
"Dinda Ratu Anggarawati,
Jangan marah dulu ya? Aku baru saja menurunkan Ajian Tameng Waja untuk putra mu. Tentu saja menurunkan ilmu kedigdayaan tinggi tidak boleh di lakukan di tempat-tempat ramai seperti istana ini.
Kau sudah mengerti bukan?", ujar Panji Watugunung sembari tersenyum simpul.
"Aku tidak mempermasalahkan itu Kangmas Prabu, tapi setidaknya beritahu dulu kau mau pergi kemana agar aku tidak berfikir macam macam.
Kau ini dari dulu tetap saja tidak berubah sama sekali", omel Dewi Anggarawati sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tapi Dinda Ratu, aku..."
"Tidak ada tapi tapian. Malam ini adalah waktu untuk ku, seharusnya Kangmas Prabu bisa mengerti perasaanku. Besok malam Kangmas Prabu sudah dengan Ayu Galuh. Apa Kangmas Prabu tidak mengerti apa yang aku rasakan sama sekali?
Ikut pulang ke Puri Agung ku sekarang, kalau tidak awas saja", ujar Dewi Anggarawati segera sambil berlalu menuju ke arah pintu puri Panji Tejo Laksono.
"Tejo Laksono,
Besok malam Romo akan melatih mu lagi. Kau tenang saja. Saat ini biar Romo atasi dulu biyung mu itu sebelum tumbuh tanduknya", bisik Panji Watugunung perlahan. Panji Tejo Laksono hendak menjawab omongan ayahanda nya tapi suara Dewi Anggarawati membuat nya tak jadi membuka mulut.
"Eh kenapa malah masih berdiri di situ??
Tejo Laksono, cepat kau berangkat istirahat. Kau pasti lelah setelah berlatih. Jangan dengarkan omongan ayah mu", Dewi Anggarawati mendelik tajam ke arah Panji Watugunung. Raja Panjalu itu menghela nafas panjang sebelum melangkah mengikuti Dewi Anggarawati.
'Wah sesangar-sangarnya Maharaja Panjalu di mata semua orang, masih kalah juga dengan biyung Anggarawati hihihihi ', batin Panji Tejo Laksono.
Usai kedua orang tuanya pergi, Panji Tejo Laksono segera kembali ke tempat peristirahatan nya. Di dalam bilik kamar tidur nya, pangeran muda nan tampan ini segera duduk bersila. Dia segera bersemedi untuk meningkatkan pelatihan tenaga dalam nya. Sekejap kemudian dia sudah tenggelam dalam semedi nya.
Malam itu di balai tamu kehormatan, Luh Jingga terus menerus gelisah di atas ranjang tidur nya. Jati diri Panji Tejo Laksono yang berbeda jauh dari angan-angannya membuat gadis cantik asal Bukit Penampihan itu tak dapat memejamkan mata.
'Dia adalah putra sulung Prabu Jayengrana. Kemungkinan besar diangkat menjadi Yuwaraja Panjalu ke depannya.
Sedangkan aku hanya seorang gadis gunung, putri seorang pimpinan perguruan kecil.
Apa pantas aku bersanding dengan nya? Apa dia bisa menerima perbedaan kasta antara kami? Tapi dia baik pada ku. Apakah ini yang namanya takdir?'
Berjuta pertanyaan melintas di kepala Luh Jingga sepanjang malam itu. Tak sekejap pun matanya bisa tertutup hingga malam mendekati pagi. Karena capek terjaga sepanjang malam, menjelang kokok ayam jantan berbunyi, Luh Jingga baru bisa memejamkan matanya.
