Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Melawan Prabu Gendarmanik


__ADS_3

Di balairung Pendopo Agung Istana Katang-katang, seluruh punggawa istana bersukacita karena keberhasilan Endang Patibrata membawa pulang Dewi Sekar Kedaton.


Tak hanya Nararya Ayu Galuh, para istri Prabu Jayengrana yang lain seperti Dewi Anggarawati sang Ratu Kedua, Dewi Naganingrum sang Permaisuri Ketiga, para selir seperti Ratna Pitaloka, Sekar Mayang, Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti juga turut berkumpul disana. Cempluk Rara Sunti yang begitu bangga dengan keberhasilan Endang Patibrata, langsung mendatangi keponakannya itu segera.


"Wah tak ku sangka kalau pemenang sayembara yang di adakan oleh Kangmas Prabu Jayengrana adalah keponakan ku sendiri.


Kau hebat Endang Patibrata. Kau mengharumkan nama Wanua Pulung dan Kakang Singo Manggolo. Juga secara tidak langsung para warga Kadipaten Wengker secara luas", puji Cempluk Rara Sunti yang segera disambut anggukan kepala dari Dewi Kencanawangi yang merupakan sepupu nya.


"Wah benar sekali ucapan Biyung Sunti..


Kangmbok Patibrata patut mendapat hadiah atas kerja kerasnya. Aku bangga memiliki saudara sepupu seperti mu Kangmbok..", imbuh Dewi Kencanawangi segera.


Endang Patibrata tersipu malu mendengar pengakuan yang di dapat.


"Bibi Selir Cempluk Rara Sunti, Nimas Dewi Kencanawangi..


Kalian berlebihan. Aku hanya menjalankan perintah dari Kanjeng Eyang Warok Suropati untuk selalu menegakkan kebenaran. Siapapun yang kita bantu, tak peduli itu raja ataupun rakyat jelata, semuanya terhitung dengan pahala yang sama..", jawab Endang Patibrata segera.


"Dinda Selir Sunti,


Keponakan mu terlalu rendah hati. Dia sudah berjasa besar menyelamatkan putri ku. Aku masih belum sempat memberikan hadiah atas bantuannya", sahut Ratu Pertama Nararya Ayu Galuh sembari mendekati mereka.


"Mohon ampun Gusti Ratu... Gusti Ratu Pertama tidak perlu repot-repot..


Saya hanya sekedar membantu. Kalau urusan lain, saya tidak bisa menerimanya", ujar Endang Patibrata sembari menghormat pada Nararya Ayu Galuh.


"Gadis yang sungguh mulia..


Apa kau punya keinginan yang mungkin bisa aku penuhi? Katakanlah Cah Ayu, kalau aku bisa, pasti akan ku kabulkan..", kembali Nararya Ayu Galuh bicara.


"Keinginan ya??? Hemmmmmmm..


Sebenarnya tujuan hamba kemari adalah untuk menemui Gus..."


Blllaaammmmmmmm!!!


Belum sempat Endang Patibrata menyelesaikan omongannya, sebuah ledakan dahsyat terdengar di ujung undakan balairung Pendopo Agung Istana Katang-katang. Semuanya orang langsung berjingkat kaget dan menoleh ke arah sumber suara.


Seorang lelaki bertubuh gempal dengan sebuah mahkota yang berhiaskan permata merah besar dan mengenakan sebuah mantel dari kulit harimau kumbang terlihat menarik ujung pegangan gada nya yang berbentuk seperti bulatan sebesar kelapa gading dari lobang besar yang tercipta di bekas undakan balairung ini. Mata lelaki bertubuh gempal itu langsung menatap tajam ke arah Prabu Jayengrana.


"JAYENGRANA..!!!

__ADS_1


Aku datang untuk menantang mu! Ikuti aku jika kau memang ksatria pilih tanding..!!", ujar sosok lelaki bertubuh gempal itu sembari menunjuk ke arah Prabu Jayengrana. Wajahnya menyiratkan adanya kemarahan luar biasa yang terbukti dari wajahnya yang nampak memerah.


