Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Perbatasan Kadipaten Lewa


__ADS_3

Sosok yang bersembunyi sedari tadi di balik rimbun pepohonan yang nyaris tanpa suara sedikitpun ini tak lain adalah seorang prajurit khusus yang mengejar Juru Wibisana, Bekel Pranata dan Bekel Gayam dari barak latihan para prajurit Karang Anom atas perintah Senopati Karang Anom, Sudinata. Meskipun kemampuan beladiri nya tidak terlalu tinggi, dia sangat pandai dalam penyamaran dan persembunyian. Bahkan para ahli dalam ilmu terawangan dan indra keenam pun akan kesulitan mencari nya saat dia bersembunyi.


Lelaki bertubuh kurus namun berotot ini bernama Warutengis. Dia segera menggebrak kuda tunggangan nya menuju ke arah barat laut dimana barak pelatihan prajurit Karang Anom berada.


Setelah melewati jalan setapak yang membelah hutan di kawasan timur Pakuwon Ngrowo ini, Warutengis si telik sandi sampai di sebuah tanah lapang yang luas yang menjadi barak latihan para prajurit Karang Anom. Tempat itu memang tersembunyi dari keramaian, berada di tengah kawasan hutan lebat dan cukup dekat dengan Sungai Kapulungan.


Segera dia menuju ke arah barak utama tempat latihan itu setelah mengikat tali kekang kudanya di geladakan yang ada di samping kanan barak. Para prajurit penjaga yang mengenalnya hanya melirik sekilas saja melihat kedatangan Warutengis dan kembali melanjutkan tugasnya.


Seorang lelaki berewokan bertubuh gempal dengan kumis tebal dan wajah seram sedang berbincang dengan beberapa perwira prajurit Kadipaten Karang Anom. Sebuah mahkota emas untuk pejabat negara dengan sebuah hiasan permata biru kecil pada dahi menghiasi kepalanya. Rambutnya ikal sebahu, nampak berkibar di tiup angin yang berhembus perlahan. Lelaki ini tidak memakai baju layaknya para pejabat tinggi negara kala itu, hanya sebuah kalung dari emas yang menjuntai ke pusar dan bersatu dengan sabuk celana pendek selutut berwarna biru terang dari beludru. Sebuah keris pusaka nampak terselip di pinggangnya. Dia adalah Sudinata, Senopati Kadipaten Karang Anom.


Dahulu konon katanya, Sudinata pernah menjadi seorang kepala rampok yang di takuti oleh para prajurit Karang Anom karena sering membuat kekacauan di wilayah selatan Karang Anom yang kering dan tandus. Namun setelah mencegat rombongan rombongan Mapatih Warigalit yang di tugaskan untuk mengawal Dewi Srimpi ke Pertapaan Rance untuk menghadiri pemakaman ayah sang selir Prabu Jayengrana, Sudinata justru harus menerima kenyataan pahit dengan di hajar habis-habisan oleh sang warangka praja Istana Kotaraja Daha itu.


Setelah Mapatih Warigalit menyerahkan Sudinata ke Adipati Windupati, sang rampok justru di angkat menjadi pengawal pribadi sang adipati Karang Anom. Dari sinilah awal mula perjalanan Sudinata menjadi orang nomor tiga di tata pemerintahan Kadipaten Karang Anom. Setapak demi setapak, jenjang karir Sudinata perlahan meningkat. Dari seorang pengawal pribadi, lalu kepala regu prajurit, bekel, Juru, Demung, Tumenggung hingga Senopati. Sudinata sangat berterimakasih kepada Adipati Windupati atas kesempatan yang telah di berikan, dan bersumpah setia akan selalu menjadi tameng untuk sang adipati dalam hal apapun.