Pagi menjelang tiba di wilayah Kotaraja Kadiri. Meski mendung tebal masih menggantung di langit dan cuaca masih terasa dingin, geliat kehidupan manusia di kota terbesar di wilayah Kerajaan Panjalu itu sudah berlangsung sejak tadi. Kalau dulu kota Kadiri dan Kota Daha masih terpisah beberapa Wanua, kini kedua kota itu menyatu karena semakin banyaknya penduduk yang ingin mengadu nasib di ibukota. Di wilayah tengah, di bangun Ksatrian Panjalu sebagai pusat kegiatan para prajurit yang menjadi penghubung antara dua kota. Hingga kebanyakan orang masih memanggil kota ini dengan sebutan Daha atau juga Kadiri.
Di Keputran Daha, Panji Tejo Laksono mendapat kunjungan dari saudara tiri nya dari Ayu Galuh, Mapanji Jayawarsa. Pangeran kedua ini memiliki sifat yang berbeda dengan Panji Tejo Laksono. Sedikit angkuh dan suka sekali di puji. Meskipun penakut dan gampang di pengaruhi, Jayawarsa paling segan dengan Panji Tejo Laksono yang lebih arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Karena itu dia sama sekali tidak berani mengabaikan Panji Tejo Laksono begitu saja, meski dalam hak atas tahta Panji Tejo Laksono adalah saingan terberat nya.
.
Dua putra Panji Watugunung yang lain masih menuntut ilmu kanuragan dan kenegaraan. Mapanji Jayagiri berguru pada Maharesi Linggabuana dari Pertapaan Harinjing di wilayah timur Kadiri sedangkan Apanji Mandala Seta tengah menempuh pendidikan di Pertapaan Gunung Pucung di wilayah Kadipaten Karang Anom.
"Selamat datang di Keputran Kadiri, Kangmas..
Maaf kemarin aku tidak bisa menemui mu karena ada kesibukan sedikit", ujar Mapanji Jayawarsa sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Terimakasih atas penyambutan mu Dhimas Jayawarsa..
Aku juga terlalu lelah jadi tidak bisa kemana-mana. Aku dengar kau sudah lulus dari pendidikan di Pertapaan Harinjing. Bisa membuat Maharesi Linggabuana meluluskan mu, tentu kau sangat cerdas Dhimas Jayawarsa. Aku bangga pada mu", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.
"Ah Kangmas terlalu berlebihan. Aku memang tidak begitu kesulitan dalam memahami ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh Maharesi Linggabuana. Jadi aku bisa lulus dengan cepat
Kangmas sendiri kenapa begitu lama di Padepokan Padas Putih?", tanya Mapanji Jayawarsa segera.
"Aku suka suasana di sana, sangat sejuk. Tidak seperti Kotaraja Kadiri yang panas begini Dhimas..", jawab Panji Tejo Laksono dengan santainya.
Mereka terus berbincang tentang banyak hal hingga datangnya Demung Gumbreg, Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung.
Melihat mereka bertiga, Mapanji Jayawarsa menunjukkan tanda-tanda sikap kurang suka. Setelah mereka bertiga duduk, Mapanji Jayawarsa buru buru berpamitan kepada Panji Tejo Laksono.
"Kangmas Tejo Laksono,
Aku ada urusan penting yang perlu aku siapkan. Aku mohon undur diri Kangmas", ujar Mapanji Jayawarsa sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Silahkan Dhimas Jayawarsa,
Lain kali kalau kau punya waktu luang, silahkan datang kemari lagi", ucap Panji Tejo Laksono segera.
__ADS_1
Mapanji Jayawarsa hanya mengangguk saja lalu segera meninggalkan tempat itu.
"Aneh sekali..
Kenapa dia sepertinya tidak ingin berlama-lama bersama dengan Paman bertiga ya?", gumam Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah Mapanji Jayawarsa yang berjalan meninggalkan puri Panji Tejo Laksono.
"Kami ini pejabat istana yang jujur, Gusti Pangeran. Jadi orang yang tidak jujur pasti benci dengan kami", sahut Demung Gumbreg segera. Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah ketiga pejabat tinggi Istana Katang-katang itu.