Belum sempat semua orang bereaksi terhadap tantangan ini, sebuah bayangan biru berkelebat cepat kearah si lelaki bertubuh gempal yang tak lain adalah Prabu Gendarmanik dari Kerajaan Siluman Randugrowong ini sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya yang di lambari cahaya putih kebiruan.


"Jaga mulutmu bajingan..!!!", teriak keras si bayangan biru ini.


Prabu Gendarmanik langsung menghadang laju pergerakan bayangan biru ini dengan gada nya yang berwarna kuning gading.


Blllaaammmmmmmm..!!


Raja kerajaan siluman Randugrowong ini langsung tersurut mundur beberapa langkah dan hampir saja jatuh andai saja dia tidak cepat merubah gerakan tubuhnya dengan berpegangan pada gagang gada. Dengan mata penuh kemarahan, Prabu Gendarmanik menatap tajam ke arah sosok bayangan biru yang baru saja menyerangnya.


Ya, dia adalah Panji Tejo Laksono. Tadi pagi, perasaan nya sudah tidak enak. Entah kenapa, dia ingin cepat datang ke Istana Katang-katang meskipun dia baru saja datang dari perjalanan panjangnya ke Jenggala. Tak tahan dengan perasaannya sendiri, Panji Tejo Laksono merapal mantra Ajian Halimun nya dan datang tepat waktu setelah kedatangan Prabu Gendarmanik membuat kekacauan. Langsung saja, sang putra tertua Prabu Jayengrana itu menerjang ke arah raja siluman Randugrowong ini dengan Ajian Brajamusti nya.


"Siluman tengik seperti mu, tidak pantas menantang Kanjeng Romo Prabu Jayengrana..", ucap Panji Tejo sembari menatap tajam ke arah Prabu Gendarmanik yang perlahan berdiri sembari menggenggam erat gagang gada kuning gading.


"Kalau begitu, ikuti aku jika kau benar ksatria!!", setelah berkata seperti itu, Prabu Gendarmanik langsung melesat cepat kearah timur.


"Kanjeng Romo Prabu..


Urusan ini serahkan saja pada ku. Aku pasti akan segera kembali..", Panji Tejo Laksono sedikit menoleh ke arah kerumunan para punggawa Istana Kotaraja Daha dimana Prabu Jayengrana dan Endang Patibrata berada. Lalu setelah menghirup nafas panjang, Panji Tejo Laksono menggunakan Ajian Sepi Angin untuk mengejar Prabu Gendarmanik.


"Gusti Pangeran..."


"Apa kau suka dengan Panji Tejo Laksono, Cah Ayu?", tanya Prabu Jayengrana perlahan.


"Suka.. Suka sekali malahan.. Dia selalu hadir dalam mimpi mimpi ku setiap malam..


Ehhh Gusti Prabu Jayengrana, m-maafkan hamba sudah tidak sopan..", Endang Patibrata yang baru sadar kalau Prabu Jayengrana bertanya kepada nya karena terus menatap kearah perginya Panji Tejo Laksono, langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan semburat merah jambu di wajahnya yang keceplosan bicara.


"Hehehe..


Aku mengerti sekarang. Pantas saja kau menolak semua hadiah yang diberikan pada mu. Kau hanya ingin bocah sableng itu sebagai suami mu bukan?", Prabu Jayengrana terkekeh geli melihat tingkah Endang Patibrata yang seperti seorang anak ketahuan mencuri mainan temannya.


"Kau tenang saja..


Aku akan membantu mu Cah Ayu. Sekarang sebaiknya kau susul Panji Tejo Laksono. Aku rasa mereka akan beradu ilmu kesaktian di luar tapal batas Kotaraja Kadiri", imbuh Prabu Jayengrana segera.


"Kalau begitu, hamba mohon pamit Gusti Prabu", Endang Patibrata langsung menyembah pada sang Maharaja Panjalu itu sesaat sebelum bergegas melesat cepat kearah gerbang timur istana. Prabu Jayengrana langsung geleng-geleng kepala melihat itu semua.


