Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Istri Kelima


__ADS_3

Hemmmmmmm..


"Tapi kenapa wujud makhluk yang keluar begitu menyeramkan, Maharesi? Apakah ini ilmu hitam?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


Mendengar pertanyaan itu, Maharesi Padmanaba tersenyum lebar. Dia tahu Panji Tejo Laksono pasti akan menanyakannya.


"Chanda Bhirawa adalah ilmu putih, Adipati Seloageng. Dia tercipta dari sukma para raksasa yang yang menyatu dalam sehelai rambut Dewa Siwa. Sebagai perwujudan dari sukma para raksasa, tentu saja wujud nya akan menyeramkan seperti itu, Adipati Seloageng.


Aku mendapatkan nya setelah bertahun-tahun lamanya bertapa di Gunung Mahameru. Batara Siwa sendiri yang menganugerahkan ajian ini pada ku, sebagai hadiah atas kesetiaan ku memuja nya.


Sebelum aku menjelaskannya lebih lanjut, mari kita kesana Adipati Seloageng", Maharesi Padmanaba menunjuk pada tepi tanah lapang tepatnya pada beberapa batu besar pipih yang cocok untuk beristirahat karena berada di bawah pohon rindang. Panji Tejo Laksono mengangguk dan ketiganya segera bergegas menuju ke arah tempat yang dimaksud oleh sang pertapa.


Setelah sampai di tempat yang dituju, ketiganya segera duduk di atas batu besar pipih untuk melanjutkan pembicaraan.


"Silahkan lanjutkan, Maharesi Padmanaba. Aku masih penasaran dengan Ajian Chanda Bhirawa yang kamu miliki", ujar Panji Tejo Laksono segera setelah mereka duduk bersama.


"Ajian pamungkas ini adalah puncak dari segala ilmu kanuragan. Saat sang pemilik ingin meminta bantuan kepada Chanda Bhirawa, maka para raksasa kecil berkulit putih itu akan muncul. Dan seperti yang kau tahu sendiri, bahwa mereka tidak akan mati begitu saja. Satu di bunuh, dua muncul. Dua di bunuh, empat lainnya akan tercipta. Begitu seterusnya. Sesakti apapun ilmu kanuragan mu, kau tidak akan menang padahal kau tadi sudah mengerahkan seluruh ajian pamungkas dan tenaga dalam mu, bukan?


Namun pemilik nya harus memiliki hati yang bersih, lepas dari sifat iri dengki terhadap sesama. Juga tidak boleh sombong, bersikap adil kepada semua orang dan tidak boleh sewenang-wenang terhadap orang lain.


Dan satu lagi keampuhan Ajian Chanda Bhirawa yang membuat ku tersiksa saat ini", Maharesi Padmanaba menghela nafas berat sembari menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono.


"Apa itu Maharesi?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Ajian ini akan membuat pemiliknya tidak bisa mati jika tidak dengan keinginan nya sendiri. Karena itu aku akan mewariskan Ajian Chanda Bhirawa ini pada mu, Adipati Seloageng.


Kau adalah titisan Dewa Kamajaya, maka sepantasnya kau yang meneruskan merawat Ajian Chanda Bhirawa", Maharesi Padmanaba tersenyum menatap ke arah Panji Tejo Laksono.


"Tunggu dulu Eyang Maharesi..


Jika Eyang menurunkan Ajian Chanda Bhirawa pada Pangeran Panji Tejo Laksono ini, itu artinya Eyang Maharesi akan meninggal dunia?", potong Dyah Kirana segera. Ada nada suara tidak rela dalam kata-kata perempuan cantik berbaju putih itu.


"Ini adalah garis takdir yang sudah di tetapkan oleh dewata, Cucu ku. Eyang mu ini sudah cukup menikmati keduniawian. Sudah waktunya untuk tinggal di alam keabadian. Jadi kau tidak perlu bersedih hati.


Adipati Seloageng,


Setelah kau menerima Ajian Chanda Bhirawa dari ku, aku minta agar kau menikahi cucu kesayangan ku Dyah Kirana. Ini adalah bentuk dharma bakti seorang murid kepada gurunya yang aku minta darimu. Lagipula kau juga harus menepati janji mu bukan?", Maharesi Padmanaba mengalihkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono yang masih duduk bersila di hadapannya.


"Aku akan menepati janjiku padamu, Maharesi Padmanaba. Kau bisa mempercayai kata kata ku", ucap Panji Tejo Laksono sembari mengangguk mengerti.


"Baiklah kalau begitu, Adipati Seloageng. Selain aku menurunkan Ajian Chanda Bhirawa pada mu, aku akan menurunkan juga Ajian Kitiran Sewu.


