Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 2 )


__ADS_3

Kekagetan Mpu Mahasura sang Pendeta Darah bukanlah tanpa alasan. Dia tahu bahwa karena Ajian Chanda Bhirawa inilah mengapa sebabnya Maharesi Padmanaba menjadi pendekar paling disegani di dunia persilatan Tanah Jawadwipa khususnya wilayah timur. Sesakti apapun seorang pendekar jika melawan Ajian Chanda Bhirawa maka seolah kesaktiannya tidak akan berguna sama sekali.


Si Dewa Tangan Besi, pimpinan utama Kelompok Bulan Sabit Darah sebelumnya, adalah contoh dari perlawanan terhadap Ajian Chanda Bhirawa dulu kala. Ketika itu, Si Dewa Tangan Besi berupaya untuk merebut Putri Chandrakirana yang telah di serahkan oleh Nyi Padmi kepada Maharesi Padmanaba. Saat itu, Si Dewa Tangan Besi yang terkenal sakti mandraguna karena menguasai berbagai ilmu kedigdayaan tingkat tinggi telah berhasil menjatuhkan Maharesi Padmanaba namun setelah Ajian Chanda Bhirawa yang bersatu dengan raga sang resi muncul, Si Dewa Tangan Besi harus menerima kenyataan pahit.


Semua ilmu kesaktian Si Dewa Tangan Besi seperti tak berguna untuk membantu menaklukkan Maharesi Padmanaba. Justru yang ada, jumlah raksasa kecil putih yang merupakan wujud dari Ajian Chanda Bhirawa semakin banyak yang akhirnya membuat Si Dewa Tangan Besi terluka parah. Andai saja dia tidak di tolong oleh beberapa sesepuh Kelompok Bulan Sabit Darah yang mengorbankan nyawa mereka agar Si Dewa Tangan Besi bisa kabur, tentu nyawa pimpinan utama Kelompok Bulan Sabit Darah sebelumnya itu pasti hilang di tempat itu juga.


Saat itu terjadi, Mpu Mahasura sang Pendeta Darah yang menyaksikan langsung pertarungan sengit antara Si Dewa Tangan Besi dan Maharesi Padmanaba. Dari kejadian itu, Mpu Mahasura menyadari bahwa Ajian Chanda Bhirawa bukanlah ilmu kedigdayaan biasa. Alasan utama mengapa dia berani untuk menyerbu ke Pertapaan Gunung Mahameru adalah berita kematian Begawan Padmanaba.


Namun, begitu melihat Panji Tejo Laksono mampu mengeluarkan Ajian Chanda Bhirawa saat ini, seketika nyali bertarung lelaki tua berjubah merah ini langsung runtuh.


Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!!


Lengkingan suara keras terdengar dari mulut para raksasa putih ini sesaat sebelum mereka melompat maju ke arah Mpu Mahasura. Seketika sang Pendeta Darah ini sadar bahwa bahaya besar kini sedang mengancamnya.


Lelaki tua berjanggut merah dan berambut merah gimbal ini segera memusatkan tenaga dalam nya pada telapak tangan lalu dengan cepat menghantam tanah dengan keras.


"Ajian Rengkah Gunung..


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat!!!"


Satu bayangan merah berkelebat cepat kearah para raksasa putih kecil yang kini bergerak cepat menuju ke arah nya. Dengan cepat, bayangan merah ini langsung menghantam dada salah satu dari makhluk menyeramkan ini.


Blllaaammmmmmmm!!


Ledakan keras terdengar. Raksasa putih kecil itu segera terpelanting ke belakang dan menyusruk tanah dengan dengan tubuh terbelah dua. Dia langsung mati seketika. Namun itu hanya berlangsung beberapa saat saja. Dari bagian tubuh yang terbelah, muncul bagian tubuh lainnya yang membuat jumlah makhluk menyeramkan ini menjadi bertambah satu lagi. Kedua nya menyeringai lebar sesaat sebelum bergerak cepat menuju ke arah Mpu Mahasura.


