
Tapi kehadiran Prabu Jayengrana dan Dewi Anggarawati membuat Maheswara suami Dewi Anggarasari hanya menggeram dalam hati. Dia tahu bahwa membuat masalah saat ini pasti akan di tangani dengan tegas oleh Prabu Jayengrana. Suasana duka cita akan membuat Raja Panjalu itu tidak akan segan segan menindak tegas setiap tindakan yang memicu terjadinya keributan. Namun keinginan nya untuk menduduki tahta Kadipaten Seloageng juga tidak surut.
Suasana di ruang pribadi adipati Seloageng seketika menjadi hening. Semua orang berusaha mencerna setiap ucapan dari Nararya Candradewi, janda Adipati Tejo Sumirat dalam pikiran mereka masing-masing.
"Mohon maaf, Biyung..
Sebaiknya masalah penerus dari Adipati Seloageng di bicarakan setelah upacara penyucian jiwa Kanjeng Romo Adipati Tejo Sumirat di laksanakan. Saat ini kita masih dalam suasana duka cita, jadi permasalahan ini kurang tepat jika di bicarakan sekarang", ujar Dewi Anggarawati segera.
Mendengar ucapan Dewi Anggarawati, semua orang bisa mengerti. Maheswara menarik nafas lega. Nararya Candradewi pun mengangguk setuju dengan pendapat putri nya.
Kemudian Nararya Candradewi mengajak Panji Tejo Laksono dan keempat orang istri nya untuk duduk bersama menunggui jasad Adipati Tejo Sumirat bersama sanak keluarga yang lainnya. Dewi Anggarawati kembali ke samping Prabu Jayengrana sedangkan Dewi Anggarasari duduk kembali di samping Maheswara suaminya.
"Dinda Anggarasari, aku ingin keluar sebentar. Perut ku terasa sakit seperti ingin buang air besar", bisik Maheswara di telinga istrinya.
"Duh Kangmas, kenapa juga di saat seperti ini kau malah mulas perut mu?
Ya sudah sana, jangan lama-lama. Nanti semua orang akan menyadari ketidakhadiran mu", balas Dewi Anggarasari dengan berbisik pula.
Setelah mendapat persetujuan dari istri nya, Maheswara segera beringsut mundur meninggalkan ruang pribadi adipati. Begitu sampai di luar ruangan, pria bertubuh gempal dengan kumis tipis itu segera berjalan dengan sedikit tergesa meninggalkan istana yang penuh dengan tanda tanda duka cita. Dengan langkah cepat, Maheswara segera sampai di kediaman nya yang terletak di keputran Seloageng.
Segera dia melepaskan seekor kuda dari geladak samping kanan rumah nya.
"Eh Gusti Pangeran Maheswara sudah pulang. Kog cepat sekali acaranya?", tanya seorang pekatik alias juru rawat kuda begitu melihat Maheswara melompat ke atas punggung kuda nya.
"Tutup mulut mu, Nggol. Urus saja pekerjaan mu", ucap Maheswara segera sembari menggebrak kudanya melewati pintu gerbang samping istana Kadipaten Seloageng. Kuda berwarna hitam itu dengan cepat mencecah jalan berbatu yang menjadi jalan menuju ke arah timur Kota Kadipaten Seloageng.
"Kau itu hanya menantu yang tidak punya hak apa-apa di istana ini. Pantas saja Gusti Adipati Tejo Sumirat tidak memberikan jabatan penting pada mu. Kelakuan mu memang buruk. Huuuu...", omel si pekatik begitu Maheswara sudah tidak terlihat lagi sambil meneruskan pekerjaannya memberikan rumput segar untuk kuda kuda di kandang Keputran Seloageng.