"Sembah bakti kami untuk Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono ", ujar Tumenggung Ludaka dengan cepat hingga Panji Tejo Laksono yang hendak bertanya mengenai omongan Gumbreg baru saja langsung menjawab nya.
"Jangan terlalu banyak adat Paman..
Mari silahkan duduk", Panji Tejo Laksono segera duduk bersila di ikuti oleh Tumenggung Ludaka, Tumenggung Landung dan Demung Gumbreg. Ketiga pejabat penting di Kerajaan Panjalu itu segera duduk bersila di hadapan Panji Tejo Laksono.
"Sebelumnya aku ingin berterimakasih kepada mu Paman Ludaka atas bantuan mu di Kadipaten Tanggulangin tempo hari.
Kalau Paman Ludaka tidak membantu, mungkin urusannya bakal jadi ruwet karena kedekatan Akuwu Widoro dengan Adipati Prangbakat", ucap Panji Tejo Laksono seraya tersenyum tipis.
"Sudah sepantasnya jika hamba selaku abdi setia Gusti Prabu Jayengrana membantu Gusti Pangeran menegakkan kebenaran. Sastrogalih memang pantas mendapat perlakuan seperti itu ", jawab Tumenggung Ludaka sambil menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Hamba juga membantu loh Gusti Pangeran, bukan Tumenggung Ludaka saja", sambung Demung Gumbreg segera.
"Hehehe, aku tahu Paman Gumbreg.. Aku juga mengucapkan terima kasih kepada mu.
Oh iya ada hal apa paman bertiga kemari? Sepertinya bukan hanya sekedar untuk melihat keadaan ku saja", Panji Tejo Laksono mengedarkan pandangannya pada ketiga orang itu.
"Hamba dengar Gusti Pangeran mau diikutsertakan dalam penanggulangan serangan dari Blambangan. Hamba mengerti maksud Gusti Prabu Jayengrana mengikutkan Gusti Pangeran dalam peperangan ini adalah untuk menambah wawasan dan pengalaman Gusti Pangeran. Namun usulan ini bukan murni niat dari Gusti Prabu Jayengrana melainkan atas saran Mahamantri Mpu Kepung dan Dang Acarya Ring Kasaiwan Mpu Gandasena.
Seperti yang Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono rasakan, selama beberapa hari sejak peristiwa Jurang Menjing tempo hari, selalu ada pihak yang berusaha untuk mencelakai Gusti Pangeran. Kami curiga bahwa ada pihak dalam istana yang menginginkan kematian Gusti Pangeran.Maka dari itu kami bermaksud untuk melakukan penjagaan untuk Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono", Tumenggung Ludaka segera menghormat usai berbicara.
"Saya, Kakang Ludaka dan Gumbreg akan bergiliran menjaga keamanan Gusti Pangeran agar tidak terulang lagi peristiwa Jurang Menjing kemarin, Gusti Pangeran", sambung Tumenggung Landung segera.
"Terimakasih atas perhatiannya, Paman semuanya.
Salah seorang pembunuh bayaran itu sudah menceritakan tentang orang dalam istana yang membayar mereka untuk mencelakai ku, sesaat sebelum aku terjatuh ke Jurang Menjing. Dari sana aku tahu bahwa aku harus menjadi lebih kuat dan mampu membela diri ku untuk menghadapi mereka. Paman sekalian tidak perlu khawatir, aku yakin jika aku mampu menjaga diri ku sebaik mungkin", balas Panji Tejo Laksono seraya tersenyum tipis.
"Kami mengerti Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono mampu melindungi diri sendiri dengan baik, kami tidak bisa memaksa Gusti Pangeran untuk bersedia namun hamba mohon Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono bersedia untuk di bantu untuk hal hal kecil agar kami juga tenang dalam memikirkan keselamatan Gusti Pangeran. Kami akan mengutus Siwikarna dan Jaluwesi yang sudah mengenal baik Gusti Pangeran sebagai pengawal pribadi.