Saat Adipati Windupati memerintahkan kepada nya agar mempersiapkan latihan perang di tempat tersembunyi, Sudinata berangkat tanpa bertanya untuk apa. Dia pun sungguh-sungguh mengatur latihan para prajurit Karang Anom yang berjumlah sekitar 20 ribu orang prajurit. Semuanya mendapatkan pelatihan keras hingga sampai hari ini bisa di katakan bahwa pelatihan ini sudah hampir separuh jalan.


Wajah seram Sudinata mengkerut saat melihat Warutengis berjalan masuk ke dalam tempat kediaman di barak latihan ini. Para perwira prajurit yang sedang berbincang pun langsung diam seketika.


"Hamba ingin melapor, Gusti Senopati", ujar Warutengis setelah duduk bersila di lantai kediaman sang pimpinan utama prajurit Karang Anom sambil menghormat.


Hemmmmmmm...


"Langsung saja, hal apa yang akan kau laporkan..", Senopati Sudinata mengangkat tangan kanannya sebagai tanda persetujuan.


"Mohon ampun Gusti Senopati..


Ju-juru Wibisana, Bekel Pranata, Bekel Gayam dan prajurit yang mengejar gadis-gadis desa itu semuanya telah terbunuh..", mendengar laporan Warutengis, Senopati Sudinata langsung berdiri dari tempat duduknya.


"APPAAAAAAAAAAAA???!!!!


Juru Wibisana adalah tangan kanan ku. Kemampuan beladiri nya juga tinggi, senang dengan Tumenggung Tambir. Kalau cuma gadis-gadis desa itu, tak mungkin bisa membunuhnya dengan mudah. Lantas bagaimana ceritanya hingga dia bisa terbunuh, Warutengis?!!"


Sang telik sandi Warutengis langsung menceritakan semua kejadian yang dilihat nya di tepi hutan perbatasan wilayah Pakuwon Ngrowo. Tak satu pun ada yang terlewat. Senopati Sudinata mendengarkan laporan dari sang telik sandi dengan seksama.


"Jadi mereka adalah para pendekar dunia persilatan yang kebetulan lewat di tempat itu?


Kurang ajar!!


Berani-beraninya mereka membunuh orang ku di wilayah Kadipaten Karang Anom", ucap Senopati Sudinata sembari mengepalkan tangannya.


"Namun ada sesuatu yang aneh Gusti Senopati..


Dua gadis desa itu menyembah pada pendekar muda yang tidak melakukan apa-apa layaknya hormat kepada bangsawan. Hamba memang tidak bisa mendengar pembicaraan mereka tapi sikap mereka ini sangat mencurigakan", lanjut Warutengis segera.


Mendengar perkataan itu, Senopati Sudinata terkejut bukan main. Begitu juga dengan para perwira prajurit Karang Anom yang ikut hadir di sana.

__ADS_1


"Jangan jangan...


Ah sial sial sial!! Sepertinya mereka adalah orang-orang Kotaraja Daha. Tumenggung Tambir, kau cepat laporkan hal ini ke Gusti Adipati Windupati.


Kita harus segera meninggalkan tempat ini saat ini juga untuk menghilangkan jejak. Lekas kemasi seluruh peralatan dan tenda kalian. Ceppaaaattttt!!!", Senopati Sudinata yang menyadari kalau ada bahaya besar yang timbul dari kejadian Juru Wibisana langsung memerintahkan kepada para prajurit nya untuk pindah tempat.


Siang itu juga, barak pelatihan prajurit Karang Anom berpindah tempat.


*****


Setelah melewati Kota Kadipaten Karang Anom, rombongan Panji Tejo Laksono berbelok arah ke Utara. Mereka menyusuri jalan setapak yang ada di lereng timur Gunung Wilis.


Kala itu, matahari telah condong ke barat. Semburat warna merah menjadi pertanda bahwa sebentar lagi malam hari akan segera tiba.


"Kakang, sepertinya hari akan segera senja. Perkampungan penduduk terdekat ada di depan. Sebaiknya kita bermalam di sana saja kalau tidak ingin tidur di hutan", ucap Endang Patibrata yang berkuda di samping Panji Tejo Laksono.


