Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Tahanan


__ADS_3

"Baru keluar cari angin.. Mau tidur tapi susah, makanya aku jalan jalan sebentar", jawab Panji Tejo Laksono sambil tersenyum.


"Mana ada jalan jalan dengan pakaian seperti itu? Hayo ngaku, Gusti Pangeran darimana?", Gayatri tak percaya dengan omongan Panji Tejo Laksono.


"Aku bilang dari jalan jalan.. Tadi aku kesulitan mencari baju yang pas. Ini asal ambil saja.


Sudah malam, aku mau tidur Gayatri. Selamat malam", Panji Tejo Laksono langsung masuk ke dalam bilik kamar tidur nya meninggalkan Gayatri yang kesal karena masih tak percaya.


'Pasti ada sesuatu yang sedang di sembunyikan nya. Huh awas saja kalau sampai ketahuan'


Malam semakin larut. Suara burung malam yang terdengar semakin membuat suasana semakin terasa sunyi.


Di dalam Keputren Istana Kadipaten Kalingga, Ayu Ratna sedikitpun tidak bisa memejamkan matanya. Bayangan pemuda tampan yang di jumpai nya tadi sepertinya tak bisa lepas dari pelupuk mata.


'Duh Gusti Jagat Dewa Batara.


Kenapa bayangan lelaki itu tak bisa lepas dari ingatan ku? Siapa sebenarnya dia? Kenapa dia muncul di istana?


Huhh...


Pasti ada sesuatu yang salah dengan otak ku ini. Aku ingin tidur sekarang...'


Ayu Ratna terus saja memikirkan sosok lelaki yang semalam telah membuat geger istana Kadipaten Kalingga. Suaranya yang lembut seperti terus berbunyi di telinga sang putri.


"Apa ini yang dinamakan dengan cinta pada pandangan pertama? Duhhh Dewa...


Tolonglah hamba mu ini", Ayu Ratna tersenyum sendiri jika teringat dengan suara Panji Tejo Laksono. Putri Adipati Aghnibrata itu tak sekejap pun bisa memejamkan matanya hingga pagi menjelang tiba.


Riuh kokok ayam jantan bersahutan menandakan bahwa sebentar lagi sang Surya akan terbit di ufuk timur. Meski musim penghujan hampir berakhir, namun ada kalanya mendung hitam tebal masih menggantung di langit. Sama seperti pagi hari itu, mendung tebal menghiasi langit di atas wilayah Kadipaten Kalingga. Meskipun sang Surya telah muncul di langit, tapi hanya mampu menembus sela sela awan hitam yang menjadi tanda tanda adanya hujan yang sepertinya akan segera turun.


Panji Tejo Laksono menggeliat dari tempat tidurnya sembari menguap lebar. Tubuhnya yang tinggi tegap seperti Prabu Jayengrana benar benar menjadi daya tarik tersendiri bagi para wanita manapun yang memandangnya.


Thookkk thok thookkk !


Terdengar suara ketukan pintu kamar tidur. Panji Tejo Laksono bergegas beranjak dari tempat tidur nya dan berjalan ke arah pintu.


Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh !


Saat pintu kamar terbuka, wajah cantik dengan senyum manis tersembul di sana. Luh Jingga nampak berdiri sembari membawa nampan berisi air hangat cuci muka dengan selembar daun sirih berikut secangkir wedang jahe. Tanpa menunggu persetujuan Panji Tejo Laksono, Luh Jingga langsung melangkah masuk ke dalam kamar dan meletakkan nampan itu ke atas meja kecil di samping ranjang.


"Sudah berapa kali aku bilang Luh Jingga?


Kau tidak perlu repot-repot untuk mengantarkan air cuci muka untuk ku. Kau ini bukan pelayan ku, kau ini adalah calon selir ku", ujar Panji Tejo Laksono segera.


"Gusti Pangeran jangan banyak melarang. Ini semua saya lakukan sebagai wujud rasa tanggung jawab saya sebagai calon selir yang baik.


Sekarang Gusti Pangeran cuci muka dulu dan minum wedang jahe nya. Sehabis itu mandi. Ingat Gusti Pangeran akan bertemu dengan Adipati Aghnibrata. Aku tidak mau penampilan Gusti Pangeran terlihat buruk di mata beliau", Luh Jingga tersenyum tipis sembari melangkah keluar dari dalam kamar tidur sang pangeran muda.


Panji Tejo Laksono hanya geleng-geleng kepala saja sambil tersenyum simpul melihat tingkah Luh Jingga.


"Benar benar calon istri yang perhatian", gumam Panji Tejo Laksono sambil mencuci muka nya.


Selepas mandi dan berdandan, Panji Tejo Laksono bersama para pengikutnya sarapan bersama di bagian depan penginapan yang juga berfungsi sebagai warung makan.


