu kembali melayangkan tendangan keras kaki kiri ke arah kepala. Kecepatan gerak Nalayana segera membuat Wasesodirjo terkejut dan mundur menghindar.
Whhhuuutthh !
Bruuuuaaaakkkkhhh !
Meja makan warung makan itu langsung hancur berantakan saat tendangan keras Nalayana menghantamnya. Tak berhasil sampai di situ saja, dengan segera Nalayana menendang potongan kayu meja makan yang hancur ke arah Wasesodirjo.
Bhhaakkkk dhasshhh !!
4 potongan kayu meja makan langsung berhamburan ke arah Wasesodirjo. Pendekar Bongkok dari Goa Karang Pulut itu langsung memutar tongkat kayu nya untuk menangkis.
Brraaakkkk ! Bhuuukkkhhh !
Kayu kayu potongan meja makan yang hancur itu langsung bermentalan saat kibasan angin tongkat kayu Wasesodirjo berhasil menghalau nya. Namun di saat yang bersamaan, Nalayana segera muncul sembari menghantamkan tangan kanannya yang berwarna biru kehitaman.
Mata Wasesodirjo melotot lebar saat melihat serangan beruntun Nalayana. Apalagi melihat lawannya telah menggunakan Ajian Tinju Naga nya. Segera dia menggunakan tongkat kayu nya untuk menahan hantaman Nalayana.
Blllaaammmmmmmm !
Tubuh bungkuk Wasesodirjo langsung terpental keluar dari warung makan usai menabrak dinding kayu warung makan itu dengan keras. Setelah itu tubuh Wasesodirjo segera menyusruk tanah halaman warung makan itu dengan keras. Para pengepung nya langsung membuat pagar betis untuk mengepung tempat itu.
Wasesodirjo batuk batuk kecil. Dadanya sesak bukan main seperti baru tertimpa balok kayu besar. Dari sudut bibirnya darah segar mengalir keluar pertanda dia luka dalam. Kemampuan tenaga dalam nya memang jauh di bawah Nalayana yang merupakan pimpinan Perguruan Naga Langit.
Nalayana, Panji Tejo Laksono juga Gayatri dan Luh Jingga segera melangkah keluar dari dalam warung makan.
"Sekarang katakan padaku siapa yang menyuruh mu sebelum saudara Nalayana bertindak lebih jauh lagi?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
__ADS_1
Wasesodirjo segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Nihil kemungkinan untuk nya melarikan diri. Dengan menahan sesak di dada nya, terpaksa dia membuka mulutnya. Perlahan dia bangkit dari tempat jatuhnya.
"Pe-pendekar Topeng Besi yang menyuruh ku. Dia yang merencanakan ini semua untuk memecah belah pendekar golongan putih", jawab Wasesodirjo sembari memegang dadanya yang terasa sakit luar biasa.
"Pendekar Topeng Besi? Siapa dia? Kenapa namanya tidak pernah aku dengar sebelumnya?", berondong pertanyaan keluar dari mulut Nalayana.
"I-itu hanya nama julukan nya. Di-dia sebenarnya adalah Ra-raden Sin....", belum sempat Wasesodirjo menyelesaikan omongannya, sebuah anak panah melesat cepat batang leher nya.
Shrrriinnnggg !
Jllleeeeeppppphhh !
Aaauuuuggggghhhhh !
Wasesodirjo langsung roboh tersungkur ke tanah setelah anak panah yang di lepaskan oleh seseorang itu menancap di lehernya. Dia melengguh keras sesaat sebelum meregang nyawa. Pendekar Bongkok dari Goa Karang Pulut itu tewas dengan sebuah anak panah menancap di lehernya.
Kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga para prajurit pengawal pribadi Panji Tejo Laksono pun tak sempat mengejar sang penyerang. Meski mereka sempat memburu si pelaku, namun mereka kembali dengan tangan kosong.
"Satu-satunya petunjuk dari upaya memecah belah persatuan para pendekar golongan putih ini sudah tewas. Dia membawa rahasia itu mati bersama nya, Denmas ", ujar Gayatri sambil menatap ke arah mayat Wasesodirjo.
"Suatu saat rahasia ini pasti akan terungkap, Gayatri. Itu pasti..
Paman Ludaka,
Tolong urusi kekacauan ini. Aku tidak mau meninggalkan tempat ini sebelum kekacauan ini beres", ujar Panji Tejo Laksono dengan cepat.
"Baik Denmas", Tumenggung Ludaka membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono sebelum mulai memerintahkan kepada orang orang nya untuk membereskan permasalahan yang terjadi di warung makan itu.
Setelah memberikan ganti rugi untuk kerusakan warung, rombongan Panji Tejo Laksono mencari tempat lain untuk mengisi perut mereka. Demung Gumbreg membayar biaya makan siang mereka atas kekalahan nya dalam taruhan kemarin.
