Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Mengorek Keterangan dari Mpu Klinting


__ADS_3

Maka siang hari itu juga disusunlah rencana untuk menangkap Juru Mpu Klinting, orang kepercayaan Adipati Sasrabahu untuk mengurusi bahan makan para prajurit yang di persiapkan untuk rencana besar Kelompok Mpu Kepung. Semuanya mendapatkan bagian yang penting dalam niat mereka.


Saat sore menjelang tiba, para pengikut Panji Tejo Laksono bersiap siap untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka. Cendani dan Endang Patibrata ditugaskan untuk memancing perhatian Mpu Klinting. Gumbreg, Cendana dan Senopati Sembada di tugaskan untuk memancing keributan. Tumenggung Ludaka dan Panji Tejo Laksono bagian penangkapan sedangkan dua pengawal pribadi dari Kadipaten Lewa di tugaskan untuk menyiapkan kereta kuda untuk membawa Mpu Klinting.


Matahari sudah hampir terbenam di ufuk barat saat Mpu Klinting, sang Juru Istana Kadipaten Anjuk Ladang meninggalkan rumah kediamannya. 8 orang prajurit pilihan bertugas menjadi pengawalnya. Dengan menggunakan 1 kereta kuda dan 2 pengawalnya yang terdepan menaiki kuda sedang yang enam berjalan kaki.


Awalnya Mpu Klinting dan para pengawalnya berjalan kaki seperti biasa. Mereka meninggalkan rumah tanpa ada masalah sedikitpun. Tapi, begitu meninggalkan tapal batas selatan Kota Kadipaten Anjuk Ladang, mereka terpaksa berhenti. Pimpinan pengawal melihat sebuah kereta kuda terlihat berhenti di tengah jalan. Salah satu roda kereta itu patah. Satu orang lelaki paruh baya bertubuh tambun dan seorang lelaki yang lebih muda berbadan tegap terlihat sedang memperbaiki roda kereta kuda ini. Satu orang lainnya terlihat sesekali melirik ke arah kereta kuda Mpu Klinting.


"Ada apa ini, Bekel Tanur? Kenapa berhenti tiba-tiba", ucap Mpu Klinting sembari melongok keluar dari jendela kereta kuda.


"Maafkan saya Gusti Juru..


Ada sebuah kereta kuda yang sedang rusak. Sepertinya rodanya patah. Posisinya juga sedikit melintang. Kita terpaksa harus berhenti karena kereta kuda Gusti Juru tidak bisa lewat", jawab Bekel Tanur sembari menghormat pada Juru Mpu Klinting tanpa turun dari kuda tunggangan nya.


Belum sempat Juru Mpu Klinting menanggapi omongan Bekel Tanur, dua orang perempuan cantik berbaju hijau tua dan seorang perempuan muda lainnya terlihat panik saat melihat kedatangan Mpu Klinting dan para anak buahnya. Keduanya buru-buru berjalan mendekati kereta kuda Mpu Klinting dan segera membungkuk hormat.


"Maafkan hamba karena sudah mengganggu perjalanan Gusti..


Kereta kuda kami rodanya patah dan perlu waktu lama untuk memperbaiki nya. Mohon Gusti bersabar", ucap Endang Patibrata dengan sopan.


Hemmmmmmm...


Melihat cantiknya penampilan wanita yang menyapanya, sifat hidung belang Juru Mpu Klinting langsung tergugah. Lelaki yang berumur setidaknya 5 dasawarsa ini segera membuka pintu kereta kuda dan turun dari sana. Sembari tersenyum penuh arti, dia berjalan mendekati dua perempuan cantik yang tak lain adalah Endang Patibrata dan Cendani.


"Tenang saja Wong Ayu..


Aku tidak terburu-buru kog. Beberapa orang anak buah ku pintar memperbaiki kereta. Aku akan membantu kalian.


Giring, Bongkeng...!!


Kalian berdua bantu nisanak ini. Cepat..!!", Mpu Klinting segera menoleh ke arah dua orang prajurit pengawalnya. Dua orang yang di panggil oleh majikan mereka, segera meletakkan tameng dan tombak pegangan mereka di samping kereta kuda. Keduanya menghormat pada Juru Mpu Klinting sebelum bergegas menuju ke arah Demung Gumbreg, Cendana dan Senopati Sembada yang terlihat sibuk mengotak-atik roda kereta kuda yang patah itu.


