Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Salah Masuk


__ADS_3

Malam itu juga, Panji Tejo Laksono, Endang Patibrata, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg akhirnya bermalam di kediaman Lurah Wanua Panitihan Mpu Sangir. Hanya kuda-kuda mereka saja yang masih tinggal di kediaman Ki Sambang dan Nyi Rawit. Mereka mendapatkan sambutan hangat dan mewah dari para penduduk Wanua Panitihan karena berhasil menumpas kelompok Rampok Kelabang Merah yang menjadi momok bagi kehidupan mereka selama ini.


Malam segera bergulir menjadi pagi. Meskipun dingin musim kemarau sangat menusuk tulang, tapi tidak mengurangi niat para penduduk Wanua Panitihan untuk beraktifitas seperti biasa. Bahkan sebelum matahari terbit, kesibukan para penumbuk padi di halaman belakang rumah Ki Lurah Mpu Sangir sudah terdengar. Bunyi lesung yang di hantam alu untuk memecah kulit gabah dengan beras terdengar bersahutan. Beberapa perempuan desa lainnya juga sudah menyalakan api di tungku masak untuk mempersiapkan hidangan bagi tamu istimewa mereka.


Tepat berbarengan dengan matahari pagi muncul di langit timur, Panji Tejo Laksono terbangun dari tidurnya. Sang pangeran muda melihat sebentar ke arah Endang Patibrata yang masih bergelung dalam selimut yang membungkus tubuh nya dari udara dingin pagi itu. Segera dia melangkah menuju ke arah belakang untuk sekedar mencuci muka dan membersihkan tubuhnya.


Langkah kaki sang pangeran menarik perhatian para gadis desa yang menjadi pelayan di rumah Ki Lurah Mpu Sangir. Melihat Panji Tejo Laksono berjalan ke arah sebuah telaga kecil di belakang rumah yang biasa digunakan untuk mandi dan mencuci, mereka pun saling berpandangan.


"Eh Wok, sepertinya Ndoro pendekar ganteng itu mau mandi..


Kita intip yuk..", ujar salah seorang gadis desa yang bertubuh lumayan gemuk pada seorang gadis bertubuh ceking di sampingnya.


"Ah kau jangan gila Yem..


Kalau sampai ketahuan, dan Ndoro pendekar ganteng itu lapor ke Ki Lurah bisa bisa kita tidak terima bayaran dari kerja keras kita", ucap si gadis ceking yang bernama Tiwok itu segera.


"Alah kau ini penakut..


Jam segini Ki Lurah Mpu Sangir belum bangun tidur. Apa kau mau melewatkan kesempatan untuk melihat tubuh pendekar yang berotot itu? Ah membayangkan nya saja membuat ku pingin ngiler hihihihihihi", gadis bertubuh gemuk yang bernama Giyem ini tertawa kecil dengan otak mesum.


"Benar juga kata mu Yem..


Pasti tubuhnya sangat menggoda dengan otot otot yang menonjol. Ayo kita berangkat ", sahut seorang perawan tua yang sudah bekerja puluhan tahun di kediaman Ki Lurah Mpu Sangir. Dia adalah Sutri, perempuan berwajah pas-pasan yang bolak balik gagal nikah karena calon suaminya pasti kabur kala hendak di nikahkan dengan nya.


"Tapi tapi aku...", belum sempat Tiwok menyelesaikan omongannya, Giyem dan Sutri sudah lebih dulu menggelandang tangannya ke arah telaga kecil di pinggir sungai yang menjadi tempat mandi para penghuni rumah Ki Lurah Mpu Sangir.


Begitu sampai dekat telaga kecil, ketiga gadis desa itu mengendap-endap seperti maling diantara rimbun pohon bambu betung yang tumbuh di atas tebing. Dari atas, mereka bertiga melihat Panji Tejo Laksono sedang asyik membasuh tubuhnya dengan air dingin telaga.


"Jagad Dewa Batara...


Sempurna sekali ciptaan mu ini. Gantengnya...", ucap Giyem lirih namun masih terdengar di telinga kedua temannya. Hening tak ada tanggapan yang keluar dari mulut Tiwok dan Sutri. Saat Giyem menoleh ke arah mereka, Sutri terlihat melongo sambil mulutnya mengeluarkan air liur. Giyem terkekeh lirih melihat sikap perawan tua itu tapi saat melirik ke arah Tiwok, perempuan gendut itu terkejut bukan main.