Dengan Ajian Kitiran Sewu, kau bisa memanggil angin badai, petir dan banjir bandang yang sanggup menenggelamkan sebuah wanua hanya dengan sekali gerak. Bijaklah dalam menggunakan semua ilmu kedigdayaan ini, Pangeran Panji Tejo Laksono. Sebagai titisan Dewa Kamajaya, kau akan menentramkan dunia dengan cinta dan kasih sayang.


Sekarang bersiaplah untuk menerima dua ilmu kedigdayaan dari ku", ujar Maharesi Padmanaba segera.


Mendengar perintah dari Maharesi Padmanaba, Panji Tejo Laksono segera bersedekap tangan di depan dada. Matanya terpejam rapat , mengosongkan seluruh panca indera. Menata jalan nafas dan nadi darah agar sejalan dengan cipta dan karsa.

__ADS_1


Maharesi Padmanaba segera merapal Ajian Kitiran Sewu. Mulut pertapa tua dari Pertapaan Gunung Mahameru itu terlihat komat kamit membaca mantra. Tak berapa lama kemudian, cahaya biru terang tercipta di telapak tangan sang resi sepuh berjenggot panjang itu. Kemudian ia meletakkan tangannya ke atas ubun-ubun kepala Panji Tejo Laksono.


Hawa panas menyengat bercampur aduk dengan dingin menusuk tulang segera menjalar ke seluruh bagian tubuh Panji Tejo Laksono. Udara di sekitar tempat duduknya pun berubah menjadi panas dan dingin yang bergantian dengan cepat. Dyah Kirana pun mesti menjauh dari tempat Eyangnya dan Panji Tejo Laksono berada.


Tubuh Panji Tejo Laksono bergetar hebat saat Ajian Kitiran Sewu mulai bersatu dengan tubuhnya. Setelah tersiksa cukup lama akhirnya Maharesi Padmanaba melepaskan telapak tangannya dari ubun-ubun kepala Panji Tejo Laksono setelah Ajian Kitiran Sewu masuk sempurna ke dalam tubuh Adipati Seloageng ini. Keringat membasahi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono.


"Adipati Seloageng, Ajian Kitiran Sewu telah merasuk ke dalam tubuh mu.


Apa kau masih sanggup untuk menerima Ajian Chanda Bhirawa dari ku? Atau kita perlu beristirahat sejenak?", tanya Maharesi Padmanaba segera.


"Aku masih sanggup, Maharesi Padmanaba", jawab Panji Tejo Laksono sembari menganggukkan kepalanya dengan mata yang masih terpejam rapat.


"Bagus, tak sia-sia aku memilih mu untuk menjadi wadah Ajian Chanda Bhirawa ini.


Sekarang bersiaplah untuk menerima nya, Adipati Seloageng", ujar Maharesi Padmanaba sembari tersenyum lebar. Mulut pertapa tua itu kembali komat kamit membaca mantra. Sekejap mata kemudian, cahaya putih yang menyilaukan mata muncul di telapak tangan kanan sang pertapa tua.


Begitu Ajian Chanda Bhirawa sudah sempurna, Maharesi Padmanaba segera meletakkan kembali telapak tangan nya ke ubun-ubun kepala Panji Tejo Laksono. Hawa dingin terasa begitu menyiksa Panji Tejo Laksono saat cahaya putih menyilaukan mata itu menjalar ke seluruh bagian tubuh nya. Panji Tejo Laksono sampai menggigil hebat menahan rasa dingin yang seperti hendak membekukan setiap jengkal bagian tubuh nya. Keringat dingin mulai mengucur dari dahi sang pangeran muda dari Kadiri ini.


Setelah Ajian Chanda Bhirawa selesai masuk ke dalam tubuh Panji Tejo Laksono, Maharesi Padmanaba segera duduk bersila di hadapan Panji Tejo Laksono.


"Bukalah mata mu, Adipati Seloageng. Kau sudah memiliki dua ilmu kedigdayaan ku", ujar Maharesi Padmanaba segera. Panji Tejo Laksono dengan patuh membuka mata nya. Dyah Kirana pun segera menghambur ke arah mereka karena dia melihat ada sesuatu yang berubah dalam diri Maharesi Padmanaba.


"Eyang, tubuh mu...", Dyah Kirana tak sanggup meneruskan kata-katanya ketika melihat tubuh Maharesi Padmanaba mulai menghilang. Air mata gadis cantik berbaju putih itu mulai mengalir membasahi pipinya.