"Baiklah Dinda Patibrata..


Ayo kita segera kesana sebelum malam tiba", Panji Tejo Laksono mengangguk setuju dengan pendapat Endang Patibrata. Bersama dengan Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka, keduanya memacu kuda mereka menuju sebuah perkampungan penduduk yang ada di kaki Gunung Wilis sebelah timur itu.


Begitu memasuki tapal batas wilayah yang berupa tugu batu besar setinggi orang dewasa, mereka terus bergerak menuju ke arah perkampungan yang terlihat tak jauh dari tempat itu. Seorang lelaki tua berjanggut putih pendek bertubuh kurus yang hanya mengenakan celana cawat sepaha terlihat menyalakan lampu sentir dari minyak jarak di depan rumahnya yang reyot. Rumah itu cukup jauh jaraknya dari rumah lain yang ada di sebelah Utara dan menjadi rumah yang paling dekat dengan gapura perbatasan Wanua.


Begitu sampai di dekat lelaki tua itu, Panji Tejo Laksono langsung melompat turun dari kudanya diikuti oleh Endang Patibrata, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg segera.


"Permisi Ki..


Lelaki tua itu segera menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono lalu berganti ke arah Endang Patibrata, Gumbreg dan Ludaka. Tak segera mendapat jawaban, Demung Gumbreg segera angkat bicara.


"Jangan khawatir pak tua.. Kami tidak numpang bermalam cuma-cuma. Nanti kami bayar..", mendengar ucapan itu, lelaki tua bertubuh kurus itu segera tersenyum.


"Kalau begitu silahkan Kisanak..


Tapi kuda kalian sebaiknya di bawa ke kandang belakang rumah. Rumah ku sudah ada sapi jadi tidak muat kalau harus menampung kuda kalian yang 4 ekor ini", balas lelaki tua itu segera.


Meski rada heran dengan jawaban itu, Panji Tejo Laksono yang tidak punya pilihan lain, segera mengikuti omongan lelaki tua pemilik rumah ini. Setelah mereka menambatkan kuda-kuda yang di kandang yang tertutup rapat, Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya segera masuk ke dalam rumah. Dan benar saja, ada seekor sapi betina dengan satu anak nya terikat pada salah satu tiang rumah yang ada di pojokan.


"Eh ada tamu rupanya..


Aki kenapa kau ijinkan mereka bermalam di rumah kita? Apa kau tidak takut?", ujar seorang perempuan tua yang mulutnya sedang mengunyah sirih dan pinang sambil menaikkan selendang hitamnya yang lusuh.


"Ssssttttttttt jaga bicaramu Nyi.. Mereka ini orang baik-baik dan juga membayar untuk bermalam di rumah kita. Jadi kau jangan sembarang bicara..", bisik lelaki tua itu seraya melotot ke arah perempuan tua yang merupakan istrinya ini.


"Huh kau ini kalau dengar kepeng langsung jadi pemberani..


Kalau ada apa-apa tanggung sendiri akibatnya ya. Jangan mengeluh kepada ku", sahut sang istri sambil melirik ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.

__ADS_1


"Sudah diam jangan banyak cakap..


Siapkan makan malam untuk mereka. Nanti separuh bayaran dari mereka untuk mu. Sana berangkat..", balas si lelaki tua bertubuh kurus itu segera. Tak membantah omongan suaminya, perempuan tua itu menurut dan bergegas menuju ke arah dapur yang terletak di samping rumah mereka.


Senja dengan cepat berganti malam. Ribuan kelelawar keluar dari goa tempat tinggalnya, sementara burung burung malam mulai berbunyi sesekali dari ranting pohon yang ada di sekitar tempat itu.


