
Gayatri terkejut bukan main mendengar penuturan kakek tua bertubuh gempal yang bernama Warok Suropati itu. Dia belum pernah bertemu sebelumnya dengan kakek tua bertubuh gempal itu.
'Darimana kakek tua ini tahu siapa aku sebenarnya? Apa dia asal tebak? Atau punya ilmu yang bisa melihat rahasia?'
Berbagai pertanyaan melintas di kepala Gayatri. Semakin dia berfikir semakin banyak pula hal yang membuatnya bingung.
"Tak usah bingung, Gusti Putri Dyah Gayatri..
Aku tahu kau pasti bertanya-tanya bagaimana bisa aku mengetahui rahasia mu bukan? Baiklah akan ku buka sedikit saja rahasia mu agar kau yakin bahwa aku benar benar mengetahui semuanya.
Nama lengkap mu Dyah Gayatri. Kau adalah cucu Adipati Tejo Sumirat dari Kadipaten Seloageng. Ibu mu, Dewi Anggarasasi adalah kakak permaisuri pertama Prabu Jayengrana Dewi Anggarawati. Ayahmu adalah Tumenggung Sindupraja, Tumenggung Kulon Istana Kotaraja Kadiri. Kau adalah anak kedua. Kakak mu bernama Sindupaksi.
Apa masih belum cukup untuk meyakinkan mu Gusti Putri Dyah Gayatri?", ujar Warok Suropati sembari tersenyum simpul.
"Aku percaya pada omongan mu, Warok Suropati..
Kamu memang orang yang memiliki kemampuan kebatinan yang linuwih. Aku mengagumi mu", Gayatri segera membungkuk hormat kepada Warok Suropati.
Pengakuan Gayatri ini membuat Panji Tejo Laksono terperangah juga.
'Berarti Gayatri ini adalah kakak sepupu ku', batin Panji Tejo Laksono.
"Bopo, kau mulai lagi..
Tidak baik membuka rahasia orang sembarangan. Ada beberapa hal yang sebaiknya tetap menjadi rahasia", ujar Singo Manggolo sembari menatap ke wajah sepuh Warok Suropati. Panji Tejo Laksono langsung menarik nafas lega mendengar ucapan Singo Manggolo.
"Hehehe... Aku hanya menguji kemampuan ku, Manggolo..
Kau bocah bagus, kemari kau!
Aku ingin bicara empat mata dengan mu. Manggolo, bawa Gusti Putri Seloageng untuk beristirahat. Aku ada hal yang mau aku bicarakan dengan bocah bagus ini", Warok Suropati tersenyum penuh arti.
Sadar bahwa ada sesuatu yang penting, Singo Manggolo segera mengajak Gayatri masuk ke dalam rumah sementara Panji Tejo Laksono mendekati Warok Suropati kemudian duduk bersila di hadapan sang lelaki sepuh.
Warok Suropati tersenyum sebelum berbicara dengan lembut.
"Sebelum nya aku ucapkan selamat datang pada mu, Cucu Pangeran Panji Tejo Laksono.
Kau putra murid sekaligus menantu ku Prabu Jayengrana jadi aku memanggil mu Cucu Pangeran hehehehe...".
"Jadi Eyang ini adalah mertua Kanjeng Romo Prabu Jitendrakara?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Benar Cucu Pangeran..
Aku adalah mertua ayah mu dari selir nya Cempluk Rara Sunti. Dewi Kencanawangi adalah cucu kandung ku, Nakmas", jawab Warok Suropati sembari tersenyum simpul.
"Sembah bakti saya Kanjeng Eyang..
Mohon maaf jika saya kurang mengenali Kanjeng Eyang karena rendahnya tingkat wawasan saya", Panji Tejo Laksono langsung menghaturkan sembah pada Warok Suropati.
"Hehehehe mulut mu manis sekali seperti ayahmu, persis sekali. Tapi aku suka dengan sikap mu..
Apa kau masih menjalani topo ngrame mu, Nakmas Pangeran?", tanya Warok Suropati seraya mengelus jenggotnya.
"Benar Kanjeng Eyang..
Ini adalah bentuk bakti saya untuk guru saya, Begawan Ganapati dari Gunung Kelud", Panji Tejo Laksono mengangguk cepat.
"Hemmmmmmm lumayan juga kau..
Tapi Kedaton Kadiri sedang tidak baik-baik saja, Nakmas Pangeran. Meski sekarang terlihat tenang, namun ada beberapa pihak yang mulai berkelompok menata diri untuk tujuan mereka. Apa kau belum tahu masalah ini?", Warok Suropati menatap ke arah Panji Tejo Laksono.
"Sebenarnya aku sedikit mengerti itu Kanjeng Eyang, upaya pembunuhan terhadap ku tempo hari adalah salah satu buktinya bahwa Kedaton Kadiri tidak baik baik saja.