Selepas itu, atas usul dari Tumenggung Ludaka, rombongan itu tidak berhenti di Kota Kadipaten Kembang Kuning tapi segera melanjutkan perjalanan mereka menuju ke arah Kadipaten Kalingga.
Melewati jalan raya yang menghubungkan wilayah Kadipaten Kembang Kuning dan Kalingga, pemandangan indah tersaji di depan mata para rombongan. Gunung dan bukit yang menghijau, berpadu dengan lahan persawahan luas yang mulai menguning sungguh memanjakan mata Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.
Luh Jingga dan Gayatri begitu senang menyaksikan pemandangan indah ini. Perjalanan mereka kali ini membuat mereka yang tidak pernah keluar dari tempat tinggalnya mampu membuka wawasan mereka tentang luasnya wilayah Kerajaan Panjalu.
Matahari hampir tenggelam di barat. Semburat warna jingga semakin berubah kemerahan di langit sore itu.
Dua orang penduduk kampung yang baru saja selesai dari berladang terlihat berjalan keluar dari hutan kecil dan memotong jalan Panji Tejo Laksono dan rombongan.
Tumenggung Ludaka segera melompat turun dari kudanya dan bergegas mengejar mereka.
"Permisi Kisanak!
Aku ingin bertanya kepada kalian!"
Mendengar perkataan itu, dua orang lelaki tua muda yang badannya masih terdapat bekas kotor itu segera menghentikan langkahnya. Mereka berdua segera menoleh ke arah Tumenggung Ludaka yang berjalan mendekati mereka.
"Permisi Kisanak,
Kami dalam perjalanan menuju ke Kota Kadipaten Kalingga. Sepertinya kami tidak akan bisa mencapai kota Kadipaten karena hari sudah senja seperti ini. Aku mau bertanya, dimana kami bisa mendapatkan tempat bermalam?
Apa ada penginapan di tempat ini?", tanya Tumenggung Ludaka dengan sopan.
"Disini tidak ada penginapan, Kisanak..
Tapi kalau kamu mau bermalam disini, langsung saja ke rumah Ki Lurah Mpu Dirgo. Kisanak lurus saja. Nanti sampai di rumah yang ada joglo besar di selatan jalan, ada pohon sawo nya ya itu rumah Ki Lurah. Kalian langsung saja kesana", jawab si petani tua yang memanggul cangkul dan menenteng sebilah sabit.
"Terimakasih atas bantuan mu Kisanak, aku permisi ", usai berkata demikian, Tumenggung Ludaka segera berbalik badan dan menuju ke arah rombongan Panji Tejo Laksono. Setelah itu mereka bergegas menuju ke arah yang ditunjukkan oleh si petani tua itu.
"Kang, apa kau tidak curiga sedikitpun dengan mereka? Sepertinya mereka itu para pesilat. Jangan jangan mau berbuat onar di kampung kita", ucap si petani yang lebih muda sambil mengeluarkan kearah rombongan yang dipimpin oleh Panji Tejo Laksono itu.
"Kelihatannya mereka orang baik, Mo..
Kalaupun mereka ingin berbuat jahat, setidaknya kan ada Ki Lurah yang akan mengatasi nya. Sudah jangan pikirkan yang bukan urusan kita. Ayo cepat pulang, mbakyu mu sudah menunggu kita ", ucap si petani tua sembari melangkah menuju ke arah kediaman nya. Si petani yang lebih muda pun segera mengekor di belakangnya.
Sesampainya di arah yang di tunjukkan oleh petani tua tadi, Tumenggung Ludaka pun segera melompat turun dari kudanya. Panji Tejo Laksono, Gayatri, Luh Jingga, Gumbreg, Nalayana dan seluruh anggota rombongan itu pun segera mengikuti langkah Tumenggung Ludaka menuju ke sebuah rumah besar yang berhalaman luas.
Dua orang penjaga yang sedang leyeh-leyeh di tepi joglo besar sedikit terkejut melihat kedatangan mereka. Buru buru mereka bergegas menghampiri.
__ADS_1
"Siapa kalian? Mau apa kemari?", tanya salah satu penjaga itu sembari menatap ke seluruh anggota rombongan.
"Kami kemalaman di jalan, Kisanak. Ingin bertemu dengan Lurah Wanua ini untuk meminta bantuan tempat bermalam", jawab Tumenggung Ludaka dengan sopan.
"Tunggu disini, jangan kemana-mana. Akan ku panggil Ki Lurah..
Gampeng,
Kau awasi mereka!", setelah berkata seperti itu, si penjaga segera bergegas masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama kemudian dia kembali bersama seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan kumis tipis yang telah memutih. Dia adalah Mpu Dirgo, Lurah Wanua Weleri.
"Apa benar kalian ingin menumpang bermalam di tempat ini?", tanya Mpu Dirgo segera.
"Benar Ki Lurah..
Kami pengembara dari Kadiri. Bertujuan ke Kota Kadipaten Kalingga. Mohon bantuannya untuk mengijinkan kami menumpang istirahat semalam di tempat Ki Lurah", jawab Tumenggung Ludaka segera.
