Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Kebimbangan Hati Adipati Anjuk Ladang


__ADS_3

****


Anjuk Ladang adalah sebuah wilayah penyangga Kotaraja Daha yang terletak di barat laut. Wilayah ini dibatasi oleh Sungai Kapulungan yang menjadi urat nadi perdagangan di wilayah Panjalu. Wilayah ini merupakan salah satu dari sekian banyak wilayah Kerajaan Panjalu yang tersubur di antara lainnya.


Sebagai daerah penghasil hasil bumi yang melimpah, daerah ini menjadi makmur. Berbagai hasil bumi seperti jagung, padi-padian, umbi-umbian dan beraneka ragam hasil kerajinan kulit menjadi hasil unggulan daerah ini. Pendek kata, jika ingin berdagang hasil bumi, Anjuk Ladang lah yang menjadi tempat paling cocok karena melimpahnya hasil bumi mereka.


Meskipun daerah ini sering dilanda bencana alam yang menjadi langganan yaitu angin ribut, akan tetapi para penduduk nya sepertinya telah terbiasa menghadapi nya. Mereka membangun lumbung pangan yang biasanya ada di samping rumah masing-masing. Dengan begitu, meski bencana alam datang menerjang, mereka sudah siap. Bahkan saat musim paceklik tiba, sangat jarang terdengar bahwa Anjuk Ladang menderita bencana kelaparan. Ini merupakan bukti kemakmuran daerah ini.


Adipati Anjuk Ladang saat ini adalah Sasrabahu. Dia merupakan menantu Adipati Gunawarman yakni Adipati lama Anjuk Ladang setelah menikahi Dewi Wulansari, putri kedua Adipati Gunawarman. Berkat pengaturan licik dari Mpu Sena sang paman yang menjadi Mahamantri I Halu saat itu, Sasrabahu bisa di duduk di singgasana Kadipaten Anjuk Ladang. Kala itu, Sasrabahu terpilih menjadi Adipati Anjuk Ladang setelah menantu pertama yakni Palasara tak bisa mengelak saat di tuduh memperkosa salah seorang dayang istana hingga menyebabkan Adipati Gunawarman murka dan menjatuhkan hukuman mati untuk sang menantu.


Ini semua adalah ulah Mpu Sena yang mengancam si dayang istana dengan menyeret keluarga nya ke penjara agar dia bersedia berbuat fitnah keji kepada Palasara. Setelah Palasara di hukum gantung dan Dewi Wulandari putri Adipati Gunawarman menjadi gila selepas kematian suaminya, maka selaku menantu tertua selanjutnya, Sasrabahu pun naik tahta.


Meskipun naik tahta Kadipaten Anjuk Ladang dengan cara yang licik, namun sebenarnya Sasrabahu sendiri merupakan orang yang baik. Dia secara rutin sowan ke Istana Katang-katang saat acara pisowanan agung tahunan dengan tepat waktu. Upeti dan pajak bumi dari Anjuk Ladang selalu datang sehari lebih awal daripada dari daerah terdekat lainnya. Ini membuktikan bahwa dia adalah pejabat yang disiplin dan bertanggung jawab atas wilayah kekuasaannya.


Saat itu, di ruang pribadi adipati nampak Mpu Sena sedang duduk bersila sembari menatap ke arah Adipati Sasrabahu yang nampak terdiam tanpa bicara. Baru saja, Mpu Sena meminta bantuan kepada Adipati Sasrabahu untuk menyiapkan setidaknya 30 ribu orang prajurit yang akan di gunakan untuk menekan Istana Katang-katang agar segera mengangkat Mapanji Jayawarsa sebagai Yuwaraja atau Putra Mahkota Panjalu selanjutnya.


Hemmmmmmm..


"Apa ini artinya, Anjuk Ladang akan memberontak terhadap Daha, Paman Mpu Sena?", ucap Adipati Sasrabahu setelah menghela nafas berat.


"Bukan memberontak terhadap Daha, Nakmas Adipati..


Tapi kita gunakan cara ini agar Gusti Prabu Jayengrana segera menjadikan Nakmas Pangeran Mapanji Jayawarsa yang merupakan pewaris sah dan keturunan langsung dari Mendiang Gusti Prabu Samarawijaya sebagai Yuwaraja Panjalu selanjutnya.


Sudah terlalu lama Gusti Prabu Jayengrana bimbang untuk menentukan pilihan siapa yang akan menjadi penerusnya karena putranya yang lain juga berlomba-lomba mencari muka agar pantas untuk dijadikan sebagai Yuwaraja.