Namun untuk berdiri tegak di atas kaki ku sendiri, aku belum bisa Kanjeng Eyang. Maka aku menerima syarat dari Begawan Ganapati untuk menempa diri ku agar bisa menjadi penegak kerajaan Panjalu melalui pengalaman topo ngrame ini. Aku tidak mau hanya menjadi pangeran lemah yang bersembunyi di balik nama besar Kanjeng Romo Prabu Jitendrakara", ucap Panji Tejo Laksono sembari menghela nafas panjang.
"Hahahaha...
Benar benar putra Panji Watugunung. Aku suka dengan sikap mu ini, Nakmas Pangeran.
Aku bersedia untuk menurunkan ilmu kedigdayaan tinggi pada mu seperti aku menurunkan nya pada ayah mu tapi aku punya syarat yang harus kau penuhi", Warok Suropati tersenyum penuh arti.
"Yah pakai syarat lagi.. Kanjeng Eyang benar benar perhitungan dengan ku", Panji Tejo Laksono mengeluh. Terbayang di benak nya akan menambah lagi waktu topo ngrame nya padahal dia sudah sangat merindukan ibunya Dewi Anggarawati.
__ADS_1
"Hei bocah bagus..
Tentu saja semua ilmu itu harus ada sesuatu sebagai pengganti nya. Kau pikir semua nya bisa kau dapat dengan cuma-cuma? Huh enak saja", omel Warok Suropati mendengar suara lemas Panji Tejo Laksono.
"Iya iya Kanjeng Eyang iya..
Lantas apa sebenarnya syarat yang Kanjeng Eyang minta dari ku?", suara pasrah terdengar dari mulut sang pangeran muda.
"Nah begitu dong baru namanya pria sejati.
Aku minta kelak kau jaga adik mu Dewi Kencanawangi dari setiap permasalahan yang mungkin terjadi di Istana Kotaraja Kadiri. Juga kalau kau mau nanti ku kenalkan dengan anak Singo Manggolo itu hehehehe", ujar Warok Suropati sembari terkekeh kecil.
"Untuk syarat pertama aku sanggup Kanjeng Eyang, karena Kencanawangi adalah saudara ku.
Tapi syarat kedua aku tidak janji karena sekarang pikiran ku masih tertuju pada pengembangan diri ku, bukan mencari istri", jawab Panji Tejo Laksono segera.
"Hahahaha.. baiklah kalau begitu..
Mulai nanti malam akan ku turunkan Ajian Waringin Sungsang dan Ngrogoh Sukmo pada mu. Ayah mu menjadi pendekar pilih tanding karena menguasai dua ajian raga dan jiwa ini. Akan ku lihat apakah kau sehebat ayahmu dalam kecepatan menguasai Ajian yang aku turunkan ", ujar Warok Suropati sembari berdiri dari tempat duduknya.
Panji Tejo Laksono langsung menghaturkan sembah pada Warok Suropati yang kemudian berlalu meninggalkan serambi kediaman nya.
Setelah itu Panji Tejo Laksono langsung berdiri dan menyusul ke arah Gayatri dan Singo Manggolo di bangunan samping kediaman Lurah Wanua Pulung itu.
Seorang gadis cantik dengan kulit sawo matang dan mata berbinar-binar jernih nampak duduk bersama Singo Manggolo, Gayatri dan seorang wanita yang cukup berumur di bawah pohon sawo yang rindang. Sesaat dia terpana melihat ketampanan Panji Tejo Laksono yang datang dari arah depan. Namun dengan cepat ia tertunduk malu malu sembari melirik ke arah Panji Tejo Laksono yang segera duduk di dekat mereka.
"Apa yang kau bicarakan dengan Bopo ku, Taji? Seperti nya ada hal yang penting", tanya Singo Manggolo begitu sang pangeran muda telah duduk di kursi kayu.
"Ah tidak ada yang penting paman. Hanya menanyakan beberapa hal saja", Panji Tejo Laksono terpaksa berbohong untuk kebaikan semuanya.
"Baguslah kalau begitu..
Oh iya Taji, perkenalkan ini istri ku Nyi Gandini dan ini putriku Endang Patibrata", sambung Singo Manggolo memperkenalkan keluarga nya pada Panji Tejo Laksono.
"Salam hormat bibi, salam kenal Endang Patibrata..
Saya Taji Lelono dari Kadiri", Panji Tejo Laksono tersenyum tipis pada mereka.
Pasti kenal dengan Bibi Cempluk Rara Sunti. Apakah begitu, Taji?", tanya Endang Patibrata sambil tersenyum manis.
"Tak seorang pun yang tidak tahu nama Gusti Selir Cempluk Rara Sunti, Nimas..