Pagi itu tak banyak orang yang makan di warung makan penginapan, hanya beberapa pasang orang yang terlihat seperti para pedagang dari tempat yang jauh. Kalingga memang memiliki pelabuhan besar di masa itu. Pelabuhan Halong di Kalingga menjadi pelabuhan laut terbesar Kerajaan Panjalu di atas Pelabuhan Tanjung Salaka di Kembang Kuning dan Pelabuhan Lasem di Kadipaten Lasem.


Banyak sekali orang asing yang datang ke Kalingga. Umumnya mereka adalah para pedagang dari mancanegara seperti Negeri Gujarat, Kerajaan Chola India, Kerajaan Champa, Kerajaan Sriwijaya bahkan hingga Kekaisaran Dinasti Song di Tanah Tiongkok. Selain pedagang, banyak pula pelajar agama Buddha dari Tiongkok yang singgah ke Panjalu sebelum melanjutkan perjalanan ke India.


Panji Tejo Laksono yang sedang menikmati nikmatnya sarapan pagi, di kejutkan dengan keributan yang di sebabkan oleh pertengkaran antara seorang pedagang asal Tiongkok dengan pedagang yang berasal dari Chola India di luar warung makan.


Semua orang langsung keluar dari dalam warung makan saat mendengar keributan itu.


"Pokoknya owe tidak terima ya..


Tuan Pandya sudah culang sama owe. Kembalikan semua sutra yang tuan ambil dari owe", teriak seorang lelaki bertubuh tambun dengan mata sipit itu sambil menunjuk ke arah orang tinggi besar berkulit sawo matang yang di sebut nya dengan nama Tuan Pandya. Dia adalah Tang He, saudagar besar dari Tanah Tiongkok yang biasa memperdagangkan sutra dan keramik porselen dari negerinya ke wilayah selatan.


"Acha Acha..


Saya tidak pernah curang dengan barang dagangan. Kita sudah setuju tukar barang he.. Gading saya sudah tuan bawa, mana mungkin saya kembalikan sutra yang tuan berikan? Semuanya sudah sesuai Tuan Tang", Pandya sang pedagang asal Negeri Chola India itu tak mau kalah.

__ADS_1


"Dasar bajingan!


Benar benar tidak bisa di maafkan. Yang Chen, kasih itu olang pelajaran. Cepat!", teriak Saudagar Tang He lantang. Seorang pemuda berkulit kuning dengan mata sipit langsung maju. Dengan cepat, pemuda bernama Yang Chen itu segera menerjang maju ke arah Saudagar Pandya.


Whhhhuuuuggghhh !


Satu pukulan keras mengarah ke kepala Saudagar Pandya. Segera saudagar bertubuh tinggi besar itu menggeser tubuhnya sedikit untuk menghindar hingga serangan Yang Chen hanya menghajar udara kosong.


Melihat Pandya terancam, dua pengawal pribadi nya langsung melesat cepat kearah Yang Chen dengan serangan beladiri khas negeri mereka. Satu orang pengawal pribadi Saudagar Pandya langsung menyerang ke arah kaki, sedangkan satu lagi mengincar kepala.


Yang Chen yang menggunakan ilmu kungfu nya langsung menangkis serangan ke arah kepala sembari melompat mundur ke belakang.


Perkelahian antar pedagang itu semakin meluas.


Panji Tejo Laksono yang khawatir dengan akibat pertarungan itu, langsung menggunakan Ajian Sepi Angin nya dan dengan cepat menjatuhkan mereka agar pertarungan itu berhenti.


Whuuthhh !


Dhasshhh ! dhasshhh !


Oughh ! Auuuggghhhhh !


Delapan orang yang bertarung di jalanan dekat warung makan itu terkapar di tanah dengan luka lebam dan gigi patah. Kecepatan gerak Panji Tejo Laksono yang di luar kemampuan beladiri mereka benar benar mampu menjatuhkan para pengawal saudagar yang berkelahi itu hanya dalam dua kali tarikan nafas.


Baik saudagar Pandya maupun Saudagar Tang He tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka.


"Kalau kalian masih tetap ribut dan mengganggu kenyamanan orang lain, jangan lupa untuk mempersiapkan obat urut yang banyak", Panji Tejo Laksono menepuk-nepuk bajunya sembari melangkah ke arah halaman warung makan.


Tepat di saat yang bersamaan, serombongan prajurit Kota Kadipaten Kalingga yang berjumlah sekitar 20 orang datang mengepung. Rupanya ada yang melaporkan adanya keributan di depan warung makan itu.


Senopati Ranggabuana yang meminta para prajurit Kalingga menatap ke arah delapan orang yang tersungkur tak berdaya di tanah dari atas kuda nya.


