
Mapanji Jayagiri dan Gayatri kemudian memacu kuda mereka menuju ke arah barat, meninggalkan mayat mayat para prajurit penjaga perbatasan wilayah Rajapura begitu saja.
Tiba tiba langit yang mendung semakin gelap dan hujan mulai turun, bersamaan dengan kilat menyambar dan gemuruh petir yang menakutkan. Mau tak mau, Mapanji Jayagiri dan Gayatri menghentikan perjalanan mereka berdua saat sudah hampir memasuki wilayah Kota Rajapura.
Mereka segera berteduh di halaman sebuah rumah kayu yang terletak di tepi wanua yang cukup besar di timur tapal batas Kota Rajapura. Setelah mengikat tali kekang kuda mereka pada sebuah tiang pancang tempat menambatkan kuda, Mapanji Jayagiri dan Gayatri segera berlari menuju ke arah pendopo rumah kayu beratap daun ilalang itu segera. Seorang lelaki tua berjanggut putih pendek dengan tubuh kurus dan rambut yang penuh uban mendekati Mapanji Jayagiri dan Gayatri yang nampak basah kuyup oleh air hujan.
"Permisi Kisanak,
Apa kalian baru saja kehujanan di perjalanan?", tanya lelaki tua berjanggut putih pendek itu sembari tersenyum simpul setelah menatap keadaan Mapanji Jayagiri dan Gayatri. Beberapa giginya yang sudah ompong di makan usia, membuat senyuman di wajahnya semakin menciptakan keriput di wajah tua nya. Meski hanya sekilas saja, Ki Garjito tahu bahwa mereka berdua pasti bukan orang biasa. Pedang yang terpasang di punggung Mapanji Jayagiri dan di pinggang Gayatri merupakan ciri khas seorang pendekar. Tambahan lagi, kulit mereka yang bersih pasti bukan sekedar pendekar biasa. Ki Garjito sudah berpengalaman menemui orang orang seperti mereka.
Mapanji Jayagiri buru-buru mendekati lelaki tua berjanggut putih pendek itu sembari tersenyum tipis.
"Benar Ki.. Kami dalam perjalanan menuju ke arah Kota Rajapura. Sampai di tempat ini, eh hujan nya turun. Makanya kami berteduh di tempat ini.
Apakah Aki pemilik rumah ini?", tanya Mapanji Jayagiri dengan sopan.
"Benar Kisanak, aku pemilik rumah ini..
Perkenalkan namaku Garjito. Orang orang disini biasa memanggil ku Ki Garjito. Kalau kalian tidak keberatan, silahkan ikuti aku. Kebetulan aku dan istriku sedang merebus air, kalian bisa menghangatkan diri disana", balas Ki Garjito dengan ramah.
"Terimakasih atas bantuannya Ki Garjito..
Namaku Giri dan ini kakak perempuan ku, Gayatri. Maaf sudah merepotkan Ki Garjito ", setelah berkata demikian, Mapanji Jayagiri dan Gayatri segera mengikuti langkah Ki Garjito ke arah dapur yang terletak di samping kanan rumah kayu beratap daun ilalang itu.
Seorang wanita tua nampak sedang meniup-niup tungku perapian yang di atasnya terdapat belanga tanah liat dimana terlihat beberapa potong singkong dan ubi jalar bergolak diantara air yang mendidih. Rupanya perempuan tua itu tengah merebus singkong dan beberapa potong ubi jalar hasil panen kebun mereka sendiri. Melihat kedatangan Ki Garjito bersama Mapanji Jayagiri dan Gayatri, perempuan tua itu tersenyum tipis.
Dia adalah Nyi Gemi, istri Ki Garjito. Dengan segera ia berdiri dan mendekati Ki Garjito dan kedua tamu mereka.
"Siapa mereka berdua ini Ki?", tanya Nyi Gemi segera.
"Ini Den Giri dan kakak perempuannya Gayatri, Nyi. Mereka berdua dalam perjalanan menuju ke arah Kota Rajapura. Karena kehujanan, mereka berteduh di pendopo. Kasihan Nyi, mereka kedinginan karena basah. Makanya aku bawa kemari untuk berdiang", jawab Ki Garjito segera.
"Woalah begitu.. Silahkan silahkan Kisanak Nisanak.. Maaf tempatnya kotor, pasti lebih buruk dibandingkan dengan tempat kalian berdua ya hehehe", senyum ramah menghiasi wajah tua Nyi Gemi.