"Baiklah,
Kalian bisa tidur di dalam rumah ku tapi tidak akan cukup tempat. Para perempuan saja yang bisa tidur di kamar sedang para pria bisa menggelar tikar di sini maupun di ruang tengah", jawab Ki Lurah Mpu Dirgo sambil tersenyum tipis. Dia bisa menilai sekilas bahwa rombongan yang berjumlah sekitar 20 orang itu merupakan orang baik-baik.
Malam itu Luh Jingga dan Gayatri beristirahat di dalam kamar tidur sedangkan para anggota rombongan Panji Tejo Laksono mendapat tempat istirahat di ruang tengah. Kedatangan mereka tentu saja merepotkan Ki Lurah Wanua Weleri ini karena abdi setia Mpu Dirgo harus menyiapkan makanan untuk para anggota rombongan itu.
Meski hanya dengan talas kukus yang di taburi parutan kelapa, pisang rebus dan wedang jahe, para anggota rombongan termasuk Panji Tejo Laksono begitu menikmati makanan yang tersaji di depan mereka.
Demung Gumbreg yang masih lapar, terpaksa harus membuat api unggun di halaman samping rumah untuk membakar ketela pohon. Siwikarna dan Jaluwesi menemani sang perwira yang terlihat masih belum cukup makan.
Dari kegelapan malam, sekitar dua puluh orang berpakaian serba gelap bergerak cepat menuju ke arah kediaman Lurah Mpu Dirgo. Mereka semua menenteng senjata yang terhunus dari sarungnya.
Sesampainya di halaman rumah Mpu Dirgo, keduapuluh orang itu menghentikan langkah kaki mereka. Dengan cepat mereka mereka langsung mengepung kediaman Mpu Dirgo. Dua orang penjaga keamanan kediaman Mpu Dirgo segera berlari masuk ke dalam rumah.
Seorang lelaki bertubuh gempal yang memakai penutup wajah dari kain hitam langsung berkacak pinggang dan berteriak lantang.
"Dirgo,
Cepat keluar kau!"
Teriakan keras itu sontak membuat seisi penghuni rumah Mpu Dirgo kaget bukan kepalang. Demung Gumbreg yang baru mau menikmati hasil jerih payahnya membakar singkong langsung bergegas menuju ke halaman depan bersama Siwikarna dan Jaluwesi sembari menenteng singkong bakar nya yang masih panas.
"Hei kenapa teriak teriak di depan rumah orang? Ini sudah malam waktu nya untuk istirahat.
Apa kau tidak tahu tata krama ya?", ujar Demung Gumbreg sambil mengibaskan tangannya yang memegang singkong bakar.
Merasa tidak kenal dengan Demung Gumbreg, si lelaki bertubuh gempal itu segera berteriak lantang.
"Kau siapa gendut? Jaga mulut mu kalau tidak ingin ku kempesi perut mu itu!"
"Gendat gendut kepala mu.
Aku ini punya nama. Nama ku Gumbreg. Kau ini siapa? Kenapa berteriak lantang malam hari seperti ini? Sudah gila ya?", Demung Gumbreg menatap tajam ke arah sosok pria bertubuh gempal itu segera. Cahaya bulan purnama di tambah lampu minyak jarak masih tak mampu menunjukkan siapa lelaki bertubuh gempal itu sebenarnya.
"Kau yang gila. Hari ini aku akan menuntut atas hak yang seharusnya menjadi milik ku tapi di kuasai oleh si keparat Dirgo.
Minggir kau jika masih sayang nyawa mu!", ucap si lelaki bertubuh gempal itu sembari mengacungkan sebilah keris di tangan kanannya ke arah Demung Gumbreg.
Belum sempat Demung Gumbreg menjawab, dari dalam rumah Mpu Dirgo bersama Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan keluar. Mereka langsung mendekati Demung Gumbreg dan sosok lelaki bertubuh gempal itu segera.
"Ka-Kakang Dirno...
Apa itu kau?", tanya Mpu Dirgo sambil menatap ke arah sosok lelaki bertubuh gempal yang berdiri di depan nya.
Perlahan lelaki bertubuh gempal itu meraih penutup wajah nya hingga wajahnya terlihat jelas. Wajahnya mirip sekali dengan Mpu Dirgo.
"Ya ini aku, Dirgo..
Aku kemari untuk menuntut hak ku atas jabatan Lurah Wanua Weleri dan seluruh harta Kanjeng Romo", ucap si lelaki berwajah mirip dengan Mpu Dirgo yang bernama Mpu Dirno.
Panji Tejo Laksono yang berdiri di samping kanan Mpu Dirgo langsung angkat bicara.
"Atas dasar apa kau menuntut hak atas jabatan Lurah Wanua Weleri ini?
__ADS_1
Apa orang tua mu mewasiatkan kepada mu?"