Maheswara adalah putra Akuwu Randu yang di nikahkan dengan Dewi Anggarasari, putri kedua Adipati Tejo Sumirat. Meski tidak bisa di katakan jelek, tapi diantara ketiga putri Adipati Tejo Sumirat yang lain, Anggarasari merupakan yang paling tidak menarik penampilan nya. Jauh jika dibandingkan dengan Anggarawati ibu dari Panji Tejo Laksono maupun Anggarasasi ibu dari Gayatri. Maheswara bersedia dinikahkan dengan nya karena mengincar jabatan adipati Seloageng, karena Tumenggung Sindupraja suami Anggarasasi tidak bersedia untuk menjadi pengganti sang Adipati Sepuh Tejo Sumirat karena lebih memilih untuk tidak meninggalkan jabatannya sebagai tumenggung di Daha. Sedangkan menantu yang lain yakni Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana juga sudah punya kedudukan yang jauh lebih tinggi dari jabatan Adipati Seloageng yang seyogyanya miliknya. Ini yang membuat Maheswara yang tampan dan gagah bersedia menikahi seorang gadis yang terbilang tidak terlalu cantik.
Meskipun Maheswara adalah satu-satunya menantu yang mungkin menjadi penerus dari Adipati Tejo Sumirat, namun hingga jatuh sakit tempo hari, sang Adipati sepuh tak juga menunjukkan adanya keinginan untuk menaikkan Maheswara sebagai penerusnya. Ini karena Adipati Tejo Sumirat mencurigai bahwa Maheswara terlibat dalam sebuah kelompok yang selama ini hanya ibarat dongeng pengantar tidur anak anak namun memiliki pengaruh di wilayah Jenggala yang berbatasan langsung dengan Seloageng. Oleh karena itu, Maheswara hanya di beri jabatan sebagai Rakryan ring Amancapraja atau pejabat tinggi urusan luar wilayah yang tidak memiliki kewenangan apapun dalam tata pemerintahan daerah di Seloageng.
__ADS_1
Maheswara terus memacu kuda hitam nya menuju ke arah timur kota Seloageng. Kuda hitam tunggangan nya terus melesat cepat melintasi jalan raya yang menuju ke arah Wanua Panumbangan yang ada di timur Kali Aksa.
Selesai menyeberangi Kali Aksa yang hanya sebatas lutut orang dewasa, Maheswara terus menggebrak kuda nya menuju ke sebuah pertapaan yang ada di wilayah Wanua Panumbangan. Segera dia melompat turun dari kudanya dan bergegas menuju ke arah kediaman utama Pertapaan Panumbangan.
Seorang lelaki tua dengan pakaian layaknya seorang pertapa dengan rambut memutih dan janggut panjang nampak sedang mengajar beberapa cantrik yang sedang menimba ilmu. Meski terlihat seperti orang alim namun pandangan mata lelaki tua bertubuh gempal itu menyiratkan makna yang sangat aneh. Begitu melihat kedatangan Maheswara, dia segera memberikan isyarat kepada para cantrik nya untuk membubarkan diri. Dengan patuh, para cantrik itu segera mengumpulkan barang mereka dan meninggalkan serambi Pertapaan Panumbangan.
Maheswara yang ngos-ngosan mengatur nafasnya segera duduk bersila di hadapan sang lelaki tua itu.
"Celaka Resi Mpu Wisesa..
Semua rencana kita dalam bahaya. Kau harus segera mengabarkan berita ini pada pimpinan kita", ujar Maheswara segera.
"Apa maksud dari ucapan mu, Maheswara? Katakan saja semuanya. Jangan bertele-tele", bentak lelaki tua yang dipanggil dengan nama Resi Mpu Wisesa itu sedikit keras.
"Adipati Sepuh Tejo Sumirat mewasiatkan tahta Kadipaten Seloageng kepada cucunya, Panji Tejo Laksono putra sulung Prabu Jayengrana sebagai tanah lungguh nya. Ini semua di luar perkiraan kita, Resi Mpu Wisesa.
Dan aku yakin tak seorang pun akan berani untuk menentang wasiat terakhir Adipati Tejo Sumirat. Dengan begini, gagal sudah rencana pimpinan kita untuk menghancurkan Panjalu dari dalam", ujar Maheswara segera.
