Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Keruwetan Demung Gumbreg


__ADS_3

"Pertapaan Gunung Mahameru???!!


Kau ada hubungan dengan para resi disana, Kisanak?", Mpu Purwa seolah tak percaya mendengar jawaban Panji Tejo Laksono. Seingatnya tempat itu adalah tempat para brahmana menuntut ilmu keagamaan dan Panji Tejo Laksono sama sekali tidak terlihat seperti mereka.


Sadar bahwa Mpu Purwa menyangsikan dirinya, Panji Tejo Laksono langsung menunjuk ke arah Dyah Kirana yang masih terbaring di atas dipan kayu.


"Bukan aku yang punya hubungan dengan Pertapaan Gunung Mahameru, tapi dia".


Hemmmmmmm...


"Gadis itu ya? Memang ada hubungan apa dia dengan Pertapaan Gunung Mahameru?", kembali Mpu Purwa melayangkan pertanyaan seolah penasaran dengan tujuan mereka sebenarnya.


"Dia adalah Putri Resi Ranukumbolo, pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru saat ini.


Apakah itu sudah cukup menjadi alasan untuk kami mengunjungi tempat itu, Mpu Purwa?", jawaban Panji Tejo Laksono, langsung membuat suara Mpu Purwa tercekat di tenggorokan.


'Seingat ku, Resi Ranukumbolo tidak memiliki anak, lantas sejak kapan dia punya putri sebesar ini? Jangan-jangan dia adalah...


Ah sudahlah, ini bukan urusan ku', batin Mpu Purwa. Segera dia mengalihkan bahan obrolan mereka dan mereka berbincang dengan hangat hingga malam hari tiba.


Mendekati akhir musim penghujan, hujan mulai jarang turun. Ini mengakibatkan udara menjadi dingin karena tidak ada awan yang berarak di langit. Bintang gemintang pun ramai menghiasi langit malam seolah ingin menjadi pelita di angkasa yang gelap.


Di salah satu markas persembunyian Kelompok Bulan Sabit Darah, di wilayah Timur laut Kadipaten Pasuruhan.


Putri Uttejana mulai menggerakkan jari jemari tangannya lalu perlahan matanya mulai terbuka. Rasa pusing yang hebat terasa begitu menyiksa kepalanya. Namun perempuan cantik itu berusaha bangkit dari tempat tidur nya sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat berat.


"Di-dimana aku se-sekarang..???".


Seorang perempuan bertudung merah darah yang terlihat sedang berjaga tak jauh dari tempat tidur itu segera mendekati Putri Uttejana.


"Pimpinan kedua sudah siuman? Sang Hyang Batara Agung memang maha pengasih", ucap perempuan itu segera.


"Katakan pada ku, dimana aku sekarang?", Putri Uttejana mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Lamat-lamat dia mengenali tempat ini.


"Kita ada di markas persembunyian Pasuruhan Utara, Pimpinan Kedua.


Sesepuh Hantu Misterius yang membawa Pimpinan Kedua kemari", si perempuan muda bertudung merah darah itu segera menghormat usai berbicara.


Hemmmmmmm..


"Kalau begitu, dimana dia sekarang?", tanya Putri Uttejana sembari memijat pelipisnya yang berdenyut sakit.


"Sesepuh ada di ruang pertemuan, pimpinan kedua. Pendeta Darah juga ada di sana.


Wah tanpa memakai topeng, wajah pimpinan kedua ternyata sangat cantik..", puji si perempuan bertudung merah itu. Namun ini adalah kesalahan terbesar yang pernah dia lakukan.


Putri Uttejana terkejut bukan main mendengar omongan si perempuan muda itu. Buru-buru dia meraba wajahnya dan ternyata wajah nya tidak mengenakan topeng perak. Segera dia menoleh ke arah sang pelayan itu. Hawa dingin membunuh terasa keluar dari dalam tubuh Putri Uttejana.

__ADS_1


"Katakan pada ku, siapa orang yang berani melepaskan topeng wajah ku ha?", teriak keras Putri Uttejana seketika membuat sang pelayan bertudung merah darah ini ketakutan setengah mati.


"Bu-bukan saya yang melepas nya, Pimpinan Kedua.


I-itu sesepuh Hantu Misterius yang melakukannya. Saya tidak tahu apa-apa. Berani sumpah atas nama Hyang Batara Agung", ujar si pelayan sembari mundur setapak demi setapak ke belakang.


"Siapa lagi yang sudah melihat wajah ku ha? Jawab?!!!", Putri Uttejana mendelik tajam ke arah sang pelayan.


"Hanya saya saja, pimpinan kedua. Karena hanya saya yang di perintahkan untuk menjaga pimpinan kedua selama masih belum siuman", si pelayan bertudung merah darah ini menunduk ketakutan.


Huuuhhhhhhh..