"Ah sama saja Nyi.. Dimana pun tempat nya asal bisa menjadi tempat untuk berteduh dan tinggal, itu selalu menjadi tempat terbaik untuk kita tempati", jawab Gayatri yang segera duduk di depan perapian diikuti oleh Mapanji Jayagiri yang juga terlihat kedinginan.
Panasnya api tungku perapian dengan cepat menjalar ke tubuh mereka berdua hingga wajah Gayatri dan Mapanji Jayagiri yang sempat memucat kedinginan, perlahan berangsur pulih seperti sedia kala.
Hujan deras terus mengguyur wilayah Wanua Sambireja, menciptakan suasana dingin yang membuat semua orang enggan keluar dari dalam rumah mereka masing-masing. Hujan di awal musim penghujan ini tidak seperti biasanya.
Namun di balik lebatnya hujan deras yang mengguyur, beberapa prajurit Kadipaten Rajapura nampak berpatroli menyisir setiap tempat di sekitar wilayah Kota Kadipaten Rajapura. Mereka pun nampak sedang melintas di jalan depan kediaman Ki Garjito. Ini tak luput dari perhatian Ki Garjito yang sedang menikmati secangkir wedang jahe dan singkong rebus bersama Mapanji Jayagiri dan Gayatri.
"Dulu, wanua ini meski dekat dengan Kota Kadipaten Rajapura, tidak pernah ada prajurit yang berjaga. Sekarang di Wanua Sambireja ini saja, ada setidak 100 prajurit yang di tempatkan.
Perang ini pasti akan menyengsarakan rakyat", ujar Ki Garjito sembari menyeruput wedang jahe nya.
"Sekarang ini, banyak sekali para penguasa daerah yang ingin merdeka dari tempat bernaung nya. Menurut Ki Garjito, dalam memanasnya situasi di Kadipaten Rajapura, siapa yang salah?", tanya Mapanji Jayagiri sembari mengunyah singkong rebus dan menatap wajah tua Ki Garjito.
__ADS_1
"Aku tidak tahu Den Giri..
Raja adalah wakil dewa di dunia. Semua keputusan raja berarti juga menjadi keputusan para Dewa di Kahyangan. Setiap keputusan Raja maupun penguasa daerah ada tanggung jawab nya sendiri sendiri kepada Yang Maha Pencipta.
Aku hanya seorang rakyat, Den Giri. Tugas rakyat hanya patuh kepada semua keputusan pemimpin nya. Kalaupun sekarang yang terjadi adalah kesalahan, maka sang pimpinan sendiri yang harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada rakyat", Ki Garjito tersenyum tipis sembari meletakkan cangkir wedang jahe nya.
"Sepengetahuan Ki Garjito, saat ini Adipati Waramukti yang ingin memberontak terhadap kekuasaan Prabu Jayengrana di Daha, salah atau benar?", Gayatri ikut bicara setelah mendengar obrolan antara Mapanji Jayagiri dan Ki Garjito.
"Soal salah dan benar, itu hanya milik Yang Maha Kuasa. Kita sebagai manusia cuma bisa berjalan lurus, mengikuti segala petunjuk yang diberikan. Baik Gusti Adipati Waramukti merasa benar, karena dia ingin meminta keadilan atas kematian kakaknya sedangkan Gusti Prabu Jayengrana pun juga benar karena dia harus mempertahankan kedaulatan negara diatas rasa persaudaraan.
Jadi jika menilai salah dan benar, itu hanya datang dari sudut pandang kita sendiri. Sedangkan kebenaran harusnya cuma ada satu", Ki Garjito mengalihkan pandangannya pada rinai air hujan yang turun deras dari langit. Curahan hujan kali ini seperti tumpah dari langit, membasahi seluruh wilayah Kadipaten Rajapura yang selama beberapa purnama ini di landa musim kemarau.
Hingga menjelang sore, hujan masih belum juga mau berhenti hingga terpaksa Mapanji Jayagiri dan Gayatri menginap di rumah Ki Garjito karena tidak mungkin melanjutkan perjalanan dalam keadaan hujan deras seperti ini.
Dua pasang mata prajurit nampak mengintai dari samping rumah penduduk yang berdekatan dengan rumah Ki Garjito.
"Kau terus awasi rumah itu. Masalah ini akan ku laporkan pada Ki Bekel", ujar seorang prajurit Rajapura yang mendapat anggukan kepala dari temannya yang mengintai kediaman itu.
