
Degup jantung Tumenggung Banyubiru berdebar kencang mendengar jawaban dingin dari sang pangeran muda. Getarannya bahkan sampai terasa begitu menyiksa, lebih menyiksa daripada debaran hati saat bertemu cinta pertama.
Tanpa berani mengangkat kepalanya, Tumenggung Banyubiru terus tertunduk menatap tanah seraya membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Berbagai macam bayangan akan hukuman yang diberikan oleh Panji Tejo Laksono satu persatu menggelayut di dalam kepala perwira tinggi prajurit Gelang-gelang itu.
Usai menjawab omongan sang perwira Gelang-gelang, Panji Tejo Laksono mengalihkan pandangannya pada Pangudi dan Widang yang ada di sebelah nya.
"Adik seperguruan ku berdua..
Selepas ini kalian sebaiknya ikut aku ke Istana Gelang-gelang. Nanti kita bicara lagi tentang banyak hal yang ingin ku ketahui tentang Padepokan Padas Putih. Tak nyaman jika kita bicarakan itu disini", mendengar ucapan Panji Tejo Laksono, Pangudi dan Widang segera membungkuk hormat kepada sang pangeran muda.
"Jika itu keinginan dari Paman Guru, kami akan patuh", ucap Pangudi dan Widang bersamaan.
"Paman Ludaka dan Paman Gumbreg..
Urus para pengganggu masyarakat ini segera. Masukkan mereka ke penjara agar menjadi pelajaran bagi yang lain agar tidak macam-macam di wilayah Kabupaten Gelang-gelang", perintah Panji Tejo Laksono segera.
Kedua orang pejabat negara itu segera menghormat pada Panji Tejo Laksono sebelum melaksanakan tugas yang diberikan.
"Dan kau Tumenggung Banyubiru..
Pimpin jalan ke dalam istana. Aku ingin mengunjungi Eyang Buyut Panji Gunungsari sekarang juga", Panji Tejo Laksono mengalihkan pandangannya pada Tumenggung Banyubiru yang masih berlutut di tanah.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran ", setelah menjawab omongan sang pangeran muda, Tumenggung Banyubiru bangkit dari tempat menyembahnya lalu berjalan mendahului Panji Tejo Laksono yang mengikuti di belakangnya bersama dengan Pangudi, Widang dan Endang Patibrata.
Beberapa orang prajurit penjaga gerbang istana Gelang-gelang langsung membungkuk hormat kepada Tumenggung Banyubiru ketika melihat kedatangan perwira muda ini. Segera mereka membukakan jalan untuk sang perwira tinggi meski sempat bertanya dalam hati tentang siapa sosok lelaki tampan yang berjalan di belakangnya bersama beberapa orang lainnya.
Rombongan itu terus menuju ke arah kamar pribadi Bupati Sepuh Panji Gunungsari yang ada di belakang Pendopo Agung Kabupaten Gelang-gelang.
Begitu mereka memasuki ruangan yang luas ini, terlihat beberapa orang ada di sana. Patih Dyah Sumantri, beberapa orang penasehat istana dan dua orang tabib istana yang terlihat sedang memeriksa keadaan sang penguasa sepuh. Satu lagi yang menarik perhatian adalah seorang pemuda tampan yang memakai pakaian biasa berwarna putih dengan hiasan benang hijau sedang duduk bersila di lantai ruangan itu bersama seorang perempuan cantik berbaju hijau gelap.
Semuanya langsung menoleh ke arah Panji Tejo Laksono kala sang pangeran muda menapakkan kakinya di lantai ruangan pribadi bupati. Mereka rata-rata terkejut melihat kedatangan sang pangeran namun juga senang apalagi si pemuda tampan berbaju putih yang tak lain adalah Panji Manggala Seta, putra keempat Prabu Jayengrana yang juga merupakan adik tiri Panji Tejo Laksono.
"Jagad Dewa Batara..
Rupanya ada tamu agung yang berkunjung kemari. Burung prenjak yang sedari tadi terus berkicau di depan ternyata adalah isyarat kedatangan mu, Kangmas Pangeran..
Selamat datang di Gelang-gelang..", sambut Panji Manggala Seta segera.
"Lama tidak bertemu, kau semakin pandai bicara Dhimas Seta..
Aku hanya kebetulan lewat dan mendengar kabar tentang sakitnya Kanjeng Eyang Panji Gunungsari. Lalu aku putuskan untuk berkunjung kemari.
Bagaimana keadaan Eyang Bupati Sepuh, Dhimas Manggala Seta?", tanya Panji Tejo Laksono kemudian.
Hemmmmmmm
__ADS_1
Terdengar suara dengusan nafas panjang penuh kekecewaan dari Panji Manggala Seta. Pangeran muda yang juga ahli dalam bidang pengobatan ini nampak menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aku sudah mencoba segala cara untuk mengobati Eyang Bupati Sepuh, Kangmas Pangeran. Tapi sepertinya dia sudah tidak punya niat untuk hidup lagi.
Kita hanya bisa pasrah saja pada kuasa Dewa untuk masalah ini", ujar Panji Manggala Seta lesu.