Mpu Mahasura terus menerus melepaskan Ajian Rengkah Gunung nya untuk mengatasi serangan para raksasa putih kecil nan menyeramkan ini. Namun semakin lama, tenaga dalam nya semakin berkurang banyak karena lawan yang dihadapi bukannya berkurang tapi malah semakin banyak.


Pria tua berambut merah itu segera melompat cepat mundur ke belakang. Dia berharap agar bisa menjauh sejauh mungkin dari sergapan para raksasa putih perwujudan dari Ajian Chanda Bhirawa. Setelah mendarat cukup jauh, dia segera menoleh ke arah Malaikat Bertopeng Emas yang sedang bertarung melawan Gardika si Pendekar Harimau Putih.


"Malaikat Bertopeng Emas!!


Abaikan saja dia! Cepat bantu aku..!!"


Mendengar teriakan keras dari Sang Pendeta Darah, Malaikat Bertopeng Emas segera hantamkan tangan kanannya ke arah Gardika.


Serangkum angin kencang berbau busuk berseliweran cepat mengikuti cahaya hijau kehitaman yang bergulung-gulung cepat kearah Gardika.


Whhuuuuuuuggggh!!


Si Pendekar Harimau Putih yang melihat bahaya sedang bergerak ke arah nya, langsung melompat tinggi ke samping kanan menghindari cahaya hijau kehitaman berselimut angin berbau tidak sedap itu.


Blllaaammmmmmmm!!


Beberapa orang yang sedang bertarung di belakangnya baik dari pihak Pertapaan Gunung Mahameru maupun Kelompok Bulan Sabit Darah langsung menjadi korban keampuhan ilmu kedigdayaan yang dilepaskan oleh Malaikat Bertopeng Emas. Mereka langsung roboh ke tanah dengan tubuh membusuk layaknya mayat yang sudah berhari-hari tanpa di kuburkan. Ini adalah keampuhan Ajian Gepuk Gandamayit yang mengerikan.


Malaikat Bertopeng Emas segera hantamkan kedua tangan nya ke arah puluhan raksasa putih perwujudan Ajian Chanda Bhirawa. Beberapa larik cahaya hijau kehitaman berselimut angin berbau busuk berseliweran meluncur cepat kearah para raksasa putih berwajah menyeramkan ini segera.


Shiiuuuuuuttttt shhiuuuuttthh!!


Blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!


Para raksasa putih kecil ini meraung keras dan tubuhnya terpental ke belakang. Mereka langsung tewas seketika namun setelah menyentuh tanah, dengan cepat mereka membelah diri dan bangkit sembari menatap tajam kearah Malaikat Bertopeng Emas. Tanpa diperintah, mereka segera melesat cepat kearah Malaikat Bertopeng Emas yang berdiri di depan Mpu Mahasura.


"Pendeta Darah!!


Cepat pikirkan sesuatu untuk mengatasi para makhluk keparat ini! Aku akan menahan mereka selama mungkin!!", teriak Malaikat Bertopeng Emas sembari terus menghantamkan cahaya hijau kehitaman yang bergulung-gulung melingkari kedua tangan nya.

__ADS_1


Mpu Mahasura sang Pendeta Darah mengangguk mengerti dan cepat merapal mantra Ajian Rengkah Gunung yang menjadi ilmu andalannya. Mulut kakek tua berambut merah itu segera komat-kamit merapal mantra ajian pamungkas nya.


Whuuthhh whuuthhh whuuthhh!!


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!!!


Ledakan beruntun terdengar saat cahaya hijau kehitaman yang dilepaskan oleh Malaikat Bertopeng Emas menghantam tubuh para raksasa putih kecil itu. Namun lagi-lagi sepertinya itu hanya mampu menahan mereka untuk beberapa saat saja. Mereka semakin lama semakin banyak. Nafas Malaikat Bertopeng Emas sudah ngos-ngosan karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam.