Namun ini semua juga tak luput dari perhatian Gayatri yang sedari tadi memang mengintip tindak tanduk dua orang itu dari balik jendela kayu. Sejak saat mereka sampai di kediaman Ki Garjito, dia menyadari bahwa tempat mereka sedang di awasi oleh para prajurit Kadipaten Rajapura.
"Dua orang itu terus mengintai tempat ini, Gusti Pangeran. Sebaiknya kita lebih berhati-hati", ujar Gayatri sembari menutup jendela kayu dari dalam rumah.
"Aku mengerti Kangmbok..
Tapi sebaiknya kita segera beristirahat. Besok kita harus menghadap ke Istana Rajapura untuk menyerahkan surat dari Adipati Aghnibrata. Kalau mereka sampai macam-macam sekarang, kita lawan saja mereka", ujar Mapanji Jayagiri segera.
Malam semakin larut. Suasana malam begitu dingin. Meski hujan deras telah berhenti, namun meninggalkan hawa dingin yang menusuk tulang.
Di bekas tempat pertarungan antara Mapanji Jayagiri dan Gayatri, sebuah tangan diantara mayat mayat para prajurit penjaga perbatasan tiba tiba bergerak...
****
Sementara itu, di Istana Kadipaten Rajapura, Adipati Waramukti sedang berbincang-bincang dengan Tumenggung Gurunwangi, Patih Krendawahana, Senopati Gopala, Tumenggung Jungkung juga beberapa perwira menengah seperti Demung Anggasuta, Juru Kanoman, Demung Barda, Juru Sagotra. Beberapa pendekar pendukung mereka seperti Nyi Simbar Kencana pimpinan Padepokan Tawang Kencana, Bogang Sarira pimpinan Perguruan Gunung Biru, dan Ki Junggul Mertalaya guru besar Padepokan Lembah Iblis ikut serta dalam pisowanan kali ini.
"Bagaimana persiapan kita, Gurunwangi? Apakah semua sudah sesuai dengan yang kita rencanakan?", tanya Adipati Waramukti sembari menatap ke arah Tumenggung Gurunwangi. Perwira tinggi prajurit Rajapura yang masih berusia muda itu segera menyembah pada Adipati Waramukti.
"Semuanya sudah sesuai dengan perintah Gusti Adipati.
Ratusan prajurit Rajapura sudah hamba sebar ke perbatasan wilayah kita dengan Kadipaten sekitar seperti Kalingga dan Paguhan. Jika ada mata mata dari Daha yang mencoba masuk ke wilayah kita, mereka akan dengan cepat mengetahuinya", ujar Tumenggung Gurunwangi segera.
"Hehehehe bagus kalau begitu..
Kakang Patih Krendawahana, bagaimana dengan utusan yang kita kirim ke Kalingga, Paguhan dan Bhumi Mataram, juga ke Galuh Pakuan? Apakah sudah ada yang kembali?", Adipati Waramukti mengalihkan perhatian nya pada sang warangka praja Rajapura.
"Mohon ampun Gusti Adipati..
Utusan ke Galuh Pakuan sudah kembali dan mereka berkata bahwa Prabu Langlangbumi menolak untuk ikut campur urusan dalam negeri Panjalu. Mereka tidak akan membantu kita maupun Panjalu untuk menyelesaikan permasalahan", Patih Krendawahana segera menghormat pada Adipati Waramukti.
__ADS_1
"Huhhhhh ini tentu saja ada hubungannya dengan Permaisuri Ketiga Jayengrana yang berasal dari Tanah Pasundan itu. Cerdik sekali Jayengrana hingga mampu membuat Galuh Pakuan sama sekali tidak berani macam-macam.
Lantas bagaimana dengan daerah lainnya? Apa sudah ada jawaban?", lanjut Adipati Waramukti segera.
Mendengar pertanyaan Adipati Waramukti, Patih Krendawahana langsung merogoh balik bajunya dan mengeluarkan dua buah kantong kain berwarna merah. Lalu dengan berjalan jongkok, warangka praja Rajapura itu mendekati Adipati Waramukti dan menghaturkan dua buah kantong kain berwarna merah yang berisi Nawala dari Kadipaten Paguhan dan Bhumi Mataram.
"Ini adalah balasan dari Paguhan dan Bhumi Mataram, Gusti Adipati. Silahkan Gusti Adipati membacanya sendiri ", ucap Patih Krendawahana dengan penuh hormat.
Dua orang dayang istana segera melangkah maju ke hadapan Patih Krendawahana, mengambil surat dari tangan sang warangka praja Rajapura lalu menghaturkan nya pada sang penguasa Kadipaten Rajapura.