Ehehehehehehehe..
Tidak perlu kau mengatakan kalau rencana pimpinan pasti gagal karena Panji Tejo Laksono di pilih oleh Adipati Tejo Sumirat sebagai penerusnya. Itu sudah pasti, karena kau cuma seorang menantu dan Panji Tejo Laksono adalah cucu kandung nya.
Tapi kau tidak perlu khawatir, Maheswara. Ini akan tetap ku laporkan pada pimpinan kita. Dia pasti tak akan tinggal diam saja saat Panji Tejo Laksono mendapatkan tanah lungguh nya. Sekarang pulanglah ke Seloageng. Bersikaplah seperti tidak ada apa-apa. Jangan menambah kecurigaan bahwa ada anggota Kelompok Bulan Sabit Darah di dalam istana Kadipaten Seloageng", ujar Resi Mpu Wisesa sambil menyeringai lebar menatap kekecewaan di wajah Maheswara.
"Baiklah, aku percaya padamu Resi Mpu Wisesa. Semoga pimpinan segera mengambil tindakan untuk masalah ini.
Kalau begitu aku mohon pamit ", ujar Maheswara yang segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Pertapaan Panumbangan. Segera dia melompat ke atas kuda nya dan kembali menggebrak kuda tunggangan nya itu ke arah Kota Kadipaten Seloageng.
Begitu Maheswara pergi, Resi Mpu Wisesa menjentikkan jarinya dua kali dan sebuah bayangan berkelebat cepat mendekati nya. Saat sampai di dekat Resi Mpu Wisesa, bayangan berkelebat yang ternyata adalah seseorang berpakaian serba hitam dengan topeng besi separuh wajah yang berukir bulan sabit merah terbalik pada dahinya itu segera menghormat pada Resi Mpu Wisesa. Dari sebagian wajahnya yang tidak tertutup oleh topeng, bisa dipastikan bahwa dia adalah seorang lelaki berkumis tipis.
"Ada tugas apa dari pimpinan ketujuh?", ucap si sosok lelaki bertopeng itu segera.
__ADS_1
"Bawa beberapa orang mu untuk mencelakai Panji Tejo Laksono. Jangan membunuh nya, cukup menciderai nya saja. Lakukan malam ini juga. Pergilah sekarang", perintah Resi Mpu Wisesa dengan nada dingin.
Tanpa menjawab, si sosok lelaki bertubuh kekar itu segera menghormat pada Resi Mpu Wisesa lalu kembali melesat cepat meninggalkan tempat itu. Ilmu meringankan tubuh nya sangat tinggi hingga nyaris tak menimbulkan suara apapun selain angin yang berdesir.
Resi Mpu Wisesa kembali menjentikkan jari nya namun hanya satu kali. Kali ini datang lagi sesosok bayangan berpakaian merah yang juga segera menghormat pada Resi Mpu Wisesa.
"Demit Ireng sudah mendapatkan tugas nya. Sekarang giliran mu, Demit Abang..
Laporkan pada pimpinan utama untuk mempercepat pertemuan para pimpinan kelompok kita di Gunung Kawi. Minta paling lambat akhir purnama ini harus terlaksana. Penunjukan langsung Panji Tejo Laksono sebagai penerus dari Adipati Tejo Sumirat akan membawa dampak besar bagi pengangkatan Yuwaraja Panjalu selanjutnya. Laksanakan", perintah Resi Mpu Wisesa sambil menatap ke arah langit selatan yang biru.
Seperti layaknya sang bayangan hitam sebelumnya, bayangan merah yang mendapat julukan sebagai Demit Abang ini segera menghormat pada Resi Mpu Wisesa lalu dengan cepat melesat ke arah Utara meninggalkan Pertapaan Panumbangan yang menjadi tempat penyamaran Resi Mpu Wisesa sebagai pemuka agama di wilayah Kadipaten Seloageng.