Tapi jika di katakan kenal aku tidak bisa bilang begitu. Gusti Selir Cempluk Rara Sunti kebanyakan berdiam diri di Puri Agung nya sendiri di Keputren Istana Katang-katang. Seorang lelaki di larang memasuki wilayah itu tanpa ijin dari Gusti Prabu Jayengrana ", jawab Panji Tejo Laksono dengan sopan.
"Seperti nya kau tahu banyak tentang seluk beluk istana, Taji.
Apa kau sering masuk ke istana?", todong Endang Patibrata yang langsung membuat Panji Tejo Laksono tersadar bahwa dia sedikit keceplosan menyebutkan seluk beluk istana.
"Eh tidak begitu, Endang Patibrata..
Ini adalah rahasia umum yang di ketahui orang banyak di Kotaraja Kadiri. Semua orang mengetahuinya loh", sahut Panji Tejo Laksono dengan cepat.
Sepanjang sore hari itu, mereka berbincang dengan hangat tentang banyak hal.
Malam menjelang tiba di wilayah Wanua Pulung. Cericit burung malam terdengar bersahutan dari ranting-ranting pohon yang gelap. Suara jangkrik dan belalang beriringan menandakan bahwa musim hujan sedang terjadi.
Setelah makan malam bersama, Panji Tejo Laksono langsung di gelandang oleh Warok Suropati.
Endang Patibrata yang masih ingin berdekatan dengan Panji Tejo Laksono mengikuti langkah sang pangeran muda. Pun Gayatri yang sedari tadi banyak diam setelah rahasia nya di bongkar Warok Suropati juga mengikuti mereka.
"Kanjeng Eyang,
Kakang Taji mau kau ajak kemana?", tanya Endang Patibrata pada kakeknya itu.
"Anak kecil jangan ikut urusan orang tua. Ayo bocah bagus kita berangkat", jawab Warok Suropati sembari menggelandang tangan Panji Tejo Laksono. Hanya dalam sekejap mata, mereka sudah menghilang dari pandangan mata Endang Patibrata dan Gayatri.
Dua perempuan cantik itu saling berpandangan sejenak sebelum mereka kembali ke tempat peristirahatan mereka masing-masing tanpa banyak bicara.
Panji Tejo Laksono hanya bisa pasrah saja di tarik tangan kanannya oleh Warok Suropati. Mereka melesat cepat bagai terbang ke arah Utara Wanua Pulung yang merupakan kaki Gunung Wilis.
Di salah satu lereng yang di sebut sebagai Patuk Banteng, Warok Suropati menghentikan gerakannya. Diatas sebuah batu besar, Warok Suropati menyuruh Panji Tejo Laksono duduk bersila.
"Tata nafas mu, Nakmas.
__ADS_1
Kosongkan pikiran mu jangan sampai terganggu dengan apapun. Aku akan menurunkan Ajian Waringin Sungsang padamu", perintah Warok Suropati segera.
Dengan patuh, Panji Tejo Laksono melaksanakan perintah Warok Suropati. Perlahan ia menata napas nya, memusatkan panca indera nya sambil memejamkan mata. Hingga kosong semua pikiran dan daya cipta nya untuk menerima Ajian Waringin Sungsang.
Warok Suropati berdiri tegak di hadapan Panji Tejo Laksono. Mulutnya komat kamit membaca mantra. Seketika cahaya hijau kebiruan muncul di kaki Warok Suropati, semakin lama semakin cepat menggulung naik hingga terkumpul di kedua tangan kakek tua berjenggot panjang itu segera.
Dengan cepat, tangan kanan Warok Suropati di letakkan di ubun ubun Panji Tejo Laksono. Sinar hijau kebiruan langsung menyelimuti seluruh tubuh Panji Tejo Laksono.
Zzzzzzrrrrrrrttttttthhhhhh!!!!
Hawa panas merasuk kedalam tubuh Panji Tejo Laksono bersamaan sinar hijau kebiruan terus membelit tubuh Panji Tejo Laksono.
Keringat sebesar butiran kedelai satu persatu mulai menetes dari dahi sang pangeran muda.
Perlahan tangan Warok Suropati diangkat dari ubun ubun Panji Tejo Laksono namun sinar hijau kebiruan masih terus melingkupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Sinar bulan separuh yang menggantung di langit barat menerangi Panji Tejo Laksono dan Warok Suropati di tempat itu.
Sembari menunggu Panji Tejo Laksono menyerap seluruh Ajian Waringin Sungsang, Warok Suropati duduk bersemedi tak jauh dari tempat Panji Tejo Laksono duduk bersila.
Menjelang tengah malam, seluruh Ajian Waringin Sungsang yang di turunkan oleh Warok Suropati berhasil menyatu dengan tubuh Panji Tejo Laksono. Pangeran muda ini terbangun dari atas batu besar dan menatap ke arah Warok Suropati yang masih tenggelam dalam semedi nya.
