
Kaget Panji Tejo Laksono mendengar ucapan Qiao Er. Jenderal Liu King yang mendengar perkataan itu langsung mengeram marah.
"Bajingan !
Rupanya mereka sudah merencanakan hal ini dari awal. Sengaja membuat repot kita sebagai pengalih perhatian. Aku sungguh ceroboh", geram Jenderal Liu King sambil menghentakkan kakinya ke tanah.
"Kita harus mengejar nya sekarang Jenderal, sebelum mereka terlalu jauh", ujar Huang Lung yang tadi juga di pancing untuk menjauh dari kereta kuda.
"Luh Jingga, Paman Gumbreg dan Paman Rajegwesi dan Rakryan Purusoma..
Kalian semua tetap di tempat ini. Aman kan barang bawaan kita. Luh Jingga kau obati luka mu. Jangan sampai meninggalkan tempat ini sebelum aku dan Paman Ludaka kembali. Paman Ludaka , kau ikut aku", perintah Panji Tejo Laksono pada para bawahannya.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran ", jawab mereka berempat bersamaan.
Setelah mendengar kesanggupan para bawahannya, Panji Tejo Laksono dan Tumenggung Ludaka bersama Huang Lung dan Jenderal Liu King langsung melesat cepat kearah perginya Gui Wu dan Hua Mei meninggalkan tempat itu.
"Paman Gumbreg,
Sebaiknya kita segera membentuk pagar betis di sekeliling tempat ini untuk berjaga", ujar Luh Jingga begitu Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan sudah menghilang dari pandangan. Tangan kanannya masih membekap luka di lengan kiri nya.
"Kau sebaiknya obati dulu luka mu, Luh Jingga..
Aku dan Rajegwesi bersama dengan Rakryan Purusoma akan mengatur pergiliran penjaga untuk bersiap menghadapi kemungkinan serangan susulan dari mereka", jawab Gumbreg sambil menoleh ke arah Rajegwesi, " Kau yang atur Si".
"Lha kok di bebankan kepada ku, Mbreg? Katanya tadi kita atur bersama?", Tumenggung Rajegwesi heran dengan sikap aneh Gumbreg.
"Hei kenapa kau protes?
Diantara kita bertiga, kau yang paling tinggi pangkatnya. Jabatan ku masih setingkat di bawah mu, juga Purusoma. Sudah kau yang atur saja", setelah berkata demikian, Demung Gumbreg melangkah meninggalkan tempat itu ke arah kereta kuda. Sesampainya di tempat kusir, Demung Gumbreg segera merebahkan tubuhnya dan tak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus pertanda bahwa dia telah tidur.
Tumenggung Rajegwesi dan Rakryan Purusoma geleng geleng kepala melihat ulah sang perwira bertubuh tambun itu. Mereka segera mengatur penjagaan bersama dengan para pengawal pribadi Putri Song Zhao Meng yang tidak ikut mengejar Gui Wu dan Hua Mei.
Rombongan pengejar terus bergerak ke arah Gui Wu dan Hua Mei menghilang.
Semakin mereka masuk ke wilayah Lembah Hantu, kabut semakin tebal dan menakutkan. Gerakan mereka menjadi lamban karena ada banyak sekali binatang berbisa yang mereka temui di perjalanan seperti ular dan laba laba beracun.
Seorang prajurit pengawal Putri Song Zhao Meng yang kurang hati-hati, terperosok ke dalam lumpur hisap. Untung saja, Paman Chen cepat cepat menolongnya. Kalau tidak, pasti dia tewas terhisap ke dalam lumpur hidup itu.
Satu orang di tolong, yang lain justru celaka. Seorang prajurit pengawal setia Jenderal Liu King tewas setelah terkena jebakan yang di pasang pada sepanjang jalur yang mereka lewati. Kewaspadaan pun di tingkatkan hingga pergerakan mereka pun menjadi lambat.
Panji Tejo Laksono yang merasa ini sudah di rencanakan jauh jauh hari pun, diam diam merapal mantra Ajian Halimun nya. Perlahan tubuhnya di liputi oleh kabut putih tipis. Tepat sebelum dia menghilang, Panji Tejo Laksono bicara dengan Huang Lung.
