Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Mpu Purwa


__ADS_3

Mpu Jiwan langsung melesat cepat kearah timur laut sambil menggendong tubuh Putri Uttejana yang pingsan. Badragenta yang menantang Ki Jatmika pun segera ikut serta menyusul sang guru. Meskipun dia masih belum puas bertarung melawan pria paruh baya itu, dengan tubuh yang terdapat luka ringan, Badragenta memilih untuk meredakan emosi nya dan mengikuti jejak langkah sang guru.


Sedangkan Senopati Bratajaya sudah tak nampak lagi batang hidungnya saat pertarungan ini selesai. Rupanya dia sudah lebih dulu kabur saat ada kesempatan.


Kendati masih mampu untuk melanjutkan pertarungan, Panji Tejo Laksono memilih untuk tidak mengejar sang sesepuh Kelompok Bulan Sabit Darah ini. Dua wanita nya sedang luka dalam dan menyelamatkan mereka jauh lebih penting daripada sekedar menantang Mpu Jiwan.


Ki Jatmika sendiri juga menderita luka dalam akibat pertarungan dengan Badragenta meskipun cidera yang dia alami tidak terlalu mengkhawatirkan. Sedikit membungkuk menahan rasa nyeri pada dada, Ki Jatmika segera mendekati Panji Tejo Laksono yang sedang memapah kedua orang wanitanya itu.


"Sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini, Pendekar. Takutnya Si Hantu Misterius itu kembali lagi. Bisa repot kita.


Luka dalam Nini Kirana dan Nini Wulandari cukup parah. Perlu waktu lama dan tempat yang tenang untuk mengobati nya", ujar Ki Jatmika segera.


"Aku sependapat dengan mu, Ki. Tapi kita mau kemana? Aku sama sekali asing dengan tempat ini", balas Panji Tejo Laksono.


"Ada satu tempat yang bisa kita gunakan untuk mengobati luka dalam Nini Kirana dan Nini Wulandari, Pendekar. Cukup jauh dari sini tapi saya rasa itu satu-satunya tempat teraman untuk kita saat ini", mendengar jawaban itu, Panji Tejo Laksono langsung mengangguk setuju.


Sambil memapah Song Zhao Meng dan Dyah Kirana yang memucat wajahnya, Panji Tejo Laksono melesat mengikuti langkah Ki Jatmika yang berlari bagaikan terbang di atas tanah. Kuda-kuda mereka terbunuh oleh Ilmu Sembilan Matahari tahap kedelapan yang membuat mereka terpaksa harus bergerak sendiri tanpa kendaraan.


Hanya dalam waktu singkat, mereka telah melewati wilayah Pakuwon Carat. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka yang tinggi, mereka dengan mudah melintas di atas Kali Porong dengan memanfaatkan tumbuhan air yang terapung pada aliran sungai itu.


Setelah melewati Kali Porong, mereka terus bergerak ke selatan. Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di sebuah bangunan keagamaan yang di kelilingi oleh pagar pohon perdu yang indah.


Seorang lelaki paruh baya bertubuh sedikit bungkuk dengan pakaian seorang brahmana nampak sedang menyapu halaman bangunan pemujaan ini. Sebuah bekas luka nampak menghiasi wajahnya. Lelaki paruh baya itu segera menghentikan pekerjaan nya saat Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya datang ke tempat itu. Segera dia mendekati mereka. Begitu melihat wajah Ki Jatmika di antara mereka, lelaki paruh baya itu segera tersenyum.


"Ah tidak ku sangka seorang kawan lama yang berkunjung kemari.


Angin apa yang membawa mu kemari, Jatmika?", tanya lelaki berjanggut lebat yang sudah penuh uban itu sambil tersenyum.


"Aku butuh bantuan mu, Purwa..


Dua kawan ku luka dalam dan butuh tempat tenang untuk mengobati nya. Apa itu bisa kau lakukan?", ucap Ki Jatmika sambil menatap ke arah lelaki paruh baya bertubuh sedikit bungkuk ini yang dia panggil dengan nama Purwa.


"Hehehehe...


Kau ini seperti tidak mengenal ku saja Jatmika. Mari silahkan masuk", ucap Mpu Purwa segera.


Panji Tejo Laksono langsung memapah Song Zhao Meng dan Dyah Kirana yang pucat wajah nya mengikuti langkah Mpu Purwa bersama dengan Ki Jatmika ke arah samping bangunan pemujaan ini yang menjadi tempat tinggal nya. Di sebuah ruangan yang cukup luas yang menjadi ruang tamu, Panji Tejo Laksono segera merebahkan tubuh Dyah Kirana dan Song Zhao Meng ke sebuah dipan kayu yang ada di sudut ruangan ini.