Tiwok pingsan!!


Segera Giyem menyikut dada Sutri yang membuat perawan tua itu langsung sadar seketika.


"Ada apa? Kau ini mengganggu lamunan indah ku saja..", omel lirih Sutri sembari mendelik ke arah Giyem. Perempuan gemuk itu tak menyahut tapi segera menunjuk ke arah Tiwok yang telentang pingsan di sampingnya.


"Oalah cah ndeso...


Lihat lelaki tampan mandi saja kog langsung semaput (pingsan). Ayo Yem, kita bawa si Tiwok ke rumah. Kalau sampai ketahuan Ki Lurah bisa gawat kita", ucap Sutri yang segera membuat Giyem mengangguk mengerti. Keduanya segera menggotong tubuh Tiwok yang ceking itu ke arah dekat lumbung padi di belakang rumah Ki Lurah Mpu Sangir. Keduanya segera mengusap peluh yang membasahi dahinya.

__ADS_1


"Kebanyakan dosa sepertinya bocah ini. Tubuhnya kurus tapi kog berat sekali ya", ujar Sutri sambil ngos-ngosan mengatur nafasnya.


Saat keduanya sedang kerepotan mengurus Tiwok yang pingsan, dari arah belakang terdengar suara seorang perempuan yang mengagetkan mereka.


"Sedang apa kalian?"


Sontak saja Giyem dan Sutri melepaskan pegangannya hingga Tiwok langsung terjatuh ke tanah.


"Eh kami itu anu sedang ehhh..." Sutri kelimpungan mencari alasan. Dari arah bawah, Tiwok yang tersadar dari pingsannya langsung berteriak keras.


"Tubuhnya sempurna sekali pendekar mu hemmmmppppp...."


Giyem yang kaget setengah mati bereaksi cepat dengan membungkam mulut Tiwok yang nyaris membongkar rahasia mereka.


"Jangan dengarkan ocehan nya, Nisanak.. Dia baru saja terpeleset saat mengambil rebung bambu yang akan di sayur. Kepala nya terbentur bonggol bambu jadi omongannya sedikit ngaco.


Ka-kami permisi...", ucap Giyem sambil terus membungkam mulut Tiwok dan menyeretnya menjauhi Endang Patibrata yang menggaruk kepalanya karena heran dengan sikap ketiga gadis desa itu. Setelah mengangkat kedua bahunya karena tidak mau ambil pusing dengan ulah mereka, Endang Patibrata meneruskan niatnya untuk menyusul Panji Tejo Laksono ke pemandian.


Giyem dan Sutri menarik nafas lega setelah melihat Endang Patibrata menghilang di balik turunan jalan ke arah pemandian.


"Untung saja, Yem...


Coba kalau kita sampai ketahuan Nisanak itu bisa habis kita", ujar Sutri segera.


Eh Wok mulut mu bisa diam tidak? Kalau bisa, aku akan melepaskan tangan ku..", Giyem menatap ke arah Tiwok yang masih dibekap nya. Tiwok langsung mengangguk. Giyem pun segera melepaskan bekapan tangannya.


Ketiga orang gadis desa ini pun kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Saat Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata melewati tempat mereka bekerja, tiga gadis desa itu buru-buru mengangguk hormat kepada mereka berdua. Meski Endang Patibrata masih sedikit tidak mengerti kenapa mereka bersikap seperti itu, namun ia memilih membuang jauh-jauh pikiran buruknya terhadap mereka.


Setelah sarapan pagi bersama para sesepuh dan petinggi Wanua Panitihan, saat matahari sepenggal naik di langit timur, Panji Tejo Laksono berpamitan kepada mereka. Tak lupa pula ia membayar 8 kepeng perak kepada Ki Sambang dan Nyi Rawit sebagai upah untuk penjagaan kuda tunggangan mereka. Dua orang itu begitu bergembira dengan upah yang mereka terima.


Setelah meninggalkan Wanua Panitihan, rombongan Panji Tejo Laksono terus bergerak menuju ke arah utara. Melewati Pakuwon Sendung dan Pakuwon Gambuh, selepas tengah hari rombongan Panji Tejo Laksono sampai di Pakuwon Caruban yang merupakan wilayah Kadipaten Lewa yang berbatasan langsung dengan Anjuk Ladang.


