
"Sepertinya aku tidak bisa menyimpan rahasia apapun dari Maharesi ya? Hehehehe..
Aku memang ada tujuan ke Kotaraja Kahuripan, Maharesi. Ini juga atas perintah dari Kanjeng Romo Prabu Jayengrana", ucap Panji Tejo Laksono sambil menggaruk kepalanya.
"Berhati-hatilah dalam perjalanan mu, Gusti Pangeran. Ada bahaya besar yang sedang menunggu mu di perjalanan esok hari", Maharesi Yogiswara mengelus jenggotnya yang panjang.
"Bahaya besar apa itu Maharesi?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Esok kau akan tahu sendiri, Gusti Pangeran. Sudah malam. Sebaiknya kita segera beristirahat", setelah berkata seperti itu, Maharesi Yogiswara segera berbalik badan dan meninggalkan Panji Tejo Laksono yang masih berdiri termangu menatap punggung sang resi sepuh yang berlalu meninggalkan nya.
Hemmmmmmm..
'Sepertinya Maharesi Yogiswara tidak main-main dengan omongan nya. Aku harus berhati-hati saat perjalanan nanti', batin Panji Tejo Laksono yang segera berlalu menuju ke arah bilik kamar peristirahatan yang di sediakan untuk nya.
Malam terus bergerak. Angin dingin dari puncak Gunung Penanggungan berhembus perlahan, seakan menjadi penenang hati setiap orang yang tinggal di Pertapaan Gunung Penanggungan. Semua orang telah terbuai oleh mimpi mereka masing-masing di peraduan mereka hingga pagi menjelang tiba.
Gerimis kecil bercampur dengan hembusan angin terus mengguyur Pertapaan Gunung Penanggungan saat sang jago berkokok lantang bersahutan seakan ingin menggugah dunia dengan suaranya yang nyaring. Cuaca pagi itu menjadi dingin tak seperti biasanya. Semua orang nyaris tak keluar dari dalam tempat tinggal mereka masing-masing. Semua kegiatan mereka terjadi di dalam ruangan.
Para cantrik dan emban Padepokan Gunung Penanggungan sibuk mempersiapkan makanan untuk sarapan semua orang yang ada di tempat itu. Beberapa cantrik terlihat sedang asyik menumbuk padi di lesung hingga suara bertalu-talu terdengar dari arah lumbung pangan.
Akibat gerimis yang turun ini, rencana Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya untuk berangkat pagi-pagi ke Kotaraja Kahuripan terpaksa harus ditunda. Ini karena jalan turun dari Pertapaan Gunung Penanggungan menjadi licin dan berbahaya hingga mau tidak mau harus menunggu sampai gerimis itu mereda.
Pagi itu, Panji Tejo Laksono, Dyah Kirana, Song Zhao Meng dan Ki Jatmika di undang oleh Maharesi Yogiswara untuk sarapan pagi bersama. Tak ada pembicaraan penting dalam acara ini, hanya bincang bincang ringan saja.
Usai sarapan pagi, Maharesi Yogiswara tiba-tiba berkata bahwa Panji Tejo Laksono sebenarnya bisa saja menghilangkan gerimis kecil itu dengan kemampuan nya sendiri.
"Apa maksud Maharesi Yogiswara dengan berkata seperti itu?", Panji Tejo Laksono heran dengan omongan orang tua itu.
"Bukankah Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono memiliki Ajian Kitiran Sewu? Kenapa tidak menggunakan nya untuk menghilangkan gerimis ini?", ujar Maharesi Yogiswara sembari tersenyum penuh arti.
"Apakah itu bisa, Maharesi? Saya belum pernah mencobanya", Panji Tejo Laksono sedikit ragu.
"Kalau tidak pernah di coba, Gusti Pangeran tidak akan pernah tahu", balas Maharesi Yogiswara segera.
Mendengar jawaban itu, Panji Tejo Laksono segera berdiri dari tempat duduknya. Seraya menguatkan kuda-kuda nya, kedua tangan nya segera menangkup di depan dada. Mulutnya pun segera komat-kamit merapal mantra Ajian Kitiran Sewu, ilmu kanuragan tingkat tinggi yang di turunkan oleh Maharesi Padmanaba kepadanya tempo hari.
Perlahan hawa dingin berdesir kencang di sekitar tempat Panji Tejo Laksono berdiri. Semua orang terkejut bukan main melihat kejadian itu dan langsung menjauh dari tempat Panji Tejo Laksono berdiri. Setelah itu, Panji Tejo Laksono dengan cepat mengangkat kedua tangannya ke atas kepala sembari berteriak lantang.