"Siapa yang melakukan ini semua?", tanya Senopati Ranggabuana lantang.


"Tuan Ranggabuana, anak buah owe di jatuhkan sama itu olang", jawab saudagar Tang He sembari menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono.


"Ah acha Tuan Rangga,


"Hei kau, katakan alasan mu kenapa kau memukuli orang orang ini?", Senopati Ranggabuana mengalihkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono.


"Mereka berkelahi karena berebut benar. Nyaris saja mencelakai orang ku dan penduduk kota Kadipaten Kalingga yang tak bersalah. Jika di biarkan maka pasti akan ada yang menjadi korban.


Karena mereka sesama pesilat, jadi terpaksa aku gunakan kekerasan untuk menghentikan perkelahian mereka", jawab Panji Tejo Laksono dengan tenang.


"Apa itu benar, saudagar Tang He?", Senopati Ranggabuana mengalihkan pandangannya ke arah saudagar tambun asal negeri Tiongkok itu.


"Ini semua karena Tuan Pandya berbuat curang sama owe, Tuan Ranggabuana. Jumlah gading gajah yang mereka bawa tidak sebanding harganya dengan kain sutra halus yang owe berikan sebagai alat penukar nya", jawab Saudagar Tang He dengan cepat.


"Nehi nehi, Tuan Ranggabuana. Itu semua dusta.


Kita sudah sepakat sebelumnya. Namun tiba-tiba saja tuan Tang He ingin mengambil kembali sutra yang sudah di berikan he. Tentu saja saya tidak mau", sahut Saudagar Pandya segera.


"Sudah cukup!


Sekarang kalian semua ikut aku ke istana. Biar Gusti Adipati sendiri yang memberikan jalan keluar. Dan kau anak muda, kau juga ikut ke istana", perintah Senopati Ranggabuana dengan tegas.


"Tapi saya tidak tahu menahu soal itu, Gusti Senopati..


Saya hanya melerai mereka. Kenapa saya juga di ikutkan dalam permasalahan ini?", Panji Tejo Laksono menatap ke arah Senopati Ranggabuana.


"Sudah jangan banyak bicara. Ikut atau kau akan menyesali kebodohan mu", ujar Senopati Ranggabuana sembari menjalankan kuda nya ke arah Istana Kadipaten Kalingga.


Tumenggung Ludaka nyaris melompat maju andai saja tidak melihat isyarat tangan Panji Tejo Laksono. Demung Gumbreg yang hendak maju pun langsung di cegah oleh Tumenggung Ludaka lalu tumenggung andalan Kerajaan Panjalu itu membisikkan sesuatu pada Demung Gumbreg.


Demung Gumbreg langsung mengangguk mengerti dan mengurungkan niatnya untuk menyerang.


Para prajurit Kadipaten Kalingga langsung menggiring para pedagang yang bertengkar itu bersama Panji Tejo Laksono ke istana layaknya seorang tahanan meski tidak diikat dengan tali.


Di pendopo paseban agung Kadipaten Kalingga, para pedagang itu bersama Panji Tejo Laksono di perintahkan untuk duduk dengan rapi menunggu kedatangan Adipati Aghnibrata.

__ADS_1


Seorang lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan kumis tebal melintang di pipinya bersama seorang wanita yang merupakan permaisuri nya memasuki pendopo agung. Setelah Adipati Aghnibrata duduk di singgasana Kadipaten Kalingga, Senopati Ranggabuana langsung melaporkan kejadian yang telah terjadi depan alun alun kota.


Hemmmmmmm...


"Begitu rupanya...


Jadi kau yang melerai mereka bocah bagus?", tanya Adipati Aghnibrata sembari menatap ke arah Panji Tejo Laksono.


"Mohon ampun Gusti Adipati,


Saya hanya beruntung saja bisa melerai pertikaian antara mereka. Jadi saya tidak tahu menahu sama sekali soal yang menjadi titik permasalahan mereka. Saya melerai mereka juga karena perkelahian mereka mengancam nyawa penduduk di sekitar tempat itu", Panji Tejo Laksono menghormat pada Adipati Aghnibrata.


"Hehehe kau benar benar rendah hati..


Tak mudah mengalahkan delapan orang pengawal pribadi seperti mereka. Kau pasti memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.


Sekarang coba kau berikan pertimbangan mu pada ku. Setelah mendengar titik awal permasalahan mereka, apa yang sebaiknya kita lakukan?", tanya Adipati Aghnibrata sembari menatap ke arah Panji Tejo Laksono.


"Tapi Gusti Adipati, dia.."