Kelompok Bulan Sabit Darah adalah sebuah kelompok misterius yang di dirikan selepas pemecahan Kerajaan Kahuripan menjadi dua bagian sama besar. Konon katanya, penyerbuan Jenggala ke Panjalu yang dipimpin oleh Maharaja Mapanji Garasakan dulu juga karena andil bantuan dari gerakan kelompok ini yang bergerak di belakang layar. Kekalahan Mapanji Garasakan dari Prabu Jayengrana membuat kekuatan kelompok ini menurun namun masih mampu membuat banyak pihak berhati-hati dengan mereka terutama pada pergerakan kelompok ini yang nyaris tak terendus oleh para mata-mata dan telik sandi. Keberadaan mereka yang samar begitu menyulitkan banyak pihak terlebih bagi Pasukan Lowo Bengi pimpinan Tumenggung Ludaka yang selalu mencari berita terkait dengan kekuatan mereka di wilayah Kerajaan Panjalu.
Dalam kelompok ini ada 7 pimpinan kelompok yang masing masing membawahi beberapa orang pendekar berilmu tinggi dan ribuan orang anggota yang siap di gerakkan kapan saja sesuai keinginan mereka. Jika salah satu pimpinan mati atau terbunuh, pimpinan selanjutnya akan segera muncul. Salah satu dari ketujuh orang pimpinan kelompok ini adalah Resi Mpu Wisesa, seorang bekas perwira pada era Prabu Airlangga yang tidak ikut ke Jenggala maupun Panjalu.
Dia dimasukkan kedalam Kelompok Bulan Sabit Darah usai pimpinan ketujuh sebelumnya, tewas karena terbunuh oleh Prabu Jayengrana di pertempuran Kali Aksa. Ini pula yang membuat Resi Mpu Wisesa memilih untuk menyamar sebagai pemuka agama bagi masyarakat Seloageng yang bermukim di sekitar lereng Gunung Kawi barat daya untuk memudahkannya memantau pergerakan orang orang Panjalu.
Sementara Resi Mpu Wisesa masih berkutat dengan segala rencana nya, Demit Ireng yang menjadi suruhan nya sudah bergerak menuju ke arah Kota Kadipaten Seloageng. Bersama sepuluh orang bawahannya, sang suruhan kini sudah sampai di tapal batas Kota Kadipaten Seloageng.
Saat malam hari mulai menjelang, seluruh anggota keluarga Istana Kadipaten Seloageng kini telah kembali ke tempat peristirahatan mereka masing-masing untuk bersiap dalam acara penyucian jiwa Kanjeng Adipati Tejo Sumirat. Panji Tejo Laksono beserta keempat istrinya menempati balai tamu kehormatan Kadipaten Seloageng. Sedangkan Prabu Jayengrana dan Dewi Anggarawati menempati Keputren Istana yang berjarak sekitar 200 tombak jauhnya.
Di serambi balai tamu kehormatan, Panji Tejo Laksono sedang asyik berbincang dengan Song Zhao Meng dan Luh Jingga. Mereka sedang mengenang masa perjalanan mereka di Tanah Tiongkok. Gayatri sedang menemani Dewi Anggarawati di Keputren sedangkan Ayu Ratna yang kelelahan sudah terlelap nyenyak di pembaringan.
Saat itu, tiba tiba saja Panji Tejo Laksono menghentikan obrolannya dan menoleh ke arah timur. Luh Jingga yang penasaran langsung bertanya kepada sang suami.
"Ada apa Gusti Pangeran? Apa ada sesuatu yang aneh sedang terjadi?", Luh Jingga menatap heran kearah Panji Tejo Laksono yang terus menatap ke arah timur. Hawa pembunuh yang pekat sedang bergerak cepat menuju ke arah mereka.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari arah datangnya hawa pembunuh, Panji Tejo Laksono segera berdiri dari tempat duduknya sembari berkata,
"Hati-hatilah Dinda berdua,
__ADS_1
Ada tamu tidak diundang sedang menuju kemari".