Yang membuat para pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah tercengang adalah saat mereka melihat Panji Tejo Laksono perlahan bangkit dari tempat jatuhnya. Pakaian nya hancur berantakan namun semua luka akibat hantaman Ajian Rengkah Gunung hilang tak berbekas. Mata sang pangeran muda ini langsung menatap tajam ke arah Malaikat Bertopeng Emas dan Pendeta Darah.


"Sudah cukup aku bersabar dengan kalian.. Kali ini akan ku musnahkan kalian semua!!!"


Setelah berkata demikian, mulut Panji Tejo Laksono komat-kamit merapal mantra Ajian Tameng Waja. Rupanya dia ingin menggabungkan beberapa Ajian kanuragan yang dia miliki sekaligus untuk melenyapkan semua anggota Kelompok Bulan Sabit Darah.


Tiba-tiba, seluruh tubuh raksasa putih kecil yang berjumlah ratusan itu di selimuti oleh cahaya kuning keemasan. Karena pada dasarnya mereka adalah satu kesatuan dengan Panji Tejo Laksono, maka ini bisa terjadi.


Melihat perubahan wujud itu, semua orang terkejut bukan main. Mpu Jiwan yang baru saja beradu ilmu kesaktian dengan Resi Ranukumbolo, segera melesat meninggalkan pertarungan sengit antara mereka dan segera berdiri di samping Mpu Mahasura.


"Pendeta Darah!!


Aku akan membantu mu lebih dulu. Diantara orang-orang keparat ini, si pemuda bangsat itu yang paling merepotkan!!", ucap Mpu Jiwan sembari bersiap mengeluarkan seluruh kemampuan beladiri yang dia miliki. Mpu Mahasura dengan cepat mengangguk mengerti. Kini tiga orang petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah bersatu menghadapi Panji Tejo Laksono.


Mereka bertiga langsung melepaskan ilmu kanuragan tingkat tinggi yang mereka miliki sekaligus ke arah para raksasa kecil yang kini telah berselimut cahaya kuning keemasan.


Shhiuuuuttth...


Whhuuuuuuuggggh whuuthhh!!!


Melihat ketiga orang ini menggabungkan kekuatan, Resi Ranukumbolo pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru pun seketika berteriak keras.


Semuanya cepat mundur sejauh mungkin!!!"


Mendengar perintah dari sang pimpinan, semua murid Pertapaan Gunung Mahameru segera melesat cepat menjauhi arena pertarungan antara Panji Tejo Laksono dan ketiga orang petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah ini.


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm..


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr..!!!!


Ledakan mahadahsyat terdengar saat Ajian Gepuk Gandamayit dari Malaikat Bertopeng Emas, Ajian Rengkah Gunung dari Mpu Mahasura sang Pendeta Darah dan Ajian Panglebur Bumi milik Mpu Jiwan sang Hantu Misterius menghantam kearah para raksasa kecil perwujudan dari Ajian Chanda Bhirawa milik Panji Tejo Laksono. Kerasnya suara ledakan keras ini bahkan terdengar sampai di Wanua Karang Lawang yang berjarak hampir 2000 tombak jauhnya dari tempat itu.


Debu pekat beterbangan menutupi pandangan mata semua orang. Gelombang kejut besar yang tercipta membuat sebagian besar bangunan kayu di pertapaan berderak keras dan nyaris roboh. Beberapa bangunan yang terdekat malah sudah tidak bisa bertahan lama dan segera roboh ke tanah. Beberapa orang murid baru Pertapaan Gunung Mahameru yang belum memiliki cukup tenaga dalam harus tewas karena tubuh mereka terlempar keluar dari tempat itu dan menghantam bebatuan yang ada di sana.