Segera Adipati Waramukti membaca surat surat itu satu persatu. Dengan penuh murka dia melemparkan nawala dari daun lontar itu ke lantai Pendopo Agung Kadipaten Rajapura.
"Pengecut !!
Adipati Lokananta dari Paguhan menyatakan tidak akan ikut terlibat dalam urusan Rajapura dan Kadiri. Sedangkan Bhumi Mataram pun tak mau ambil pusing dengan masalah kita. Kurang ajar !! Para pengecut itu benar benar memuakkan!", ucap Adipati Waramukti sembari mendengus keras.
"Tinggal Kalingga yang belum memberikan jawaban. Ini adalah satu-satunya harapan bagi kita untuk memperoleh sekutu untuk menghadapi para prajurit Panjalu", imbuh Adipati Waramukti yang kembali duduk di atas singgasana nya.
"Ada ataupun tidak wilayah lain yang membantu kita, Gusti Adipati Waramukti tidak perlu khawatir.
Anak murid ku siap bertaruh nyawa untuk menjatuhkan Prabu Jayengrana ", ucap Nyi Simbar Kencana segera.
"Benar Gusti Adipati..
Malah jika Kalingga tak mau ambil bagian, selanjutnya Rajapura tidak perlu berbagi kekuasaan atas Kerajaan Panjalu ini. Orang orang Padepokan Lembah Iblis akan aku kerahkan semua nya demi kemenangan kita atas Daha. Aku sudah tidak sabar untuk membantai para perwira tinggi mereka yang angkuh itu", sahut Ki Jungkung Mertalaya sembari mengepalkan tangannya erat-erat.
Mendengar penuturan dua orang petinggi perguruan silat terbesar di Kadipaten Rajapura itu, Tumenggung Gurunwangi tersenyum lebar. Selangkah lagi dendam nya pada orang orang Daha akan terlampiaskan.
"Aku berterimakasih kepada kalian para pendekar dunia persilatan yang bersedia untuk berdiri di samping para prajurit Rajapura agar bisa meruntuhkan kekuasaan Prabu Jayengrana. Dan aku percaya dengan kemampuan kalian semua.
Selain kalian, Adipati Saunggalah Somawikarta juga bersedia memberikan bantuan prajurit diam diam tanpa sepengetahuan Prabu Langlangbumi. Ini tentu saja akan menambah kekuatan kita menantang para prajurit Panjalu.
Tapi walaupun begitu, kita juga tetap membutuhkan bantuan dari Kalingga selaku tetangga terdekat kita agar tidak menggangu perjalanan kita menggempur Kadiri. Karena itu, sebelum kita bergerak, sebaiknya kita menunggu jawaban dari Adipati Aghnibrata", ujar Adipati Waramukti yang menjadi titah sang Adipati.
Meski kurang puas dengan keputusan Adipati Waramukti, Tumenggung Gurunwangi segera menghormat pada sang penguasa Kadipaten Rajapura itu bersama para punggawa istana dan para pendekar dunia persilatan yang bersedia membantu mereka.
Suasana di Kadipaten Rajapura semakin memanas.
Keesokan paginya, saat matahari sepenggal naik ke atas langit, nampak dua orang berpakaian layaknya seorang pendekar menarik tali kekang kudanya di depan gerbang Kota Kadipaten Rajapura. Mereka berdua mengedarkan pandangannya ke arah empat orang prajurit penjaga gerbang kota yang nampak memeriksa setiap orang yang masuk ke dalam Kota Kadipaten Rajapura dengan teliti. Suasana yang semakin memanas, membuat Tumenggung Jungkung yang bertugas untuk menjaga keamanan Kota Kadipaten Rajapura memberlakukan pemeriksaan ketat terhadap orang yang keluar masuk di Kota Rajapura.
"Nampaknya tidak mudah bagi kita untuk masuk ke Kota Rajapura, Kangmbok..", ujar si lelaki muda yang menyandang pedang butut di punggungnya sembari menatap ke arah para prajurit penjaga.
"Tidak perlu kecil hati, Gusti Pangeran..
Bagaimana pun kita adalah seorang duta nawala. Kita harus menemui Adipati Waramukti untuk memberikan surat dari Adipati Aghnibrata", Gayatri nampak menghela nafas panjang sebelum menggebrak kuda nya ke arah pintu gerbang Kota Kadipaten Rajapura sembari berkata,
"Ayo kita temui Adipati Waramukti".
__ADS_1