Hemmmmmmm..
Panji Tejo Laksono nampak mengernyitkan keningnya sebentar seperti tengah mempertimbangkan sesuatu.
"Baiklah Paman Ludaka, aku tidak keberatan.
Namun aku tidak mau Siwikarna dan Jaluwesi bertindak keterlaluan dengan tindakan yang membuat ketidaknyamanan bagi ku. Mereka cukup menemani ku saja", ucap Panji Tejo Laksono yang langsung membuat Tumenggung Ludaka, Tumenggung Landung dan Demung Gumbreg saling berpandangan dan tersenyum lebar kemudian mengangguk mengerti maksud ucapan Panji Tejo Laksono.
"Eh Gusti Pangeran, mohon maaf jika hamba lancang.
Hanya ingin tanya saja. Dua gadis cantik yang bersama Gusti Pangeran kemarin itu calon istri nya ya? Kalau benar berarti Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono benar benar mirip dengan Gusti Pra....", belum selesai Demung Gumbreg bicara, Tumenggung Ludaka dengan cepat menyikutnya.
Dhuuuggggh..
Aaauuuuggggghhhhh!!!
"Kau gila ya Lu? Kenapa kau sikut rusuk ku?", Demung Gumbreg menjerit keras lalu mengelus rusuknya yang di sikut Tumenggung Ludaka.
"Mohon maaf Gusti Pangeran, harap di maklumi ya jika omongan Demung Gumbreg tidak sopan dan kurang ajar seperti ini", Tumenggung Landung segera menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Paman Gumbreg memang seperti itu, aku tidak kaget dengan tingkah laku nya", Panji Tejo Laksono tersenyum simpul.
"Siapa yang kau sebut kurang ajar, Ndung? Sembarangan kalau ngomong..
Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono orang bijaksana, tidak akan perhitungan dengan orang kecil, lemah dan tak berdaya seperti ku", Demung Gumbreg melengos kesal.
Dhuuuggggh!!
"Aduhhhhh...
Tangan mu kenapa sih Lu? Sebentar sebentar menyikut ku", Gumbreg mengomel sembari menatap heran kearah Tumenggung Ludaka.
"Mulut mu itu tajam sekali. Kalau sampai Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono marah, apa kau siap di penggal kepala mu?", ujar Tumenggung Ludaka sambil menggeram lirih ke arah Demung Gumbreg.
__ADS_1
Ucapan Tumenggung Ludaka langsung menyadarkan Demung Gumbreg. Dia langsung menunduk.
"Hamba mohon ampun bila omongan Demung Gumbreg tidak sopan, Gusti Pangeran. Nanti Siwikarna dan Jaluwesi akan hamba utus kemari.
Kami mohon diri ", ujar Tumenggung Ludaka sambil menyembah pada Panji Tejo Laksono dan segera mundur dari tempat duduknya. Demung Gumbreg dan Tumenggung Landung pun melakukan hal yang sama dan segera mengikuti langkah Tumenggung Ludaka.
Panji Tejo Laksono tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala saja melihat mereka bertiga.
Selama dua malam berikutnya, Panji Tejo Laksono terus mendapat pelatihan dari Panji Watugunung termasuk cara meningkatkan ilmu pedangnya dan penguasaan Ajian Tapak Dewa Api hingga tingkat tertinggi.
Dhuuaaaaaaarrrrrr!!
Sebongkah batu besar meledak hancur lebur menjadi abu akibat hantaman Ajian Tapak Dewa Api. Panji Tejo Laksono menurunkan kedua telapak tangan nya sembari menghela nafas panjang.
"Bagus sekali Anak ku.
Untuk melengkapi ilmu pedang mu, harus ada senjata pusaka yang mumpuni dan berdaya linuwih.
Sudah saatnya Romo mewariskan senjata pusaka yang Romo pegang selama mengembara dari berbagai tempat di Bumi Jawadwipa ini", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.
