Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Tantangan Ki Pancatnyana


__ADS_3

Mendengar jawaban itu, Nyi Dadap Segara memberengut kesal karena dia sama sekali tidak menduga bahwa Ki Pancatnyana akan meminta hal itu sebagai hadiah bantuan nya.


"Kakang ini benar-benar keterlaluan. Suka bercanda dengan ku saat aku sedang serius", ujar Nyi Dadap Segara seraya mencebikkan bibir nya yang berwarna merah menyala ke arah Ki Pancatnyana.


"Aku tidak bercanda, Nyi Dadap Segara. Aku memang menginginkan mu.


Dulu, demi cinta si bajingan itu kau serahkan tubuh mu padanya. Hingga kau hamil dan dia kabur dengan perempuan lain. Padahal kau tahu aku sangat mencintai mu tapi kau malah memilih si bajingan putra bangsawan itu. Akhirnya kau pergi dari padepokan dan memilih untuk bermukim di Wanua Siganggeng.


Dan sampai sekarang aku tetap menginginkan mu, Mustakaweni", ujar Ki Pancatnyana sembari tersenyum simpul.


"Ah Kakang Pancatnyana.. Kita sudah tidak muda lagi, tidak seharusnya kita mengingat masa lalu dan cinta. Kau minta yang lain saja, jangan yang itu", jawab Nyi Dadap Segara seraya menatap ke arah Ki Pancatnyana dengan penuh permohonan.


"Tidak mau yang lain, Mustakaweni..


Kalau kau bersedia untuk menemani ku tidur malam ini, besok kau akan mendengar berita kematian Adipati baru Seloageng itu. Kalau kau menolak, kau urus saja sendiri balas dendam mu", Ki Pancatnyana segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati pondok kayu yang menjadi tempat tinggal nya selama ini.


Belum genap 4 langkah, tangan seorang perempuan memeluk pinggang Ki Pancatnyana dari belakang. Melihat itu Ki Pancatnyana tersenyum penuh kemenangan.


Malam itu di pondok kayu di lereng Gunung Kawi, terdengar suara dengusan nafas penuh nafsu birahi. Ki Pancatnyana dan Nyi Dadap Segara melepaskan hasrat terpendam mereka yang sudah di tahan selama puluhan tahun lamanya.


****


Sementara itu di istana Pakuwon Weling, Panji Tejo Laksono sedang tiduran di atas ranjang tidur yang di sediakan oleh Akuwu Bonokeling untuk tempat istirahat nya setelah seharian mengurusi masalah di Pertapaan Panumbangan.


Gayatri yang mendapat jatah waktu untuk menemani sang Adipati Seloageng, merebahkan tubuhnya di samping kiri sang pangeran muda. Baru saja sang pangeran dari Kerajaan Panjalu itu melakukan kewajibannya sebagai seorang suami. Gayatri juga terlihat letih setelah melayani gairah sang suami.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Kangmas Pangeran?", tanya Gayatri melihat suaminya sedang menatap ke arah lobang jendela. Sinar bulan yang mendekati purnama membuat langit malam begitu cerah namun terasa dingin menusuk tulang.


"Aku yakin Dinda, akan ada masalah yang datang ke Seloageng setelah kematian Resi Mpu Wisesa. Para pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah pasti tidak akan tinggal diam melihat salah seorang diantara mereka terbunuh.


Masalah kelompok ini tidak boleh di biarkan berlarut-larut", jawab Panji Tejo Laksono sembari mengalihkan pandangannya pada sang selir pertama.


"Benar Kangmas Pangeran.. Sepertinya tujuan mereka adalah meruntuhkan Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Ini tentu saja sangat berbahaya bagi negeri kita", Gayatri menarik selimut yang menutupi sebagian tubuhnya agar semakin menutup bagian tubuh nya yang terbuka.


"Aku ingin bicara dengan Kanjeng Romo Prabu Jayengrana untuk masalah ini. Tapi setelah kita menata Seloageng, aku ingin mencari keberadaan mereka agar tidak menjadi momok bagi Panjalu dan Jenggala", ujar Panji Tejo sembari mengelus rambut hitam Gayatri. Putri Tumenggung Sindupraja itu langsung mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan sang suami setelah mendengar kata-kata itu.

__ADS_1


"Jadi Kangmas Pangeran ingin bertualang kembali?", tanya Gayatri segera.