"Kalian terus bergerak maju, aku berangkat lebih dulu".
Belum sempat Huang Lung alias Putri Wanyan Lan menjawab, Panji Tejo Laksono sudah menghilang bersama angin semilir yang tiba-tiba berhembus. Jenderal Liu King, Paman Chen dan para pengawal yang ikut mengejar terkejut bukan main melihat itu semua. Namun Huang Lung langsung menjelaskan bahwa Pendekar Thee mengejar Hua Mei dan Gui Wu lebih dulu.
Pasukan pengejaran terhadap pelaku penculikan Putri Song Zhao Meng itu terus bergerak maju dengan penuh kewaspadaan.
"Ah Mei,
Apa kau yakin sudah memasang banyak jebakan di jalur ke arah tempat kita?", tanya Si Hantu Seribu Wajah alias Gui Wu sembari meletakkan tubuh Putri Song Zhao Meng yang pingsan akibat pukulan keras Gui Wu pada tempat yang sudah di siapkan.
Gadis bercadar hitam itu segera menghormat pada sang guru dengan cepat.
"Guru tidak perlu khawatir...
Sekalipun mereka bisa lolos dari jebakan yang aku buat, mereka pun tidak mungkin menembus pagar tempat kita ini bukan?", Hua Mei tersenyum penuh percaya diri.
__ADS_1
"Kau ini benar-benar tidak bisa berubah. Ceroboh dan selalu sembarangan", ujar Gui Wu sembari melangkah ke arah pintu depan. Hua Mei mengikuti langkah sang guru yang segera mengunci pintu kamar tempat Putri Song Zhao Meng di sekap.
"Guru, sehebat apapun kemampuan kungfu mereka, aku yakin mereka tidak akan sanggup memasuki tempat kita ini.
Ada ratusan anggota sekte kita yang berjaga. Jika mereka berhasil mendekati tempat kita dan nekat menerobos, mereka akan menjadi sasaran empuk anak panah anggota kita.
Jadi guru tidak perlu kha......"
Ucapan pongah Hua Mei langsung terhenti seketika. Ini membuat Gui Wu langsung menoleh ke arah wajah Hua Mei yang tiba-tiba pucat ketakutan seperti melihat hantu.
"Ah Mei,
Kau kenapa? Kog tiba tiba berhenti bicara?", tanya Gui Wu keheranan.
"Gu... Guru guru, di belakang mu .... itu....", semua kata kata Hua Mei seperti hilang di tenggorokannya. Dia hanya bisa menunjuk-nunjuk di arah belakang punggung Gui Wu alias Si Hantu Seribu Wajah. Sembari keheranan, Gui Wu berbalik badan dan melihat seorang lelaki bertubuh tegap dengan baju biru tua dengan wajah tampan sedang menatap dingin ke arah Gui Wu dan Hua Mei.
Betapa terkejutnya Gui Wu melihat sosok Panji Tejo Laksono yang berdiri di hadapannya.
"Siluman !
Bagaimana bisa kau sampai di tempat ini? Bagaimana mungkin kau bisa ada di belakang ku tanpa aku dengar kedatangan mu ha?", rasa kaget bercampur dengan perasaan takut tiba-tiba muncul di hati Gui Wu.
Selama ini, Gui Wu yang kondang dengan julukan sebagai Hantu Seribu Wajah, sangat terkenal di dunia persilatan Tanah Tiongkok karena kepandaian ilmu meringankan tubuh nya. Semua pendekar dunia persilatan Tanah Tiongkok baik dari golongan putih maupun golongan hitam mengakui keunggulan seorang Gui Wu dalam hal ilmu meringankan tubuh. Bahkan salah satu murid utama Gunung Wu Tang, Chang Shan Fung pernah dia pecundangi dengan ilmu ini hingga babak belur tak berdaya meski pada akhirnya Ketua Gunung Wu Tang, Wong Mo Ge sendiri turun tangan untuk menyelamatkan nyawa Chang Shan Fung.