"Aku tidak menyuruhmu menyela omongan ku, Ranggabuana. Sebaiknya kau diam saja dan dengarkan omongan bocah bagus ini, baru nanti kau boleh bicara", Adipati Aghnibrata mengangkat tangan kanannya. Senopati Ranggabuana yang hendak bicara langsung terdiam dan menghormat pada Penguasa Kadipaten Kalingga itu.


"Menurut saya,


Sebaiknya kita hitung dulu nilai harga barang yang menjadi dagangan mereka, Gusti Adipati. Dengan begitu akan kelihatan siapa sebenarnya yang berbuat curang dalam pertukaran barang mereka.


Saya rasa itu cukup adil untuk semua orang", Panji Tejo Laksono menghormat pada Adipati Aghnibrata.


"Hahahaha cerdas juga kau...


Aku saja tidak sampai berpikir hingga ke titik itu. Pemecahan masalah mu sangat sederhana tapi kebanyakan para pengadil tidak sampai di titik itu. Hebat kau bocah bagus, aku suka dengan pemikiran mu", Adipati Aghnibrata tertawa lepas sambil menepuk pahanya.


Suara tawa Adipati Aghnibrata yang keras memancing perhatian Ayu Ratna yang tengah berjalan menuju ke arah Keputren selepas dari dapur istana. Kembang Istana Kadipaten Kalingga itu bergegas menuju ke arah pendopo agung Kadipaten Kalingga diikuti oleh Sukesi.


Ayu Ratna langsung berjalan menghampiri singgasana Kadipaten Kalingga dan segera duduk bersimpuh di samping kaki kiri Niken Sulastri usai menghormat pada Adipati Aghnibrata.


"Mohon maaf Kanjeng Romo, ada hal apa yang membuat Kanjeng Romo tertawa keras sekali baru saja?", tanya Ayu Ratna yang penasaran dengan apa yang terjadi.


"Ini anak muda yang pintar memecahkan masalah, Ngger Cah Ayu.


Jawaban nya sederhana tapi itu sangat pas sekali dengan kebutuhan", jawab Adipati Aghnibrata sembari menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono yang menunduk. Ayu Ratna segera menatap ke arah Panji Tejo Laksono. Begitu Panji Tejo Laksono mendongak ke arah Adipati Aghnibrata, Ayu Ratna terkejut bukan main.


Namun putri Istana Kadipaten Kalingga itu dengan cepat menyembunyikan keterkejutan nya. Akan tetapi, mata Adipati Aghnibrata yang awas langsung tahu ada yang tidak beres dengan mereka berdua.


"Ngger Cah Ayu,


Kenapa wajah mu terlihat kaget seperti itu? Apa kau tahu siapa pemuda ini?", tanya Adipati Aghnibrata segera. Ayu Ratna langsung gugup mendengar pertanyaan Penguasa Kadipaten Kalingga itu. Setelah menghela nafas berat, Ayu Ratna pun buka mulut nya.


"Kanjeng Romo, dia itu...."


Belum sempat Ayu Ratna menyelesaikan omongannya, sebuah suara keras dari arah gerbang istana terdengar.


"Utusan dari Kotaraja Kadiri mohon ijin untuk bertemu!"


Mendengar suara itu, Adipati Aghnibrata langsung berdiri dari kursi singgasana nya. Pun Niken Sulastri juga ikut berdiri. Dari arah gapura istana, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg serta para prajurit Panjalu juga Gayatri dan Luh Jingga masuk. Kali ini mereka menggunakan pakaian kebesaran mereka lengkap dengan perhiasan dan mahkota kepangkatan mereka.


"Selamat datang di Kadipaten Kalingga, Gusti Tumenggung dan Gusti Demung.


Mohon maaf jika penyambutan kami ala kadarnya karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya", ujar Adipati Aghnibrata dengan penuh hormat. Tentu saja dia sudah mengenal Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg yang dulu pernah mengiringi perjalanan Prabu Jayengrana saat menaklukkan pemberontakan Kadipaten Paguhan.


"Kami tidak perlu sambutan yang meriah Gusti Adipati.


Tapi kenapa kau tidak menghormati Gusti Prabu Jayengrana sama sekali?", Tumenggung Ludaka menatap ke arah Adipati Aghnibrata dengan tatapan tidak senang.


"Mohon maaf, Gusti Tumenggung..


Saya kurang mengerti maksud ucapan Gusti Tumenggung. Kenapa saya tidak menghormati Gusti Prabu Jayengrana? Dimana letak kesalahan saya?", Adipati Aghnibrata kebingungan.


"Kau lihat pemuda tampan yang duduk bersila itu.

__ADS_1


Dia adalah Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Bagaimana bisa kalian membawanya sebagai tahanan?", sahut Demung Gumbreg segera.


HAAAAAHHHHHHHH...


__ADS_2