"Kalau sampai ada yang tahu jati diri ku selain kau dan Si Hantu Misterius, maka akan ku pastikan bahwa itu hari terakhir untuk mu melihat dunia ini. Kau mengerti?!!", ancaman itu pelan saja tapi sanggup membuat sang pelayan segera berlutut di hadapan Putri Uttejana.


"Mengerti mengerti.. Mulut saya akan terkunci rapat-rapat untuk masalah ini", sang pelayan bolak balik membungkuk hormat kepada Putri Uttejana.


Setelah memastikan bahwa jati dirinya sebagai putri keraton Kahuripan di amankan, Putri Uttejana segera meraih topeng perak yang tergeletak di atas meja kecil dekat tempat tidur nya. Segera dia memakai nya dan melangkah keluar dari dalam bilik kamar tidur itu menuju ruang pertemuan tempat persembunyian Kelompok Bulan Sabit Darah.


Sesampainya di sana, Mpu Jiwan sedang duduk bersama dengan Badragenta dan seorang lelaki paruh baya bertubuh kekar yang mengenakan pakaian ala brahmana namun dengan warna merah darah. Rambutnya bergelung miring dengan biji genitri nampak melingkar menghiasi nya. Janggut nya panjang, hampir menyentuh ulu hati. Di tangan kanannya terdapat tasbih biji genitri yang selalu di putar satu persatu seperti tengah berdoa. Sedangkan di sampingnya, sebuah tongkat besi berwarna kekuningan setinggi tombak dengan ujung terdapat bulatan yang berlubang-lubang yang di hiasi beberapa cincin besar. Dia adalah Resi Mahasura, salah satu sesepuh Kelompok Bulan Sabit Darah yang tersohor sebagai Pendeta Darah.


Dahulu, pernah ada seorang pendekar muda haus darah yang membantai seluruh penghuni Istana Pakuwon Tumapel untuk membalas dendam kematian ayah ibunya yang terbunuh oleh para prajurit Tumapel. Pemuda ini adalah Mahasura muda yang kondang dengan Ajian Rengkah Gunung nya yang sanggup membunuh semua lawan tanpa terkecuali. Mahasura muda pun menebar teror ke seluruh Jenggala kala itu. Dia yang bertekad untuk menghancurkan seluruh Jenggala akhirnya di taklukkan oleh Si Dewa Tangan Besi, pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah yang menguasai Ajian Pancasona yang membuat sang pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah ini selalu kembali hidup meski berkali-kali menerima hantaman Ajian Rengkah Gunung nya.


Setelah itu, Mahasura muda menyepi di Gunung Kumitir untuk memperdalam ilmu agama setelah terus menerus di hantui perasaan bersalah karena dosa-dosa masa lalu nya. Namun karena terikat perjanjian dengan Si Dewa Tangan Besi yang mengalahkannya, Mpu Mahasura akan selalu hadir bila Kelompok Bulan Sabit Darah membutuhkan bantuan.


Usai kekalahan Ki Samparjagad saat melawan Panji Tejo Laksono, Malaikat Bertopeng Emas sang pimpinan baru Kelompok Bulan Sabit Darah memanggil Mpu Mahasura untuk mengalahkan lawan Kelompok Bulan Sabit Darah yang paling merepotkan ini. Baru sepekan dia di markas persembunyian, Nini Raga Setan telah terbunuh dan ini semakin menjadi tanda bahaya besar bagi kelompok ini. Bagaimanapun, keberadaan sesepuh adalah salah satu pilar utama kekuatan kelompok ini untuk melanjutkan cita-cita Si Dewa Tangan Besi yang ingin menegakkan kembali Kahuripan di atas Bumi Jawadwipa.


"Rupanya kau sudah sadar, Bidadari Bertopeng Perak.


"Aku hanya lengah, Sesepuh..


Kalau dari awal aku waspada tentu kejadiannya tidak akan seperti ini", Putri Uttejana membela diri.


"Om Swasyastu..


Kita tidak perlu meributkan hal kecil itu dan saling menyalahkan. Sekarang yang perlu kita pikirkan adalah cara apa yang bisa kita gunakan melanjutkan rencana besar Dewa Tangan Besi. Bukan berdebat tentang pertarungan yang sudah lalu", ujar Mpu Mahasura alias Si Pendeta Darah menengahi perdebatan antara mereka.


"Tidak bisa, Mpu Mahasura..


Utusan dari Daha itu sudah cukup mempermalukan diri ku. Aku harus membalasnya hingga aku merasa puas", sahut Mpu Jiwan segera.


"Aku setuju dengan pendapat mu, Hantu Misterius.


Perempuan bermata sipit itu harus mati di tangan ku. Kalau tidak, seumur hidup ku akan tersiksa dengan bayang-bayang pertarungan yang tidak aku menangkan", timpal Putri Uttejana.


"Dendam hanya akan menghancurkan siapa saja yang menyimpan nya. Berkaca lah pada ku hingga kalian tidak perlu menyimpan perasaan dendam di hati kalian ", ucap bijak Mpu Mahasura.


"Tutup mulut mu..!!