Dari para pesaing Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa, hanya Pangeran Panji Tejo Laksono yang terlihat begitu ngotot ingin naik tahta. Meskipun dia berbakat dalam urusan pemerintahan dan ilmu kanuragan, tapi dia bukan keturunan langsung dari Prabu Airlangga. Walaupun dia putra sulung Prabu Jayengrana yang merupakan keponakan dari Gusti Prabu Airlangga, tapi ibunya hanya putri dari Seloageng. Jika sampai Panji Tejo Laksono naik tahta, aku khawatir Panjalu tidak akan bisa bertahan lama karena pasti akan ada banyak pemberontakan yang tidak mau di perintah oleh orang yang bukan keturunan langsung dari Mendiang Gusti Prabu Samarawijaya", ucap Mpu Sena yang mencoba untuk membelokkan arah pandangan Adipati Sasrabahu dengan pemikiran picik nya.


"Tapi sejauh ini yang aku tahu, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono lah yang lebih cakap dalam hal pemerintahan dan pertahanan, Paman Mpu Sena..


Beberapa peperangan melawan para prajurit Jenggala, yang berhasil dia menangkan. Juga dengan para prajurit Blambangan. Bahkan dia juga tidak menolak saat di tugaskan sebagai duta besar ke Tanah Tiongkok. Sepulang dari sana, bahkan Kaisar Huizong memberikan putri nya sebagai tanda ikatan kekeluargaan dengan Panjalu kepada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono.


Lantas apa salahnya jika Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono yang menjadi penerus tahta Kerajaan Panjalu?", Adipati Sasrabahu menatap heran ke arah Mpu Sena. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran kakak ibunya itu.

__ADS_1


"Kau begitu naif, Nakmas Adipati..


Itu semua hanyalah pencitraan semata dari Pangeran Panji Tejo Laksono agar dia dipandang tinggi oleh semua orang. Jika kau ada di ibukota negara, kau akan tahu seperti apa watak asli putra Ratu Anggarawati itu.


Sudahlah, aku tidak mau berdebat panjang lebar tentang Pangeran Panji Tejo Laksono. Yang penting sekarang, bagaimana jawaban mu mengenai permintaan ku tadi?", ulang Mpu Sena sembari terus menatap wajah Adipati Sasrabahu.


"Bukannya aku tidak mau membantu Paman Mpu Sena, tapi ini bisa dianggap sebagai tindakan makar terhadap Panjalu.


Aku hanya tidak mau kehilangan kepala ku hanya untuk membela Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa yang tidak pernah sedikitpun memberikan baktinya kepada negeri ini", ucap Adipati Sasrabahu segera.


"Cukup, Nakmas Adipati!!


Disini aku akan mengingatkan mu bagaimana kau bisa duduk di singgasana Kadipaten Anjuk Ladang dan siapa orang yang berjasa besar dalam hal itu? Ingat Nakmas Adipati, jangan jadi orang yang tidak tahu diri dan terus menentang apa yang menjadi keinginan ku", ungkit Mpu Sena yang langsung membuat Adipati Sasrabahu terdiam seketika.


"Suka tidak suka, mau tidak mau, kau harus menyiapkan 30 ribu orang prajurit yang akan berlatih di kaki Gunung Wilis sebelah timur.


Ini perintah dan jika kau berani menentang nya, bersiaplah untuk kehilangan jabatan mu sebagai Adipati Anjuk Ladang. Aku bisa mendudukkan mu di singgasana Kadipaten Anjuk Ladang, tapi jika aku mau, aku bisa dengan mudah mencongkel mu dari singgasana Kadipaten Anjuk Ladang semudah aku membalikan telapak tangan. Ingat itu Nakmas Adipati..", ujar Mpu Sena sembari menunjuk kearah Adipati Sasrabahu. Setelah berkata demikian, Mpu Sena segera berdiri dan berjalan keluar dari dalam ruang pribadi adipati tanpa menghormat pada Adipati Sasrabahu.


Kembali terdengar dengusan nafas panjang dari mulut Adipati Sasrabahu setelah Mpu Sena terlihat menghilang dari balik pintu gerbang istana.


'Apa yang mesti aku lakukan untuk menghadapi situasi seperti ini?'


*****


"Mohon ampun Gusti Pangeran..