Tangan kanan Sang Maharaja Panjalu terlihat seperti membelah kehampaan. Panji Tejo Laksono merasa kagum dengan kedigdayaan tinggi sang ayahanda.
Dari ruang hampa yang terbelah, tangan Panji Watugunung memegang sebuah pedang bersarung merah. Setelah itu Panji Watugunung dengan kedua tangannya mencabut pedang itu.
Hawa panas menyengat segera menyebar ke seluruh udara di sekitar tempat itu. Pamor pedang yang berwarna merah seperti nyala api tercipta dari bilah pedang yang baru saja di cabut dari sarungnya. Panji Tejo Laksono pun harus mengeluarkan tenaga dalam nya untuk bisa bertahan dari hawa panas dan sinar merah menyala yang di keluarkan oleh pedang itu.
"Ini adalah Pedang Naga Api, Tejo Laksono..
Senjata pusaka andalan ku yang ku pakai untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di Kerajaan Panjalu saat aku masih muda. Sekarang pedang ini ku wariskan kepada mu", ujar Panji Watugunung sembari memasukkan kembali Pedang Naga Api ke dalam sarungnya. Udara panas menyengat langsung sirna bersamaan dengan masuknya bilah pedang itu ke sarungnya. Panji Watugunung segera menyerahkan Pedang Naga Api pada Panji Tejo Laksono.
"Sekarang cabut Pedang Naga Api dari sarungnya, Anak ku.
Biarkan dia mengenali mu sebagai majikannya yang baru", perintah Panji Watugunung segera.
Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti dan mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk mencabut Pedang Naga Api.
Shhhrriinggg!!
Pedang Naga Api tercabut dari sarungnya. Saat yang bersamaan, waktu mendadak berhenti. Panji Tejo Laksono sedikit terkejut melihat munculnya asap merah menyala berhawa panas yang menutupi sekeliling nya.
Saat yang bersamaan dari balik kabut asap merah, muncul seekor naga berwarna merah.
Hemmmmmmm
"Siapa kau anak muda? Bagaimana bisa kau mencabut ku dari sarung pedang merah?", tanya Roh Naga Api sembari memutari tubuh Panji Tejo Laksono.
Dari arah belakang Panji Tejo Laksono, Panji Watugunung berjalan mendekati Panji Tejo Laksono dan merangkul pundak putranya.
"Ini adalah putra ku, Naga Api.
Sekarang dia adalah tuan mu yang baru. Kau harus melayani nya seperti kau melayani semua keturunan Lokapala", sahut Panji Watugunung segera.
"Aku mengerti, Watugunung. Aku akan melindunginya sebagaimana yang telah ditetapkan", ujar Roh Naga Api yang kemudian segera menghilang bersama menghilangnya kabut merah itu. Waktu kembali berjalan seperti biasanya.
"Apa itu tadi Kanjeng Romo?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Itu adalah Roh Naga Api yang bersemayam di dalam Pedang Naga Api ini, Tejo Laksono. Dia sudah mengenali mu sebagai majikannya yang baru.
Sekarang coba kau babat pohon besar yang ada di sana itu", perintah Panji Watugunung sambil tersenyum. Panji Tejo Laksono mengangguk dan segera melompat tinggi ke udara dan mengayunkan Pedang Naga Api di tangan kanannya.
Shhrreeeeettttth!
Selarik hawa pedang yang tajam dan panas menyengat melesat cepat kearah sebatang pohon randu alas yang besar.
Blllaaammmmmmmm!!!
Krraaaaatttakkk... Brrruuuaaaaakkkkh!!!
Pohon besar itu meledak dan terbakar lalu roboh ke tanah. Panji Tejo Laksono tersenyum lebar sembari menggenggam erat gagang Pedang Naga Api.
"Senjata yang luar biasa"
__ADS_1