__ADS_1


Kewajiban mu hanya patuh pada perintah pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah, Mpu Mahasura. Jangan menceramahi ku tentang makna kehidupan.


Mpu Jiwan, panggil telik sandi terbaik kita. Sebarkan mereka dan cari tahu keberadaan utusan dari Daha itu sekarang juga!".


Mpu Jiwan yang masih penasaran dengan Panji Tejo Laksono langsung mengangguk mengerti. Segera dia menepuk tangannya dua kali dan 10 orang berpakaian dengan tudung merah darah yang hampir menutupi seluruh wajahnya muncul di belakangnya. Mereka dikenal sebagai 10 Hantu Bayangan Darah, pimpinan para telik sandi kelompok itu. Setelah Mpu Jiwan menurunkan perintah, kesepuluh orang bertudung merah darah ini segera melesat cepat meninggalkan tempat itu.


Waktu terus berjalan dengan cepat. Sore segera digantikan oleh senja dan malam pun segera hadir usai senja menghilang dari cakrawala langit barat.


Menjelang pagi, gerimis kecil bercampur angin dingin turun membasahi bumi. Membuat kokok ayam jantan yang biasa digunakan untuk penanda waktu seakan tidak berguna karena semua orang memilih untuk tidak meninggalkan kediaman mereka masing-masing.


Jauh dari hiruk pikuk Kotaraja Kahuripan, tepatnya di wilayah Kerajaan Panjalu, Demung Gumbreg sedang asyik berbincang dengan Kenanga alias Pergiwa. Sejak kemarin, Gumbreg memang tidak pulang ke rumah nya dan memilih untuk menginap di puri kecil tempat tinggal Pergiwa. Dengan alasan tugas dari Kanjeng Prabu Jayengrana, Gumbreg sengaja tidak pulang ke tempat Juminten.


Sudah sering Demung Gumbreg melakukan hal ini dan Juminten sudah menaruh curiga dengan polah tingkah suaminya yang di luar kebiasaan. Dengan membayar seorang lelaki untuk menjadi mata-matanya, Juminten tahu bahwa Demung Gumbreg memiliki wanita lain yang jauh lebih muda dan lebih cantik dari dia.


Pagi itu, Juminten menaiki kereta kuda khusus milik bangsawan yang menjadi kendaraan wajib yang di miliki oleh semua pejabat negara, datang ke puri kecil itu. Tanpa menunggu lama lagi, istri sang demung ini segera bergegas menuju ke arah pintu gerbang puri. Dua orang prajurit yang sedang bertugas langsung menghentikan langkahnya.


"Maaf Nyi..


Semua orang tidak di perkenankan untuk masuk ke tempat ini tanpa seijin Gusti Tumenggung Ludaka", ucap sang prajurit dengan tegas.


"Tutup mulut kalian!!


Apa kalian tidak tahu siapa aku? Cepat buka pintu gerbang nya..", Juminten yang sedang marah besar menghardik keras mereka.


"Maaf Nyi..


Kami tahu bahwa Nyi Juminten adalah istri dari Gusti Demung Gumbreg. Tapi kami hanya menjalankan perintah. Mohon Nyi Juminten tidak mempersulit kami", ucap sang prajurit memelas.


"Jangan kira aku tidak tahu bahwa suami ku ada di dalam puri ini. Jangan coba coba untuk membantu si hidung belang itu kalau kalian tidak ingin dalam masalah.


Cepat buka pintu nya!!!", teriak Juminten lantang.


"Hei Gumbreg sialan!!


Jangan cuma bersembunyi dibalik jarit perempuan mu itu. Aku tahu kau di dalam. Lekas buka pintu nya!! Kalau tidak, aku akan berteriak-teriak biar semua orang dengar kau menyimpan perempuan ******!!!"


Juminten terus berteriak keras di depan pintu gerbang puri kecil itu. Untung saja tempat itu cukup jauh dari keramaian kota hingga teriakan keras nya hanya menarik perhatian beberapa orang yang lewat saja.


Sementara itu di dalam puri kecil, Demung Gumbreg menggigil ketakutan setengah mati. Dia tahu kalau Juminten marah, pasti dia babak belur di hajar oleh perempuan itu.


"Kau kenapa Kakang Demung? Kenapa ketakutan seperti itu?", tanya Pergiwa alias Kenanga yang baru saja mengambilkan sekendi air minum untuk perwira bertubuh tambun ini.


Belum sempat Gumbreg menjawab, suara teriakan keras dari Juminten terdengar lagi.


"Siapa dia Kakang Demung? Kenapa terus membuat keributan di depan rumah ku?


Benar-benar tidak tahu sopan santun. Aku akan memberinya pelajaran!", Pergiwa yang geram karena merasa terganggu dengan ulah Juminten, langsung melangkah keluar menuju ke arah pintu gerbang puri kecil nya.

__ADS_1


Gumbreg langsung pucat pasi sambil menepuk jidatnya.


"Mati aku..!!"


__ADS_2