Rombongan dari Seloageng sampai di depan gerbang Istana Lodaya", lapor seorang prajurit penjaga gerbang istana sambil menyembah pada Pangeran Arya Tanggung yang sedang menikmati makan siang bersama dengan Dewi Rara Kinanti dan Dewi Anggraeni sang permaisuri Tanah Perdikan Lodaya.


Mendengar laporan itu, senyum lebar terukir di wajah cantik Rara Kinanti. Dia segera meletakkan potongan ayam panggang di tangannya dan segera mengelap mulutnya.


"Apa Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono juga ada bersama mereka, Prajurit?", tanya Dewi Rara Kinanti segera.


"Mereka dipimpin langsung oleh Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono, Gusti Putri", si prajurit menghormat usai berbicara.

__ADS_1


Mendengar jawaban itu, wajah cantik Rara Kinanti langsung berbinar binar. Melihat perubahan air muka sang putri, Dewi Anggraeni segera menyikut halus pinggang suaminya.


"Lihatlah bagaimana senangnya putri kita mendengar kedatangan Nakmas Pangeran Panji Tejo Laksono, Kangmas..


Dia sungguh menyukai putra Kakang Watugunung itu rupanya", ucap Dewi Anggraeni sambil mengulum senyumnya. Mendengar itu, Pangeran Arya Tanggung tersenyum penuh arti dan segera berkata pada sang putri semata wayangnya.


"Kinanti, kau boleh ikut serta dalam menyambut kedatangan Nakmas Pangeran Panji Tejo Laksono tapi ingat untuk menjaga sikap mu karena kau adalah putri Tanah Perdikan Lodaya".


Dewi Rara Kinanti segera mengangguk mengerti mendengar perintah sang ayah. Mereka pun segera bergegas menuju ke arah pintu gerbang Istana Lodaya untuk menyambut kedatangan Panji Tejo Laksono dan rombongan dari Seloageng. Begitu sampai di halaman Pendopo Agung, mereka bertemu.


"Sembah bakti saya Paman Pangeran Arya Tanggung, Bibi Ratu Anggraeni", ucap Panji Tejo Laksono sembari membungkuk hormat kepada mereka berdua.


"Ah jangan terlalu banyak adat, Nakmas Pangeran..


Bagaimanapun juga kita akan segera akan menjadi keluarga jadi mulai sekarang sebaiknya kau panggil aku dengan sebutan Romo saja", ujar Pangeran Arya Tanggung sembari tersenyum.


"Kangmas Pangeran Arya Tanggung benar, Nakmas Pangeran Panji Tejo Laksono..


Mulai hari ini kau harus memanggil ku dengan sebutan Biyung. Kau tidak boleh menolak nya", imbuh Dewi Anggraeni segera.


"Kalau memang begitu adanya, aku hanya bisa patuh pada perintah dari Paman Pa eh Romo Pangeran maksudnya hehehehe..", Panji Tejo Laksono terkekeh kecil karena hampir salah sebut.


Sementara itu, Rara Kinanti tak berbicara sama sekali. Hanya bibirnya tak henti-hentinya tersenyum lebar sembari sesekali melirik ke arah Panji Tejo Laksono. Aksi ini sempat di pergoki oleh Endang Patibrata yang juga turut masuk ke dalam Istana Lodaya. Perempuan cantik asal Wanua Pulung ini mulai cemburu pada gadis cantik itu.


Setelah berbincang sebentar, Pangeran Arya Tanggung mengajak seluruh rombongan pengiring Panji Tejo Laksono untuk masuk ke dalam Pendopo Agung Istana Lodaya. Setelah mereka semua duduk bersama, Pangeran Arya Tanggung mulai mengutarakan rencana untuk upacara pernikahan mereka yang akan di gelar 2 hari lagi. Oleh karena itu, Pangeran Arya Tanggung meminta agar Panji Tejo Laksono menyiapkan diri.


Setelah pembicaraan mereka selesai, Panji Tejo Laksono beserta para pengikutnya di antar Patih Umbara untuk beristirahat di tempat yang yang sudah di sediakan yakni Keputran Lodaya yang letaknya bersebelahan dengan Istana. Dewi Rara Kinanti juga ikut mengantar mereka.


Begitu sampai di Keputran Lodaya, Dewi Rara Kinanti segera mendekati Panji Tejo Laksono sembari menunjuk ke arah Endang Patibrata yang selalu mengikuti langkah sang pangeran muda.


"Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono, sedari tadi ia terus menatap ku dengan pandangan mata yang tidak enak.


Siapa dia Kangmas?"

__ADS_1


__ADS_2