"Kakang, kenapa kita berhenti di tempat ini?", tanya Endang Patibrata kala Panji Tejo Laksono menghentikan laju pergerakan kuda tunggangan nya di pinggiran Kota Pakuwon Caruban.


"Aku masih belum tahu jelas dimana sarang Iblis Bukit Manoreh itu, Nimas Endang Patibrata..", jawab Panji Tejo Laksono segera sambil terlihat sedang berpikir keras.


"Tempat yang paling tepat untuk mencari berita adalah warung makan Ndoro..


Karena banyak orang yang lalu lalang dengan segudang berita yang beredar di masyarakat", sahut Demung Gumbreg yang membuat Tumenggung Ludaka segera menoleh ke arah nya.


"Tumben otak mu cerdas Mbreg..

__ADS_1


Kesambet setan dari mana kau?", ucap Tumenggung Ludaka sambil tersenyum penuh arti. Sambil nyengir kuda, Gumbreg berbisik pada sahabat karibnya itu.


"Aku sedang lapar Lu.. Asal bicara saja asal Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono segera mampir ke warung makan hihihi", ucap Demung Gumbreg lirih seraya terkekeh kecil.


"Dasar otak makanan.. Otak mu memang isinya makan, makan dan makan saja. Benar benar gembul..", omel Tumenggung Ludaka.


"Tapi makan itu penting Lu..


Untung tadi kita sempat sarapan pagi di Panitihan. Ingat peribahasa, utamakan sarapan karena sarapan lebih penting dari harapan..", sahut Demung Gumbreg sedikit keras.


"Tapi Paman Gumbreg benar, Paman Ludaka..


Kita bisa mendapatkan informasi tentang Iblis Bukit Manoreh dari para penduduk maupun para pedagang yang lalu lalang di sekitar tempat ini", ucap Panji Tejo Laksono yang langsung membuat Demung Gumbreg besar kepala.


"Tuh kan benar apa yang ku bilang?


Makanya jangan meremehkan ku hanya karena aku tukang makan. Jelek-jelek begini aku itu berguna Lu..", Demung Gumbreg menepuk-nepuk dadanya dengan pongah.


"Iya berguna sebagai tempat sampah makanan..", ejek Tumenggung Ludaka sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Eh kampret, siapa bil...", belum sempat Gumbreg menyelesaikan omongannya, Panji Tejo Laksono sudah lebih dulu memotong omongannya.


"Sudah jangan ribut..


Itu ada warung makan yang cukup ramai. Sebaiknya kita kesana saja", Panji Tejo Laksono menunjuk ke arah sebuah warung makan yang terletak di tepi jalan raya. Beberapa pengunjung terlihat keluar masuk tempat itu.


Keempat orang itu segera menggebrak kuda tunggangan mereka ke arah warung yang ditunjuk oleh sang pangeran muda. Begitu sampai di tempat itu, mereka berempat pun segera melompat turun dari kuda mereka masing-masing dan mengikatnya pada geladakan yang yang ada di halaman warung makan itu. Setelah itu, mereka berempat pun segera masuk ke dalam warung makan.


Semua mata langsung tertuju pada mereka berempat. Ada yang pura-pura acuh tapi ekor matanya melirik ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan, sementara beberapa terang-terangan mendelik kereng pada mereka.


Demung Gumbreg yang merasa tidak nyaman dengan pandangan mata semua orang, langsung menyikut pinggang Tumenggung Ludaka.


"Sepertinya kita salah masuk warung makan Lu..


Orang-orang di tempat ini seperti para begal yang hendak merampok orang", bisik lirih Demung Gumbreg pada kawannya itu.


"Kau tidak salah Mbreg..


Sepertinya ini memang bukan tempat yang pas untuk mencari makanan ataupun informasi yang kita butuhkan. Ada yang salah dengan tempat ini", balas Tumenggung Ludaka tak kalah pelan.


Begitu Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan sampai di depan tempat pemesanan, seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan kumis tebal dan beberapa bekas luka di wajahnya yang terlihat menyeramkan langsung menggebrak meja dan berkata,

__ADS_1


"Mau pesan apa??!!"


__ADS_2