"Tidak apa-apa, Cucu ku. Ini adalah keinginan ku sendiri jadi kau tidak perlu bersedih.


Ku titipkan Cucu ku Dyah Kirana pada mu sebagai amanat yang harus kau jaga seumur hidup mu. Jaga dia, sayangi dia seperti aku dan ayahnya menyayangi nya. Kalau ada waktu, tengok lah Pertapaan Gunung Mahameru. Ranukumbolo putra ku pasti akan senang bertemu dengan mu. Sampai bertemu nanti di alam keabadian", usai berkata demikian, Maharesi Padmanaba menghilang dari pandangan mata Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana. Dia moksa menuju ke Swargaloka.


Panji Tejo Laksono segera menyembah pada tempat Maharesi Padmanaba menghilang sembari berkata, "Selamat jalan Maharesi Padmanaba. Aku akan menepati janjiku padamu".


Dyah Kirana terus saja menangis sesenggukan sembari menatap ke tempat Maharesi Padmanaba menghilang. Melihat itu, Panji Tejo Laksono yang tidak tega, segera menghampirinya dan memeluk tubuh mungil perempuan cantik berbaju putih itu.


"Sudahlah, Kirana ..


Ini semua sudah menjadi suratan takdir dewata. Kau tidak perlu menangisi kepergian Eyang mu. Biarkan dia tenang di alam keabadian", hibur Panji Tejo Laksono sembari mengelus kepala Dyah Kirana yang kini tertunduk di dadanya.


"Tapi Gusti Pangeran, bagaimana dengan nasib ku kedepannya?", tanya Dyah Kirana sembari terus berurai air mata.


"Kau tidak perlu cemas dengan hal itu. Seperti janji ku pada Eyang mu, maka kau akan ku jadikan istri ku.


Tapi kau juga harus mengerti bahwa aku sudah menikah sebelumnya, jadi kau harus terima kenyataan ini dan bisa rukun dengan istri ku yang lainnya. Apa kau bisa menerimanya?", Panji Tejo Laksono mendongakkan kepala Dyah Kirana lalu menghapus sisa sisa air mata yang membasahi pipi ranum perempuan cantik itu. Mata mereka beradu untuk beberapa saat lamanya.


"Aku tidak keberatan Gusti Pangeran. Tapi apakah para istri mu yang lain juga akan menyetujui kehadiran ku, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono?


Aku takut jika kehadiran ku akan membawa masalah pada kehidupan mu", ujar Dyah Kirana sembari kembali menundukkan pandangan nya. Ada kekhawatiran dalam suara putri Resi Ranukumbolo dari Pertapaan Gunung Mahameru itu.


"Masalah itu tidak perlu kau pikirkan. Aku yang akan memberikan pengertian kepada mereka. Jadi kau tenang saja", ucap Panji Tejo Laksono segera.

__ADS_1


Dyah Kirana langsung tersenyum lebar sembari mengangguk dalam-dalam sebagai tanda persetujuan dari nya atas ucapan Panji Tejo Laksono baru saja. Dia sudah jatuh cinta pada Panji Tejo Laksono saat pandangan pertama.


Keduanya segera bergegas meninggalkan tempat itu. Sesaat sebelum mereka menjauh, Dyah Kirana menatap ke arah tempat Maharesi Padmanaba menghilang lalu dia mengalihkan pandangannya mengikuti langkah Sang Adipati Seloageng menuju ke Pertapaan Ranja yang berjarak sekitar 2 ribu tombak jauhnya dari tempat itu. Mereka terus berjalan melintasi jalan setapak yang membelah hutan di barat Wanua Ranja yang kini semakin ramai setelah Pertapaan Ranja terbuka untuk siapa saja yang ingin berkunjung.


Burung burung berkicau di ranting pohon yang tumbuh subur di kiri kanan jalan setapak itu seolah menyambut kedatangan Dyah Kirana yang cantik jelita. Mereka seakan turut bergembira dengan kehadiran sang wanita cantik yang dianggap sebagai titisan Dewi Kamaratih oleh para penduduk di sekitar Pertapaan Gunung Mahameru itu.


Begitu keluar dari dalam hutan, sepasang petani yang baru saja pulang dari bercocok tanam di ladang berpapasan dengan mereka. Melihat kedatangan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana, kedua orang berusia paruh baya itu segera menghormat pada Panji Tejo Laksono karena mereka mengenali pakaian yang dikenakan oleh sang penguasa Kadipaten Seloageng.


"Sembah bakti kami, Gusti...


Apakah benar kami sedang berhadapan dengan Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono, Adipati baru Kadipaten Seloageng?", tanya si petani laki laki dengan sopan.