Beberapa orang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang tidak siap dengan gelombang kejut besar itu harus terpental jauh ke belakang. Yang berilmu rendah langsung roboh dengan gendang telinga pecah yang mengakibatkan kematian. Sedangkan yang berilmu tinggi pun harus mati-matian berusaha untuk tidak terpengaruh dengan kejadian itu.


Di tengah kekacauan itu, Mpu Mahasura, Mpu Jiwan dan Malaikat Bertopeng Emas sedikit merasa lega. Namun kelegaan itu tak berlangsung lama karena dari dalam debu yang beterbangan, muncul ratusan raksasa kecil berwarna kuning keemasan yang segera mengepung mereka dari berbagai penjuru mata angin.


Ketiga orang petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah ini pucat seketika.


"Ba-bagaimana mungkin...???!!!", teriak Mpu Jiwan yang kini di kepung oleh para raksasa kecil itu dari segala penjuru. Dua orang raksasa kecil tak membuang waktu lagi, segera keduanya melompat ke arah Mpu Jiwan. Kegelapan malam dan debu beterbangan yang menutupi seluruh tempat itu membuat mereka laksana hantu yang muncul dari balik tirai kegaiban alam semesta.


Mpu Jiwan berupaya untuk tetap bertahan namun serangan cepat mereka mulai membuahkan hasil. Satu raksasa kecil berhasil menggigit paha kanan Mpu Jiwan.


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Lelaki sepuh bertubuh sedikit kurus itu menjerit keras dan berupaya untuk melepaskan diri dari gigitan raksasa kecil dengan menghantamkan tangan kanannya ke arah kepala makhluk menyeramkan itu.


Blllaaaaaarrr!!

__ADS_1


Namun dia terkejut bukan main saat melihat ilmu kanuragan nya tidak mampu membuat kulit makhluk menyeramkan itu terkoyak. Belum hilang keterkejutannya, satu raksasa kecil lagi menggigit lengan kiri nya. Mpu Jiwan terus menjerit keras sembari berupaya keras untuk melepaskan diri. Namun satu persatu raksasa kecil yang mengepungnya berhasil menancapkan gigi dan kuku tajam mereka ke tubuh Mpu Jiwan.


Sang Hantu Misterius berupaya untuk minta tolong kepada para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah, namun usahanya sia-sia belaka karena debu beterbangan yang menutupi seluruh tempat itu membuat pandangan mata semua orang benar-benar terbatas. Satu orang raksasa kecil itu segera melompat ke atas kepala Mpu Jiwan lalu dengan cepat memuntir kepala kakek tua itu sekuat tenaga.


Krrraaaakkkkkk!!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Hanya itu saja yang terdengar dari mulut Mpu Jiwan saat lehernya patah di puntir oleh raksasa kecil penjelmaan Ajian Chanda Bhirawa. Tentu saja Mpu Jiwan tak menyangka bahwa di tempat itu, dia langsung menjadi hantu yang sesungguhnya. Dia tewas dengan kepala menghadap ke belakang.


Di lain sisi, Mpu Mahasura sekuat tenaga bertahan menghadapi para raksasa kecil berselimut cahaya kuning keemasan ini. Meski telah kepayahan setelah mengeluarkan banyak tenaga dalam, Mpu Mahasura terus menerus melepaskan Ajian Rengkah Gunung nya kearah para raksasa kecil ini.


Blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!


Para raksasa kecil penjelmaan Ajian Chanda Bhirawa ini hanya terpelanting ke belakang namun sama sekali tidak terluka sedikitpun. Mereka terus menerus menerjang maju ke arah Mpu Mahasura. Debu yang beterbangan di sekitar tempat itu benar-benar membuat keuntungan besar bagi para raksasa kecil ini.


Saat Mpu Mahasura lengah, satu raksasa kecil itu berhasil menabrak tubuhnya. Kakek tua berjanggut merah ini langsung terjengkang ke belakang. Belum sempat dia bangkit, dua raksasa kecil lainnya segera menangkap pergelangan tangannya dan menancapkan kuku dan gigi mereka ke arah lengan Sang Pendeta Darah.