"Belum tahu Dinda, tapi yang jelas suatu saat nanti aku pasti memburu keberadaan mereka", usai berkata demikian Panji Tejo Laksono menundukkan kepalanya dan mencium bibir Gayatri. Sang selir pertama langsung mengerti bahwa suaminya menginginkan nya lagi.


Malam itu, di bilik kamar tamu kehormatan Pakuwon Weling, aroma cinta kembali bertebaran dimana-mana. Panji Tejo Laksono kembali membawa Gayatri terbang ke langit tujuh hingga di penghujung malam. Keduanya terlelap tidur setelah kelelahan bercinta hingga suara kokok ayam jantan terdengar bersahutan.


Pagi itu, pasukan Seloageng yang dipimpin oleh Panji Tejo Laksono meninggalkan Pakuwon Weling setelah di jamu sarapan pagi oleh Akuwu Bonokeling. Ratusan prajurit Seloageng terus memacu kuda mereka mengikuti langkah sang Adipati baru Seloageng kembali ke ibukota.


Bonowati menatap rombongan pasukan Seloageng dengan wajah sendu. Perempuan cantik itu merasa kehilangan setelah kepergian sang pangeran muda dari Kadiri yang kembali ke istana nya. Dia telah jatuh cinta pada Panji Tejo Laksono sejak pertama kali melihatnya di pendopo pisowanan Pakuwon Weling.


"Kau jangan pernah berharap untuk bisa menjadi istri nya, Bonowati", ucapan Raden Darmendra sontak mengagetkan Bonowati yang masih terpaku menatap debu beterbangan yang mengiringi perjalanan pulang para prajurit Seloageng.


"Apa maksud dari ucapan mu, Kangmas?", sahut Bonowati dengan nada tinggi. Dia tidak suka dengan omongan kakaknya itu.


"Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono sudah memiliki 4 istri, Bonowati. Dua orang sudah kau lihat sendiri secantik apa mereka. Sedangkan dua lainnya aku dengar adalah putri Adipati Kalingga yang merupakan sekar kedaton Kalingga yang tersohor dengan kecantikan nya, satunya lagi adalah seorang putri dari seorang raja di Tanah Seberang yang juga cantik luar biasa.


Di bandingkan dengan mu, ibarat langit dan bumi. Jadi sebaiknya kau kubur impian mu untuk menjadi istri Gusti Pangeran Adipati ", ucap Raden Darmendra sembari berbalik badan meninggalkan Bonowati yang masih termangu memandangi kepergian rombongan pasukan Seloageng.


'Tidak ! Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan cinta dari Gusti Pangeran Adipati! Apapun akan ku lakukan untuk mendapatkan nya'


Saat memasuki hutan kecil di dekat tapal batas Kota Bedander, tiba tiba angin kencang menghadang perjalanan mereka. Kuda kuda mereka langsung meringkik keras dan tidak mau melanjutkan perjalanan karena ketakutan.


Di tengah kekacauan itu, sebuah suara terdengar di telinga Panji Tejo Laksono.


"Panji Tejo Laksono!! Kalau kau jantan dan mengaku sebagai seorang ksatria, aku tunggu di Utara hutan kecil ini!".


Begitu suara itu menghilang, angin kencang berhenti berhembus. Keributan itu seketika mereda dan para prajurit Seloageng yang sempat kocar-kacir akhirnya berkumpul lagi. Panji Tejo Laksono tanpa menunggu lama, langsung merapal mantra Ajian Sepi Angin nya. Sang pemimpin Kadipaten Seloageng ini segera melesat cepat kearah angin kencang itu berasal.


"Kangmas Pangeran tunggu...!!", teriak Gayatri yang mencoba untuk menghentikan langkah Panji Tejo Laksono namun kecepatan tinggi sang pangeran yang mampu melesat sejauh 40 tombak dalam sekali tarikan napas, membuat suara Gayatri tak terdengar oleh telinga Panji Tejo Laksono.


Setelah Panji Tejo Laksono menghilang, Gayatri segera menoleh ke arah Luh Jingga.


"Luh, sepertinya Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono ada masalah. Kita harus segera menyusulnya", ucap Gayatri segera.


"Aku mengerti, Kangmbok Gayatri..

__ADS_1


Senopati Gardana, pimpin anak buah mu untuk menyusuri hutan ini untuk menemukan Gusti Pangeran Adipati. Jangan sampai tidak ketemu", Luh Jingga memberikan perintah kepada Senopati Gardana.