Di ruang tengah yang menjadi tempat peristirahatan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan, mereka mulai berbincang. Dari obrolan itu diketahui bahwa nama lelaki tua itu adalah Ki Sambang dan istrinya bernama Nyi Rawit. Sepasang suami istri yang tinggal berdua di tempat itu karena putra-putra mereka bekerja di kota.


Demung Gumbreg yang penasaran dengan adanya sapi betina di dalam rumah itu langsung bertanya kepada Ki Sambang.


"Ki Sambang, ada hal yang mengganjal pikiran ku sejak pertama kali masuk ke rumah mu ini.


Kenapa sapi mu ada di dalam rumah? Bukankah kau juga punya kandang? Kan rumah mu jadi bau kotoran sapi seperti ini..", tanya Demung Gumbreg sambil mengeluhkan bau kotoran sapi yang menyengat hidung nya. Puluhan potong singkong rebus yang masih mengepulkan uap panas tak menarik seleranya karena bau ini.


Mendengar pertanyaan itu, Ki Sambang menghela nafas berat.


"Tempat ini sedang tidak aman, Kisanak..


Beberapa kali gerombolan perampok yang menamakan dirinya sebagai Perampok Kelabang Merah, menyatroni tempat kami ini. Sudah tak terhitung jumlahnya korban dari keganasan mereka. Puluhan hewan ternak dan hasil bumi mereka rampas hingga banyak warga yang terpaksa harus memasukkan hewan peliharaan mereka ke dalam rumah. Di Wanua Panitihan ini semua orang yang punya hewan ternak memasukkan peliharaan mereka ke dalam rumah karena takut akan di ambil oleh mereka", cerita Ki Sambang sembari menatap ke arah lampu minyak jarak yang bergoyang tertiup angin.


"Apa tidak ada prajurit dari Pakuwon atau Kota Kadipaten Lewa yang datang kemari?", timpal Ludaka sambil mengunyah singkong rebus.


"Disini adalah wilayah perbatasan, Kisanak. Sangat jauh dari Kota Pakuwon Sendung ataupun Kota Kadipaten Wuwatan (Ibukota Kadipaten Lewa). Jangankan untuk melakukan patroli pengamanan, untuk lewat di perkampungan ini saja mereka hanya setahun sekali saja", keluh Ki Sambang.


"Sepertinya memang begini nasib daerah pesisir..


Selalu di abaikan oleh pemerintah. Kami hanya selalu merasa menjadi sapi perah saat ada penarikan pajak tapi kurang di perhatikan soal kesejahteraan", imbuh Nyi Rawit yang duduk di kursi kayu dekat sang suami.


Tiba-tiba....


Thhoonngggg thhongg thhoonggg!!!


Suara titir kentongan bertalu-talu mengagetkan semua orang yang ada di tempat itu. Ki Sambang dan istrinya langsung pucat seketika mendengar suara itu.


"Ce-celaka....


I-itu pasti Rampok Kelabang Merah sedang beraksi. Oh Dewa, kenapa mereka tidak mati saja???", ucap Ki Sambang yang mengutuk keras kelompok perampok itu sembari gemetaran kaki saking takutnya.


Panji Tejo Laksono langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Paman Gumbreg, Paman Ludaka..


Sebaiknya kalian berdua berjaga-jaga di sini. Aku akan keluar untuk melihatnya", ucap Panji Tejo Laksono sembari melangkah menuju ke arah pintu rumah Ki Sambang. Endang Patibrata pun segera menyambar pedangnya.


"Kakang, aku ikut dengan mu..", mendengar ucapan itu, Panji Tejo Laksono mengangguk setuju. Dan keduanya pun langsung melesat cepat kearah sumber suara. Sebentar kemudian mereka sudah menghilang di kegelapan malam.

__ADS_1


Demung Gumbreg menggerutu di dekat Tumenggung Ludaka yang ada di sebelah nya.


"Apes sekali Lu.., bagian jaga sapi..."


__ADS_2