Setelah kedatangan si Giring dan Bongkeng, Demung Gumbreg bersama Cendana dan Senopati Sembada mundur memberi kesempatan kepada mereka untuk memperbaiki roda kereta kuda mereka. Terlihat keduanya memang terampil dalam memperbaiki roda kereta kuda.


Sementara orang-orang nya sibuk membantu memperbaiki roda kereta kuda, Juru Mpu Klinting mencoba untuk mendekati Endang Patibrata dan Cendani. Beberapa kali ia mengeluarkan jurus rayuan gombal nya untuk menjerat wanita wanita cantik ini. Meskipun risih dengan ulah Juru Mpu Klinting, keduanya mencoba untuk tetap sabar menanggapi omongan buaya buntung itu dengan sopan.


Saat Bongkeng dan Giring hampir menyelesaikan perbaikan roda kereta kuda, Senopati Sembada segera mengedipkan sebelah matanya ke arah Gumbreg. Perwira bertubuh tambun itu langsung mengerti. Seolah tidak di sengaja, Demung Gumbreg menjatuhkan diri nya ke arah Bongkeng dan Giring.


Brruuuuuuukkkk...


Oouuugghhhhhh!!!


Bongkeng yang tertimpa langsung tubuh Gumbreg melengguh tertahan dan menabrak roda kereta kuda itu hingga pekerjaan mereka yang nyaris selesai seketika hancur berantakan. Sembari menggeram keras, Bongkeng langsung bangkit dan menuding Demung Gumbreg.


"Hei Pak Tua..


Kau sengaja ya menabrak aku? Cari mati kau ya..", Bongkeng mendelik tajam ke arah Demung Gumbreg.


"Siapa yang sengaja menabrak mu ha? Apa kau ingin cari gara-gara dengan ku? Aku tidak takut pada prajurit bertubuh cebol seperti mu..", maki Gumbreg tak mau kalah.


"Kurang ajar!!


Kau berani mengatai ku? Akan ku hajar mulut mu yang beracun itu!!!", Bongkeng langsung melayangkan tinjunya ke arah mulut Demung Gumbreg. Perwira bertubuh tambun itu segera berkelit menghindari tinjuan Bongkeng. Senopati Sembada yang berdiri di belakangnya langsung terpukul dan segera jatuh meskipun pukulan Bongkeng sama sekali tidak terasa bagi nya. Dia segera bangkit dan menerjang ke arah Bongkeng.


Whhhuuutthh


Prajurit bertubuh bogel ini segera menghindar. Akibatnya tendangan melingkar dari Senopati Sembada langsung menghantam dada Giring. Perkelahian pun segera terjadi antara mereka.

__ADS_1


Dua lawan tiga. Demung Gumbreg, Cendana dan Senopati Sembada dengan mudah menghajar Giring dan Bongkeng. Mereka bertiga memukuli kedua orang pengawal pribadi Juru Mpu Klinting itu.


Kawan-kawan Bongkeng dan Giring langsung menghambur ke arah Senopati Sembada, Demung Gumbreg dan Cendana. Namun mereka justru menjadi bulan-bulanan ketiga orang itu. Meskipun tidak menggunakan tenaga dalam, mereka bertiga memiliki kemampuan beladiri yang tinggi hingga dengan mudah menjatuhkan para pengawal pribadi Mpu Klinting.


Bekel Tanur yang melihat anak buah nya menjadi bulan-bulanan ketiga orang pengikut Panji Tejo Laksono ini, langsung mencabut pedang di pinggangnya dan melompat ke arah Demung Gumbreg, Cendana dan Senopati Sembada.


Pergerakan ini seketika membuyarkan rayuan gombal Mpu Klinting. Dia segera mengalihkan perhatian nya pada perkelahian antara para prajurit pengawalnya dengan anak buah Panji Tejo Laksono.


"Hei apa yang sedang kalian lakukan?!!


Cepat hent..... Auuuggghhhhh!!!"


Belum sempat Juru Mpu Klinting menyelesaikan omongannya, sesosok bayangan berkelebat cepat kearah nya sambil menghantam perut perwira menengah prajurit Kadipaten Anjuk Ladang. Tubuhnya seketika terpelanting jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras.


Bekel Tanur yang melihat kejadian itu, seketika sadar bahwa ini merupakan jebakan yang di tata sedemikian rupa untuk menjebak mereka.


"Gusti Juru, ini adalah jebakan!!", teriak Bekel Tanur lantang.