"Sendiko dawuh Gusti Selir", Senopati Gardana segera menghormat pada Luh Jingga dan Gayatri. Setelah memberikan perintah, Gayatri dan Luh Jingga segera melompat tinggi ke udara. Menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, keduanya menggunakan pucuk pucuk pohon besar di hutan kecil ini sebagai tumpuan dan melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono menghilang. Sedangkan para prajurit Seloageng di bawah pimpinan Senopati Gardana dengan trengginas mengikuti perintah Luh Jingga. Mereka segera menyisir hutan kecil ini untuk menemukan pimpinan mereka.


Dalam 10 tarikan nafas, Panji Tejo Laksono telah sampai di tepi utara hutan kecil perbatasan Kota Bedander. Dengan gerakan tubuh nan indah, Panji Tejo Laksono mendarat di tanah begitu melihat seorang lelaki bertubuh gempal yang menyandang sebuah pedang di punggungnya. Disampingnya berdiri seorang wanita yang menggunakan penutup wajah dengan pakaian berwarna hitam dengan sepasang pedang di punggungnya.


Sedangkan dua orang berbadan gempal dengan wajah seram dan kumis tebal juga ikut berdiri di belakang dua orang itu. Begitu Panji Tejo Laksono mendarat, si lelaki bertubuh gempal yang tak lain adalah Ki Pancatnyana segera menghardiknya.


"Kau yang bernama Panji Tejo Laksono, Adipati Seloageng?", ujar Ki Pancatnyana sembari memelintir kumisnya yang tebal.


"Benar, aku Panji Tejo Laksono. Siapa Kisanak dan ada urusan apa mencari ku?", Panji Tejo Laksono balik bertanya kepada Ki Pancatnyana. Mendengar jawaban itu, Ki Pancatnyana menoleh ke arah perempuan berbaju hitam yang tak lain adalah Nyi Dadap Segara. Melihat anggukan halus dari Nyi Dadap Segara, Ki Pancatnyana segera menyeringai lebar menatap ke arah Panji Tejo Laksono.


"Kau sudah membunuh saudara seperguruan ku, Resi Mpu Wisesa. Aku Pancatnyana yang akan menuntut balas atas kematian saudara ku", kata Ki Pancatnyana sembari menepuk dadanya yang tidak tertutup baju.


"Oh jadi rupanya kau adalah saudara seperguruan si pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah itu.


Silahkan jika kau ingin membalas dendam, Kisanak. Aku siap meladeni mu", setelah berkata demikian Panji Tejo Laksono segera menyiapkan kuda-kuda ilmu silat nya. Mendengar jawaban itu, Ki Pancatnyana segera memberikan isyarat kepada dua orang bertubuh gempal yang ada di belakangnya. Kedua orang bertubuh gempal itu segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari melakukan serangan ke arah yang berbeda. Si gempal yang memiliki bekas luka di pipi sebelah kanan membabatkan golok nya ke arah kaki sedangkan yang bermata satu mengayunkan tongkat nya kearah kepala Panji Tejo Laksono.


Whhhuuutthh shhrreeettthhh !!


Panji Tejo Laksono dengan lincah menghindari sabetan golok si pipi codet sembari menangkap ujung tongkat milik si mata satu. Begitu melihat serangan nya di hindari, si pipi codet segera melayangkan kembali babatan goloknya ke arah leher Panji Tejo Laksono.


Sang pangeran sulung putra Prabu Jayengrana itu segera menangkis sabetan golok dengan ujung tongkat yang masih di pegangnya dan dengan cepat melayangkan dua tendangan keras beruntun ke arah perut kedua orang itu.


Thrrraaannnnggggg ..


Bhhhuuuuuuggggh bhhhuuuuuuggggh!!


Oouuugghhhhhh !!


Dua orang bertubuh besar itu segera terjengkang ke belakang sembari membekap perutnya yang terasa bagai di hantam balok kayu. Meski meringis menahan rasa sakit, keduanya segera bangkit dan kembali hendak menyerang kembali. Namun Ki Pancatnyana yang sadar bahwa mereka bukan lawan seimbang bagi Panji Tejo Laksono segera memberikan isyarat pada mereka untuk berhenti dan berkata,


"Mundur !! Kalian bukan lawan nya..


Aku yang akan menghabisinya..!!"

__ADS_1


__ADS_2