Uhhhuuuukkk uhhhuuuukkk!!
Terdengar suara batuk keras beberapa kali yang membuat Panji Tejo Laksono yang hendak menanggapi omongan adik tirinya itu segera menoleh ke arah sumber suara. Segera dia bersama Panji Manggala Seta mendekati ranjang tempat tidur Bupati Sepuh Panji Gunungsari.
"Kanjeng Eyang, bukalah mata mu..
Ini Kangmas Tejo Laksono datang menjenguk mu. Lihatlah cucu mu ini Eyang..", bujuk Panji Manggala Seta. Rupanya ucapan itu berhasil membuat Panji Gunungsari tergerak. Lelaki lanjut usia ini perlahan mulai membuka matanya. Tangan nya yang penuh keriput bergerak memegang tangan Panji Tejo Laksono.
"Cu..cu ku Te..Jo Laksonooh uhukkk uhukkk..
Mang..gala Seta su-dah set..tu..ju untuk men.. jadi Bu..pati Gelang-gelang se..lan..jutnyaa.. Kau ha..harus mem.. membantu nya uhukkk uhukkk", ucap Panji Gunungsari terbata-bata.
"Aku berjanji Eyang Bupati Sepuh..
Sekarang Eyang Bupati harus sembuh untuk menyaksikan penobatan Panji Manggala Seta", Panji Tejo Laksono menggenggam erat tangan Panji Gunungsari. Mendengar jawaban itu, Panji Gunungsari tersenyum tipis lalu lelaki tua itu perlahan jatuh terkulai di dalam pelukan Panji Manggala Seta.
"Eyang Bupati..!!! Eyang Bupati!!!", teriak Panji Tejo Laksono sembari menggoyangkan tangannya untuk membuat lelaki tua yang berusia sekitar 9 dasawarsa ini. Namun itu semua tidak pernah terjadi.
Panji Manggala Seta segera memeriksa denyut nadi sang kakek. Setelah tak merasakan lagi denyut nadi sang penguasa Kabupaten Gelang-gelang itu, dia langsung menoleh ke arah Panji Tejo Laksono sambil menggelengkan kepalanya.
Kabar meninggalnya Bupati Sepuh Panji Gunungsari dengan cepat menyebar ke seluruh Gelang-gelang. Seluruh rakyat Kabupaten Gelang-gelang berduka cita atas wafatnya beliau. Betapa tidak, selama masa-masa pemerintahan nya, Gelang-gelang hanyalah sebuah daerah kecil yang sama sekali tidak dipandang sebagai suatu daerah penting bagi Kerajaan Panjalu. Kini Gelang-gelang telah menjelma menjadi daerah penyangga Kotaraja Daha selain Kadiri tentu saja. Kematian Panji Gunungsari merupakan kesedihan terbesar yang mereka alami saat ini.
Upacara pemakaman besar-besaran untuk sang bupati sepuh langsung di tata sedemikian rupa. Seluruh penghuni istana mengenakan pakaian warna putih dan bunga kamboja pada telinga kiri sebagai tanda duka cita.
Saat hari penyucian jiwa itu hampir dilakukan, Prabu Jayengrana datang bersama Dewi Anggarawati, Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka. Panji Tejo Laksono telah mengabari nya lewat Ajian Bayu Swara. Tepat saat itu, pendeta yang memimpin upacara penyucian jiwa menyerahkan obor yang hendak di gunakan untuk membakar tumpukan kayu kering pada Panji Tejo Laksono dan Panji Manggala Seta.
"Ayo putra-putra ku...
Kita antarkan Eyang kalian Swargaloka dengan penuh hormat dan kegembiraan", ucap Prabu Jayengrana sembari meletakkan tangan kanannya ke gagang obor yang sudah di pegang oleh kedua orang putranya. Panji Tejo Laksono dan Panji Tejo Laksono langsung mengangguk mengerti.
Mereka bertiga pun segera menyulutkan api obor itu ke tumpukan kayu kering dimana jasad Panji Gunungsari telah disemayamkan. Api dengan cepat menjalar dan membakar tumpukan kayu kering yang di tata sedemikian rupa sebagai sarana penyucian jiwa.
Semua orang tertunduk tanpa bersuara. Rasa duka yang mendalam mereka rasakan karena telah kehilangan sosok yang menjadi panutan bagi mereka.
Menjelang sore hari tiba, di Pendopo Agung Kabupaten Gelang-gelang di gelar pertemuan para petinggi dan kerabat istana Gelang-gelang. Dalam pertemuan itu, Prabu Jayengrana turut hadir bersama para istri nya. Panji Tejo Laksono, Endang Patibrata dan Tumenggung Ludaka beserta Demung Gumbreg ikut serta pula dalam pertemuan itu.
"Mohon ampun Gusti Prabu..
Mungkin ini terdengar sangat tidak sopan dan juga kurang pas mengingat bahwa Gusti Bupati Sepuh baru saja berpulang. Tapi Kabupaten Gelang-gelang membutuhkan seorang pimpinan baru yang akan menata wilayah ini kedepannya.