Dyah Kirana segera berbaring di atas dipan kayu sementara Song Zhao Meng duduk bersila di lantai rumah Mpu Purwa. Panji Tejo Laksono pun segera duduk di belakang Song Zhao Meng. Sang pangeran muda ini dengan cepat menggerakkan kedua tangan nya ke samping tubuhnya lalu kedua tangan menangkup di depan dada.


Cahaya merah menyala berhawa panas dengan cepat keluar dari dalam tubuh Panji Tejo Laksono. Sekali sentakan, kedua tangan nya segera menempel di punggung Song Zhao Meng. Hawa hangat langsung mengalir ke dalam tubuh Song Zhao Meng.


Tak berapa lama kemudian..

__ADS_1


Hoooeeeeggggh!!


Song Zhao Meng langsung memuntahkan darah kehitaman. Namun setelah muntah, sesak nafas yang sempat membuatnya ngos-ngosan mengatur nafasnya berangsur menghilang. Kini wajah putri Kaisar Huizong ini yang semula pucat pasi perlahan mulai memerah.


" Bagaimana keadaan mu sekarang, Wulan?", tanya Panji Tejo Laksono sambil terus menyalurkan tenaga dalam nya ke punggung sang permaisuri kedua.


"Su-sudah lebih baik, Kakang. Uhukkk..", Song Zhao Meng batuk kecil setelah berbicara.


Semakin lama Panji Tejo Laksono menyalurkan tenaga dalam nya, rona wajah cantik Song Zhao Meng perlahan pulih. Setelah dirasa cukup, Panji Tejo Laksono menghentikan penyaluran tenaga dalam nya. Song Zhao pun berdiri dan segera berbaring di atas dipan untuk beristirahat.


Setelah Song Zhao Meng sudah mulai bisa bernafas lega, ganti Dyah Kirana yang mendapat saluran tenaga dalam dari Panji Tejo Laksono.


Semua kegiatan ini tak luput dari pengawasan Mpu Purwa yang berdiri di samping pintu ruang tamu itu bersama dengan Ki Jatmika.


"Pendekar muda ini hebat..


Dua kali berturut-turut menyalurkan tenaga dalam nya tapi tidak terlihat lelah sama sekali. Siapa dia Jatmika?", Mpu Purwa menoleh ke arah kawan lamanya ini.


"Aku bertemu dengan mereka saat perjalanan ke Bukit Lanjar, Purwa..


Mereka bertiga adalah utusan Prabu Jayengrana dari Panjalu", mendengar penjelasan Ki Jatmika, Mpu Purwa terhenyak sebentar namun dia dengan cepat menguasai dirinya.


"Utusan dari Daha?


Bukankah melukai utusan akan menjadi masalah besar, Jatmika? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?", Mpu Purwa menatap heran ke arah Ki Jatmika.


Pendekar muda ini bisa mengalahkan mereka semua tapi ada orang lain yang ikut menyerang kami. Melihat dari pakaiannya, mereka pasti Kelompok Bulan Sabit Darah ", pungkas cerita Ki Jatmika sambil menghela nafas panjang.


Hemmmmmmm...


"Kelompok Bulan Sabit Darah..


Dari dulu mereka memang suka membuat ulah. Gara gara mereka, istri ku Nyi Padmi harus meninggal dunia karena menyelamatkan nyawa putri Prabu Mapanji Alanjung Ahyes. Pimpinan mereka waktu itu, Si Dewa Tangan Besi memburu istri ku yang bekerja sebagai dayang istana Kahuripan setelah membawa lari putri sang raja Jenggala itu dari pembantaian di dalam istana.


Waktu itu di Pasuruhan selatan, istri ku dan aku hendak menyelamatkan nyawa putri kecil itu. Namun rupanya gerakan kami telah tercium oleh mereka sehingga mereka membuat penyergapan di Bukit Kelapa untuk merebut putri sang raja. Aku bertarung melawan Si Dewa Tangan Besi tapi aku bukanlah tandingan nya. Aku hampir saja mati oleh Ajian Guntur Bumi dan istri ku nyaris di bunuh oleh Si Dewa Tangan Besi saat Begawan Padmanaba dari Pertapaan Gunung Mahameru datang menolong.


Dari pertarungan sengit antara mereka, Si Dewa Tangan Besi terluka parah. Namun sebelum dia pergi, masih sempat melemparkan serangan pada istri ku yang akhirnya terbunuh juga oleh orang biadab itu.