Tapi kali ini Gui Wu si Hantu Seribu Wajah benar benar merasa tidak nyaman karena berhadapan dengan Panji Tejo Laksono. Bagaimana tidak, ada seorang pendekar mampu muncul di belakang nya tanpa ketahuan oleh nya. Padahal dia mampu merasakan kehadiran seseorang dalam jarak seratus depa hanya dengan sekali merasakan hawa tenaga dalam orang itu. Ini benar-benar membuat Gui Wu sedikit jerih menatap ke arah Panji Tejo Laksono. Dia mulai menyesali perbuatannya yang berani menculik seorang putri istana kekaisaran dalam hati hingga menyebabkan dia harus berhadapan dengan seorang pendekar yang bahkan dia tidak mampu meraba seberapa tinggi kemampuan beladiri nya.
"Aku bukan siapa siapa..
Kembalikan Tuan Putri Meng. Kalau tidak mau, akan ku hancurkan tempat mu ini sekarang juga", Panji Tejo Laksono mulai kesal, mengeluarkan ancaman untuk Hua Mei dan Gui Wu.
Huahahahahahaha...
"Bagaimana bisa kau mengancam kami di tempat kami dan berangkat seorang diri? Benar benar sudah tidak waras otak mu ya?", imbuh Hua Mei si gadis bercadar hitam itu segera.
"Ah Mei, cukup kata ku...
Pendekar muda, aku salut dengan keberanian mu untuk berani masuk ke dalam tempat ini. Namun seperti pepatah bilang, kita harus mengukur kemampuan dan tenaga sendiri untuk memanggul dunia.
Sebaiknya kau pergi. Ini bukan urusanmu", Gui Wu menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
"Orang tua!
Aku tidak perlu mendengar ocehan mu. Apapun masalahmu, aku tidak peduli. Sekarang dia adalah tanggung jawab ku, cepat serahkan Putri Song Zhao Meng pada ku!", Panji Tejo Laksono mendengus keras.
"Bangsat!!
Rupanya kau sudah bosan hidup ya? Baik, akan ku kabulkan permohonan mu. Sampaikan salam ku pada Raja Neraka!!"
Sembari membentak keras, Gui Wu dengan cepat melemparkan senjata rahasianya yang berbentuk seperti pisau kecil yang berwarna putih.
Shhrrrriiiiiiiinnnnnnggggggg !!!
Delapan pisau kecil berwarna putih itu langsung melesat ke arah sang putra sulung dari Prabu Jayengrana ini.
Selarik kabut putih tipis menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Sekejap kemudian tubuhnya telah bergeser dari tempatnya berdiri hingga serangan Gui Wu hanya menghajar udara kosong. Pisau pisau belati pun hanya menancap pada sebatang pohon persik di belakang Panji Tejo Laksono.
Mata Gui Wu terbelalak lebar melihat itu semua, pun juga dengan Hua Mei yang sempat meremehkan sang pangeran muda dari Kadiri.
__ADS_1
"Ilmu apa ini? Pasti ilmu iblis..
Hua Mei.....!!!"
Mendengar teriakan keras dari Gui Wu, Hua Mei langsung melesat cepat kearah yang berlawanan dengan Gui Wu. Gadis bercadar hitam itu pun segera melemparkan senjata rahasia ke arah Panji Tejo Laksono. Gui Wu pun juga ikut melemparkan pisau pisau belati miliknya ke arah lawan.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg !!
Shrrriinnnggg shriingg !
Puluhan pisau kecil langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono yang di kepung dari dua arah yang berbeda.
"Kali ini, akan ku lihat seberapa hebat ilmu iblis mu, pendekar muda!"
Panji Tejo Laksono hanya tersenyum tipis mendengar teriakan Gui Wu yang masih tak mengerti mengapa sang pangeran muda ini bisa lolos dari serangan senjata rahasia nya. Sejengkal sebelum pisau kecil itu mengenai tubuh Panji Tejo Laksono, kembali sang pangeran muda menghilang dari pandangan mata Gui Wu dan Hua Mei.
Thrrraaannnnggggg thrrriiinnnggggg !