Juru Mpu Klinting yang mencoba untuk bangkit, mendengar teriakan keras dari Bekel Tanur segera mendelik kereng pada Endang Patibrata dan Cendani yang berdiri di samping sosok lelaki paruh baya bertubuh kekar yang tak lain adalah Tumenggung Ludaka.


"Bajingaaaaaaaaaannnnnnnnn tengikkk!!


Rupanya kau bersekongkol dengan mereka, hai perempuan cantik! Kalian semua harus aku jebloskan ke penjara karena berani menyerang pejabat Istana Kadipaten Anjuk Ladang", selesai bicara demikian, Juru Mpu Klinting segera bersiap untuk maju ke arah Tumenggung Ludaka, Endang Patibrata dan Cendani dengan kuda-kuda ilmu beladiri nya.


"Kau mau kemana??!"


Munculnya suara berat nan berwibawa dari belakang, membuat Juru Mpu Klinting terkejut setengah mati. Dia segera menoleh namun sebuah hantaman benda tumpul langsung menghajar pelipis kanan nya.


Dhhaaaassshhh!!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Bhhhuuuuuuggggh!!


Bekel Tanur langsung terjungkal menyusruk tanah. Dia langsung pingsan tak sadarkan diri. Begitu melihat Bekel Tanur sudah tidak sadarkan diri, Demung Gumbreg segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono dan mengangguk cepat.


Sang pangeran muda dari Kadiri itu segera bertepuk tangan dua kali. Dari arah belakang, dua orang prajurit pengawal pribadi Senopati Sembada muncul. Keduanya segera bergegas menggotong tubuh Juru Mpu Klinting ke arah sebuah kereta kuda yang sudah di siapkan sebelumnya tak jauh dari tempat itu.


Sebelum pergi meninggalkan tempat itu, Panji Tejo Laksono memutar telapak tangan nya dan menghantamkan nya ke arah kereta kuda milik Juru Mpu Klinting. Cahaya merah menyala seperti api yang berkobar menerjang ke arah kereta kuda milik Juru Mpu Klinting.


Whhhuuuggghhhh...


Blllaaammmmmmmm!!!


Kereta kuda itu langsung hancur berkeping keping. Potongan kayu kereta kuda itu berpencar ke segala arah. Rombongan Panji Tejo Laksono meninggalkan tempat itu juga para prajurit Kadipaten Anjuk Ladang termasuk Bekel Tanur dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri.


Langit barat yang memerah perlahan semakin gelap. Ratusan burung burung siang telah berpulang ke arah sarang mereka masing-masing. Di gantikan oleh burung burung malam dan para kelelawar yang sibuk mencari makanan. Suara jangkrik dan belalang pun terdengar bersahutan menambah suasana sepi di kawasan tepi tapal batas Kota Kadipaten Anjuk Ladang.


Sekitar 500 tombak jauhnya dari tempat itu, di sebuah bangunan lama yang sudah tidak terpakai, Juru Mpu Klinting terikat pada salah satu tiang bangunan rumah dalam keadaan pingsan. Beberapa obor yang terbuat dari bambu yang berisi minyak jarak terlihat menyala di beberapa sudut ruangan. Meskipun tidak seterang siang hari, namun cahaya yang dihasilkan oleh obor minyak jarak itu cukup membuat tempat sunyi dan sepi ini menjadi terang benderang.


Dari arah depan, satu guyuran air dari gayung besar menyiram kepala Juru Mpu Klinting. Perlahan kepala perwira menengah prajurit Kadipaten Anjuk Ladang itu bergerak sebagai tanda bahwa dia telah siuman dari pingsannya. Saat kepala nya perlahan terangkat ke atas, di depannya ada seorang lelaki yang mengenakan pakaian pendekar dengan mengenakan topeng separuh wajah. Juga terlihat dua orang perempuan cantik yang mengalihkan perhatian nya tadi. Bahkan orang orang yang menghajar anak buah nya pun ikut berkumpul di sekeliling tempat Juru Mpu Klinting berada.


"Ka-kalian.. Mau apa kalian sebenarnya ha?!


Cepat lepaskan aku! Kalau tidak, kalian semua pasti akan menyesali apa yang sudah kalian lakukan terhadap ku..", ucap Juru Mpu Klinting sembari mencoba meronta untuk melepaskan diri namun usahanya sia-sia belaka.


Plllaaaakkkkk!!