"Kitiran Sewu..
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..!!!"
Seketika muncul angin kencang laksana badai yang mengamuk di sekitar Pertapaan Gunung Penanggungan. Angin kencang ini seperti menghempaskan semua gerimis yang turun di sekitar tempat itu. Semua orang langsung ketakutan setengah mati melihat adanya angin kencang yang tiba-tiba saja muncul di sekitar tempat mereka.
Hanya dalam hitungan beberapa kejap mata saja, gerimis kecil yang mengguyur tempat itu langsung menghilang begitu saja.
__ADS_1
Panji Tejo Laksono langsung menurunkan kedua tangan nya ke bawah perutnya dan menghela nafas panjang. Ki Jatmika yang melihat kejadian itu semakin takjub melihat kemampuan beladiri yang dimiliki oleh sang pangeran muda.
Setelah gerimis kecil itu menghilang, Panji Tejo Laksono segera berpamitan pada sang dwija suci untuk meneruskan perjalanan nya ke Kotaraja Kahuripan.
Usai berpamitan, Panji Tejo Laksono, Ki Jatmika, Song Zhao Meng dan Dyah Kirana segera naik ke atas punggung kuda nya. Mereka semua segera memacu kuda tunggangan nya meninggalkan Pertapaan Gunung Penanggungan. Maharesi Yogiswara terus menatap ke arah perginya para tamu agung nya hingga mereka menghilang di balik tikungan bukit.
Sebelum tengah hari, rombongan Panji Tejo Laksono telah meninggalkan wilayah Pakuwon Bandar. Mereka terus memacu kuda tunggangan mereka hingga sampai di tapal batas wilayah antara Jenggala dan Panjalu. Mereka terus memacu kuda mereka menuju ke arah Utara.
Melihat kuda mereka yang telah kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh, Panji Tejo Laksono menghentikan laju pergerakan mereka di bantaran Kali Porong. Di sekitar tempat itu banyak sekali tumbuh rumput yang menghijau hingga bisa memberi makan pada kuda-kuda tunggangan mereka.
"Kita istirahat sebentar disini.. Kuda kuda kita butuh istirahat", ujar Panji Tejo Laksono begitu Ki Jatmika, Dyah Kirana dan Song Zhao Meng ikut menghentikan langkah kaki kuda mereka dengan menarik tali kekang.
"Tempat ini masih jauh dari Kotaraja Kahuripan, Pendekar..
Seberang kali ini ada Wanua Carat. Kita sebaiknya beristirahat saja di sana", saran Ki Jatmika yang hapal betul dengan seluk beluk wilayah sekitar tempat itu.
"Tidak masalah kita istirahat disana tapi biarkan dulu kuda kita makan dan minum sebentar. Kasihan mereka..", Ki Jatmika tidak berkata apa-apa lagi selain mengangguk setuju dengan pendapat Panji Tejo Laksono.
Sembari menunggu kuda mereka menikmati hijau nya rerumputan di bantaran Kali Porong, Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan berteduh di bawah pohon rindang yang tumbuh tak jauh dari tempat kuda mereka merumput.
Dyah Kirana segera membuka bekal makanan yang ada di dalam buntalan kain hitam nya. Tadi sewaktu melewati Kota Pakuwon Bandar, dia sempat membeli beberapa makanan kering yang biasa di bawa saat perjalanan jauh. Beberapa potong daging celeng kering yang di awetkan dengan balutan kelapa yang sedikit berminyak cukup untuk mengisi perut mereka yang mulai kelaparan karena hari sudah beranjak siang.
Tiba-tiba saja...
Tolong selamatkan kami..!!!!"
Teriakan keras terdengar dan seketika membuat Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya kaget mendengarnya. Keempat orang itu segera berdiri dan menoleh ke arah sumber suara.
Dari arah barat, seekor kuda yang dinaiki oleh sepasang laki-laki dan perempuan tengah di kejar oleh beberapa orang berpakaian seperti centeng atau pengawal pribadi. Diantara mereka ada seorang lelaki bertubuh gempal dengan pakaian bagus memimpin para centeng itu memburu sepasang laki laki dan perempuan muda itu. Dari perempuan muda itu suara minta tolong tadi berasal.
Begitu sampai di dekat Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan berada, si perempuan muda dan lelaki yang membawanya itu segera menghentikan kuda mereka dan dengan cepat melompat turun.