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Jerit keras terdengar dari mulut Mpu Mahasura. Belum hilang rasa sakit yang luar biasa yang sedang ia rasakan, beberapa raksasa kecil lainnya nya langsung menubruk tubuh sang sesepuh Kelompok Bulan Sabit Darah ini. Tentu saja Mpu Mahasura tak bisa berbuat apa-apa karena seluruh tubuh nya di gigit oleh para raksasa kecil ini.


Mata Mpu Mahasura melotot lebar saat salah satu raksasa kecil itu menusukkan tangan kanan nya yang berkuku tajam seperti pedang ke arah ulu hati nya.


Jllleeeeeppppphhh...


Aaaarrrgggggghhhhh!!!!


Mata Mpu Mahasura membeliak lebar ketika tangan raksasa kecil itu terus bergerak di dalam dadanya dan begitu menemukan jantung lelaki tua berambut merah itu, ia segera membetot nya keluar dari dalam rongga dada sang Pendeta Darah. Di depan mata Mpu Mahasura, sang raksasa kecil itu langsung meremas jantung sang Pendeta Darah. Sebentar kemudian, Sang Pendeta Darah terkulai lemas dengan mata melotot lebar. Dia tewas dengan dada bolong dan bersimbah darah.


Debu yang beterbangan mulai mereda. Bersamaan dengan itu, seluruh raksasa kecil berselimut cahaya kuning keemasan bergerak menuju ke arah para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang tersisa. Panji Tejo Laksono sendiri langsung melesat cepat kearah Malaikat Bertopeng Emas yang tak berdaya setelah dua raksasa kecil mencekal pergelangan tangan kiri dan kaki kanan nya.


Begitu sampai di depan Malaikat Bertopeng Emas, Panji Tejo Laksono berjalan perlahan mendekati Malaikat Bertopeng Emas.


"Kali ini, aku tidak akan melepaskan mu lagi, Pangeran Ganeshabrata!", Panji Tejo Laksono langsung menampar topeng emas yang menutupi sebagian wajah Malaikat Bertopeng Emas. Dan benar saja, sosok yang bersembunyi di balik topeng emas itu adalah Pangeran Ganeshabrata, pimpinan pasukan Jenggala yang tempo hari menjadi lawan Panji Tejo Laksono.


"Bangsaaaaaaaaattttt!!


Kalau berani, lepaskan aku dan kita bertarung secara jantan!", umpat Pangeran Ganeshabrata segera.


"Jantan??!! Melepaskan mu???!!!


Apa kau pikir aku segoblok itu ha? Selama kau hidup, tidak akan pernah ada ketentraman di Panjalu dan Jenggala. Maka hari ini kematian mu akan mengakhiri masa kekacauan di Tanah Jawadwipa!!"


Tangan kanan Panji Tejo Laksono yang di liputi oleh cahaya putih kebiruan Ajian Brajamusti langsung menghantam dada Pangeran Ganeshabrata alias Malaikat Bertopeng Emas.


Blllaaammmmmmmm!!


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Malaikat Bertopeng Emas meraung keras saat Ajian Brajamusti telak menghantam dada kiri nya. Lobang sebesar kepalan tangan tercipta di dada kiri Malaikat Bertopeng Emas alias Pangeran Ganeshabrata yang tembus hingga ke punggung nya. Seketika itu juga, Malaikat Bertopeng Emas sang pimpinan utama Kelompok Bulan Sabit Darah tewas dengan tubuh bolong.


Melihat kematian sang pimpinan utama dan sesepuh Kelompok Bulan Sabit Darah, Bidadari Bertopeng Perak satu-satunya pimpinan kelompok yang tersisa langsung berteriak lantang.


"Semuanya...


Kita mundur!!!"

__ADS_1


__ADS_2