__ADS_1


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Demung Gumbreg yang berada paling dekat dengan Juru Mpu Klinting langsung menampar wajah perwira prajurit Anjuk Ladang itu dengan keras. Jemari tangannya yang segede jempol orang lain memang kuat. Bibir Juru Mpu Klinting langsung pecah dan mengeluarkan darah. Satu gigi nya bahkan langsung copot.


"Jaga bicaramu, perwira tolol!


Kalau kau masih tidak sadar posisi mu, aku pastikan semua gigi mu itu rontok seluruhnya", Demung Gumbreg mendelik kereng pada Juru Mpu Klinting hingga lelaki paruh baya yang berusia sekitar 5 dasawarsa ini langsung ketakutan.


"Kau tidak punya daya tawar untuk mengancam ku, Juru Mpu Klinting..


Dengarkan aku bicara, jangan kau sela sedikitpun karena aku tidak akan mengulangi lagi apa yang aku omongkan. Jawab pertanyaan ku sejujurnya. Jika tidak, Paman Kebo Tua ku ini akan membuatmu tersiksa setengah mati.


Sekarang katakan pada ku, kau mengirimkan bahan pangan kemarin untuk siapa?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


Hening tak ada jawaban sedikitpun dari mulut Juru Mpu Klinting. Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah Demung Gumbreg.


"Paksa dia bicara, Paman!", perintah Panji Tejo Laksono yang langsung di sambut senyum seringai lebar di wajah Gumbreg. Dia segera memutar cincin batu akik di jari tengah nya ke telapak depan.


Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk..


Bhhhuuuuuuggggh bhhhuuuuuuggggh!!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Demung Gumbreg benar-benar aji mumpung. Dia tanpa ampun menghajar Juru Mpu Klinting yang terikat pada tiang kayu rumah tua itu. Wajah Juru Mpu Klinting nyaris tak dapat dikenali lagi. Bibirnya bengkak, matanya pun nyaris tak dapat melihat saking besarnya benjolan yang menutupi. Beberapa gigi nya rompal dan mulutnya mengeluarkan darah.


Hooosshhh hooosshhh!!


"Wah kau semangat sekali menghajar orang ini Mbreg", sindir Tumenggung Ludaka sambil tersenyum simpul melihat ulah kawannya ini.


"Hitung hitung olahraga Lu..


Sekalian mengobati rasa kesal karena kena hukuman dari Gusti Pangeran tadi malam hehehehe", Gumbreg cengengesan menyeka keringatnya sebelum hendak bergerak maju ke arah Mpu Klinting. Namun dia tidak jadi maju saat terdengar suara Mpu Klinting.


"A-ampun ampuni aku...


Aku akan bicara aku akan bicara.. Tolong jangan pukul lagi", rupanya siksaan Demung Gumbreg membuat Mpu Klinting akhirnya menyerah.


"Ah sial.. Aku masih belum puas memukuli mu, kau sudah menyerah. Payah kau..


Ndoro, silahkan..", ucap Demung Gumbreg sembari mempersilahkan kepada Panji Tejo Laksono untuk maju. Sang pangeran muda dari Kadiri itu pun maju ke depan Juru Mpu Klinting.


"Saya mengirim bahan makanan itu ke para prajurit yang di latih oleh Mpu Sena", ucap Juru Mpu Klinting sedikit tidak jelas.


Hemmmmmmm...


"Apakah Adipati Sasrabahu juga terlibat dalam masalah ini?", tanya Panji Tejo Laksono kemudian.


"Gus-Gusti Adipati sebenarnya tidak mau terlibat dalam rencana Mpu Sena, tapi dia tidak bisa menolak permintaan dari Mpu Sena karena ada hutang budi dengan orang licik itu.


Semua pertanyaan sudah ku jawab. Tolong jangan siksa aku lagi", hiba Juru Mpu Klinting memelas.


Panji Tejo Laksono menoleh ke arah Tumenggung Ludaka untuk meyakinkan diri nya tentang jawaban itu. Bekas pimpinan Pasukan Lowo Bengi yang memiliki pengalaman dalam mencari informasi itu mengangguk. Sang pangeran muda ini langsung mengerti.


"Baiklah, aku akan mengakhiri penderitaan mu karena kau telah bicara jujur. Tapi sebelum itu terjadi, ada satu lagi pertanyaan yang harus kau jawab.


Katakan pada ku,

__ADS_1


Berapa banyak jumlah prajurit yang sedang di latih Mpu Sena?!"


__ADS_2