Aku mengutuk Si Dewa Tangan Besi dan Kelompok Bulan Sabit Darah!!", mata Mpu Purwa sang brahmana sembab karena teringat pada istri yang begitu dicintainya.


"Sudahlah, Purwa..


Yang lalu biarlah berlalu. Kau sekarang bukan lagi perwira prajurit Jenggala. Kau sudah menjadi seorang brahmana sekarang. Luka di punggung mu itu biarlah menjadi kenangan buruk mu di masa lalu.

__ADS_1


Sekarang siapkanlah makan malam. Perut ku lapar setelah bertarung hidup mati tadi. Ayo sana..", ucap Ki Jatmika yang berusaha menghibur kawan lamanya ini.


"Dasar benalu..


Datang-datang cuma numpang makan dan istirahat. Aku tidak akan tertipu lagi sama kamu, Jatmika. Sekarang bantu aku mencabut ketela pohon di kebun belakang", sahut Mpu Purwa sambil berlalu menuju ke arah belakang rumahnya.


"Hei aku ini sedang terluka, Purwa.. Uhukkk uhukkk..


Apa kau tega menyuruh ku untuk mencabut ketela pohon?", mendengar jawaban itu, Mpu Purwa mendengus keras.


"Itu hanya alasan mu saja, Jatmika..


Bantu aku atau aku tidak akan memberi mu makan malam", setelah berkata demikian Mpu Purwa segera bergegas menuju ke arah belakang kediamannya. Sambil menggerutu, Ki Jatmika akhirnya menyusul sahabat nya ini.


Siang dengan cepat berganti sore. Panji Tejo Laksono menghela nafas panjang usai menyalurkan tenaga dalam nya pada Dyah Kirana. Dia benar-benar kelelahan setelah melakukan penyelamatan pada dua wanitanya itu sekaligus. Namun itu tidak membuatnya merasa lelah setelah melihat keadaan keduanya yang membaik. Meski wajah cantik dua orang itu masih terlihat sedikit pucat, namun secara keseluruhan keadaan mereka berdua tidak ada masalah. Mereka berdua hanya perlu beristirahat satu hari penuh untuk memulihkan kondisi tubuh seperti semula.


Usai membersihkan diri di sendang kecil di belakang rumah Mpu Purwa, Panji Tejo Laksono bergegas kembali ke tempatnya semula. Saat itu, Song Zhao Meng sudah bisa duduk bersama dengan Ki Jatmika dan Mpu Purwa sambil menikmati singkong rebus, pisang raja bakar dan sekendi air putih.


Melihat kedatangan sang pangeran, Song Zhao Meng segera berusaha untuk bangkit menyambut kedatangan suaminya namun Panji Tejo Laksono buru-buru mencegah.


"Tidak perlu repot-repot untuk menyambut ku, Wulandari..


Kau mesti harus banyak istirahat agar cepat pulih", ucap Panji Tejo Laksono sambil mendudukkan kembali Song Zhao Meng di tempatnya semula.


"Tapi Kakang..."


"Tidak ada tapi-tapian. Kesehatan mu lebih penting", potong Panji Tejo Laksono yang membuat Song Zhao Meng tersenyum tipis. Sang pangeran muda segera duduk bersila di samping Song Zhao Meng, berhadapan dengan Ki Jatmika dan Mpu Purwa.


"Kalian para anak muda kadang membuat kami iri dengan kemesraan kalian hehehehe..


Oh iya anak muda, tadi kita belum sempat berkenalan. Aku Mpu Purwa. Kalau boleh tau, siapa nama mu?", ucap Mpu Purwa sambil mengunyah singkong rebus yang kematangan hingga sedikit benyek.


"Maafkan atas ketidaksopanan ku, Mpu Purwa. Aku sebagai tamu tidak langsung memperkenalkan diri terlebih dahulu.


Nama ku Tejo. Kami berasal dari Kotaraja Daha. Ini istri ku Wulandari dan yang sedang berbaring itu adalah Kirana", ujar Panji Tejo dengan sopan.


"Hehehehe...


Sungguh pendekar muda yang rendah hati. Saat ini jarang sekali ada pendekar muda berilmu tinggi yang rendah hati seperti mu, Kisanak..


Oh iya, selepas ini, kalian akan kemana? Maaf ini bukan urusan ku. Aku hanya penasaran saja", Mpu Purwa mengusap bibirnya yang basah setelah menenggak air kendi yang ada di depannya.


Panji Tejo Laksono menghela nafas panjang sebelum akhirnya berbicara.

__ADS_1


"Pertapaan Gunung Mahameru..


Kami akan kesana.."


__ADS_2