Serangan cepat Gui Wu dan Hua Mei justru saling beradu di udara. Bahkan sebuah pisau kecil yang di lemparkan oleh Gui Wu yang lolos dari benturan melesat cepat kearah Hua Mei. Gadis bercadar hitam itu segera berkelit menghindari pisau belati yang dilemparkan oleh gurunya sambil mengumpat keras.
Panji Tejo Laksono muncul kembali di tempatnya berdiri sembari tersenyum tipis.
Geram sudah Gui Wu. Selama ini sangat sedikit pendekar yang mampu menghindari serangan pisau belati. Kali ini dia ingin mengerahkan seluruh kemampuan kungfu andalannya.
"Hua Mei,
Perhatikan jurus Badai Pisau Merobek Langit baik baik!", teriak Gui Wu sembari melepaskan jubah hitamnya kemudian memutar jubah hitam itu diatas kepala.
Ratusan pisau kecil berwarna putih tiba tiba muncul dari jubah hitam Gui Wu dan mengambang di udara. Sekejap kemudian, kedua tangan Gui Wu berputar di depan dada lalu tangan kanannya mengibas cepat kearah Panji Tejo Laksono. Bersamaan dengan itu, pisau belati kecil yang mengambang di udara seperti punya nyawa, bergerak cepat menuju Panji Tejo Laksono sesuai arahan tangan Gui Wu.
Whuuthhh whuuthhh !!
Panji Tejo Laksono dengan cepat menghilang dari tempatnya berdiri menghindari serangan ratusan pisau belati dari Gui Wu. Melihat lawan berhasil menghindar, tangan Gui Wu berputar dan kembali mengarah ke Panji Tejo Laksono. Pisau pisau belati itu berbelok arah dan kembali menyerang ke arah Panji Tejo Laksono dengan kecepatan tinggi.
Panji Tejo Laksono terus menghindari serangan serangan Gui Wu yang terus bergerak mengincar nyawanya. Semakin lama serangan Gui Wu semakin cepat.
Melihat itu semua, Hua Mei ikut membantu guru nya dengan melemparkan senjata rahasia miliknya. Panji Tejo Laksono di keroyok dari dua sisi berbeda.
Setelah menghilang dari pandangan saat serangan terakhir di lancarkan, Panji Tejo Laksono muncul di belakang Gui Wu dalam jarak kurang dari setombak dengan tangan kanan nya yang berwarna merah menyala seperti api. Secepat kilat, Panji Tejo Laksono menghantamkan tangan kanannya ke arah Gui Wu si Hantu Seribu Wajah.
Whhhuuutthh !!
Gui Wu terkejut bukan main melihat selarik sinar merah menyala berhawa panas menerabas cepat kearah nya dari arah belakang. Secepat kilat dia melompat menghindari sinar merah menyala yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono. Dia berhasil lolos dari maut namun tidak dengan Hua Mei.
Gadis bercadar hitam itu berusaha untuk menghindari sinar merah menyala berhawa panas dari Ajian Tapak Dewa Api yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono namun terlambat beberapa kejap mata. Sinar merah menyala Ajian Tapak Dewa Api telak menghajar dada Hua Mei.
Blllaaammmmmmmm !!
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!
Ledakan dahsyat terdengar berikut jerit kesakitan dari mulut Hua Mei. Gadis bercadar hitam itu terpental jauh ke belakang dan menghantam tanah halaman kediaman Gui Wu. Hua Mei mengejang sesaat sebelum tewas dengan dada gosong seperti terbakar api.
Ledakan dahsyat itu segera membuat anggota Sekte Lembah Hantu berdatangan dari tempat mereka dan mulai mengepung tempat itu.
Gui Wu mendengus keras melihat kematian murid kesayangannya. Dengan cepat ia mengayunkan tangan kanannya ke arah Panji Tejo Laksono dengan penuh amarah. Rasanya dia ingin sekali mencincang tubuh Panji Tejo Laksono yang sudah membunuh murid kesayangannya yang sudah menemani nya selama puluhan tahun.
"Bajingan keparat !
__ADS_1
Kau harus mati untuk menemani Hua Mei di neraka!!"