"Kamu tidak salah, Kisanak..


Aku Panji Tejo Laksono, Adipati baru Seloageng. Ada perlu apa kalian menghentikan ku?", Panji Tejo Laksono tersenyum tipis sembari menatap mereka berdua.


"Begini Gusti Pangeran Adipati, putri hamba sudah dua hari ini menghilang dari rumah. Beberapa gadis lain di Wanua Ranja ini juga mengalami nasib yang sama. Kata orang orang, ada makhluk halus gentayangan mengambil para gadis untuk di jadikan sebagai korban tumbal ilmu setan.


Lurah Wanua Ranja, Mpu Anggada sudah melaporkan kejadian ini ke Pakuwon Bedander untuk meminta bantuan, tapi sampai sekarang belum juga ada tindak lanjut. Tolonglah kami, Gusti Pangeran Adipati. Narmi adalah anak perempuan hamba satu-satunya. Kalau dia sampai tidak tertolong, hidup hamba pasti hancur", lapor sang petani sembari berlutut di hadapan Panji Tejo Laksono.


Hemmmmmmm..


"Bagaimana bisa ada kejadian seperti ini? Akuwu Sindupati benar benar lalai dalam menjalankan tugasnya.


Antarkan kami ke kediaman Lurah kalian. Aku akan bicara dengan nya", perintah Panji Tejo Laksono pada dua petani itu.


Keduanya segera menghormat pada Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana. Segera setelah itu, mereka berdua menunjukkan jalan menuju ke arah kediaman Mpu Anggada, Lurah Wanua Ranja. Setelah berjalan cukup lama, mereka sampai di depan sebuah rumah besar yang terletak di tengah pemukiman penduduk yang terletak di Utara Pertapaan Ranja.


Kebetulan di rumah itu sedang berkumpul beberapa pemuda dan sesepuh Wanua Ranja. Kedatangan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana segera menarik perhatian para hadirin yang ada di tempat itu. Karena mereka melihat mereka berdua sebagai pasangan yang serasi dengan wajah rupawan mereka.


Mpu Anggada yang ikut menyaksikan penobatan Adipati baru Seloageng, buru buru berdiri dari tempat duduknya dan bergegas menyambut kedatangan Panji Tejo Laksono. Di hadapan sang pangeran muda, Mpu Anggada yang berusia hampir setengah abad segera berjongkok dan menyembah pada Panji Tejo Laksono.


"Sembah bakti saya, Gusti Pangeran Adipati. Ada angin apa hingga Gusti Pangeran Adipati sampai di tempat terpencil kami ini?", ujar Mpu Anggada dengan penuh hormat.


"Aku tidak sengaja lewat di wilayah mu ini, Mpu Anggada. Berdirilah..


Tadi ada laporan dari mereka berdua bahwa sedang terjadi masalah di wilayah mu ini. Apa benar demikian?", Panji Tejo Laksono menatap ke arah Mpu Anggada yang segera berdiri dari tempat menyembahnya.


"Sebaiknya itu di bicarakan di dalam rumah saja, Gusti Pangeran Adipati. Mari silahkan masuk ke dalam gubuk hamba", ucap Lurah Wanua Ranja itu segera. Mereka semua segera memasuki pendopo kelurahan yang menjadi tempat berkumpulnya para pemuda dan sesepuh wanua itu. Semua orang segera menghormat pada Panji Tejo Laksono yang diikuti oleh Dyah Kirana. Setelah mereka duduk bersama di pendopo kelurahan, Mpu Anggada segera berbicara.


"Sebelumnya saya mohon ampun beribu ampun bila kata kata saya nanti dianggap lancang oleh Gusti Pangeran Adipati.


Ijinkan saya tahu siapa perempuan cantik yang kini bersama dengan Gusti Pangeran Adipati ini? Mohon maaf, kami sedang waspada terhadap semua orang asing yang datang kemari karena sedang ada masalah. Saya belum pernah melihat Nini Dewi ini sebelumnya, dan juga tidak melihat nya saat penobatan Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono tempo hari", Mpu Anggada kembali menghormat pada Panji Tejo Laksono sembari berkata dengan nada sopan.


Mendengar pertanyaan dari Lurah Wanua Ranja itu, Panji Tejo Laksono melirik sebentar ke arah Dyah Kirana yang tersenyum simpul sembari menunggu apa kata yang akan keluar dari bibir sang pangeran. Dengan nada suara tegas, Panji Tejo Laksono berkata,


"Dia adalah istri kelima ku"

__ADS_1


__ADS_2