"Dasar anak muda..."

__ADS_1


Prabu Jayengrana pun segera menoleh ke arah Senopati Agung Jarasanda dan Tumenggung Ludaka yang masih duduk bersila di tempatnya dengan tenang.


"Jarasanda, Ludaka...


Cepat ikuti langkah junjungan mu ke tapal batas timur Kotaraja Daha. Tidak perlu ikut campur, cukup awasi saja untuk berjaga-jaga", perintah Prabu Jayengrana yang membuat Senopati Agung Jarasanda dan Tumenggung Ludaka segera menghormat pada Sang Maharaja Panjalu.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu.."


Keduanya segera bergegas menyusul Endang Patibrata yang sudah lebih dulu bergerak cepat ke arah timur.


Di tapal batas timur Kotaraja Daha, Panji Tejo Laksono telah berhadapan dengan Prabu Gendarmanik. Begitu selesai menyiapkan kuda-kuda ilmu beladiri nya, Prabu Gendarmanik langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sambil menghantamkan gada kuning gading nya ke arah kepala sang pangeran muda dari Kadiri.


Whhuuuuuuuggggh..


Panji Tejo Laksono langsung berkelit lincah menghindari gebukan gada kuning gading ini ke arah samping. Sang pangeran muda langsung memutar tubuhnya sembari melayangkan tendangan keras kearah punggung sang raja siluman Randugrowong.


Dhasshhh!!


Prabu Gendarmanik hanya menyeringai lebar sembari menatap ke arah punggungnya yang baru saja menerima tendangan keras Panji Tejo Laksono. Sosok lelaki bertubuh gempal itu segera mengibaskan tangannya kirinya ke arah ke kepala sang pangeran muda.


Whhhuuutthh!!


Panji Tejo Laksono dengan cepat menjatuhkan diri ke tanah dan berguling cepat lalu berdiri sambil menatap ke arah Prabu Gendarmanik.


'Siluman keparat ini rupanya tidak bisa di anggap enteng. Aku harus bertarung dengan sepenuh tenaga', batin Panji Tejo Laksono.


Perlahan Panji Tejo Laksono mulai menyalurkan tenaga dalam nya ke seluruh tubuh sebelum mulai menerjang maju ke arah Prabu Gendarmanik. Segera dia menghantamkan tangan kanannya ke dada sang raja siluman Randugrowong ini dengan keras. Dengan penuh rasa percaya diri, Prabu Gendarmanik tidak berusaha untuk menghindar ataupun menangkis hantaman tangan kanan Panji Tejo Laksono.


Bhhhuuuuuuggggh...


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Prabu Gendarmanik melengguh tertahan dan tersurut mundur hampir dua tombak jauhnya. Kerasnya pukulan Panji Tejo Laksono membuat dadanya seperti baru saja di hantam balok kayu besar. Kini Prabu Gendarmanik langsung sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan kekuatan Panji Tejo Laksono yang sebenarnya. Raja Kerajaan Siluman Randugrowong itu segera memutar gada kuning gading nya lalu melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Satu gebukan keras segera mengarah ke kepala sang pangeran muda ini.


Whhuuuuuuuggggh!!


Panji Tejo Laksono mundur selangkah ke belakang dan depan cepat menyambut kedatangan serangan cepat Prabu Gendarmanik dengan tangan kanan nya yang sudah berwarna putih kebiruan Ajian Brajamusti.


Blllaaammmmmmmm!!!


Panji Tejo Laksono terdorong mundur beberapa langkah ke belakang begitu pula dengan raja kerajaan siluman Randugrowong ini. Hanya saja Prabu Gendarmanik 2 tombak lebih jauh daripada sang pangeran muda. Cairan berwarna hijau muda keluar dari sudut mulut Prabu Gendarmanik.

__ADS_1


Sembari mengacungkan senjata nya ke arah Panji Tejo Laksono, Prabu Gendarmanik yang terluka dalam berteriak lantang.


"Aku masih belum kalah, Brengsek!!!"


__ADS_2