"Tolong selamatkan kami, Kisanak.. Orang orang jahat itu ingin menculik ku", ujar si perempuan muda yang berwajah cantik ini dengan penuh harap sembari menatap wajah Panji Tejo Laksono dengan penuh permohonan.
"Be-benar Pendekar..
To-tolonglah kami. Mereka ingin menculik Gusti Putri Rara Wandansari untuk di jadikan sebagai istri muda lelaki keparat itu", sambung si lelaki muda itu segera.
"Kalau kalian bersedia untuk menolong ku, aku akan minta Kanjeng Romo Akuwu untuk memberikan hadiah besar untuk kalian", imbuh si perempuan muda berbaju bangsawan ini dengan penuh pengharapan akan pertolongan dari Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.
Hemmmmmmm...
"Kita harus menolongnya, Kakang..", bisik Dyah Kirana yang membuat Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti.
Tak berapa lama kemudian, serombongan orang yang mengejar perempuan muda berbaju bangsawan ini datang mendekati mereka. Si lelaki bertubuh gempal dengan kumis tipis dan pakaian bagus itu segera menyeringai lebar begitu melihat perempuan muda itu ada di antara Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.
__ADS_1
"Eh hehehehe...
Rara Wandansari, rupanya kau sudah menyerah untuk kabur ya? Ayo kemari ikut aku ke Hujung Galuh. Kau akan ku jadikan istri ku hehehehe..", ujar si lelaki bertubuh gempal itu seraya tertawa kecil.
"Jangan mimpi kau, Adikara..
Tak sudi aku menjadi istri mu. Daripada punya suami lelaki hidung belang seperti mu lebih baik aku mati saja", ucap perempuan cantik yang bernama Rara Wandansari ini dengan sengit.
"Kurang ajar!!
Kalau aku tidak menginginkan mu menjadi istri ku, sudah ku hajar mulut tajam mu itu Wandansari. Kalian semua, cepat tangkap Wandansari untuk ku!", perintah Adikara yang membuat belasan centeng bertubuh gempal itu segera melompat turun dari kudanya mereka masing-masing dan mulai maju hendak menangkap buruan mereka. Si lelaki muda yang bersama Rara Wandansari segera bergerak melindungi perempuan cantik itu seraya mencabut keris di pinggangnya.
"Jangan mendekat!! Kalau berani mendekat , aku akan menusuk perut kalian dengan keris pusaka ku ini!", ancam si lelaki muda itu sembari bergerak mundur ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.
"Huh, bocah bau kencur mau menakuti kami dengan keris karatan itu?!!
Chuuuihhhhhh...
Kami sama sekali tidak takut!!", usai meludah ke samping dengan kasar, salah satu centeng berewokan langsung menerjang maju ke arah Rara Wandansari dan pemuda yang bersamanya ini.
Belum sempat si centeng berewokan ini sampai di tempat Rara Wandansari dan kawan lelaki nya itu, Panji Tejo Laksono melesat cepat kearah nya sambil melayangkan tendangan keras kearah perut sang centeng.
Dhhiiieeeeesssshhh..
Oouuugghhhhhh!!!
Si centeng berewokan ini sungguh tak menyangka bahwa akan ada orang yang menghalangi niatnya untuk menangkap Rara Wandansari. Pria bertubuh gempal itu segera jatuh terjengkang ke belakang dan menyusruk tanah di samping kawan-kawannya dengan keras.
Melihat anak buah nya di jatuhkan oleh Panji Tejo Laksono dengan sekali serangan, Adikara mendelik tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
"Jangan ikut campur dalam urusan ku, hai orang asing!
Apa kau tidak tahu siapa aku hingga berani mengganggu urusan ku ha?", ucap Adikara dengan penuh ancaman.
Panji Tejo Laksono tersenyum simpul mendengar ucapan yang keluar dari mulut pria bertubuh gempal itu. Dengan tenang dia menjawab,
"Aku tidak peduli dengan siapa kau dan dari mana asal mu. Tapi yang jelas aku tidak suka melihat penindasan terhadap orang lain terjadi di depan mata ku".
Adikara langsung marah besar setelah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Panji Tejo Laksono. Baru kali ini ada orang yang berani untuk menyepelekannya dan tidak memandang derajatnya.
"Bangsat!! Rupanya kau sudah bosan hidup hingga berani menantang Adikara, putra Adipati Hujung Galuh.
Kalian semua,
Bunuh bajingan itu..!!!".
__ADS_1