"Kanjeng Eyang,
Aku sudah menyerap seluruh Ajian Waringin Sungsang yang eyang berikan padaku", ujar Panji Tejo Laksono dengan cepat.
"Hehehehe, kau memang secerdas ayahmu Nakmas Pangeran..
Hari ini cukup sampai disini dulu. Besok malam kau harus berlatih untuk mengontrol kekuatan dan kemampuan Ajian Waringin Sungsang ini.
Mari kita kembali ke rumah", ucap Warok Suropati sembari berdiri dari tempat duduknya. Belum sempat, Panji Tejo Laksono menjawab, Warok Suropati sudah menyambar lengan nya dan melesat cepat bagai terbang ke arah Wanua Pulung.
Selanjutnya setiap malam selama sepekan itu, Panji Tejo Laksono berlatih menggunakan Ajian Waringin Sungsang. Bukan itu saja Warok Suropati juga menurunkan Ajian Ngrogoh Sukmo pada Panji Tejo Laksono. Sebuah ilmu kebatinan tingkat tinggi yang mampu membuat sang pemilik melepaskan sukma dari raga nya dan kembali sesuka hatinya.
Selama sepekan ini, Endang Patibrata semakin dekat dengan Panji Tejo Laksono hingga Gayatri yang selama ini menemani perjalanan nya mendengus kesal karena cemburu melihat kedekatan mereka.
Pagi hari itu, mendung tebal menggantung di langit. Cuaca dingin bercampur angin kencang menderu terasa menusuk tulang. Semalam hujan deras mengguyur wilayah Wanua Pulung hingga nyaris pagi. Bahkan Panji Tejo Laksono dan Warok Suropati yang pulang dari berlatih di Patuk Banteng mesti basah kuyup oleh air hujan yang turun dengan lebatnya saat pulang ke kediaman Warok Suropati.
Air tergenang dimana mana, hingga orang malas keluar dari rumah. Pagi itu Endang Patibrata dan Nyi Gandini terlihat sibuk di dapur rumah di bantu Gayatri. Dua abdi mereka turut membantu keluarga Lurah Wanua Pulung itu menyiapkan makanan untuk para anggota keluarga mereka.
Sedangkan Panji Tejo Laksono, Singo Manggolo dan Warok Suropati terlihat duduk berbincang di serambi kediaman mereka.
Dari arah belakang, Gayatri, Endang Patibrata dan Nyi Gandini menuju ke serambi kediaman Lurah Wanua Pulung itu sembari membawa nampan berisi beberapa potong pisang rebus, singkong rebus, wedang jahe juga gethuk ketela pohon yang bercampur dengan gula merah.
Dengan penuh kehangatan, mereka semua sarapan pagi bersama.
"Ini siapa yang masak? Kau Gandini?", tanya Warok Suropati sembari menatap ke arah menantu nya itu dengan sepotong gethuk ketela pohon di tangan nya.
"Bukan Bopo..
Tadi Endang Patibrata dan Gayatri yang membuat nya. Aku tadi menumbuk padi di lesung bersama Sumirah dan Cikrak di belakang", jawab Nyi Gandini dengan sopan.
"Tumben sekali masakan mu enak, Endang..
Mbok yang sering sering masak seperti ini hehehe", puji Warok Suropati sembari terkekeh kecil.
"Huhhhhh Kanjeng Eyang menghina kalau masakan ku selama ini tidak enak ya?", gerutu Endang Patibrata dengan bersungut-sungut kesal mendengar ucapan kakek nya itu.
"Hahahaha..
Anak perawan jangan suka marah marah. Nanti jodoh nya jauh loh, Endang Patibrata", goda Warok Suropati sembari melirik ke arah Panji Tejo Laksono yang asyik menikmati potongan gethuk ketela pohon.
Endang Patibrata hendak menjawab omongan Warok Suropati namun tiba-tiba..
Shhhrriinggg!!!
Sebuah keris kecil melesat cepat kearah Endang Patibrata. Warok Suropati yang tajam pendengaran nya langsung menyambar tubuh cuci nya itu hingga keris kecil itu menancap di tiang rumah. Semua orang terkejut melihat kejadian cepat itu. Mereka segera bergegas berdiri untuk melihat keluar rumah namun Warok Suropati mencegah mereka.
"Tidak perlu repot-repot di kejar. Itu surat tantangan".
Mendengar itu semua orang menoleh ke arah keris kecil yang menancap di tiang rumah. Dan benar saja, di gagang keris kecil itu terdapat sebuah gulungan kain putih. Singo Manggolo langsung meraih keris kecil itu dan membuka gulungan kain putih itu segera. Setelah membacanya, dia menoleh ke arah Warok Suropati.
"Bopo, apa kau kenal dengan Gunosecho?
Dia menantang mu"
__ADS_1