__ADS_1
Karena itu, hamba Patih Dyah Sumantri memohon kepada Gusti Prabu Jayengrana untuk segera menentukan bupati baru di Gelang-gelang. Sebab, sesuai dengan keinginan terakhir Bupati Sepuh Panji Gunungsari, beliau menunjuk Gusti Pangeran Panji Manggala Seta sebagai penggantinya", ujar Patih Dyah Sumantri sembari menghormat pada Prabu Jayengrana.
"Yang dikatakan oleh Patih Sumantri benar adanya, Kanjeng Romo..
Saya yang menemani detik terakhir hidup Eyang Bupati, menjadi saksi atas permintaan dari Eyang Bupati agar Dhimas Manggala Seta diangkat sebagai bupati baru Gelang-gelang", timpal Panji Tejo Laksono segera. Mendengar itu, Prabu Jayengrana segera menoleh ke arah Panji Manggala Seta.
"Bagaimana Seta putra ku?
Apakah kamu bersedia untuk menjadi pimpinan di Gelang-gelang? Romo tidak akan memaksa mu untuk menentukan pilihan tapi jika kau memang ingin melihat Romo Gunungsari tersenyum di Swargaloka, ikuti apa yang menjadi kemauannya", ujar Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana sambil tersenyum penuh arti.
"Ah Kanjeng Romo tetap saja sama liciknya dengan Kangmas Tejo Laksono. Bilangnya tidak memaksa tapi menggunakan nama Eyang Bupati untuk menjebak ku..
Baiklah baiklah, aku terima apa yang menjadi keinginan Eyang Bupati Sepuh. Tapi ada syaratnya yang harus Romo Prabu penuhi", ujar Panji Manggala Seta segera.
"Katakan saja terus terang. Kalau Romo bisa melakukannya, akan Romo lakukan putra ku", Prabu Jayengrana menatap wajah tampan Panji Manggala Seta.
"Aku ingin memerintah Gelang-gelang dengan di dampingi oleh Setyawati. Romo Prabu harus menikahkan kami sebelum aku naik tahta", jawab Panji Manggala Seta sembari melirik ke arah Dewi Setyawati yang langsung tertunduk malu. Wajah cantik putri Dharmadyaksa ring Kasaiwan Mpu Setyaka ini semburat memerah.
"Hahahaha..
Putra ku sudah ingin kawin rupanya. Bagus, Manggala Seta.. Memang untuk menjadi seorang pemimpin daerah, kau harus lebih dulu bisa memimpin keluarga mu terlebih dahulu agar nanti kau mampu menjadi pengayom masyarakat dengan sikap penuh welas asih dan kasih sayang", ucap Prabu Jayengrana yang di sambut senyuman lebar oleh Dewi Srimpi, sang ibunda Panji Manggala Seta.
Dan demikianlah, setelah dua hari masa berkabung atas meninggalnya Bupati Sepuh Panji Gunungsari berakhir, di gelar lah upacara pernikahan antara Panji Manggala Seta dan Dewi Setyawati. Pernikahan pangeran muda dari Kadiri ini berlangsung meriah. Ratusan tamu undangan dari daerah terdekat berdatangan membawa hadiah pernikahan untuk mereka berdua.
Tak luput juga kedatangan Patih Sindupraja dari Seloageng yang datang ke Gelang-gelang untuk mewakili adipati yang berhalangan hadir.
Betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa Panji Tejo Laksono juga ada di tempat itu. Tanpa menunggu waktu lagi, Patih segera mendekati Panji Tejo Laksono.
"Sembah bakti hamba Nakmas Pangeran Adipati", ucap Patih Sindupraja seraya membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono.
"Kanjeng Romo Patih Sindupraja..
Jangan bersikap seperti itu kepada ku. Apa nanti kata orang jika melihat seorang mertua membungkuk hormat kepada menantunya? Bisa-bisa aku di tuduh telah menindas mu", seloroh Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.
"Sekalipun hamba adalah ayah mertua Nakmas Pangeran Adipati, namun secara kepangkatan, hamba adalah bawahan Gusti Pangeran jadi sudah selayaknya jika menghormat pada pimpinan.
Melapor kepada Gusti Pangeran Adipati, di istana Seloageng telah terjadi peristiwa besar. Putri hamba Gayatri telah melahirkan seorang putri untuk Nakmas Pangeran Adipati ", ucap Patih Sindupraja seraya tersenyum lebar.
"Oh Jagad Dewa Batara...
Rupanya saat aku menjalankan kewajiban ku sebagai punggawa Panjalu, putri ku telah lahir ke dunia. Kalau begitu, aku harus segera pulang untuk melihatnya", jawab Panji Tejo Laksono dengan wajah berseri-seri.
"Itu yang sangat di tunggu oleh semua orang Nakmas Pangeran Adipati..
Kalau boleh hamba tahu, siapa nama yang akan Nakmas Pangeran Adipati berikan kepada putri kecil itu?", mendengar pertanyaan dari ayah mertua nya itu, Panji Tejo Laksono terdiam sejenak. Dia terlihat seperti sedang berpikir keras. Lalu dengan sumringah dia berkata,
__ADS_1
"Namanya adalah Rajadewi"